21 Agustus 2005
quo vadis
orang asing itu bertanya,
“ke mana jalan ke surga?”
aku diam
menunjuk ke bumi
Udara berkabut di tengah hamparan sleeping bag di Marienfeld. Beberapa anak muda yang sudah bangun sedang duduk menikmati kopi dan roti, sambil ngobrol dalam aneka bahasa. Lebih banyak yang masih asyik pulas, meringkuk di dalam sleeping bag. Sesekali layar raksasa di lapangan menayangkan pengumuman: “si Anu dari rombongan anu dipanggil menghadap ke Info Point”. Langit tidaklah cerah pagi itu. Sleeping bag kami basah dihujani embun semalam.
Agnes, mbak Ina dan Stella sudah bangun. Mereka mau ke Dixi. Jadi aku diminta menjaga bedroll yang menjadi basecamp kami. Ibadat pagi telah dimulai. Saya duduk dan coba mengikutinya, meski dengan bahasa yang tidak kupahami. Cukup lama hingga mereka kembali. Agnes membawa majalah-majalah SCJ. Mereka baru saja mampir di blok romo-romo SCJ dari Indonesia [ketemu romo Mar katanya] dan diberi majalah.
Kini giliran saya yang hendak pergi. Loh, mau ke mana?
Mau balik ke Fuhlinger See. Ransel, sleeping bag sudah kukemasi. Kemudian acara pamitan dengan Agnes, Mbak Ina dan Stella. Sepanjang jalan banyak hal yang dapat dilihat: orang-orang pada antri di depan Dixi, cukup panjang loh... Saya berpikir, gimana kalo ada yang sudah mendesak sekali bertemu Dixi buat nyetor? Waduh, bisa repot. Syukurlah bahwa sepagi itu perutku bisa diajak kompromi sehingga tidak perlu bertemu Dixi. 
Sisa-sisa keramaian semalam masih dapat terlihat. Lilin yang mencair di bak air besar yang ada di setiap blok. Kotak-kotak sisa makanan berserakan. Beberapa orang lewat memegang gelas kertas berisi minuman hangat...
Menjelang jam 10 pagi saya tiba di Gate 2. Banyak polisi berjaga di sana. Paus Benediktus XVI dan iring-iringan mobil baru tiba dan memasuki Marienfeld, sehingga jalan utama diblokade polizei. Setelah blokade dibuka, baru saya dapat melanjutkan jalan kaki ke pos jaga kami. Di sana ada Edward dan Estelle sedang bertugas. Mereka sempat menanyakan kabar saya semalaman... kujawab bahwa sejak tugas kemarin pagi saya belum sempat pulang, semalam bergabung di blok Volunteer yang ramai sekali dan tidur di bawah langit. Mereka sepertinya terpesona memandangku, karena mereka tidur di tenda khusus.
Untunglah ada bus yang berangkat pagi itu. Kata Edward, semua akses jalan diblok polizei saat Paus mengadakan misa pagi di Marienfeld. Beberapa kaum muda ikut juga dalam bus. Sebetulnya tujuan bus itu hanya berhenti di stasiun Sindorf, namun beberapa penumpang berhasil membujuk pak sopir sehingga mau mengantar sampai ke Koeln Messe. Sepanjang jalan mereka bernyanyi-nyanyi lagu yang kedengarannya seperti lagu anak TK: “lalala... busfarat... busfarat...” yang seringkali ditimpali oleh pak sopir dengan gembira.
Bus melewati jalan tol. Baru sekali ini saya menikmati perjalanan naik bus lewat jalan tol di sana, sambil ngantuk tentu saja. Tiba di Messe, saya langsung ke stasiun menunggu kereta ke Chorweiler. Sepi sekali suasana peron. Maklum saja semua peserta WYD masih berada di Marienfeld.
Di terminal Chorweiler, saya berkenalan dengan Anne. Dia sedang duduk dengan wajah kusut memegang ransel. Kami menunggu bus ke Seeberg arah Fuhlinger See. Sesekali dia bersin dan membersihkan hidung. Inilah yang membuat dia bertambah dongkol. Flu-nya menjadi makin parah akibat menginap di lapangan terbuka Marienfeld... Katanya hari Rabu besok dia harus berangkat ke Indonesia. Apa??
Iya, Anne sedang liburan sekolah, dan dia sudah jadwalkan keberangkatan ke Jakarta untuk menjumpai orangtuanya di sana. Kebetulan ayahnya kepala sekolah sebuah sekolah Jerman di Jakarta. Dia hendak ke Fuhlinger See buat mengemasi barang, check out, pulang ke rumah untuk berendam air hangat.
Tiba di Fuhlinger See, ibarat tiba di surga. “tent sweet tent” [versi lain dari “home sweet home”], ransel bawaan disimpan di kemah, kemudian pergi mandi dulu... Maklum, sejak kemarin pagi belum sempat mandi, hihihi...
Di tenda makan ada beberapa volunteer yang sedang asyik ngobrol sambil sarapan. Saya duduk semeja dengan Deepak, volunteer dari India, dan seorang India lagi yang sudah lama menetap di Amsterdam. Juga ada seorang cewek dari Minnesota. Tampaknya dia juga kesal sekali pagi itu. Katanya dia juga baru pulang dari Marienfeld. Dia coba bandingkan WYD tahun ini dengan WYD sebelumnya di Toronto, katanya ini yang terburuk baginya, transportasi ke lokasi payah, lalu fasilitas umum tidak dapat diakses dengan mudah. WYD sebelumnya di Toronto katanya lebih rapi terorganisir, semua kegiatan dilaksanakan di satu lokasi, all in one place, sehingga peserta tidak perlu berpindah-pindah lokasi. Lalu kami ngobrol tentang Amerika, Minnesota [yang mengingatkanku pada kisah Laura Ingalls ‘little house on the prairie’], Amsterdam dan beberapa tempat yang ada di pikiran kami.
Pukul 14 saya istirahat di kemah, di tengah kesenyapan danau Fuhlinger. Semilir angin sejuk sore itu membuat saya lekas tertidur meskipun hanya untuk sesaat. Pukul 15 saya sudah bangun untuk mandi. Jadwal saya sore itu ingin jalan-jalan ke pusat kota.
Museum Roman-Germanisch yang terdapat di sisi Dom rasanya terlalu sayang dilewati. Petunjuk mengenai pintu masuk di museum terkenal itu tidak jelas, sehingga setelah menitip tas ransel kecil yang kubawa, saya langsung masuk lewat pintu sebelahnya... saat sedang menikmati benda-benda kuno yang dipajang dalam lemari kaca, seorang perempuan petugas menghampiri saya memberitahu bahwa saya harus membeli tiket di counter depan. Khusus untuk peserta WYD diberi harga khusus tiket masuk 1 euro.
Setelah itu perjalanan sejarah peradaban Jerman dan dunia dimulai... Museum ini menyimpan koleksi benda-benda purba, tulang belulang, perkakas, perhiasan, persenjataan, serta diorama peradaban masa lampau. 
Ada yang menarik perhatianku, sebuah tugu yang dibuat untuk memperingati seorang kekasih yang meninggal. Sebuah ode terpahat di sana. Tugu itu didirikan oleh seorang perempuan bangsawan untuk kekasihnya, seorang prajurit yang berasal dari kalangan kasta rakyat biasa. Mereka terpisahkan oleh tradisi. Dan menurut keyakinan, prajurit yang gugur tadi tak dapat bersatu dengan perempuan itu bahkan di dunia akhirat. Karena itu sang gadis menuliskan kalimat pada tugu dengan sangat sedihnya [sayang saya tidak mencatat terjemahannya, fotonya saja yang dapat saya ambil].
Hubungan Roma [sebagai pusat dunia] dan German di masa lampau tampak jelas dari pengaruh budaya dan arsitekturnya. Sejak tahun 20 SM Jenderal Agrippa dari Romawi menguasai Jerman dan kemudian dinamai: “Colonia Claudia Ara Agrippinensium”. Ada suatu sudut dalam museum berupa potongan lantai bermozaik kuno dan diding masa Romawi yang pernah dipakai sebagai setting tempat jamuan makan malam para pemimpin UE dan World Economic Summit, Presiden Bill Clinton, Jacques Chirac dan Gerhard Schroeder di tahun 1999.
Selesai mengunjungi museum, saya meneruskan jalan-jalan sore ke arah Neumarkt. Di jalan saya berpapasan dengan tiga orang ibu dari Indonesia: Ibu Helena, Ibu Helen dan Ibu Indri. Kejadiannya juga serba kebetulan. Mereka sedang ngobrol dalam bahasa Indonesia, dan saya menyapa mereka. Mereka juga surprise melihatku terutama setelah tahu bahwa saya dari Makassar, Indonesia. Dan sore itu saya berjalan hanya mengenakan kaos t-shirt dan sendal.
“Mas Toni kok tahan dingin ya, hanya pakai kaos dan sendalan...”, tanya mereka.
Saya cuma cengengesan. Maklum sudah alumni nginap semalam di Marienfeld. Mungkin karena itu saya dapat kebal dari cuaca dingin sore itu. Ibu-ibu itu sudah lama tinggal di Koeln dan mereka bercerita bahwa mereka baru saja mengantar seorang teman ke stasiun Koeln Hbf. Setelah bertukar alamat e-mail, kami pun berpisah dengan pesan dari mereka: “jangan lupa pakai jaket dan sepatu kalau jalan-jalan...” [hehehe... aku memang sengaja tidak bawa sepatu, karena penuh-penuhin ransel]
Sepanjang jalan ke Neumarkt, toko-toko pada tutup. Maklum hari Minggu, banyak toko libur. Bahkan pada hari Senin juga beberapa toko suka tutup, kata seorang teman. Saya berjalan sampai di depan toko legendaris itu: 4711. Parfum yang sangat terkenal di Indonesia pada tahun 1980-an. Sayang tokonya juga tutup, jadi saya hanya dapat memandang etalasenya. Terdapat poster-poster yang mengisahkan sejarah parfum 4711.
Ramuan rahasia parfum itu awal mulanya dibuat oleh seorang rahib, dan dihadiahkan kepada raja dalam pesta perkawinan. Ramuan tersebut kemudian dikembangkan dan diberi merek 4711, sesuai dengan nomor rumah yang ditempati. Rumah bersejarah itu sudah berubah menjadi pertokoan tempat saya berdiri sekarang.
Mbak Ina mengirim SMS memberitahukan bahwa jam 20 mereka akan tiba di Koeln Hbf dari Marienfeld. Saya diajak untuk makan malam bersama. Karena itu saya segera kembali ke stasiun Koeln. Sambil menunggu, saya masuk ke kios buku mengamati majalah, koran dan buku-buku... bahasa Jerman semua! Koran lokal mengangkat tema kunjungan Paus ke Jerman sebagai berita utama, beberapa koran memuat foto ukuran besar suasana Marienfeld yang begitu ramai.
Lewat pukul 20, stasiun makin ramai. Mbak Ina dan kawan-kawan tidak kelihatan. Saya memutuskan untuk balik ke Fuhlinger See agar tidak kemalaman. Sebelumnya beli sepotong pizza Hawaiian seharga Eur 1,50 untuk makan malam.
Di jalan, saya berkenalan dengan anak-anak Siberia: Xeniya, Luda dan Tanja. Kami asyik ngobrol sambil menunggu kereta tiba. Mereka bilang Siberia tidak sedingin yang orang bayangkan. Tempatnya asyik, ada salju dan sinar matahari. Mereka mengajak saya mampir ke sana... Waduh, jadi pingin deh jalan-jalan ke Siberia.
Dalam kegelapan malam di Fuhlinger See, saya berjumpa dengan seorang anak Portugal yang melangkah gontai menggendong ransel. Dia bercerita bahwa sudah 5 jam dia berjalan kaki dari Marienfeld ke sini. Macet, katanya. Kereta dan bus dari Marienfeld penuh sesak dengan peziarah yang hendak kembali ke Koeln. Waduh, membayangkannya saja menyeramkan. Karena tidak mau menunggu, dia memutuskan berjalan kaki kembali kemari. Rencananya, begitu tiba di kemah, dia ingin langsung tidur.
Tengah malam, saat sedang duduk-duduk menikmati pemandangan di pinggir danau, Hubert dan Julia datang menghampiriku.
“Toni, dari mana saja seharian?”
“Saya pulang dari Marienfeld pagi tadi...” jawabku.
“Semalam kamu nginap di Marienfeld?” tanyanya lagi.
“Yup”, jawabku singkat.
Lalu Hubert tertawa keras.
“You are crazy... kamu nginap di Marienfeld lalu pulang pagi-pagi...”, katanya meringis.
Saya menceritakan mengenai anak Porto yang tadi berjalan kaki 5 jam karena traffic jam.
Lalu saya mampir ke tenda makan untuk membuat teh panas. Di sana ada anak Malaysia, mereka juga baru kembali dari Marienfeld. Di ruangan sebelah tenda makan, musik menghentak-hentak... beberapa relawan sedang asyik berdansa.
Ini adalah malam terakhir bagi beberapa relawan yang akan pulang besok. Masa menginap kami di Fuhlinger See tidak lama lagi.
Sekarang saya dapat menikmati istirahat di dalam kemah, tempat pertama kali kami tiba di sini... seperti biasanya, di bawah taburan bintang-bintang.
Monday, October 24, 2005
Melamun di Dom 12: Children of the lesser God
jam
8:31:00 AM
0
komentar
Monday, October 10, 2005
Melamun di Dom 11: we have seen the star
20 Agustus 2005
Pukul 5 pagi saya sudah harus bangun. Karena acara kemas-kemas masih dilanjutkan, saking banyaknya barang bawaan yang harus disortir... selain itu shift pertama tugas pagi di Marienfeld adalah saya dan Fulques. Kami sudah janjian bertemu di Messe jam 7.30. Saya berencana menyimpan ransel besar di mesin penitipan barang otomat di Koeln Hbf, tarifnya 2 euro per hari.
Armel muncul di tengah kesibukan berkemas. Dia bilang tas ransel saya disimpan saja di atas lemari, romo yang nginap cuma semalam saja di kamar. Jadi saya terbebas dari rencana ke Koeln Hbf buat menyimpan ransel. Saya dapat berlenggang ke Messe dengan hanya membawa ransel kecil, sleeping bag dan bedroll [duhai bedroll, hingga sekarang aku belum pernah menggunakanmu...].
Tiba di Messe, cukup sulit menemukan di mana tempat pemberangkatan bus. Messe luas sekali. Aku mengikuti anak-anak muda yang baru turun dari kereta dan berjalan melewati terowongan hingga tiba di shelter bus khusus ke Marienfeld. Banyak sekali relawan yang menunggu untuk diberangkatkan. Bus yang tersedia cukup banyak. Setiap 3 menit bus berangkat dan terisi penuh.
Pukul 7, saya menunggu Fulques. Tuh anak belum tiba dari Fuhlinger See. Jadi saya gunakan sleeping bag yang masih tergulung sebagai alas duduk. Setiap rombongan relawan yang datang saya perhatikan. Beberapa menit berlalu, Fulques belum muncul juga. Nomor hp-nya saya tidak punya.
Yang muncul justru Mariana, si jejak petualang...
“Eh lu orang ke mana saja...”, langsung saya menyamperinya. Dia cuma cengengesan menenteng ransel sambil memperkenalkan teman grupnya. Katanya dia nginap di Messe selama ini. Kemudian dia pergi bersama arus relawan yang naik ke bus. Dasar, Mariana. Tuh anak sempat dicari-cari sama mbak Ina dan Agnes. Saya cuma bilang tuh anak gak usah dicari, ntar muncul sendiri... benar kan?
Pukul 7.30 Fulques belum muncul, jadi saya ikut dengan bus ke Marienfeld. [Tadi sempat sakit perut, tapi nggak usah saya cerita mengenai perjumpaanku dengan Dixi di pagi yang cerah itu, ya... hehehe].
Sekitar jam 9 bus kami tiba di Marienfeld. Yang tiba sepagi itu di Marienfeld adalah para relawan yang membantu menyiapkan tempat. Siang nanti barulah peserta berbondong-bondong memasuki Marienfeld.
Florian Jung rupanya nginap di sini semalam. Markus dan Kristina juga sudah ada, tapi saya tidak tahu apakah mereka juga nginap sejak malam tadi.
Fulques sempat nelpon ke Jung. Tahu nggak, dia bilang lagi nyasar naik kereta ke Aachen. Aachen? Itu kan berlawanan arah dari Koeln. Ya ampun, Fulques! Ternyata orang Eropa bisa juga nyasar di sini.... hehehe. Maklum sih, bahasa Jerman beda banget sama bahasa Perancis. Aku sempat ngirimi Fulques sms berupa petunjuk ke Messe: “It’s Toni. Just go to Koeln Messe and follow the volunteers there. Ask the officer with white suite. You will pass the tunnel and find buses line. See u, Fulques!” [maklum sms itu belum kuhapus. sesudah ini baru dapat kuhapus karena sudah tersimpan...]
Nggak tahu apakah sms tsb bermanfaat apa tidak, yang pasti beberapa saat kemudian baru dia muncul sambil cengar-cengir... dia nyasar betulan sampai ke Aachen. Jung kemudian beristirahat di tenda. Kami berdua berjaga di posko. Kristina minta bantuan kami untuk mengatur ransum berupa kotak-kotak makanan dan bungkusan roti tawar. Kotak makanan disusun menyerupai tembok benteng, dan kemudian bungkusan-bungkusan roti tawar ditaruh di dalam.
Yang dia kuatirkan adalah bila hujan turun sewaktu-waktu. Dengan mudah terpal dapat ditutup di atas “benteng makanan” ini. Ramalan cuaca cukup mencemaskan, katanya diduga hujan akan turun pada puncak perayaan WYD di Marienfeld. Apalagi langit terlihat agak mendung.
Kemudian security vest alias rompi relawan untuk jaga malam dalam dos-dos musti kami turunkan dari mobil, lalu dibagikan ke relawan yang baru tiba. Fulques semangat sekali mengangkut dos-dos itu. Asyik bila dapat rekan yang semangat juangnya tinggi.
Agak siang, Edward dan Estelle tiba. Jam 13 mereka menggantikan tugas kami di pos jaga.
Markus kemudian memanggil kami dan meminta untuk mengantarkan sepeda ke relawan di Frechen. Sepeda yang dimaksud adalah sepeda Deutsche Bahn [DB], keren sekali dengan kunci digital. Saya dan Fulques bersedia melaksanakan tugas itu. Frechen terletak sekitar 5 kilometer dari situ. Sesudah itu kami musti pulang dengan berjalan kaki ke tempat ini...
Yah... yang penting bisa bersepeda, ya toh?
Maka saya dan Fulques mengayuh sepeda sambil membawa peta yang diberikan Markus. Cukup sulit juga menentukan arah, karena melewati hutan-hutan. Tapi asyik sekali pakai sepeda DB, ada persenelingnya. Yang payah waktu melewati tanjakan bukit-bukit, musti dikayuh sambil ngos-ngosan... hehehe, rupanya saya sudah cukup tua untuk hal ini.
Singkat cerita, kami tiba di Frechen dengan sehat walafiat. Sepeda DB kami berikan kepada yang berhak... dan kami pulang berjalan kaki. Apa?? Nahhh... ini dia yang menarik. Seperti anak hilang kami berjalan kaki pulang. Lalu saya tanya Fulques, berani nggak hitching?
“What? Hitching?? What is hitching?” tanyanya culun.
Lalu saya jelaskan bahwa menurut buku Lonely Planet, hitching itu nama lain dari nebeng alias numpang di mobil orang. Soalnya ada turis yang modal cekak suka ‘hitch hiking’ di daratan Eropa... lalu dengan tenangnya dia mengacungkan jempolnya setiap kali ada mobil yang lewat.
Saya nggak berani melihat dan menahan tawa saat mobil tersebut dengan tenangnya melewati kami... hahaha. Ada beberapa mobil berlalu. Mobil berikutnya sebetulnya sudah melewati kami, namun kemudian direm. Thanks to God. Rupanya ada juga yang tergerak hatinya memberikan tumpangan kepada dua pemuda nyasar...
Pengemudinya seorang ibu. Dia mengenali kami dari kaos WYD yang kami kenakan dan menebak bahwa kami hendak ke Marienfeld. “Benar sekali...”, serempak kami menjawab. Di belakang kaos kami memang tertulis menyolok ‘volunteer’.
Lalu ibu itu bertanya saya berasal dari mana. “Indonesia”, jawabku. “France”, jawab Fulques. Langsung ibu yang baik hati itu ngomong dalam bahasa Perancis sama Fulques. Kami diturunkan di pinggiran Marienfeld karena ibu itu mau meneruskan perjalanan ke tempat lain. Itu saja sudah merupakan berkah buat kami sehingga tidak perlu berjalan kaki beberapa kilo. Mukjizat lagi?
Kami menempuh jarak yang tersisa melalui hutan dan melintasi ladang. Rombongan peziarah mulai ramai memasuki kawasan ini. Akhirnya tiba di posko kami... Fulques rencananya mau balik ke Koeln untuk ambil cucian di Ursulinen.
Jung sudah bangun dan memegang sebuah sepeda DB. Saya ingin ke lokasi dalam Marienfeld, soalnya di jalan tadi Agnes sms meminta saya datang ke tempatnya di blok B5, katanya ada Jayadi, mahluk Indonesia yang studi di Jerman. Maka saya meminjam sepeda DB yang dipakai Jung untuk masuk ke dalam lokasi.
Inilah kesempatan saya pertama kali meninjau lokasi ‘perkampungan’ peziarah yang akan dipakai nginap malam nanti.
Wow, ramai sekali... sepanjang jalan penuh dengan kaum muda yang baru datang membawa ransel besar dan sleeping bag, berpapasan dengan mereka yang membawa kotak makan siang. Macet sungguh... sepeda DB yang saya kendarai musti dengan bunyi lonceng klakson, ucapan “excuse me”, sambil tak lupa tersenyum... biasanya mereka pun dengan senang hati minggir, apalagi karena saya mengenakan kaos volunteer.
Beberapa kali nyasar, karena saya tidak membawa denah lokasi... baru kemudian tiba di blok B5. Ini tempat dikhususkan bagi para volunteer menginap. Seragam merah semua, jadi ada sekitar 3 kali saya mengitari tempat ini mencari wajah Indonesia bernama Agnes. Dan ketika sudah hampir putus asa, ya astaga, dia ada di sana sedang duduk ngobrol... Saya pun berkenalan dengan Jayadi. Katanya dia nginap di blok lain.
“Agnes sudah makan?” tanyaku dengan manis.
Dijawab Agnes: “belum”. Maka aku pun bercerita bahwa kami punya ‘benteng makanan’ di luar sana. Kalau mau aku ambilkan. Agnes setuju, jadi aku musti balik buat mengambilkan makanan.
[sebetulnya rencana saya sore itu mau balik ke Fuhlinger See untuk beristirahat di kemah kami yang permai]
Sepeda DB kukembalikan dan dikunci secara digital dulu. Lalu aku minta beberapa dos makanan pada Kristina yang diberikannya dengan senyum manis. Kemudian aku berjalan kaki kembali memasuki areal yang penuh sesak dengan manusia. Kali ini aku membawa denah lokasi, jadi mudah mencari jalan terdekat...
Beberapa kali nyasar di blok B5 sebelum bertemu Agnes... soalnya semua memakai seragam merah sih. Agnes senang sekali melihat aku datang. Bedroll-ku sekarang bisa digelar di atas bedroll-nya yang luas sekali. Di sekitar kami sudah penuh dengan para relawan, sehingga sulit mencari lahan kosong.
“Eh Ton, Armel ada di blok lain... kasihan tuh, katanya dia belum dapat makan. Aku bawakan ya dos makanan untuk dia...”, kata Agnes.
Dan sekarang aku sendiri. Matahari sore bersinar terik. Konser musik ditayangkan di layar lebar di setiap blok. Aku coba berbaring untuk istirahat.
Sewaktu berjalan ke sini tadi aku sempat merasa sesuatu yang aneh di hatiku... di tengah lautan manusia dari segala bangsa ini, apa gerangan yang menginspirasikan sehingga kami datang ke sini? ‘Kegilaan’ macam apa ini? Kemudian dengan rasa tak percaya, terbersit rasa bangga bahwa kini aku menjadi bagian dari lautan ini. ‘we have come to worship Him’.
Agnes membeli beberapa kandil untuk acara nanti malam. Baik sekali tuh anak. Dia mau ngajak Stella dan mbak Ina beramai-ramai nginap di atas bedroll-nya. Aku pergi mencari air minum... berjalan melewati deretan boks Dixi. Oh ya, ada toilet khusus di tempat terbuka untuk pria buang air kecil. Terbuat dari plastik berbentuk bundar dan dibagi 4 bagian. Jadi empat orang bisa pipis bersamaan, di tengahnya ada lubang saluran penampung. Terus, untuk cuci tangan, nggak pakai air, cuma pakai dispenser cairan pencuci tangan yang mirip alkohol.
Keran air minum tersedia untuk peziarah. Di sana saya mengisi botol minum. Sayang botol yang saya bawa ukuran 500ml, botol-botol besar sudah kubuang karena terlalu makan tempat. Padahal untuk saat ini saya butuh botol besar daripada harus bolak-balik ngantri untuk isi air minum.
Jam 20, Paus Benediktus XVI tiba. Peserta ramai sekali mengelu-elukan: “be-ne-det-to...’ berulang kali. Beliau menumpang di mobil papal yang anti-peluru itu. Kami memandangnya dari layar lebar. Kelihatan dekat sekali namun jauh di atas bukit yang khusus didirikan sebagai panggung.
Ibadat dimulai saat hari senja. Lilin-lilin dinyalakan. Tempat ini semakin penuh dipadati peziarah. Tidak hanya kaum muda, ada juga kakek-nenek, bahkan anak-anak kecil dalam kereta bayi. Mereka akan menginap semalam suntuk di lapangan terbuka Marienfeld. Termasuk orang cacat yang ditemani paramedis.
Selesai prosesi ibadat malam, sekarang kami hendak beristirahat. Sleeping bag digelar. Bayangin, 4 sleeping bag di atas matras Agnes: aku, mbak Ina, Stella dan punya Agnes sendiri. Posisi Agnes terjepit di bawah kaki Stella dan mbak Ina. Maklum badannya kecil jadi bisa nyungsep... hehehe.
Aku dapat memandang bintang-bintang di langit serta embun yang berjatuhan dari langit... sebuah pengalaman yang sangat berkesan.
Sungguh, kami telah melihat bintangNya!
dikau
engkau di sini
berbayang malam
saat kusandarkan letih
di pundakmu
terbanglah, terbangkan
tidurku
dengan sayap malam
dan titian angin
akan kutunjukkan
tempat para peri bersama manusia
di mana
setiap kisah tak kunjung akhir
jam
6:55:00 PM
0
komentar
Melamun di Dom 10: Du sei bei uns in der Mitte
19 Agustus 2005
Hari ini kami sedikit bernafas lega. Tiada tugas sepanjang pagi hingga siang, selain janji meeting sore di depan tenda Jung untuk persiapan puncak WYD di Marienfeld. Justru karena itu, saya jadi sempat ragu sewaktu naik kereta pagi itu, maunya langsung ke Fuhlinger See, tapi saya berhenti di Hansaring. Di peron Hansaring mustinya lanjut dengan kereta lain ke Chorweiler... keretanya cukup lama muncul, saya turun dan berjalan mengelilingi stasiun. Oh ya, di kejauhan tampak gedung toko Saturn. Jadi saya berjalan ke sana.
Toko Saturn adalah jaringan waralaba penjualan barang elektronik di Jerman, pesaingnya adalah toko Media Markt. Hampir semua daerah Jerman dijangkau oleh kedua konglomerasi ini. Harga barang yang ditawarkan cukup bersaing, apalagi bila barang tersebut sedang promo. Perang dagang kedua toko sangat terasa bila melihat poster-poster iklan yang dipasang pada halte-halte. Misalnya, Saturn dengan mottonya: “Geiz ist Geil!” menjual MP3 Player 512Mb seharga 39 Euro. Di tempat lain Media Markt dengan mottonya: “Ich bin doch nicht bloed” juga memasang iklan MP3 Player dengan harga lebih rendah.
Pembeli tentu yang diuntungkan. Meskipun sedikit bingung sebelum memutuskan jadi belinya yang mana? Saat memasuki Saturn Hansaring, saya sempat nyasar. Pikir saya karena sudah berada di toko Saturn, maka ibarat supermarket, barang elektronik lainnya mungkin ada di lantai atas... ya ampun, dari lantai satu sampai lantai [ada 3 lantai] atas hanya melulu menjual produk CD, termasuk VCD, DVD, CD musik bahkan piringan hitam... hehehe. Rupanya bangunan yang saya masuki khusus menyediakan CD doang.
Aku langsung mencari pintu keluar saat menyadari bahwa bukan tempat ini yang kumaksud. Nyebrang jalan, baru ketemu Saturn barang elektronik. Selamat datang di surga benda-benda ajaib! Dibandingkan Saturn di Galeria Kaufhof kemarin, Saturn Hansaring memang lebih luas dan lengkap koleksinya. Misalnya telepon PSTN wireless, mulai dari merek Siemens, T-Com, serta jenis-jenis dan harganya... belum lagi bila ada barang yang dianggap cacat [boksnya tidak utuh], harganya jatuh sangat murah.
Setelah melewati kasir, wisatawan diberikan formulir pengembalian pajak atas harga barang yang dibayar. Ada desk khusus di toko yang melayani tax refund. Dan untuk itu musti menunjukkan paspor kepada petugas. Formulir yang sudah dicap, nanti dapat ditunjukkan kepada pabean di bandara untuk mendapatkan pengembalian pajak tadi.
Selesai dari Saturn saya kembali ke stasiun Hansaring. Menunggu kereta menuju ke Fuhlinger See.
Hari sudah siang. Di tenda makan Fuhlinger See, saya duduk semeja dengan beberapa teman baru: Inga, Simone dan Sarah. Mereka sedang ngobrol dengan teman-teman grup kami. Sebetulnya saya tidak terlalu ingat lagi peristiwa siang itu. Setelah kembali di Indonesia, Inga menulis e-mail dan menceritakan kejadian lucu di meja makan...
Kami mengobrolkan mengenai peristiwa kemarin. Mereka katanya sempat ke Sungai Rhein untuk melihat Bapa Suci... Kebetulan surat kabar memasang berita utama kedatangan Paus di Koeln. Ada foto Bapa Suci yang baru mendarat dari pesawat, dan saya coba menirukan... mereka ketawa terbahak-bahak. Piring kertas yang ada di meja saya taruh di kepala. Detailnya tidak dapat saya ungkapkan. Setelah peristiwa itu, melalui e-mail, Inga bercerita bahwa piring kertas itu kemudian diminta oleh peserta lain untuk dipakai makan... dengan senang hati mereka berikan. Dan itulah yang membuatku gantian ketawa saat membaca e-mailnya.
Selesai makan siang, kami duduk-duduk di tepi danau. Jung dan Sandra sedang membuat tabel tugas untuk acara di Marienfeld besok. Beberapa teman sedang jemuran di bawah matahari. Hubert mengambil gitar dan bernyanyi-nyanyi dengan beberapa teman. Seru dan asyik juga mendengar lagu Jerman yang mereka nyanyikan. Lalu Jung ceburan ke dalam danau...
Mereka mengajak saya untuk ikut berenang... “tunggu”, jawabku... saya berlari ke kemah yang beberapa hari kami tinggalkan. Setelah berganti pakaian baru nyebur ke danau...
Bbbrrr... dingin sekali airnya. Ada ikan kecil-kecil berenang di dasar danau. Bebek-bebek yang biasanya berenang di permukaan danau, telah lari menjauh. Beberapa teman yang berani berenang sampai ke tengah danau dan duduk di bak pelampung yang ada di sana.
Kemudian hujan gerimis turun... teman-teman berlarian masuk ke dalam kemahnya. Acara berenang tidak dapat dilanjutkan. Aku pun juga balik ke kemah.
Sore hari, Mbak Ina datang. Seharian ini Mbak Ina istirahat di apartemen Armelia. Jam 17, grup kami berangkat bersama-sama ke stasiun menuju ke Horem. Hujan yang turun semakin deras.
Sepanjang jalan, Melitta menyanyikan lagu yang suka kudengar: “Du sei bei uns”. Lagu ini dinyanyikan dalam doa permohonan waktu misa pembukaan di Dusseldorf. Iramanya seperti tarian Hawaii... liriknya: “Du sei bei uns in der Mitte... Hoere Du uns, Gott”, dan saya ikut menari.
“Nyanyikan dong lagu Mitte”, begitu saya minta pada Melitta. Karena nggak hapal kalimatnya, aku hanya ingat Mitte doang... dan dia ketawa kalau saya bilang ‘mitte’. Dengan senang hati dia pun menyanyikan lagu ini... sampai kami tiba di Marienfeld.
Lapangan Bunda Maria, demikian arti harafiah Marienfeld. Kabarnya pernah terjadi mukjizat di sini jauh sebelum dijadikan tambang. Namun baik tambang, maupun tempat mukjizatnya tidak dapat terlihat. Yang ada lapangan yang luas sekali, lebih mirip ladang yang membentang. Tanah becek dan tergenang air hujan. Namun jalanan akses ke areal World Youth Day telah diaspal. Panitia tentu telah bekerja keras berbulan-bulan menata tempat ini.
Posko kami di Info Point gate 2. Di sana kami berkumpul sore itu. Tepatnya berteduh. Sambil menunggu kedatangan Markus, komandan dari Jung yang akan memberi instruksi.
Pukul 19, langit masih terang. Kami menikmati bekal makan malam berupa roti dan ikan kaleng. Teman-teman Perancis bernyanyi-nyanyi lagu Perancis dengan merdunya. Katanya itu nyanyian “Notre Dame”, pujian bagi Bunda Maria.
Sesudah itu, Markus baru muncul. Umurnya kelihatan sudah cukup tua. Dia asli nggak bisa berbahasa Inggris, untunglah ada Kristina, rekannya, seorang ibu yang lancar berbahasa Inggris, sambil tidak berhenti merokok. Kami akan bergantian bertugas di posko ini mulai besok pagi, bahkan ada yang kebagian jaga malam hingga pagi.
Dari tempat kami, kubah tempat Paus akan merayakan misa tak dapat terlihat karena terletak di kejauhan. Matahari telah terbenam. Selesai instruksi, kami diantar dengan mobil kembali ke stasiun Horem untuk pulang ke rumah.
Ina memberitahukan bahwa besok kamar yang kami tempati akan dipakai oleh seorang Pastor teman Armelia. Jadi, ketika tiba di kamar pukul 23.30, kami mengemas-kemasi barang bawaan kami sebelum tidur.
Besok adalah puncak perayaan WYD di Marienfeld.
jam
6:28:00 PM
1 komentar
Sunday, October 02, 2005
Melamun di Dom 9: shopping with pope
18 Agustus 2005
Sore kemarin, Donna membawa sekantong besar pakaian kotor saya dan mbak Ina. Dia menawarkan untuk mencucikan pakaian kami di rumahnya di Bonn. “Tak apalah, pakai mesin cuci lekas kok...”, begitu Donna menawarkan bantuan pada kami.
Hari ini kami telah membuat janji, akan mengadakan perjalanan ke Belanda siang hari. Tidak jauh sebetulnya, cuma sampai kota Venlo yang terletak di perbatasan Belanda dan Jerman.
Namun, sebelum itu aku harus ke Fuhlinger See menghadiri rapat di depan kemah Jung.
Jam 10.15 aku tiba, rapat sudah dimulai. Sandra seperti biasa menerjemahkan apa yang diomongkan Jung. Tugas di Marienfeld dibagi dalam beberapa shift kelompok.
“Ina, Donna dan Guntur [dia suka menyebut Gunther] di mana?”, tanyanya.
“mereka ada di rumah”.
“jadi Toni mewakili mereka?” tanya Jung lagi.
“nggak juga sih, tugas saya menyampaikan hasil pembicaraan siang ini kepada mereka...”
Matahari bersinar terik. Pemandangan danau terlihat indah. Setelah pembagian tugas selesai, kami menuju ke tenda makan. Makan siang telah dibagikan, saya sekelompok dengan teman-teman Perancis.
Seperti biasa, menunya pasta, kali ini dimasak dengan jamur. Saya minta Fulques pimpin doa dalam bahasa Perancis. Dia setuju. Lalu makanan dibagikan... Fulques bertindak sebagai kepala keluarga yang baik, saya sempat meledeknya; “dad, who is our mom?”
“ohh, your mom’s name Mary, Toni”, jawabnya.
“Mary who? Mary our mother or Mary our neighbour?”, godaku lagi...
Si Fulques jadi merah padam... hahaha. Kami tertawa terbahak-bahak menggodanya.
Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama bersenda gurau dengan mereka, jam menunjukkan pukul 11.30. Saya musti segera kembali ke stasiun. Saya pamitan pada mereka... dan tergesa-gesa ke stasiun.
Jam 12.30 tiba di Dom. Rame sekali suasana di sana. Ada yang sedang membagikan DVD-DVD film Jesus secara gratis. Untung mbak Ina dan Donna segera muncul. Donna membawa sekantung besar pakaian kami yang sudah dicuci dan dikeringkan. Dia bercerita, semalam dia baru sampai di rumahnya di Bonn jam 1 malam, saking penuhnya kereta menuju Bonn oleh peserta WYD. Jadi tengah malam dia begadang nungguin mesin cuci. Suaminya sempat nyari dia di ruang cuci... trims, ya, Donna!
Jam 13.25 kami berangkat dengan kereta menuju ke Venlo. Di jalan, sempat ada pemeriksaan tiket, kami menunjukkan ID volunteer yang kami kenakan, namun karena jarak yang ditempuh melewati perbatasan Jerman, kami musti membayar tiket. Demikian juga paspor kami tak luput dari pemeriksaan. Mbak Donna tidak membawa paspor, dia ngomong dalam bahasa Jerman menjelaskan kepada petugas. Untunglah petugas itu mau mengerti...
15.30 kami tiba di Venlo. Kami jalan-jalan di sepanjang emperan toko-toko. Suasananya tidaklah asing, selain berbahasa Belanda, dan begitu banyak ‘sale’ barang-barang murah digelar. Donna membeli sandal kelom seharga 2 euro. Mbak Ina sibuk memilih arloji buat suami kesayangannya di Jakarta... dan aku cuma memerhatikan keramaian di sana. Ada dua aktris teater jalanan yang dicat sekujur tubuh dan pakaiannya sehingga mirip patung. Mereka bergaya diam, bila ada yang memberikan uang koin baru mereka bergerak normal. Unik juga.
Donna cerita, negeri Belanda lebih longgar aturan hukumnya. Misalnya mengisap mariyuana dilarang di Jerman, sedangkan di Belanda diperbolehkan. Maka orang Jerman ada yang ke Venlo cuma buat ngisap mariyuana. Demikian pula bila mencari suaka politik, banyak yang lari ke Belanda.
Jam 18.15 kami kembali ke stasiun, matahari masih bersinar terang. Kami berkenalan dengan dua gadis yang hendak ke Jerman untuk mengikuti kegiatan WYD. Namanya Elske dan Schoen. Mereka justru minta petunjuk jalan pada kami.
Kemudian mereka minta tanda tangan kami pada topi yang mereka kenakan... ketemu fans, nihh...
Pukul 19.30 kami tiba di Dom. Suasana ramai sekali, karena Bapa Paus tiba di Jerman dan sore ini mengunjungi Dom. Dom ditutup oleh polisi, segala akses diblokade dengan portal. Orang-orang berdesakan untuk melewati jalan sempit yang tersedia. Sampah tampak bertebaran di seluruh halaman Dom.
Di sebuah sudut Dom, ada pos jaga polisi yang sudah kosong... makanan kaleng bergeletakan di mana-mana, selain itu kaleng-kaleng aerosol [parfum], dan pisau-pisau lipat. Tampaknya di tempat ini beberapa jam lalu dijadikan tempat screening peserta yang ingin masuk ke Dom, dan segala barang tersebut harus ditinggalkan di pos. Tampak beberapa orang sedang memunguti benda-benda tersebut.
Saya berjalan ke Media Markt dan Saturn Galeria [toko barang elektronik] mencoba membebaskan diri dari arus massa. Di sana melalui layar televisi aneka model yang dipajang di toko saya mengikuti liputan berita kunjungan Paus di Jerman. Paus mendarat di bandara dijemput oleh pejabat negara Jerman. Massa terlihat memenuhi tepi Sungai Rhein. Paus menumpang di perahu Rhein Energie dan melambai-lambaikan tangan. Sayangnya, sempat terjadi insiden: Kayu salib WYD yang telah dibawa keliling Eropa, dan sekarang ditegakkan di perahu tersebut sempat jatuh [patah] akibat tertiup angin. Untunglah Paus tidak duduk tepat di bawah kayu salib... ini benar-benar di luar skenario panitia, tentu saja.
Betapa jernih dan jelas kunjungan Paus terlihat dari layar kaca televisi... rasa-rasanya saya berhadapan langsung dengan Paus Benedetto... oh ya, massa kaum muda mengelu-elukan Bapa Suci dengan seruan: Be-ne-det-to... tak henti-henti. Antusiasme kaum muda tak terperikan dalam peristiwa ini.
Jam 22.30 saya kembali ke stasiun Koeln Hbf. Massa masih memadati stasiun. Stasiun sempat diblokade polisi... dengan susah payah, akhirnya bisa lewat juga.
Tiba di rumah, kami masak mie ditemani sayur kaleng dan tuna... lumayan buat makan malam. Tadi hampir semua restoran tutup, semua makanan mereka laris diserbu peziarah.
jam
4:49:00 PM
1 komentar
Wednesday, September 28, 2005
Melamun di Dom 8: nowhere to go
17 Agustus 2005
It must be a sunny day. No rain. What a day... but I missed one of our mates: Mariana. Nobody knew where she was after the Opening Ceremony of World Youth Day. So, last night only me and mbak Ina slept in our nice and comfort room.
[Eh, sorry, gua kalo lagi mabok suka begini nih... ngomongan gak jelas]
Sarapan pagi itu: roti dan Tuna Venezia... so special, karena tunanya jauh-jauh datang dalam kemasan kaleng ke Koeln. Tunanya nggak sendiri, karena ditemani salad sayur, sehingga mereka tampak berjejal dalam kaleng kecil itu. Trims ya, tuna! :)
Kami musti berangkat ke stasiun utama Koeln, karena ada janji dengan Guntur dan Donna di sana. Mereka datang dari Bonn, dan kami bertugas di Universitas Koeln tempat acara musik piknik digelar. Stasiun sudah ramai, aku berjalan ke arah Dom. Ada beberapa atraksi digelar spontan, misalnya rombongan peziarah dari Afrika. Ramai sekali mereka bernyanyi, menari diiringi tabuhan gendang dan lambaian bendera.
Tiba-tiba ada yang menggamitku. Eh, si Guntur sudah muncul. Tergesa-gesa kami turun ke S Bahn [jalur kereta bawah stasiun] menuju ke Neumarkt, kuatir telat. Dari situ kami naik kereta U1 ke arah UniversitaatStrasse. Kampus Universitas Koeln ini mirip UI Depok, ada danau dan areanya luas sekali. Beberapa angsa berenang di airnya yang jernih. Padang rumputnya menghijau luas.
Kami bertemu dengan Jung dan teman-teman dari Fuhlinger See yang sudah berkumpul di sana. Kata Jung belum ada kegiatan pagi itu hingga jam lima sore.
Akhirnya kami kembali ke stasiun. Di jalan, Sandra memberitahukan kabar buruk ini: Bruder Roger pendiri komunitas Taize dikabarkan tewas semalam. Beliau ditikam dari belakang oleh seorang perempuan peziarah dari Romania.
What??? Bruder Roger itu? Yep, sahut Sandra datar.
Kami terkejut bukan kepalang... lagu-lagu Taize begitu akrab dengan telinga kaum muda dan dipakai pada beberapa bagian perayaan WYD. Estelle bilang bahwa Taize letaknya beberapa mil dari Paris. Beberapa poster Bruder Roger tampak terpampang di dinding Info Point. Ini tentu ungkapan dukacita beberapa peserta WYD.
Kami melanjutkan perjalanan ke Messe dengan berjalan kaki di sepanjang sungai Rhein. Ada sebuah perahu besar KSHG, semacam perkumpulan mahasiswa katolik di Jerman, yang sedang tertambat di tepi sungai. Kami mampir dan masuk ke dalam perahu. Ada kafe di dalam. Kami duduk ngobrol sambil memandang sungai dari jendela.
Coklat panasnya sedap, sekalipun harganya 1 euro. Kemudian kami ke anjungan perahu. Duduk-duduk berjemur di bawah mentari yang bersinar terik. Dari kejauhan terdengar lagu Taize sedang dinyanyikan di Messe...
Sajak ini langsung terlahir di sana:
ingatkah dikau, kawan
di tepi sungai Rhein
kita duduk termangu
ditemani secangkir coklat panas
sambil mengingat-ingat Tuhan
nyanyikan lagu
harapkan perdamaian
di tingkap rumah-rumah kecil
yang berderet tampak serupa
dengan pintu dan cerobong asap
dan selipan bunga di jendela
kita mencari jejak
pada peta yang belum pernah disentuh
adakah rumput-rumput basah
akan kauinjak
saat menempuh jarak ke tenda
seperti burung kembali ke sarang?
Kami meninggalkan perahu KSHG, dan terlihat beberapa stand jurnalis digelar di sepanjang jalan. Tampaknya ada beberapa stasiun tv dan radio mengadakan peliputan live kegiatan WYD. Ada teman yang hendak diwawancarai oleh wartawan, namun Sandra mengingatkan bahwa karena kami sedang mengenakan seragam volunteer, maka kami tidak diperbolehkan memberikan informasi apa pun kepada pers.
Tiba di Hall Messe terlihat antrian untuk makan siang yang penuh berjubel. Donna dan Guntur kemudian mengajak saya dan mbak Ina untuk berangkat ke rumah Donna di Bonn. “kita makan siang di Bonn yuk!”
“nasinya cukup nggak?”
“gampanglah itu... kita masak-masak di rumahku”, jawab Donna dengan logat Bataknya.
Maka kami pun balik ke stasiun Koeln Hbf, untuk menumpang kereta ke arah Bonn. Di stasiun kami berpapasan dengan rombongan yang dengan serunya bernyanyi-nyanyi: “Tujuh belas Agustus tahun ampat limaaa....”, sambil mengibar-ngibarkan bendera merah putih.
Ohlala... rombongan anak-anak Indonesia mahasiswa Berlin, sedang merayakan tujuhbelasan di stasiun Koeln dengan ramainya. Setelah ‘upacara’ kecil-kecilan alias ngobrol dengan mereka, kami pun melanjutkan perjalanan.
Ada kabar yang saya dengar bahwa mahasiswa Indo di Berlin terkesan rada ‘som-se’, katanya mereka jarang mau negur atau nyapa duluan bila ketemu dengan mahluk Indo. Apa benul? [benar dan betul?] ahh, itu sih gosip... karena perjumpaan kami di stasiun siang itu akrab sekali. Merdeka!
Kereta ke arah Bonn tiba jam 13. Keretanya agak beda dengan kereta yang sering kami tumpangi. Yang ini mirip kereta tua, duduknya saling berhadapan. Tapi asyiknya ada sandaran kepala di samping kursi. Jadinya aku bisa bobok di jalan, sesudah ngobrol dengan Chris Milas, teman dari Michigan yang mau ke Bonn juga.
Chris ini fasih menyebutkan beberapa istilah seperti: sate, ikan, sapi. Jenis-jenis ikan dalam bahasa Indonesia juga disebutnya lancar. Rupanya aneka makanan tadi dikenalnya dari komunitas Indonesia di Michigan, AS. Pacarnya, cewek dari Indo, suka ngajak dia makan masakan Indo di sana... tapi, so sad but true, dia kemudian ditinggal sama pacarnya ini... hik hik hik... makanya mungkin ini yang makin membuat dia hapal dengan nama masakan Indo.
Kami tiba di stasiun utama Bonn [Bonn Hbf] dan mengantar Chris ke bus yang dipenuhi dengan rombongan Indonesia. Tujuan mereka kebetulan sama? Kebetulan?? Kok bisa kebetulan ya... Ya, semoga Chris dapat melupakan kenangan sedih dengan pacarnya itu.
Kami lanjutkan perjalanan naik kereta ke stasiun Hersel. Menuju ke rumah Donna! Guntur cerita lucu di sepanjang jalan, kisah tentang tukang becak yang karena kurang bayarannya nggak mau pakai rem... ramai sekali deh. Orang-orang di gerbong mungkin pada takjub dengan keceriaan kami. Maklum Guntur arek Surabaya, Donna dari Batak, mbak Ina dari Jakarta, dan saya dari nowhere... hehehe. Kebayang kan kalo lagi ngobrol. Mirip rujak cingur! Sedap.
Tiba di Hersel, kami berjalan ke apartemen Donna. Saya dan Guntur diminta pergi belanja ayam dan sayur ke Aldi supermarket. Supermarketnya tidak jauh dari rumah Donna. Sepanjang jalan yang kami lalui sangat asri dan sepi. Tidak banyak kendaraan lalu lalang. Supermarket itu juga tidak ramai. Saya langsung ke rak sayur, buah dan makanan beku untuk memerhatikan benda-benda ajaib. Guntur bingung saat memilih chicken wings dalam kemasan atau chicken karage. Akhirnya keduanya dibawa.
Brokoli hijau nggak ada, diganti dengan kembang kol putih. Terus, buahnya apa?
Ada buah yang menarik. Naktarine, semacam plum. Maka kami ambil satu kotak. Tiba di apatemen Donna, saya lebih takjub lagi. Dapurnya rapi sekali, dua celengan babi ditaruh di jendela dapur. Di luar pemandangan pepohonan. Celengan babi itu, kata Donna, bila sudah penuh, isinya banyak sekali koin euro... bisa dipakai buat liburan ke Indonesia. Makanya dia minta dibelikan celengan babi gemuk sama suaminya.
Donna dan mbak Ina masak di dapur. Aku duduk di teras, menikmati pemandangan kebun tetangga. Pemanggang BBQ sedang dipanaskan. Ayam-ayam karage ditaruh di atasnya.
Menu makan siang kami: nasi panas, ayam bakar karage, tumis kol sewajan, plus sambal Indofood. Rasa-rasanya kami sedang makan siang di Indonesia... ramai dan sedap sekali! Hehehe. Bayangkan saja, nasinya sampai ludes sebakul.
“trus, suamimu makan apa nanti, Donna?” tanya mbak Ina.
“tak usah kuatirlah... dia bisa masak nasi sendiri”, jawab Donna.
“tau nggak, dia itu biasa beli roti, carinya roti yang sedikit murah... aku kan maunya roti yang biarpun sedikit mahal, tapi bisa diiris tidak hancur... eeh, pas rotinya dipotong hancur, kubilang baru rasa kamu...”, cerita Donna dengan logat Batak yang kental mengenai kebiasaan suaminya yang Jerman itu.
Setelah menikmati naktarine [yang sedikit kecut namun manis dan berair] dan ngobrol, kami mengagumi isi kamarnya yang di dindingnya terdapat gambar yang indah... “wah, kelihatan seperti kamar pengantin niih... rapi sekali”, ujarku. Mba Ina pun juga setuju.
Pukul 16.15 kami meninggalkan Hersel, kembali ke Neumarkt yang cukup jauh dari Bonn. Di Neumarkt, kami bertemu dengan seorang ibu tua dari Indonesia yang sedang menunggu kereta juga. Namanya Ibu Marta. Beliau seorang perawat yang sudah lama bekerja di Jerman. Katanya, beliau baru saja pulang berenang. Ada sebuah tas keranjang anyaman rotan yang dibawa dengan handuk. Waduh, sedap sekali bisa menikmati masa tua seperti ini ya...
Tiba di UniversitaatStr, saya berpapasan dengan teman Perancis.
“kalian kemana saja seharian ini?”
“tadi kami ke Ursulinen, mengambil pakaian yang dicuci kemarin”, kata Fulques menunjukkan tas bawaannya. “sudah makan?” tanyaku.
“kami makan di McD, masing-masing 6 euro...”, katanya.
“wow, tentu itu makan siang yang asik”. Tapi dalam hati kuakui bahwa makan siang kami tadi lebih asyik lagi...
Saat berkumpul dengan teman-teman di sana, Sandra memberitahu bahwa besok kami berkumpul di depan tenda Jung untuk persiapan acara di Marienfeld. Masing-masing teman kuperhatikan agak lesu sore itu. Rupanya, teman-teman seharian ini dongkol, instruksi dari Jung tidak jelas mengenai kegiatan musik piknik. Sejak pagi mereka bangun [kabarnya semalam mereka baru pulang ke Fuhlinger See dari Dusseldorf sudah larut malam], berangkat ke UniversitaatStr dan di sini mereka duduk bengong saja.
Saya coba menghibur Melitta dan teman-teman. Di seberang lapangan ada pembagian kue-kue dalam kotak besar dan dus-dus susu coklat. Kotak kue kubuka, isinya beberapa macam kue bolu...
“Ooww, this is my mom’s cooking! It’s very delicious. Please, take it.”
Hanya beberapa teman yang mau mengambil kue yang kutawarkan. Mereka tentu mangkel dengan apa yang terjadi sore itu, selain bahwa rasa kue bolunya memang kurang meyakinkan. Mungkin karena dimasak massal untuk ratusan ribu peserta WYD, ya?
Akhirnya kami berpamitan. Lapangan Universitas di penuhi dengan kaum muda yang sedang bermain, duduk-duduk, ataupun berpacaran. Saya mampir ke kotak Dixi sebentar. Begitu pun Donna. Keluar dari Dixi, kupikir mereka sudah mendahului pergi ke stasiun. Aku pun segera ke stasiun... eh, tiba di sana, mereka tidak ada.
Aku balik ke dalam kampus. Ya ampun, kami berselisih jalan rupanya. Si Donna tadi malah mengabsen setiap kotak Dixi dengan menyebut namaku. Dipikirnya aku masih ada di sana... hehehe.
Tiba di stasiun, kami menunggu Agnes. Nah, terjadi lagi selisih jalan...
Agnes beritahu melalui sms bahwa dia sudah tiba di UniversitaatStr. Tapi mungkin di stasiun lain di sekitar kampus yang luas ini. Padahal kami tadi melalui AachenerStr. Cukup lama menunggu di stasiun, sebelum kami memutuskan untuk berangkat kembali ke TrimbornStr. Mau pulang. Armelia katanya lagi masak ayam goreng dan nasi kuning...
Jam 20 kami tiba di rumah. Dan benarlah, Armel lagi masak ayam goreng. Hari apa sih hari ini? Rasanya kami pesta makan nasi sepanjang hari ini... oh ya, proklamasi kemerdekaan!
Sekalipun seharian ini mirip orang nyasar, “nowhere to go”, tapi yang jelas, makanan hari ini sedap, bo. Anggaplah ini karunia. bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa...
Sekali lagi, merdeka, coy!
jam
4:11:00 PM
0
komentar
Tuesday, September 27, 2005
Melamun di Dom 7: opening ceremony
16 Agustus 2005
Pukul 7.30 kami baru bangun. Waduh, telat bangun nihh... hari ini kan musti kumpul dengan teman-teman dan berangkat ke Dusseldorf sebelum misa pembukaan WYD dimulai!
Maka acara kebut-kebutan mandi dan sarapan pagi terjadi di pagi yang cerah itu [kali ini tidak hujan]. Saya sarapan roti kepal dan sayur kaleng [saking banyaknya makanan kaleng yang diberikan setiap hari, saya jadi punya koleksi sekantung logistik]. Sedangkan Mbak Ina dan Mariana sarapan nasi goreng Gaga, yang cukup diseduh dengan air panas, kemudian tinggalkan sebentar... dan nasi ‘goreng’ sudah siap.
Air panas memakai air keran [di sana air keran wastafel bisa langsung diminum] dan colokan pemanas air yang saya bawa dari Indo. Setelah siap, kami berjalan ke stasiun Trimbornstrasse. Kami memutuskan untuk langsung ke Dusseldorf, tidak berhenti di Chorweiler. Nah, sepanjang jalan setiap kali kereta berhenti di stasiun, para peserta WYD berjubelan masuk ke dalam gerbong. Mereka tentu punya tujuan sama, ke Dusseldorf.
Kami dapat tempat duduk. Kebanyakan yang baru datang hanya bisa berdiri. Mariana dengan tenang masih menikmati sarapan paginya di kereta: bekal roti dan mentega yang dioleskannya sepotong-sepotong... Ketika kereta tiba di LTU Arena, kami menunggu Jung dan grup kami, serta Guntur.
Oh ya, Guntur nginap di Bonn selama kami tinggal di kamar apartemen Jimmy. Katanya ada rumah teman di Bonn yang ditumpanginya. Nah, dia juga bersama Armelia ikut mendaftar menjadi volunteer WYD. Hari Senin kemarin, mereka akhirnya berhasil diterima sebagai volunteer, dan kami merekomendasikan dia pada Jung supaya dia dapat bergabung di tim kami. Jung setuju.
Di halte LTU Arena, saat menunggu itu, kami bertemu dengan rombongan Polandia. Mbak Ina dan Mariana mengajak mereka ngobrol sambil mengeluarkan keahlian berbahasa Polish, misalnya “Jesus, I trust in you”... [aku lupa bahasa Polandianya]. Mbak Ina tentu fasih, karena istilah ini dari devosi koronka [kerahiman ilahi], sedangkan Mariana katanya belajar dari Stefan Leks, orang Polandia yang kerja di Lembaga Biblika Indonesia. Mbak Ina sempat mengutarakan maksudnya mau meminjam bendera Polandia mereka. Buat apa?
Besok kan 17 Agustus? Rencananya bendera Polandia ingin kami pakai menjadi bendera Indonesia. Tinggal dibalik saja. Putih merah, jadi merah putih... tapi dengan halus mereka menolak dan bilang bendera Polandia grup mereka cuma satu... yaahh, gak jadi deh balikin bendera Polandia! Hehehe...
Setelah lama menunggu dan yang ditunggu tidak jua muncul-muncul. Kami langsung masuk ke stadion. Penjagaan pintu masuk cukup ketat, selain ID Volunteer, harus menunjukkan Pass masuk LTU Arena. Mariana dilarang masuk, karena dia tidak punya Pass masuk LTU Arena. Kami musti mencari Jung dan meminta satu Pass buat dia.
Pukul 12 siang kami tiba di tribun dalam stadion LTU. Teman-teman rupanya sudah duduk di sana, dan juga Guntur. Waduh... jadi tadi kami nunggu siapa ya? Lha yang ditunggu sudah ada di dalam. Hehehe... Florian rupanya tidak dapat memberikan pass masuk buat Mariana, karena dia bukan anggota tim kami.
Siang itu sedang digelar rehearsal alias gladi bersih untuk acara pembukaan WYD nanti sore. Kami membagikan lembaran teks lagu, koran Direkt ke setiap bangku di tribun. Atap stadion berupa kubah ditutup, mungkin kuatir bila hujan turun.
Jam makan siang tiba, kali ini suasananya berbeda... lebih mirip pemain sepak bola istirahat di kamar ganti. Karena di tempat macam itu kami makan siang: lentil soup dan minumnya soda. Cuma itu doang? Ya cuma itu. Sepertinya Sodexho, perusahaan yang menyediakan logistik sepanjang WYD berlangsung, siang itu tidak menjangkau LTU Arena.
Karena lentil sup kurang ‘nendang’ [istilah mbak Ina], maka aku ngantri lagi untuk mangkok kedua. Tapi si Kimberly Fu, teman dari Kanada mengingatkan bahwa mungkin masih banyak yang belum dapat makan siang... akhirnya gak jadi nambah. Kecian dehh...
Terpaksa Snickers time! Hehehe...
Sesudah makan siang, jam dinas kami secara resmi dimulai. Kami menuju ke pos masing-masing. Para peserta mulai berdatangan masuk ke dalam stadion. Masing-masing jenis tamu dibedakan ID card dan pintu masuknya: peserta, wartawan, VIP [para uskup, kardinal, pejabat]. Penjagaan dilakukan berlapis-lapis. Yang paling ketat adalah wilayah lapangan, di sepanjang pintu akses dijaga oleh security berjas hitam-hitam dengan kabel earphone menjuntai di belakang telinga. Tidak ada yang boleh masuk ke lapangan selain petugas.
Kami bertugas memeriksa ID setiap peserta, memberi informasi dan mengantar bila perlu. Sayangnya, dalam tim saya tidak ada fasih berbahasa Jerman. Beberapa kali harus kami katakan: “Sorry, speaking please...”
Saat ada rombongan uskup dari Kanada nyasar ke tempat kami, seorang uskup dari Halifax menanyakan asal kami satu per satu. Dia cukup terkejut mengetahui saya dari Makassar, Indonesia, dia sempat titip salam buat uskup kami [sudah saya sampaikan salam beliau, dan uskup kami bilang bahwa pernah beberapa tahun bertugas di sebuah keuskupan di Kanada]. Ada juga pastor-pastor dari Bari, Itali yang nyasar, dan menanyakan di mana mengambil stola dan kasula buat misa pembuka. Saya menemani mereka ke atas, ke ruang yang dijadikan sakristi. Peraturan di sana langsung mengejutkan mereka: hanya imam yang membawa stola yang bisa masuk dan bersama-sama merayakan misa pembukaan.
Sempat juga ada seorang peserta marah-marah, dia mencari air minum ke sana kemari, namun tidak ketemu. Katanya Kardinal butuh air minum. Saya cuma mengantarnya ke kantin tempat jualan makanan dan minuman. Soalnya setahu saya, menara air Rhein Energie cuma ada satu, tapi harus keluar stadion... tapi, apakah kardinal mau minum dari menara air? Hehehe...
Pukul 17, Pembukaan World Youth Day XX digelar, serentak di tiga stadion: Bonn, Koeln dan Dusseldorf. Kamera menyiarkan siaran secara simultan bagian-bagian misa ke setiap stadion. Penonton mengikuti dari layar raksasa yang ada di atas stadion. Pada bagian Ekaristi, barulah siaran ke terfokus ke imam yang memimpin ekaristi di stadion tersebut.
Ramainya luar biasa. Mirip pertandingan Bundesliga yang digelar sore itu. Beberapa peserta berkata bahwa mereka sangat bangga dapat hadir dalam acara spektakuler sore itu. Setiap bangsa mengibarkan benderanya ditimpali gemuruh gelombang yang diciptakan bergantian. Kardinal Lehmann yang menjadi selebran utama di LTU Arena mengatakan bahwa peserta WYD 2005 telah berhasil melumpuhkan kota Koeln beberapa hari ini.
Rasanya itu tidak berlebihan, karena koran-koran lokal juga telah melaporkan hal yang sama. Mobil-mobil musti melambatkan lajunya, saat ada rombongan yang tiba-tiba menyeberang jalan. Namun, kali ini tanpa umpatan, makian, maupun klakson, selain senyum dan lambaian tangan, kata koran lokal.
Saat Kardinal Lehmann berpidato, Sandra memberitahukan saya bahwa kardinal ini tidak terlalu disukai karena sikapnya yang konservatif. Katanya sih, dia masih kolega dengan kardinal Ratzinger yang sekarang jadi paus.
Setelah acara pidato seremonial, dilanjutkan dengan acara musik! Stadion jadi bergemuruh kembali... kami menari-nari di tribun mengikuti irama lagu Jerman. Lampu-lampu dipadamkan, stadion gelap, namun cahaya berwarna-warni menerangi... Guntur jogetnya paling hot, Inul kalah deh... teman-teman sampai ketawa.
Saat arloji menunjukkan pukul 21, ini tanda kami sudah harus balik ke stasiun. Pingin sekali mengikuti acara ini sampai selesai... apalagi saat melangkah ke luar stadion, langit di luar tampak masih terang benderang, seperti masih sore. Namun, perjalanan balik ke Koeln yang memakan waktu lebih 1 jam, membuat kami harus segera pulang.
Dan benar, pukul 23 kami baru tiba di rumah.
tanah asing
mengantuk aku di metro
melihat poster
asing namun akrab
dalam kecepatan
ruang dan waktu
…
: berhentilah!
jam
4:41:00 PM
0
komentar
Melamun di Dom 6: stairway to heaven
15 Agustus 2005
dom
tembok kusam berdiri gagah
dengan menara kembar runcing
menggores langit
“mari kita bunyikan loncengnya”,
katamu kemarin
bila nafasmu panjang
509 anak tangga tentu dapat
kaudaki sampai ke puncaknya
jangan coba berhenti
sebelum kau pandang surga
dan bintang yang pernah disaksikan
para majus itu
reliefnya akan bercerita
sejarah bangsa ini dan dunia
waktu menyeberangi sungai Rhein
laksana Musa dulu
melintasi Laut Merah
Dom,
tempat peziarah menggapai langit,
berdirilah gagah selalu!
Pagi hari hujan turun. Saya suka ke jendela di belakang tempat tidur mbak Ina sewaktu dia ke kamar mandi. Duduk di jendela mengamati pemandangan di luar yang basah.
Sarapan pagi kami: wafel isi vla, sisa bekal makan tadi malam.
Sesudah itu kami bersiap-siap naik kereta ke Fuhlinger See. Rencana pindah dari kemah ke kamar apartemen sudah bulat, karena hari ini adalah hari libur kegiatan relawan. Hari Senin pekan ini, para peserta WYD mulai berdatangan dan registrasi. Besok baru diadakan acara pembukaan.
Di Chorweiler hujan turun deras. Tiba di area Fuhlinger See kami berpapasan dengan tiga teman dari Polandia. Mereka katanya mau ke bank di Koeln untuk ambil zloty [mata uang mereka] buat beli pakaian. Mungkin pakaian-pakaian mereka kebasahan akibat jacuzzi di tenda semalam...
Di tenda makan, ada teman-teman Perancis. Fulques, Estelle dan Edward. Seru sekali obrolan pagi di ruang makan... syukur bahwa Edward sudah segar kembali. Kebetulan aku nggak bawa sendok garpu, buat mengaduk isi gelas dan mengoles roti, Estelle dengan senang hati meminjamkan sendok garpunya. Oh ya, peralatan makan kami sangat istimewa, dibagikan sewaktu registrasi hari pertama dan dipakai sepanjang kegiatan berlangsung. Kelihatannya sendok garpu terbuat dari plastik, namun jangan silap, dari buletin WYD dijelaskan bahwa semua peralatan makan terbuat dari bahan jagung dan dapat mudah hancur [decomposable].
Kami beritahu bahwa hari ini kami akan pindah dari Fuhlinger See. Karena itu kami segera ke kemah dan berkemas-kemas. Teman-teman dari Perancis juga akan ke Koeln, jadi kami berangkat bersama. Fulques membantu membawakan koper mbak Ina yang padat sekali isinya. Estelle bercerita bahwa di Paris, mereka bertiga tinggal berpencar. Edward kuliah di fakultas Biologi. Bila musim liburan mereka ke Toulon dan bermain ski di sana.
Tiba di stasiun Hansaring, kami berganti kereta ke Koeln.
Perutku mulai ada gangguan lagi. My stomach is not delicious, begitu kata teman saya dulu di India... hehehe. Sehingga aku harus turun di Koeln Hbf bersama ketiga teman Perancis. Mbak Ina sendiri lanjut ke Trimbornstrasse.
Tujuanku: ke toilet McDonald di lantai bawah. Hehehe... Edward sempat menyarankan untuk ke apotek di depan McD buat beli obat diare. Tapi aku justru jadi bingung waktu penjualnya ngomong pakai bahasa Jerman, ntar keliru diberi obat bisa payah deh... Jadi aku memutuskan ke McD saja. Ada penjaga toilet dengan ramah mengatakan bahwa toilet lowong, bahkan mau mengantarku masuk... Ranselku yang besar itu saja yang kubawa masuk... Thanks God. Masalah adaptasi perutku rupanya belum selesai, namun setidaknya McD cukup menolong.
Setelah itu baru aku lanjutkan naik kereta ke Trimbornstrasse. Acara pindahan rumah berjalan lancar hari itu, meski dengan ‘gangguan’ kecil saja. Setelah menaruh ransel di kamar apartemen, dengan mbak Ina kami naik kereta ke Koeln Messe untuk makan siang. Antrian volunteer yang hendak makan siang di sana ramai sekali. Ada teman dari Filipina yang kocak sekali. Sepanjang antrian dia bercerita lucu... kami tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.
Menu makan siang kami: nasi goreng ala India.
Syukurlah, akhirnya ada menu nasi setelah beberapa hari makan pasta aneka variasi. Nasi gorengnya pakai ayam, tapi dengan bumbu kari. Saya perhatikan di dapur umum, para koki cuma menuangkan nasi goreng instan yang dikemas beku ke dalam wajan raksasa. Lalu menutupnya beberapa saat kemudian mengaduk-aduk, sebelum dibagikan ke dus-dus.
Selesai makan siang, saya berangkat ke Dom. Siang itu saya ingin mencoba mendaki anak tangga ke menara Dom. Antrian peziarah yang ingin naik cukup panjang. Karena saya memakai id volunteer, saya minta langsung naik, alias tidak perlu bayar...
Tangganya terbuat dari batu yang melingkar-lingkar ke atas. Ruangan untuk melangkah tidak terlalu lebar, cuma muat buat satu orang. Bila kebetulan berpapasan, yang satu musti merapat ke dinding dulu supaya yang lain bisa lewat. Saya menyanyi-nyanyi lagu Taize buat menghibur diri: “dalam Tuhan aku bersyukur... dengan lagu pujian... Tuhanlah... penyelamat... ku... hhhh... hhh... hhh...” napas sudah mulai terengah-engah di tengah jalan. Musti berhenti dulu... masih berapa lama sampai ke atas ya? Tak ada petunjuk apa pun, selain anak tangga yang berwarna kusam.
Ya Tuhan, semoga aku kuat naik ke atas... ada 509 anak tangga yang harus didaki. Untunglah ada air botol yang baru diisi di tower Rhein Energie tadi. Singkat kata, sampai juga. Ada ruangan berbentuk lingkaran tempat peziarah duduk-duduk kecapekan. Aku duduk dulu di sana dan memperhatikan: masih ada tangga terbuat besi ke puncak menara. Di sini belum ada apa-apa yang bisa dilihat. Maka, pendakian dilanjutkan lagi... akhirnya... tiba jua!
Pemandangan kota Koeln terhampar di luar, langit digelayuti awan mendung. Rumah-rumah dan sungai Rhein terlihat seperti mainan monopoli. Aku mengelilingi puncak menara dan memandang segala penjuru, ada poster ‘Ansichten Christi’ terlihat dari kejauhan. Tentu ukurannya besar, berupa lukisan Thomas yang menyentuh Kristus yang bangkit, sehingga dapat kupandang dari sini.
Sesudah itu, turun tangga... kali ini tentu lebih mudah dan bisa lebih cepat. Sempat mampir di pintu tempat lonceng katedral dibunyikan. Peziarah yang ingin membunyikan lonceng, cukup memasukkan beberapa koin euro, lonceng berdentang dengan kerasnya... Pantas saja, setiap kali lonceng Dom berbunyi saya perhatikan arloji, lho kok nggak tepat waktu? Rupanya itu hasil kerja peziarah.
Saat menjejak bumi kembali, saya masuk ke dalam Dom. Peziarah ramai. Di sayap kanan katedral, ada patung bunda Maria, menurut leaflet Dom, pernah ada mukjizat terjadi. Maka orang ramai-ramai mendekat untuk berdoa. Termasuk saya. Ada seorang pastor Italia yang sedang mendoakan masing-masing peziarah. Di depan saya ada seorang gadis. Dia ditanya oleh pastor: “where are you from?” Dia jawab: “Indonesia”.
Olala... aku langsung menggamitnya. “Dari Indonesia, ya?”
Pastor itu memandang kami berdua dan bertanya: “Are you both a couple?”
Langsung kami menjawab: “No. we’ve just met here...”
Pastor itu menumpangkan tangan dan berdoa dalam bahasa Italia. Lalu kami beranjak pergi dan mengobrol di tempat lilin. Gadis itu namanya Lisa, dia dosen Fakultas Psikologi Atma Jaya Jakarta. Dia berangkat ke Koeln dengan Thai Airways. Katanya, sepanjang penerbangan ada empat kali disediakan makan... gile bener.
Kami keluar Dom, untuk menghabiskan waktu sebelum misa jam 18.30. Jadi aku ke menara air untuk mengisi botol minumku. Lisa justru memberiku sebotol jus apel, katanya dia nggak doyan karena rasa sodanya. Kami berjalan ke Hohestrasse. Sewaktu melihat pengemis di pinggir jalan, Lisa berhenti dan membuka dompetnya. Pengemis itu diberikan duit euro. Ya ampun, kataku... pengemis di Eropa sih sungguh-sungguh dijamin negara, beda dengan di Indonesia. Baru beberapa langkah, Lisa berhenti. Ada kartu-kartu doa Mother Teresa di tangannya. Dia kembali ke pengemis tadi dan memberikan satu kartu...
Aku tersenyum-senyum... ajaib juga bisa ketemu malaikat macam ini di Koeln.
Kami ke Galeria Kaufhof. Di lantai dasar Galeria ada supermarket. Banyak sekali makanan enak dijual di sana, termasuk aneka minuman keras. Lisa kebingungan mau belikan apa buat koleganya di kampus. Hampir dibelinya sebotol minuman, cuma kuingatkan kalo botolnya pecah di jalan bisa berabe. Akhirnya kami ke counter cokelat. Ada bermacam-macam cokelat dengan harga berbeda-beda. Lisa memborong cokelat.
Dari rak cokelat, sayup-sayup aku dengar lagu yang diputar dalam supermarket, lagu “Home” Michael Buble yang suka kudengar waktu di Indonesia:
Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home
Mmmmmmmm
Maybe surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home
Oh I miss you, you know
And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
“I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that
Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky I know
But I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home
Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home
And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right
And I know just why you could not
Come along with me
But this was not your dream
But you always believed in me
Another winter day has come
And gone away
And even Paris and Rome
And I wanna go home
Let me go home
And I’m surrounded by
A million people I
Still feel alone
Oh, let me go home
Oh, I miss you, you know
Let me go home
I’ve had my run
Baby, I’m done
I gotta go home
Let me go home
It will all be allright
I’ll be home tonight
I’m coming back home...
Rasanya aneh juga, lagu itu bisa kudengarkan di sini... tapi coba deh dengarkan dentingan gitar dan suara Michael Buble di tanah asing. Wuih... jadi melamun nih!
Sesudah itu kami kembali ke Hohestrasse, mampir di KFC. Lagi ada promo: 2 burger, jagung, dan pepsi cuma 3,99 euro. Kami ngobrol di sana. Lisa bilang dia musti segera balik ke kampus selesai acara, karena ada ujian skripsi. Mahasiswa sudah menantinya... what a good lecturer, ya?
Menjelang 18.30 kami berjalan ke Dom. Hari itu tepat perayaan Maria Assumpta [Maria Diangkat ke Surga]. Waktu aku sebut Maria Assumpta ke Lisa, ada cewek Spanyol di Hohestrasse langsung menoleh. Temannya segera memanggil: Maria Assumpta! Olala... namanya kebetulan sama.
Dom sudah terisi banyak peziarah yang ikut misa. Kami tidak kebagian bangku, jadi berdiri saja. Waktu kardinal lewat, aku mengikutinya untuk memotret. Saat misa dimulai, aku duduk di lantai. Mungkin karena itu, perutku mules lagi... hehehe.
Aku segera keluar, berlari ke McD. Dan berdoa, agar penjaga toiletnya tidak mengenaliku. Karena aku tidak memberinya duit setiap kali keluar toilet... hehehe. Saat hendak balik ke Dom, aku berpapasan dengan Jung di jalan. Dia senang sekali melihatku, tapi hidungnya meler sepertinya pilek. Dia bilang bahwa ada pesta sandwich gratis di Heumarkt. Aku disuruh ke sana...
Karena tidak tahu jalan, aku ke Info Point di belakang Dom untuk bertanya. Di sana ketemu teman-teman Perancis! Aku memberitahukan mengenai free sandwich dan kami beramai-ramai menuju ke Heumarkt, tempat yang belum pernah kami datangi. Hujan lebat turun. Untung aku pakai jaket volunteer yang cukup menolong dari hujan.
Setelah beberapa kali hampir nyasar, sampai juga di Heumarkt. Ada konser WYD digelar di alun-alun. Pengunjung cukup ramai. Kami ke pos logistik menanyakan di mana sandwich disediakan, mereka justru memberikan dos makan malam... “bukan, bukan itu... sandwich!” Dia menunjuk ke arah belakang. Kami mengikutinya, sampai tersasar ke arah jejeran Dixi... akhirnya kami coba mencari sendiri. Di emperan toko yang dipenuhi kios Kolsch, kami bertemu dengan Hubert, Julia dan teman-teman Jerman yang sedang kongkow. Mereka memberitahu arah sandwich, dan benarlah... ada beberapa meja panjang berderet dengan sandwich berlapis-lapis disusun memanjang.
Kami langsung mengambil beberapa lapis sandwich, dan membawanya ke tempat Hubert. Aku menikmati sandwich dengan jus apel dari Lisa. Pelayan datang membawa 1 meter kolsch. Ya astaga, wadah gelas bir terbuat dari kayu yang panjangnya satu meter, di atasnya ditaruh gelas-gelas kolsch.
Hubert memamerkan kepiawaiannya menyusun tumpukan alas gelas kolsch dan dengan satu hentakan tangan dia dapat menangkap semuanya secara sempurna. Fulques mati-matian mencoba. Saya juga. Tapi tidak pernah berhasil. Fulques yang berhasil dalam permainan itu.
Aku sempat dipaksa minum kolsch, tapi kubilang: ‘haram...’. Fulques yang jago bahasa Arab ketawa dan menjelaskan kepada mereka: haram means it is not permitted by Allah. Tapi bagaimana dengan sandwich tadi yang pakai ham? Itu sih sedap. Hehehe...
Lalu ketika seorang pelayan [perempuan dan manis] datang, masing-masing teman yang ambil gelas kolsch tadi saweran duit 2 euro.
Aku sempat sms ke mbak Ina memberitahukan bahwa di heumarkt sedang ada pesta sandwich gratis, tapi rupanya mereka sedang menikmati pertunjukan konser di tempat lain.
Hari sudah malam, kami harus berpisah. Hubert dan teman-teman balik ke Fuhlinger See, saya balik ke Dom mencari mbak Ina dan Agnes.
Karena tidak bertemu, saya ke stasiun Koeln Hbf. Waduh... manusia membludak di sana. Polisi membuat penghalang supaya tidak semuanya dapat sekaligus masuk ke dalam stasiun. Sempat terjadi dorong mendorong, sebelum saya lolos masuk.
Stasiun Koeln tampaknya sudah disesaki para peziarah WYD. Pertanda bahwa beberapa hari ke depan jubelan manusia dari segala bangsa akan menjadi pemandangan umum di sini. Tiba di peron di lantai atas, segera aku melompat masuk ke dalam kereta ke arah Trimbornstrasse.
Di sana, dengan mbak Ina [yang kemudian menyusul] kami balik ke apartemen. Tiba di apartemen, Armelia memberitahu bahwa kami mendapat tambahan tamu istimewa malam itu: Mariana. Aku disuruh menjemputnya di stasiun Trimbornstrasse.
Mariana adalah teman mbak Ina di Jakarta. Anak ini cukup unik, dia termasuk anggota ‘jejak petualang’ alias tukang jalan sendiri. Dari Jakarta, dia berangkat mendekat hari H dengan tiket yang belum jelas. Ajaibnya, kelompok volunteernya juga belum jelas. Ketika mendengar bahwa Mariana sudah tiba, aku menyebutnya mukjizat.
Apalagi waktu bertemu dengan Mariana langsung... hehehe. Orangnya kecil, langsing... logatnya sangat totok [Mandarin]. Dia suka bilang: “kamu orang itu ya....” hehehe, kami suka mengingat-ingat cara Mariana ngomong dan tertawa setelah meninggalkan Koeln.
Armel menurunkan satu lagi kasur springbed.
Mbak Ina, Mariana, dan saya tidur sekamar malam itu... di kasur kami masing-masing, tentu saja.
jam
4:28:00 PM
0
komentar
Wednesday, September 21, 2005
Melamun di Dom 5: we are saved!
14 Agustus 2005
Hujan deras pagi itu. Jendela di kamar jelas memperlihatkan mendung di langit. Pohon, bangunan dan beberapa mobil yang diparkir di halaman basah kuyup. Apa? Hujan? Ibarat ponsel yang baru dinyalakan, aku baru sadar berada di kamar. Aku tidur di kasur springbed di lantai. Mbak Ina di tempat tidur. Kamar itu milik Jimmy, mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Koeln. Dia sedang liburan ke Indonesia, sehingga kamarnya kosong. Armelia tetangganya di lantai atas apartemen memberikan kami kunci kamar yang dititip Jimmy. Katanya biasa ada tamu dari Indonesia, dan mereka nginap di apartemen mereka. So, to Jimmy wherever you are, kami belum pernah bertemu dengan dikau, namun sepekan lebih kami telah ‘berkemah’ di kamarmu… trims banget ya! Tuhan tentu memberkahimu dengan berkat melimpah.
Berkali-kali mbak Ina dan saya ngobrol soal keajaiban ini sehingga kami bisa tidur di kamar ini. Mbak Ina paling rajin berdoa. Katanya bangun pagi dia langsung doa rosario, kalau tengah hari jam 15 dia doa koronka. Jam wekernya ribut sekali sih… hehehe.
Kami tidak membawa perlengkapan apa pun, sehingga meskipun ada kamar mandi, nggak bisa mandi karena tidak bawa sabun dan handuk. Cuma bisa mandi pas foto, ukuran 2x3 jengkal di muka… hehehe. Sewaktu berkaca, ada sepotong tulisan tertempel di sana. “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu” [1 Petr.5:7]. Gubraakkk… kena lagi nih, kubilang pada mbak Ina.
Itulah renungan pagi pertama kami yang sangat berkesan di kamar. [Aku sempat penasaran dan nanya pada Armelia, mengapa tulisan itu bisa ditempel di sana. Dia cuma bilang, tulisan itu sudah lama ada di sana… ooh, kukira, seorang malaikat tadi malam yang menaruh pesan buat kami yang sering kurang beriman ini].
Kami harus kembali ke Fuhlinger See untuk mengikuti jadwal kegiatan hari ini, kemudian mengemasi barang-barang yang kami tinggalkan di tenda untuk pindahan ke kamar Jimmy. Kami berjalan ke stasiun Trimbornstrasse. Jalanan sunyi senyap, dingin sekali. Rumah-rumah apartemen berderet rapi dan bersih. Sesekali mobil lewat. Untunglah hujan tak terlalu deras.
Kami menuju stasiun Chorweiler menuju ke Fuhlinger See. Berada di jalur ini tampak banyak relawan yang punya tujuan sama. Saya sempat bercakap dengan seorang ibu yang cukup berumur. Dia seorang perawat kebangsaan India yang sudah lama bekerja di Jerman dan datang ke Koeln sebagai relawan WYD. Saya senang ngobrol sama kenalan baru dari India, mengingatkan saya pada masa lalu di sana.
Tiba di tenda makan, ramai sekali. Florian Jung duluan kutemui dan mengatakan bahwa semalam kami nginap di rumah teman. Dia cukup surprised mendengar hal itu. Baru semalam di sini kami sudah dapat tumpangan… hehehe. Sarapan kali ini: roti kepal, sosis kaleng, sereal, yoghurt, susu kotak… pokoknya self service, layani diri sendiri untuk sarapan. Teman-teman cerita bahwa semalam hujan badai melanda perkampungan tenda di Fuhlinger See. Dapat dibayangkan rapuhnya tenda-tenda yang dihuni yang terbuat dari kain parasut menahan air hujan. Peristiwa ini sempat dimuat di koran lokal: Hujan badai melanda Fuhlinger See.
Ini lebih membuat kami merasa bersyukur.
Tiga teman dari Polandia [semuanya cewek] mengisahkan peristiwa ini dengan kocaknya. Mereka sempat panik waktu air sempat merembes masuk, membasahi sleeping bag mereka. Dalam kegelapan malam mereka bergantian berusaha mengeluarkan air. Air tetap saja masuk. “Dan sekarang tenda kami mirip Jacuzzi…”, kata mereka dengan riangnya. “Rencananya kami akan menulis di depan tenda kami: Jacuzzi for free here”. Hahaha… kami ketawa tidak putus-putusnya sepanjang jalan ke stasiun. Aku tertawa keras sebagai dukungan atas sikap mereka yang sangat positive thinking.
Kereta kami menuju Dusseldorf. Karena perjalanan cukup lama, aku coba mengeluarkan keahlianku: palm reading alias membaca garis tangan. Tiga teman cewek dari Slovakia takjub dengan keahlianku ini. Karena banyak yang tepat atau meleset, ya? Aku sih cuma senang melihat garis-garis tangan orang, apalagi bila tangannya halus… ehm, hihihi.

Pukul 13 kami tiba di LTU Arena Dusseldorf. Lapangan sepak bola besar dan megah. Wow, it’s a huge building. Megah, bo! Beberapa kali kami naik turun tangga untuk masuk ke kursi tribun. Kami diberi pengarahan mengenai acara pembukaan WYD di sini dan tugas kami masing-masing. Kami dibagi dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang harus menemani tamu VIP, mengawasi peserta yang masuk, atau mengatur lokasi duduk peserta. Pos saya di Pintu barat 6 dekat daerah press alias jurnalis.
Selesai pengarahan, kami kembali ke stasiun menuju ke Stasiun Heinrich yang tidak jauh lokasinya. Kemudian berjalan kaki melewati daerah pinggiran Sungai Rhein yang penuh dengan toko, kios dan tempat asyik buat kongkow. Beberapa kios bir ramai sekali. Mereka berdiri, memegang gelas kolsch, bir khas koeln, sambil mengobrol.
Sungai Rhein akhirnya terlihat juga. Ada beberapa perahu pesiar sedang bersandar. Musik romantis terdengar sayup-sayup. Julia terlihat berlari-lari dengan girangnya menyambut pemandangan indah itu. Kami menuju ke truk logistik yang membagikan makan siang, sekaligus kantong-kantong plastik berisi makan malam: roti kepal, pisang, mentega, sosis dan selai.
Di sana kami duduk-duduk di tangga tepi sungai. Kali ini kotak-kotak makan siang berisi pasta dimasak dengan buncis dan daging. Katanya itu menu ala Jerman. Beberapa pasangan duduk di sana sedang pacaran. Mereka tidak merasa terganggu dengan kedatangan kami yang berseragam kaos volunteer dengan suara tawa yang keras…
Setelah makan siang, kami berfoto-foto di tepi sungai. Kemudian berjalan kembali ke stasiun, hendak ke Leverkusen untuk mengikuti misa pembukaan bagi para volunteer. Saat menunggu kereta datang, beberapa teman Perancis minta dibacakan garis tangannya. Mereka adalah Fulques, Edward, dan Estelle. Ketika tiba giliran Edward, saya perhatikan ada yang unik dengan garis perjodohannya. Kupikir Estelle adalah pacarnya. Jadi kuminta Edward berdua saja denganku supaya aku bisa katakan dengan leluasa. Saat itulah terjadi kejadian aneh ini.
Edward mendengarkan apa yang kukatakan, kemudian badannya lunglai merosot. Dia terbaring di lantai peron kereta. Segera panik aku berteriak: “somebody help!” baru kemudian kusadari ketololanku. Orang-orang di sana tentu banyak yang kurang paham bahasa Inggris.
Botol air minumku kusodorkan padanya. Kemudian dia digotong dan duduk di kursi. Coklat Sneaker yang ada diberikan padanya. Matanya sudah terbuka dan sadar. Minyak gosok yang dibawa mbak Ina dipakai menggosok leher dan tengkuknya.
Jung memandangku dan bilang: “Toni, you are really a good trainer”.
Ya astaga, Jung pasti menduga bahwa aku sedang mempraktekkan sebuah ilmu magic sehingga Edward kolaps begitu. Kukatakan bahwa Edward tentu kecapekan seharian berjalan dan kurang istirahat yang cukup di tenda. Namun, dari peristiwa itu aku justru jadi lebih akrab dengan ketiga teman dari Perancis.
Edward langsung pulang ke Fuhlinger See dengan Estelle. Kami turun di Leverkusen menuju ke stadion Bay Arena. Sepanjang jalan saya ngobrol dengan Fulques. Anak ini cukup unik. Dia kuliah di Fakultas Hukum di Paris. Bapaknya seorang diplomat di Arab. Dia sering berlibur di Arab dan fasih berbahasa Arab. Dia mengajariku beberapa bahasa Arab…
Kemudian dia nanya: “Siapa penyanyi Perancis yang kamu kenal?”
Spontan kujawab: “Jordi!” Hahaha… dia tertawa meringis. “Him? Jordi? Urghhh…”, katanya seperti mau muntah. Jordi itu penyanyi anak-anak sekitar sepuluh tahun lalu populer dengan lagunya: Dur dur d’etre babe… , sekarang dia sudah remaja dan katanya menjadi DJ saking nggak berbakatnya dia nyanyi.

Fulques asyik diajak ngobrol. Kami tiba di Stadion milik Bayer, ‘jaminan mutu’ itu. Misa sudah berlangsung, artinya kami sedikit telat. Kelompok kami jadi terpencar karena banyaknya orang yang melewati pintu yang sama dan beberapa tribun sudah penuh dengan para relawan dengan seragam merahnya.
Stadion ini menjadi lautan volunteer berseragam merah, mirip fans MU, ya... Sesekali dibuat ombak manusia yang tampak bergelombang. Meriah sekali… deratan di ujung sana mulai membungkuk dengan tangan terjulur kemudian tegak dengan tangan ke atas. Secara simultan diikuti deretan-deretan selanjutnya… diiringi tawa dan tepuk tangan.
Kardinal dalam homilinya mengingatkan pentingnya pelayanan relawan dalam kegiatan seperti ini. Hujan turun rintik-rintik di tengah misa hingga misa berakhir. Ada sebuah lagu yang dinyanyikan dengan indah oleh solis sewaktu komuni: “I don’t know how to love Him…” Lagu ini sejak masih sekolah dulu sering kuputar. Lengkingan penyanyi perempuan yang dilakonkan sebagai Maria Magdalena terdengar begitu menyayat: “Should I bring Him down, should I turn my back, should I speak of love, let my feelings out… I never thought that could be like this… what is all about?”
Setelah misa, kami membuka bekal makan malam. Sudah pukul 19 sore itu. Jadi kami menikmati pisang, roti dan selai. Kamudian perutku mules. Untung ada toilet stadion, bukan Dixi. Justru karena ke toilet, setelah itu aku ketemu Agnes. Dia cerita bahwa semalam dia nggak bisa tidur di gymnasium… Mbak Ina muncul juga dan bersama-sama kami menuju stasiun untuk pulang..
Saya sempat merasa heran, di tengah stadion luas ini yang dipenuhi sekitar 30.000 volunteer, kami bisa bertemu tanpa janjian. Ajaib juga, pikirku.
Stasiun Leverkusen dibanjiri relawan yang mau naik kereta kembali ke Koeln. Setiap kali kereta datang, antrian bergerak maju dengan lambat.
Ketika akhirnya bisa masuk ke dalam gerbong kereta, kukira sedang berada di kereta ke arah Bogor. Saking penuhnya, penumpang yang berdiri berdesak-desakan. Rombongan Polandia dengan pastornya dnegan ramai bernyanyi-nyanyi dalam bahasa mereka.. Turun di Koeln Hbf, kami meneruskan dengan kereta ke Trimbornastrasse. Sudah pukul 22, sebetulnya aku sudah sangat ngantuk… Pengakuan polos dari teman-teman bahwa kalau Toni sudah ngantuk suka tulalit. Nggak nyambung saat diajak bicara. Dengan mata yang menerawang tak terfokus. Iya sih, ibarat komputer, hardisk-nya sudah tidur, badannya saja yang masih berjalan... hehehe.
Namun, beberapa langkah dari apartemen Armelia, perutku mendadak mules. Kukira masuk angin. Aku segera berlari, buruan naik tangga. Panik nih, mencari toilet yang bisa dipakai. Kunci kamar Jimmy dibawa Armelia. Kamar Armelia diketok-ketok, nggak ada orangnya. Aku turun lagi, dan bertemu mahasiswa dari China, namun dia bingung saja melihatku...
Untung Armel muncul di sana. I am saved! Lega deh, bisa bertemu toilet.
Setelah itu, Armel mengundang kami makan soto ayam di kamarnya. Katanya tadi siang dia masak soto ayam untuk acara arisan ibu-ibu Indonesia di Koeln. Wah, undangan ini gak bisa ditolak. Apalagi kali ini pakai nasi... duh, sedapnya. Kami ngobrol pengalaman kami sepanjang hari ini di kamar Armel, sebelum turun dan bobok...
Keajaiban, janganlah berhenti.
jam
1:46:00 PM
0
komentar
Tuesday, September 20, 2005
Melamun di Dom 4: make a wish
13 Agustus 2005
Sudahkah kuceritakan sebelumnya bahwa kami menginap di sebuah tempat yang sangat indah? Fuhlinger See. Danau Fuhlinger yang dikelilingi bukit-bukit rumput dan pepohonan. Bebek-bebek berenang di danaunya yang jernih. Pohon-pohon yang tumbuh di tepinya dengan sulur-sulur yang terjulur sampai ke permukaan danau. Persis gambar di postcard yang waktu kecil kusimpan dan sering kupandangi berlama-lama. Rasanya seperti mimpi bisa berada di tengah gambar postcard itu.
Pukul 6 pagi aku sudah bangun dan segera ke kamar mandi. Mengenai kamar mandi, aku cukup kaget semalam waktu meninjau tempat yang akan kami pakai mandi. Berbeda dengan Dixi, di kamar ini disediakan air. Bentuknya seperti van. Masing-masing van ditempeli tanda bahwa itu KM Pria atau Perempuan. Nah, aku sempat menengok semalam, di dalam van terdapat lima bilik kecil untuk pancuran [shower] dan di depannya terdapat sebuah wastafel panjang dan cermin. Yang cukup mengejutkan, di antara bilik shower dan wastafel dipisahkan tirai plastik namun transparan! Itulah yang membuatku bangun pagi-pagi benar. Amit-amit deh pesta ‘orgi’ alias orang gila di kamar mandi! Hehehe…
Aku periksa satu-satu van. Rupanya sudah banyak yang bangun dan mandi. Pas aku buka pintu, uap air menguar keluar. Beberapa sedang gosok gigi dan cukur. Ketika pindu hendak kututup dan mencari van lain, ada suara yang berseru dari dalam van, “C’mon, here is warm…”
Ajakan ramah itu membuatku masuk. Ada bilik shower yang kosong. Air panas yang mengalir dari pancuran membuat ruangan itu seperti Jacuzzi. Dan aku sangat bersyukur, tirai penutup bilik di sini tidaklah transparan. Gak perlu aku cerita mendetail ya… hehehe.

Pukul 8 kelompok kami pertama kalinya berkumpul di pinggiran danau. Komandan regu kami namanya Florian Jung. Jung dalam bahasa Jerman berarti muda.Sungguhan dia masih muda dan masih sekolah di SMU, kalau nggak salah umur 18 tahun. Aku salut, dia bisa jadi pemimpin yang baik dalam kegiatan ini. Paling tidak, itu tidak membuatku merasa ketuaan…
Karena Jung kurang lancar berbahasa Inggris, Sandra yang membantunya menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Oh ya, dalam kelompok kami terdapat beberapa teman dari Perancis, Polandia, Slowakia. Mereka juga tidak fasih ngomong Jerman, sehingga kami yang dari Indo tidak merasa sebagai mahluk aneh.
Sarapan pagi disediakan pada sebuah tenda besar. Ada roti sekepalan tangan, mentega aneka rasa, selai buah atau daging kaleng [pork], teh sachet dari Assam atau Nescafe. Silakan diambil sendiri… di pintu disediakan berkardus-kardus apel segar. Jadi, stok logistik di perkampungan tenda ini aman dan terkendali.

Setelah sarapan, kami lanjutkan briefing di kantin. Jung menjelaskan tugas kelompok kami selama Pekan Pemuda Sedunia yang dimulai Selasa [16/8] dan persiapan yang harus kami lakukan. Lokasi tugas kami nanti di Dusseldorf. Sebetulnya masih ada dua lokasi lain di mana peserta WYD disebar: Bonn dan Koeln. Di sanalah para relawan bekerja. Karena tugas relawan membantu untuk kelancaran kegiatan.
Setelah itu acara perkenalan. Satu per satu memperkenalkan diri, asal negara dan harapannya! Silakan make a wish… Jung membantu memegang peta wilayah Jerman. Waktu tiba giliranku, untuk menunjukkan lokasi Indonesia, Jung musti menunjuk ke semak-semak di ujung sana… lokasi Indonesia sungguh jauh dari peta Jerman! Hahaha… semua tertawa. Dan harapanku?
“I just need a good sleep!” kataku jujur.
Banyak yang mengutarakan harapannya dengan indah berkaitan dengan WYD dan kelompok kami, namun kalimat tadi keluar begitu saja dalam ucapanku. Make a wish toh?
Pukul 11 kami ramai-ramai berangkat ke shelter bus. Kemudian bus menuju ke stasiun Wilhelm Sollmann Str. Kami naik kereta ke Koeln Hbf dengan tujuan mengunjungi Dom. Kami diberi waktu bebas hingga jam 13 untuk melihat-lihat isi Dom. Hari sudah pukul 12.

Katedral raksasa itu dilihat-lihat dalam tempo 1 jam? Musti mulai dari mana? Untunglah saya bersama Hubert dan Julia. Hubert tampaknya paham sejarah Dom dan sisi-sisi uniknya. Dia malah bilang: “Bukan nyombong, di antara semua gereja dan basilika yang pernah saya kunjungi termasuk St. Peter di Roma, bangunan dan isi Dom masih lebih bagusan!”
Aku sih cuma melongo memandangi keindahan isi Dom dan pilar-pilarnya yang menjulang tinggi. Saat berjalan ke sisi altar, terlihat jelas kotak emas tempat relikwi para majus disimpan. Inilah yang membuat Dom menjadi tujuan ziarah dunia.

Jam 13 kami sudah berkumpul di halaman Dom dan lanjut ke gereja St.Gereon yang letaknya beberapa blok dari Dom. Di sana terdapat dapur umum untuk para relawan. Antrian sudah cukup panjang waktu kami tiba. Karena kelamaan antri, beberapa teman mengumpulkan kupon makan kami. Kami keluar dan menunggu di halaman rumput depan gereja sambil bercakap-cakap tentang Jerman dan dunia pendidikannya.

Makanan baru datang pada pukul 15!
Beberapa kotak pasta yang dimasak dengan ayam yang dibagikan ke piring-piring kertas, segera ludes… maklum ibarat pasukan lapar bertemu belanga, deh.
Saya baca di buku panduan, gereja St.Gereon adalah lokasi bersejarah, karena di sini beberapa martir dipenggal lehernya [termasuk St.Gereon?]. makanya ada patung kepala raksasa tanpa tubuh tergeletak di lapangan rumput tempat tetirah kami siang itu.
Dari situ kami lanjut ke Ursulinen, kata teman-teman ada pesta barbeque di sana sore ini. Beberapa blok kami berjalan baru sampai di kompleks sekolah Ursulin. Di sini para relawan tidur di ruang-ruang kelas. Toilet menggunakan toilet sekolah yang relatif lebih normal. Disediakan tempat cuci pakaian menggunakan mesin cuci, selain fasilitas warnet gratis bagi para relawan di kompleks Ursulinen. Namun, acara barbeque tidak kunjung digelar. Mbak Ina kelihatan sudah pegal… beberapa kali kakinya digosok pakai minyak saking capeknya.
Kami memutuskan kembali ke Dom. Sepanjang jalan yang dilalui beberapa kali kami coba menengok penginapan dan tarifnya berapa… mungkin tenaga kami bisa direcharge lebih baik bila nginap di sana ya? Tapi biayanya itu bila dikali seminggu lebih… mimpi di sore hari!
Agnes rupanya sedang memanjat 509 tangga menuju puncak menara Dom. Wuihh… kecil-kecil tapi tenaganya kuat juga naik-turun tangga nih!
Kami janjian mau ke Galeria sore itu, melalui Hohestrasse, jalan di samping Dom yang dipenuhi toko-toko dan kios. Sempat mampir membeli sebungkus kentang goreng pakai saus mayones, dimakan ramai-ramai bertiga… anggap saja snack sore. Kami tiba di Galeria Kaufhof untuk membeli bedroll alias matras, sekadar untuk membuat tempat tidur di Fuhlinger See lebih empuk.. yang paling murah harganya 5 euro, itulah yang kupilih. Selain kami, ada juga dua orang cewek dari Korea sedang membeli sleeping bag dan matras. Mereka volunteer WYD juga. Sempat terjadi keributan di kasir, karena pelayan toko memberikan barang dengan harga berbeda. Uang mereka tampaknya tidak cukup…
Selesai belanja, kami turun kembali ke lantai bawah… sambil bercakap dengan ramainya… dan tiba-tiba sepasang pemuda-pemudi menyapa kami: “Dari Indonesia ya…?”
Itulah perjumpaan awal kami dengan mahluk Indonesia diaspora di Koeln. Selanjutnya dapat ditebak: percakapan kami sangat ramai, sampai-sampai penjaga toko meminta kami keluar dengan sopannya… gubbraaakk! Hehehe.

Kami bercerita panjang lebar tentang WYD, perkampungan tenda kami nan permai, dan… percaya nggak, mereka langsung menawari kami untuk nginap di kamar! Guntur dan Armelia! Dua malaikat yang kami jumpai di Galeria Kaufhof. Selanjutnya kami makan-makan di MacD. Armelia rupanya tahu tempat makan enak dan murah. Maklum dia mahasiswa FE di Universitas Koeln. Hampir setiap menu di MacD sini hanya 1 euro. Aku makan burger dan coke, jadi cuma bayar 2 euro.
Agnes rupanya membawa bungkusan bekal untuk makan malamnya berupa roti kepal, selai, mentega dan sosis. Aku diminta untuk memberikan kepada pengemis yang duduk di emperan toko. Waktu aku berikan bungkusan itu padanya, dia nanya: “Where are it’s from?”
Kupikir, dia nanya roti itu dari mana. Kujelaskan bahwa itu roti yang baru dibagikan bagi kami untuk makan malam. Dia jawab: “No, no… you!” katanya dengan bahasa Inggris patah-patah.
Baru kutangkap maksudnya: “Indonesia”.
“I don’t know where is Indonesia. But, thank you! God bless you.” Katanya sebelum kami berlalu.
Agnes kembali ke gymnasium tempat nginapnya. Saya dan Mbak Ina ikut Armelia dan Guntur naik kereta. Malam itu kami akan nginap di tempatnya. Kereta berhenti di Trimbornstrasse. Kami berjalan kami ke apartemen Armelia. Saya tidak memperhatikan apakah bintang-bintang bersinar terang di langit tengah malam itu, yang pasti saya tahu harapan yang tadi pagi saya ucapkan di depan teman-teman, telah dikabulkan Tuhan.
Sebuah kamar dan kasur empuk. Gute nacht!
jam
9:58:00 AM
0
komentar
Friday, September 16, 2005
Melamun di Dom 3: What a Perfect Day
Ada kalimat indah yang saya petik dari majalah dalam perjalanan
Jakarta-KL:
“Seperti pinang pulang ke tampuk,
seperti sirih pulang ke gagang…
a traveller finds his haven at home”
Kalimat berikutnya lagi:
“The person who has not traveled widely
thinks his mother is the best cook” [Ugandan proverb].
Saya sangat setuju dengan kalimat kedua pada malam itu... :) Ketika tertidur dalam perjalanan dari KL ke Frankfurt, saya dibangunkan oleh pramugari untuk makan. Makan apa namanya ini? Makan tengah malam? Hehehe… karena pamali [tidak baik] jika menolak tawaran makan, maka ibarat toko yang sudah tutup, malam itu musti dibuka untuk “night sale”, seperti yang banyak dilakukan supermarket di Indo… Lumayan makanannya enak, tapi kali ini aku nggak mau pakai wine.
Selesai makan, saya coba menikmati pertunjukan film di layer yang terdapat di masing-masing kursi penumpang. Sayang film-film yang disediakan kurang menarik. Film “hosatage” Bruce Wilis sudah kunonton beberapa pekan lalu, lalu film “monster-in-law” nggak menarik. Dan, ada satu film kartun: “Madagascar”… hehehe… yang ini baru bisa kunikmati karena membuatku tertawa.... saat lampu kabin dipadamkan, aku juga kembali tidur pulas.
Perjalanan 12 jam ke Frankfurt, artinya tiba jam 12 siang di sana. Namun, jangan keliru, karena perbedaan waktu mundur 6 jam, maka kami akan tiba di sana pukul 6 pagi.
Waduh... tidur malam kali ini kelamaan, 12 jam dihitung 6 jam!
Saya perhatikan bule-bule di sekitarku, mereka kok tahan ya tidur pulas... padahal arlojiku menunjukkan sudah pukul 6 pagi ... waktu Indonesia. Mungkin jam tubuh mereka sudah sangat luwes menyesuaikan, kali ya? Sudah kupaksa-paksa untuk coba tidur... syukur akhirnya bisa dapat tambahan tidur beberapa jam.
Pada pukul 6.06 pagi waktu setempat pesawat kami mendarat di Frankfurt.
Mendaratnya mulus, kali ini tanpa pakai acara panggil-memanggil namaku seperti di KL kemarin, hehehe... aku berjalan segera keluar, karena kursiku paling depan. Bangunan bandara Frankfurt sangat khas dengan besi-besi beton yang menyangga setiap tiang. Sepagi itu sudah ada toko buku yang baru buka, aku ke sana sambil menunggu kedatangan mbak Ina dan Susan.
Saat mereka datang kami segera ke bagian imigrasi, tempatnya sangat lengang. Jadi kami dapat lekas melewati pemeriksaan paspor. Di tempat pengambilan bagasi, agak lama menunggu hingga tas ranselku muncul. Ada dua ban berjalan yang harus diawasi karena keduanya dipakai untuk pengambilan bagasi penerbangan yang sama. Tas Ina dan Susan untung segera muncul juga.
Sekarang kami dapat keluar... nah sewaktu melewati ruang tunggu penjemput, aku sempat celingak-celinguk mencari seseorang. Tapi tidak tampak di antara penjemput yang berdiri di sana. Saat melewati kursi-kursi, barulah orang itu muncul: Manfred!
Senang sekali dia bela-belain datang menjemput sepagi itu. Manfred adalah sobat lamaku, sepuluh tahun lalu dia rajin liburan ke Bali dan nginap di Susteran di Serma Kawi. Setiap pagi dia pasti sudah ada duduk di kursi pojok di belakang untuk misa pagi. Dia juga tahu kisah pacarku yang di Bali... ah, itu sih nostalgila!
Manfred langsung mengambil ransel kecilku dan membawakannya. Lalu kami berfoto-foto bersama Susan, sebelum Susan meneruskan perjalanan dengan kereta ke Berlin. Lalu, papan pengumuman itu terlihat dengan logo World Youth Day! Tentu ini petunjuk bagi turis nyasar seperti kami. Untung Manfred bisa berbahasa Jerman... hehehe. Dia yang menanyakan ke bagian informasi arah ke counter WYD di bandara. Kami tinggal ikut saja.

Nah, waktu tiba di counter Info Point WYD, bagasi kami harus melewati detektor, lalu dimasukkan ke rak-rak. Kupikir sekarang kami bisa berangkat ke Cologne... tahunya cuma buat nitip tas doang! Counter info point WYD benar-benar cuma bisa memberikan informasi, untuk sampai ke Cologne musti ke stasiun!
Loket pembelian tiket KA tidak jauh dari situ. Manfred lagi yang menanyakan jadwal kereta dan reservasi. Nah, waktu dia mengeluarkan kartu kreditnya, alarmku langsung bunyi ... “No, no... let us pay!” kataku sambil mengeluarkan dompet dan menunjukkan lembaran euro yang kubawa. Dia ngomong dalam bahasa Jerman sama petugas. Perempuan petugas itu tersenyum manis mengambil kartu kreditnya dan menggesek... sreseettt!
Oh my God, pagi-pagi gene... ketemu sama malaikat bernama Manfred!
Kereta kami pukul 7.59 di peron 7 dengan kereta ICE 928 ke Koeln. Manfred mengantar kami ke sana menunggu kereta, sambil ngobrol dengan ramainya. Dia bercerita bahwa tahun lalu ayahnya meninggal [usia 82], sekarang dia tinggal mengurus ibunya sendirian yang berusia 82 tahun ini. Itulah sebabnya dia tidak bisa liburan ke mana-mana.
Dia kemudian mengeluarkan bungkusan, memberikan kepada saya dengan permintaan agar dikirimkan kepada seorang suster di Semarang sebagai hadiah. Kemudian beberapa lembar euro juga untuk dibelikan rosario buat suster-suster kenalannya...
Rasanya pepatah: “teman lama ibarat anggur tua’... benar juga ya!
Waktu cepat sekali beranjak saat kereta ICE tiba. Manfred yang duluan berlari membawakan barang-barang kami ke kereta. Aku masih mengemasi tas ranselku sebelum seorang bapak menyuruhku segera naik... saya segera lompat ke dalam kereta. Pintu otomatis tertutup, dan kereta meninggalkan stasiun.
Saya dan mbak Ina melongo di dalam. Tak ada yang bisa berbahasa Jerman, sekedar untuk menanyakan benarkah nomor kursi yang kami duduki saat itu. Seorang kondektur perempuan datang memeriksa tiket. Katanya dalam bahasa Inggris, boleh duduk bebas. Mungkin karena kereta menempuh jarak yang tidak terlalu jauh sehingga tidak perlu nomor kursi.
Sekarang kami dapat duduk menikmati pemandangan di luar jendela. Rasanya seperti mimpi, demikian saya dan mbak Ina berulang kali katakan... daerah pesisir Sungai Rhein dan bukit-bukitnya indah sekali. Cahaya matahari menerobos dengan teriknya. Pemandangan di luar tak dapat ditangkap dengan kamera yang kami bawa karena kereta melaju dengan cepat.

Pukul 10 pagi kami tiba di Koeln Hauptbahnhof alias stasiun utama Koeln.
Selamat datang di tujuan! Kereta kami mendarat di lantai atas stasiun Koeln Hbf, jadi kami turun untuk mencari informasi WYD. Ramai kios-kios di bawah yang menjajakan makanan, sedap euy... ada sosis aneka macam, sandwich, burger, es krim, keju... nggak salah nih mendarat di dongeng Hansel and Gretel? Hehehe...
Saat mendekati pintu utama stasiun yang terbuat dari kaca, kepalaku mendongak melongo sesaat menatap bangunan raksasa yang terlihat di luar, sepertinya ada T-Rex berdiri di luar! Bangunan Katedral Koeln yang disebut Dom ada di sana, persis di samping stasiun! Wow, indahnya... ini saat kamera beraksi!

Setelah itu baru kulihat ada Info Point WYD di lapangan Dom. Di sebelahnya berdiri menara air Rhein Energie untuk minum para peziarah. Kami langsung bertanya di Info Point mengenai apa yang harus kami perbuat sebagai volunteer yang baru tiba di Koeln. Beberapa volunteer juga ramai lalu lalang.
Kami berkenalan dengan volunteer dari Malaysia, dia menjelaskan bahwa kami harus ke Koeln Messe untuk registrasi. Katanya dia sudah beberapa hari lalu tiba di Koeln. Selain itu ada dua gadis manis dari Paraguay, segara kami akrab mengobrol. Membawa semacam pipa dan mangkok dari tembaga, sesekali dihirup sambil senyum-senyum. Penasaran saya tanya: apa itu? Mereka menjelaskan bahwa itu adalah “Tedede”, teh khas Paraguay. Dengan senyum manis mereka menawarkan saya untuk mencoba... tapi saya menolak. [kuatir ketagihan... hehehe]. Mbak Ina yang sempat mencoba. Rasanya seperti mint ya? Kata mereka, setiap kali airnya habis, mereka tuangkan air hangat dari termos yang selalu dibawa-bawa.
Saat kami berpisah, keduanya berpelukan dengan Mbak Ina dan saling ciuman pipi. Kemudian... alamak! Tiba giliranku! Kalian jangan membayangkan betapa groginya daku dicium di pipi oleh dua cewek manis yang jauh-jauh datang dari Paraguay. Apalagi pakai bunyi lagiii... cup... cup... ajinomoto. [mbak Ina, aku minta dikirimi alamat e-mail keduanya dong!]
Makan siang kami: sepotong pizza yang dijual 2 euro. Jadi tambah sedap lagi karena mbak Ina membawa sambal sachet dari Indo. What a perfect lunch.
Kami sedang menunggu jam 13.18, saat kereta dari Stuttgart datang membawa seorang anggota kelompok kami. Namanya Agnes. Sama sekali kami belum pernah bertemu langsung. Hanya melalui mailinglist dan e-mail serta Yahoo Messenger, kami berkenalan. Melalui SMS dia memberitahukan kedatangan keretanya. Thanks for the tech!
Jadi kami kembali ke atas, menunggu di peron 2 d-e. Saat duduk bengong di sana, ada sepasang pemuda-pemudi dari Costa Rica yang juga baru tiba di Koeln. Namanya Alex, yang cewek saya lupa namanya... karena si Alex membawa stiker official WYD dari Costa Rica dan menuliskan namnya di belakang. Si cewek itu Cuma duduk kecapean, barang bawaannya banyak sekali, di antaranya koper besar yang ampun-ampunan beratnya... kusangka dia mau pindahan rumah ke Koeln, ya.
Kereta Agnes akhirnya tiba juga. Aku ditugaskan untuk mencarinya di antara penumpang yang baru turun di peron. Katanya dia memakai jaket coklat dan menenteng tas. Rasanya hampir semua manusia di sini menenteng tas deh!
Sudah sampai di ujung kereta, aku balik lagi... dan astaga! Dia lebih dulu mengenaliku: “Toni ya...”
Kujawab: “Agnes ya...” aku lupa apakah berpelukan dengannya waktu pertama kali bertemu, yang jelas waktu berpisah di Roma kami berpelukan... [ihh, detil amat ya memori gue!]. Agnes termasuk mahluk imut dan lincah. Masak dengan ukuran tubuh kecil begitu dia bisa membawa tas seukuran badannya... hehehe.
Misi kami menurut rencana sebelumnya, pertama kali tiba di stasiun segera ke counter Deutsche Bahn [DB] buat beli tiket pasca WYD: Koeln-Paris-Lourdes-Roma. Tas-tas dijaga oleh Mbak Ina dan kedua teman Costa Rica. Saya dan Agnes turun ke lantai bawah.
Pelayanan reservasi tiketnya tidak terlalu rumit, Agnes jago berbahasa Jerman, jadi dia yang ngomong ke petugasnya. Aku yang menyebutkan schedule yang telah dikonsepkan.
Masalah baru muncul ketika mau membeli tiket ke stasiun Koeln Messe untuk registrasi volunteer. Mesin tiket otomatnya pakai touch screen. Ribet sekali... beberapa kali di coba tidak berhasil. Sampai kami menyadari bahwa pembelian tiket dengan mesin ini hanya bisa dengan kartu langganan DB. Pantesan!
Kami ke mesin di belakang counter DB, pakai koin. Kemudian tiketnya keluar. Inilah tiket kereta lokal satu-satunya yang kami beli selama di Koeln. Karena sesudah registrasi kami mendapat kartu pengenal yang sekaligus berfungsi sebagai tiket kereta gratis [bahkan sudah kami coba pakai sampai ke Belanda! Kisahnya menyusul...]. Dan jarak dari Koeln Hbf ke Koeln Messe ternyata cuma satu stasiun, melintasi rel di atas Sungai Rhein, kami langsung tiba.
Koeln Messe ibarat tempat PRJ Kemayorannya kota Koeln. Tempat ini dipakai sebagai salah satu pusat aktivitas volunteer WYD: registrasi, nginap, logistik. Disediakan toilet-toilet mobile, didingnya terbuat dari bahan plastik bertuliskan “Dixi”.
Perjumpaan pertamaku dengan Dixi terjadi di Koeln Messe dan sungguh berkesan. Aku lari ke toilet dan kaget saat melihat betapa simpelnya sarana ini. Ada tempat untuk pipis berdiri [laki tentu saja] dan duduk, dan di bawahnya terdapat bak berisi cairan kimia berwarna biru. Tanpa air, hanya tissu doang yang disediakan. blue dixi, dari sinilah kami akan jadi akrab selama beberapa hari ke depan.
Akhirnya tiba juga di blok tempat registrasi. Antrian panjang para relawan seperti mengular. Ada sekitar 500 meter. Hari sudah sore. Beberapa relawan yang bertugas membagikan makanan bagi yang baru tiba dalam antrian. Roti pretzel bentuknya unik, seperti gelang, rasanya alot, tapi isinya mentega butter. Ada juga pisang, dan air minum.
Waktu minum dari botol pertama, aku sempat kaget. Rasa airnya kok lain, mirip soda... ya ampun, carbonated water! alias air rasa soda. Tapi karena capek dan kehausan, ditenggak saja.
Tahu nggak saat ngantri itu, dua cewek dari Paraguay tadi nggak jauh-jauh amat dari tempat kami, sehingga kami dapat ber-hai-hai kembali... saat tiba di ujung antrian, depan pintu masuk sebuah hall rasanya lega sekali.
Satu per satu dilayani oleh relawan yang bertugas. Kami masing-masing mendapat sebuah ransel [lagi!], jaket, kaos, buku panduan, id pengenal, dan kupon-kupon makan selama acara.
Karena capek, kami duduk-duduk dulu di dalam. Ada makanan hangat dalam dus yang dibagikan: pasta masak brokoli ala Jerman. Kami sudah terpisah dengan Alex dan cewek tadi. Namun, mendadak Alex muncul lagi dan meminta pada Agnes, kalo bisa dia mau pinjam satu sleeping bag kami...
Oh ya, ada yang sempat terlewati, waktu di KLIA sleeping bag mbak Ina tertinggal di depan counter internet Samsung. Sebelum pesawat terbang ke Frankfurt, melalui sms, saya minta Agnes belikan satu sleeping bag buat mbak Ina. Ntar uangnya diganti. Si Alex mungkin menyangka itu sleeping bag lebih. Setelah kami jelaskan bahwa kami masing-masing hanya punya satu, akhirnya dia mau mengerti juga.
Agnes punya kelompok relawan berbeda dengan kelompok saya dan mbak Ina. Malam itu dia harus segera menemui ketua kelompoknya. Malam? Sudah jam 20 begini, matahari masih bersinar terang di luar... Kami kembali ke stasiun Messe. Ada beberapa kali kami musti bolak-balik naik turun tangga di Messe dengan bawaan 3 ransel berat, aku malas menghitungnya. Mbak Ina bilang Florian Jung, ketua kelompok kami ada di Messe. Sehingga dia pergi mencarinya. Aku duduk di tepi jalan. Mengamati relawan-relawan yang baru datang. Makin malam jumlahnya makin bertambah banyak, dan katanya antrian
di dalam sudah 3 belokan, sekitar 1 kilometer? Wow.
Setelah yakin bahwa Florian Jung tak ada di Messe, kami naik tangga stasiun kembali. Menunggu kereta ke Chorweiler. Kami nginap di Fuhlinger See. Tiba di Chorweiler sudah pukul 21 lewat, hari sudah gelap. Ada beberapa relawan [dapat dikenali dari seragamnya] yang juga menunggu bus ke Fuhlinger See. Kami ikut saja.
Fuhlinger See [arti harafiahnya: Danau Fuhlinger] adalah tempat kemping di tepi danau. Lokasinya di pinggiran kota Koeln, penuh dengan pepohonan dan padang rumput. Kami mendaftar dulu sebelum diberitahu oleh relawan yang melayani: kamar nomor berapa yang akan kami tempati.
Badan sudah penat dan pingin istirahat. Kami diberitahu tempat kami di Markus F25. Jadi kami menuju ke sana dalam kegelapan malam... dan amboi, kamar kami tepat di pinggir danau. Kebayang nggak nginap di kamar hotel berbintang lima?
Kamar kami lebih hebat lagi, di ‘hotel’ berbintang-bintang. Coba tengadah ke langit, hitung ada berapa banyak bintang? Hehehe... tenda kemping kami muat berdua. Untunglah aku bawa senter, sehingga ada penerang di ‘kamar’. Mbak Ina langsung tergeletak tidur setelah menyiapkan sleeping bag barunya...
Aku masih mengatur-atur barang bawaan, dan menyesali matras-ku yang ketinggalan di taksi blue bird di Jakarta. Seharian ini belum mandi, seingatku terakhir kali mandi di Jakarta. Alas tidur cuma terpal tenda, posisinya miring ke arah danau lagi... sungguh pengalaman tak terlupakan.
Atap tenda terasa basah oleh embun.
Aku mulai mencoba membiasakan diri dengan situasi darurat. Sayangnya, malam itu, gangguan muncul dari perutku... something trouble with my stomach. Aku bawa senter ke luar, menuju ke areal yang penuh dengan kotak-kotak Dixi. Dixi, I love you... hehehe.
Ada beberapa kali aku ke Dixi, sebelum obat Diapet bekerja baik. Mungkin gara-gara air bersoda itu ya? Atau karena jam tubuh dengan makan yang kacau di sini. Hitung-hitung jam 12 malam di sini, sesungguhnya sudah jam 6 pagi di Indo.
Ada waktu yang lebih yang diberikan semalam di pesawat, dan sekarang ada waktu yang harus diambil dalam kegiatan hari pertama yang melelahkan di Koeln. What a perfect day.
Twinkle, twinkle little stars.... rasanya aku melihat bintang-bintang dalam tidurku.