Saturday, September 30, 2006

high up in the sky


setiap kali pesawat hendak terbang, saya suka menikmati pemandangan di luar kabin pesawat. jalanan, rumah-rumah, sawah terlihat menjadi seperti mainan monopoli. kecil-kecil...

lalu lautan... hmmmh... warna birunya itu.
pulau-pulau terlihat kecil dan jelas sekali batas daratannya.

lalu aku berpikir: jikalau masalah menghimpitmu, cobalah terbang lebih tinggi. dari atas sana masalah itu terlihat begitu kecil!

Wednesday, September 27, 2006

hadapilah dengan senyum



bila bebanmu terasa berat, hadapilah dengan senyum
bila langkahmu terlalu penat, hadapilah dengan senyum

bila badai ombak menggelora, hadapilah dengan senyum
bila awan gelap kelak menudungi, hadapilah dengan senyum

bila penyakit menyerang dikau, hadapilah dengan senyum
bila harapan tiada lagi, hadapilah dengan senyum

bila manusia mengecewakan, hadapilah dengan senyum
bila hidupmu sangat tertekan, hadapilah dengan senyum

Tuhanlah pembelamu, Tuhan penolongmu
janganlah kaubimbang akan semuanya
hadapilah dengan senyum...

Monday, September 25, 2006

dokter gigi sakit gigi?

sore tadi berangkat ke tempat praktek dokter gigi. hari senin, mumpung aku libur. besok ada beberapa agenda kesibukan, sehingga bila ditunda bisa kelamaan untuk cari kesempatan ke dokter gigi.
cihuuuiii... tidak ada pasien lain yang tampak di sana. berarti kali ini aku dapat giliran nomor satu dong! [padahal biasanya hari senin ramai pasien mengantri] kudekati pintu kamar praktek yang terbuka. ada mbak perawat yang tersenyum melihatku.

"dokter nggak praktek sore ini", sapanya.

"kenapa??"

"dokter sakit"

"dokter sakit gigi ya??"

dia ketawa dan berkata: "masak dokter gigi sakit gigi? dokter Cynthia sakit maag"

"oooh, kirain dokter sakit gigi..."

kupikir-pikir, rasanya ajaib juga bila dokter gigi bisa sakit gigi... hahaha.

Friday, September 22, 2006

kesaksian - sepotong kisah dari peristiwa Tibo



KESAKSIAN - Iwan Fals

aku mendengar suara
jerit makhluk terluka
luka, luka
hidupnya
luka

orang memanah rembulan
burung sirna sarangnya
sirna, sirna
hidup redup
alam semesta
luka


banyak orang
hilang nafkahnya
aku bernyanyi
menjadi saksi

banyak orang
dirampas haknya
aku bernyanyi
menjadi saksi


mereka
dihinakan
tanpa daya
ya, tanpa daya
terbiasa hidup
sangsi

orang-orang
harus dibangunkan
aku bernyanyi
menjadi saksi


kenyataan
harus dikabarkan
aku bernyanyi
menjadi saksi

lagu ini
jeritan jiwa
hidup bersama
harus dijaga
lagu ini
harapan sukma
hidup yang layak
harus dibela


Fabianus Tibo, Dominggus Da Silva dan Marinus Riwu telah dieksekusi mati Jumat, 22 September 2006 di ni hari. Berbagai kontroversi menyertai pelaksanaan hukuman mati ini. Berikut ini adalah kutipan kesaksian yang pernah dinyatakan oleh Fabianus Tibo dan dibenarkan oleh Dominggus Da Silva serta Marinus Riwu. Kutipan ini dibuat sebagai press release dari pihak terhukum dan disampaikan kepada berbagai pihak,
termasuk Komisi Hak Asasi Manusia sebagai pembelaan dan juga informasi bagaimana ketiganya bisa ditahan dan dijadikan tersangka kasus kerusuhan Poso.

Kronologis Terjebaknya FABIANUS TIBO, DOMINGGUS DA SILVA dan MARINUS RIWU dalam kerusuhan Poso III

Menurut Keterangan Fabianus Tibo dan Dibenarkan oleh Dominggus dan Marinus Riwu

Pada pertengahan Mei 2000, kami kedatangan seorang utusan dari Tentena yakni: Sdr.Janis Simangunsong, yang bersangkutan membawa kabar bahwa Gereja Sta. Maria Poso akan dibakar dan umatnya akan dibunuh. Sebagai orang tua/wali murid kami merasa kuatir dan gelisah memikirkan nasib anak-anak panti asuhan, para guru, suster, pastor dan lainnya. Pada saat itu pula kami mengadakan pertemuan sesama orang tua/wali murid. Hadir pada pertemuan itu 23 orang. Kami sepakat untuk secepat mungkin menjemput anak-anak bahkan seluruh penghuni yang berada di Gereja Sta. Theresia, Desa Moengko Baru, Poso.

Tanggal 21 Mei 2000, kami 17 orang berangkat menuju lokasi Gereja Sta. Theresia. Dalam perjalanan itu kami singgah di Tentena bertemu dengan Janis Simangunsong, si pembawa berita. Kami tanyakan kembali perihal beritanya, dan sdr Janis menjawab: "Terserah Om Tibo mau pecaya atau tidak, tapi yang pasti berita itu benar". Sayapun balik menentang Sdr. Janis dengan mengatakan seperti : "Bila berita tersebut hanya issu kamu harus menerima resikonya, kami akan lapor ke kantor polisi sebagai provokator". Hari itu kami dan rombongan bermalam di Tentena.

Keesokan harinya pada tanggal 22 Mei 2000 kami dan rombongan berangkat memakai mobil kijang menuju Gereja St. Theresia Poso. Sekitar jam 3 sore kami tiba dan langsung menanyakan berita tersebut kepada Pastor serta Suster dan para Guru, jawab mereka : "kami belum tahu". Kalau begitu, bagaimana kalau Pastur, Suster, Guru serta lainnya ikut kami saja sekarang kembali ke Beteleme bersama anak-anak, dan mereka katakan "tanggung" karena besok hari ujian akan berakhir, bagaimana kalau habis ujian? Kami semua menyetujui, dan kami bermalam di asrama Gereja karena baru besok akan kembali ke Beteleme.

Tanggal 23 Mei tahun 2000, sekitar jam 04.00 (jam 4 subuh) kami terbangun oleh teriakan histeris minta tolong berlari memasuki halaman gereja langsung naik ke gunung di belakang gereja. Ada yang memanggil nama saya seperti "Om Tibo tolong kami, tolong kami". Saya tidak habis pikir kenapa, sebagian massa ada yang memanggil nama saya.

Saat itu pula saya keluar halaman, tiba-tiba lampu mobil mengena muka saya dan terdengar teriakan "siapa itu" (maksudnya saya), saya jawab "ini saya Om Tibo". Polisi-polisi langsung mendekat kepada saya, salah satunya saya kenal yaitu Bapak Anton. Terjadi perbincangan dengan para polisi. Mereka mengira kamilah yang mengadakan penyerangan semalam, tetapi saya jawab kami semua penghuni yang ada di dalam tidak tahu apa-apa, kami mempersilahkan bapak polisi memeriksa ke dalam.

Sementara berbicara dengan para polisi, masa dari Kelompok Putih sudah mulai memasuki halaman gereja, bahkan sudah mengelilingi saya di hadapan para polisi. Sekali lagi saya mencoba menjelaskan bahwa para Suster, Guru yang ikut keluar asrama mau menjelaskan kepada polisi serta massa dari Kelompok Putih, tetapi penjelasan tersebut sia-sia, massa sudah mulai emosi, sebagian meneriaki seperti "Sudah dia, om Tibo yang melakukan penyerangan dan telah membunuh polisi serta mantan lurah Kaimanya", bahkan ada yang mau memukul dan sudah mengancam dengan parang kepada Suster dan Para Guru yang mau menolong menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Saat itu pula saya menyuruh suster dan para guru untuk masuk ke dalam karena saya berpikir situasi sudah lain. Saya mengenal salah satu Tokoh Islam yang saat itu ada di TKP bernama Abdul Gafar. Saya sempat menyapa sebagai seorang sahabat.

Selang, beberapa saat para polisi mau membawa saya ke kantor polisi dengan alasan perintah langsung Kapolres lewat HT akan tetapi saya tidak mau karena tujuan kami dan para orang tua/wali termasuk Marinus dan Dominggus yang berada di asrama Gereja adalah membawa dan menyelamatkan anak-anak Panti Asuhan. Saat itu pula para polisi mulai meninggalkan saya sendirian di tengah massa Kelompok Putih. Polisi tidak membubarkan massa saat itu dan selang beberapa lama polisi tinggalkan saya, mulailah massa menjadi-jadi bahkan dengan beringasnya mereka merusak bahkan membakar semua asset-asset gereja, bahkan rumah Gereja Katolik itu sendiri.

Di tengah-tengah amukan massa yang sudah tidak terkendali lagi, saya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya berdoa supaya saya dan penghuni yang ada di dalam bisa selamat dan oleh kemurahan Tuhan sajalah saya bisa menerobos di tengah-tengah massa dan kembali ke dalam asrama, saat itu saya sudah tidak melihat lagi seluruh penghuni asrama. Rupanya mereka sudah menyelamatkan diri lewat belakang asrama naik ke gunung, tinggal saya sendirian di dalam asrama, saya tetap hanya berdoa "Tuhan lindungilah kami". Tiba-tiba saya dikejutkan oleh seseorang yang memakai sepati lars, berkaos loreng, juga bercelana loreng seperti seorang tentara yang mengatakan kepada saya "Om cepat lari selamatkan diri", saya jawab terima kasih. Saat itu pula lewat belakang asrama saya menuju gunung menyelamatkan diri.

Tanpa disangka kami bisa bertemu dan berkumpul di atas gunung. Puji Tuhan, teman-teman lain menyangka bahwa saya sudah mati, tetapi Tuhan menyelamatkan saya, berkumpul dengan anak-anak, Pastur, Suster dan Para Guru, kamipun menengok ke bawah, gumpalan-gumpalan asap tebal sudah menghanguskan rumah gereja, asrama tinggal, aula dan lainnya. Selanjutnya kami mulai berjalan bersama dengan anak-anak Panti Asuhan berjumlah 85 (delapan puluh lima) orang anak, tidak terhitung para wali/orangtua, guru, suster, pastur. Akan tetapi Pastur, Suster serta Sopir Pastur sudah terlebih dahulu berpisah di kebun milik Daeng Hulle.

Saya dan rombongan tetap berjalan walaupun belum sempat makan, kami harus selamat. Dalam hati saya berpikir bahwa jebakan-jebakan kepada kami sudah disusun rapi. Rupanya mereka ingin supaya kami terlibat dalam setiap masalah yang terjadi. Saya yakin Sdr. Janis Simangunsong, bahkan petugas-petugas di Tentena terlibat langsung dalam skenario penyerangan semalam! Mereka sengaja mau melibatkan kami padahal kami hanya pendatang yang mau mencari kehidupan buat anak-anak kami. Semakin jauh kami berjalan semakin pula menguras tenaga, hanya buah-buah dan makanan apa adanya yang kami dapati untuk menguatkan tubuh kami disertai Doa kepada Tuhan.

Akhirnya kami tiba di pinggir kali. Sambil melepas lelah kami bertemu dengan seorang masyarakat yang nama: Henry Mangkawa warga desa Tambaru, saya katakan tolong kami, karena kami dikejar oleh Kelompok Putih, mereka menuduh kami yang menyerang di desa Kaimanya semalam bahkan mereka juga mengatakan bahwa kamilah yang membunuh polisi serta mantan lurah Kaimanya. Akibatnya Gereja kami St. Theresia Poso dibakar oleh massa kelompok Putih. Tapi syukurlah anak-anak, serta Pastur, Suster dan Guru dapat diselamatkan. Bapak Herry katakan: "kami akan menolong bersama seluruh warga Desa Tambaru, akan tetapi kami menolong dulu rombongan yang lebih dahulu, yang dipimpin oleh Ir. Lateka, itu orangnya yang lagi duduk di bawah pohon kelapa yang kepalanya diikat dengan handuk". Rupanya Sdr. Lateka sudah terluka parah dan seorang perawat di desa Tambaru merawatnya. Setelah pertolongan warga kepada Sdr. Lateka dan anggotanya selesai, mereka langsung menuju Tentena, karena mobil mereka sudah datang. Sdr. Lateka selalu memegang Radio (HT) untuk komunikasi. Saya yakin benar dialah orangnya yang menyerang semalam bersama anggota-anggotanya.

Sesudah rombongan Lateka pergi barulah saya dan rombongan ditolong oleh Bapak Herry serta seluruh warga desa Tambaru. Saat itu pula seluruh warga, juga Bapak Herry mengatakan bahwa penyerangan di desa Kaimanya dilakukan oleh Saudara Lateka beserta pasukannya, terbukti 1 (satu) pucuk pistol milik anggota polisi yang terbunuh ada di genggaman Sdr. Lateka.

Selanjutnya jam menunjukkan 03.30 wita (subuh) tanggal 24 Mei tahun 2000 kami meninggalkan desa Tambaru menuju Tentena, sampai di Tentena jam 06.00 wita, sebelumnya kami mampir di desa Kuku Umbu menurunkan anak-anak Panti Asuhan yang tinggal di desa Kuku.

Setelah kami tiba di Tentena kami langsung ditahan serta diancam akan dibunuh bila tidak mengikuti semua petunjuk yang dilakukan oleh Sdr. Paulus Tungkanan. Rupanya beliau sangat dihormati oleh Kelompok Merah sebagai Panglima atau Pimpinan Perang yang sangat ditakuti. Kami tidak bisa berbuat apa-apa apalagi kami hanya sebagai warga pendatang yang tujuannya untuk mencari hidup untuk masa depan anak-anak kami. Syukur anak-anak Panti Asuhan yang kami bawa dari Poso diperbolehkan pulang ke
rumah beserta para Guru, Suster, Pastur dan lainnya. Sedangkan kami tetap tinggal di Tentena dengan maksud dan tujuan yang tidak jelas. Saya dan Marinus juga Dominggus saat itu sudah dipisah-pisahkan di Tentena, oleh Saudara Paulus Tungkanan sebagai Panglima Perang Kelompok Merah.

Suatu ketika saya ikut pertemuan di desa Kelei, kurang lebih 4 (empat) km dari Tentena di rumah anaknya Sdr. Herman Parito. Hasil pertemuan tersebut saya diperintahkan untuk menuju Desa Tagolu, saya sempat bertanya, untuk apa saya mau kesana?. "Untuk apa tanya-tanya?" Hardik Sdr. Paulus Tungkanan. Terus terang saya sangat rindu berkumpul dengan keluarga saya, tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, nyawa saya dan keluarga saya sangat terancam. Untuk Marinus dan Dominggus saya sudah tidak tahu lagi keberadaannya. Saya mencoba mengikut Petunjuk Sdr. Paulus Tungkaman apa maunya dia. Sekira jam jam 15.00 wita (jam 3 sore) saya berangkat ke desa Tagolu, saya mampir dulu di desa Sayo, oleh Bapak Lurah serta masyarakat memberi saya makan bahkan sempat didoakan oleh Ibu Pendeta Sayo.

Saya berangkat dari Desa Sayo jam 7 malam dan tiba di desa Tagolu sudah malam. Nanti ketemu Ir. A. Lateka sudah larut malam. Di situ ada Sdr. Erik Rombot, Soni Rumead yang sibuk bicara via HT. Sdr. Lateka berbicara kepada saya yaitu menggantikan dia dalam melaksanakan tugas, tetapi saat itu pula saya tidak menerima tugas tersebut karena tidak ada kejelasan. Saya tetap waspada karena ternyata saat ke Tagolu hanya semata-mata untuk menggantikan tugas dari Sdr. Ir. A. Lateka. Saya tahu setelah saya menolak tawaran mereka yang bertentangan dengan hati nurani, gerak gerik saya selalu dimonitor oleh Sdr. Paulus Tungkanan beserta anak buahnya serta petinggi-tinggi kelompok Merah (Kristiani).

Pada tanggal 28 Mei 2000 sekitar jam 07.30 di rumah Sdr. Bate Lateka di Desa Tagolu, kami kedatangan 5 (lima) orang anggota Polres Poso yang dipimpin oleh Kapten Mandagi dan 4 (empat) anak buahnya membawa perintah langsung dari Bapak Kapolres Poso sekaligus memohon bantuan kelompok Merah (Kristiani) yang ada di Desa Tagolu untuk mengevakuasi seluruh perempuan dan anak-anak yang berada di KM.9, Komp. Wali Songo dan akan diamankan di Asrama Kompi Kawu, sedangkan para lelaki tetap ditempat untuk menjaga lokasi tersebut. Bapak-Bapak Polisi tersebut diterima oleh Saudara Erik Rombot, Bate Lateka, Angke Tungkanan, serta Ventje Angkouw. Perbincangan tetap berlanjut, saya mohon pamit karena mau menuju Desa Sayo atas perintah langsung Panglima Perang, Paulus Tungkanan via telepon yang diterima oleh Sdr. Erik Rombot.

Saya dan kurang lebih 60 (enam puluh) orang berangkat ke Desa Sayo untuk menjemput 9 orang yang sudah tak berdaya akibat gempuran massa dari kelompok putih. Sekembalinya saya dan teman-teman dari Desa Sayo, di ujung kampung kami dihadang oleh sebahagian masyarakat desa Tagolu yang menyampaikan bahwa di Km.9, komp. Wali Songo sudah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh kelompok Merah (Kristiani) yang dipimpin oleh Sdr. Erik Rombot, Bate Lateka, Angki Tungkanan, Ventje Angkouw. Saya tidak mengerti mengapa bisa terjadi penyerangkan di Km.9 (komp. Wali Songo)?

Rupanya perintah langsung Bapak Kapolres untung mengevakuasi massa perempuan dan anak-anak di km.9 ternyata merupakan suatu rekayasa dan permainan politik yang rapi, bahkan masyarakat mengatakan bahwa kejadian di km.9 (komp. Wali Songo) adalah pembuatan Kapten Mandagi dan 4 (empat) anggotanya yang telah memprovokasi massa kelompok Merah (Kristiani), yang saat penyerangan dipimpin langsung oleh Sdr. Erik Rombot, Bate Lateka, Angki Tungkanan, dan Ventje Angkouw, bahkan sebelumnya ada salah satu anggota polisi bernama Peter Pasepe yang berteriak-teriak sambil menangis
yang tujuannya mencari simpati massa kelompok Merah (Kristiani) katanya "Rumahnya habis terbakar dibakar Kelompok Putih (Islam) di Poso. Mulai saat itu disertai emosi yang meluap-luap terjadi penyerangan di Km.9 (komp. Wali Songo) mengakibatkan pembunuhan, pembakaran rumah, di Km.9 (komp. Wali Songo) tidak terelakkan lagi, tetapi ada sebahagian masyarakat yang beragama Kristiani di Desa Tagolu tidak mau mengikuti penyerangan tersebut yang saya yakin semata-mata disuluh oleh api provokasi dari Kapten Mandagi dan 4 (empat) anggotanya. Perintah langsung bapak Kapolres kepada Kapten Mandagi, saya bisa artikan yaitu Perintah Penyerangan.

Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan sehubungan dengan peristiwa penyerangan di Km. 9 (komp. Wali Songo), sebagai berikut : 1. Apa betul Bapak Kapolres Poso (Pa Basaopu) memerintahkan Kapten Mandagi untuk mengevakuasi seluruh perempuan dan anak-anak di Km.9 (komp. Wali Songo) serta harus dibawa di asrama Komp. Kawua? Tetapi mengapa bukan di asrama Polres, karena yang evakuasi tersebut adalah Bapak Kapolres? Atau kenapa pihak TNI tidak dilibatkan untuk pelaksanaan evakuasi?
2. Mengapa perintah Bapak Kapolres hanya ditujukan kepada Massa Kelompok Merah (Kristen) sedangkan yang mau dievakuasi adalah kaum perempuan dan seluruh anak-anak yang beragama Islam?


Saya menduga lanjutan pembicaraan Kapten Mandagi dan 4 (empat) anak buahnya bersama pimpinan Kelompok Merah yang bisa saya sebut Sdr. Erik Rombot, Angki Tungkanan, Bate Lateka dan lainnya, setelah saya tinggalkan menuju Desa Sayo, merupakan strategi penyerangan yang akan dilakukan di km. 9 (komp. Wali Songo).

Perlu saya sampaikan juga bahwa untuk diketahui kehidupan antar umat beragama di km. 9 (komp. Wali Songo) sebelumnya sangat damai, rukun dan tidak konflik. Akan tetapi mengapa kehidupan yang damai rukun bisa mengakibatkan kehancuran?. Apalagi mayoritas di km.9 (komp. Wali Songo) adalah warga pendatang. Semua ini terjadi karena ada kepentingan-kepentingan tertentu baik pribadi maupun organisasi/ kelompok.
Begitupun karena api provokasi yang sengaja diciptakan, orang-orang yang tidak mau bertangung jawab karena tidak suka damai, dan hanya mau mementingkan diri sendiri.

Saya sangat berharap apa yang saya sampaikan dapat dipertimbangkan, karena saya yakin jeritan saya ini merupakan jeritan begitu banyak orang-orang yang tertindas, teraniaya, terancam karena tidak bisa bicara tentang kebenaran dan semuanya ditimpahkan dan dituduhkan kepada kami.

Sayapun sangat berterima kasih bila penyampaian saya ini boleh menjadi pertimbangan Bapak guna pengusutan lebih lanjut, dan saya tiap menjadi saksi apapun resiko yang akan saya terima demi keadilan dan kebenaran!!!

Sayapun sempat kecewa karena suara hati kami mulai persidangan tingkat pengadilan negeri, sampai peninjauan kembali ke Mahkamah Agung, belum diperhatikan secara hukum, semoga saatnya sekarang kebohongan publik tidak akan terjadi lagi. Semua yang melanggar hukum harus taat pada hukum dan perundangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.

Inilah yang dapat saya sampaikan dengan sebenarnya semoga teriakan hati nurani kami dapat didengar sehingga bisa terungkap kebenaran yang sebenarnya.

Terima kasih.

Palu, April. 2005

Yang menyampaikan,
Fabianus Tibo

Dibenarkan oleh
Dominggus da Silva
Marinus Riwu

Sumber : Independent Media Center Jakarta
Keterangan : 21 September 2006

dead men walking

hari ini adalah hari terakhir buat tibo, riwu, da silva. bisa dibayangkan, ketiga petani ini menghitung detik demi detik sebelum diperhadapkan di depan regu tembak. di tempat dan waktu yang dirahasiakan. mereka berada dalam antrian kematian. sementara pendulum masih berayun-ayun... banyak orang yang berkumpul malam ini mendoakan mereka.

pukul 21 tadi ratusan orang memenuhi halaman katedral makassar. masing-masing mengikat sehelai kain putih pada mulut. lilin bernyala dipegang. pertunjukan teatrikal dihiasi lagu untuk Tibo yang dikarang oleh Frangky Sahilatua membuat suasana miris. mereka sepakat, malam ini mereka sudah kehabisan kata-kata. karena itu pada bentangan spanduk tertulis: "kami hanya percaya pada Tuhan", atau "pada Tuhan kami mengadu". betapa santunnya dan jauh dari kesan amarah. karena perjuangan mereka selama ini akhirnya berujung pada perintah eksekusi yang dikeluarkan oleh Jaksa Agung. upaya hukum menjadi sia-sia...

sempat saya mendengar bahwa pengacara terpidana dan Pastor Jimmy Tumbelaka menolak untuk mendampingi saat-saat eksekusi Tibo, Riwu, da Silva karena permintaan terakhir terpidana mati belum dikabulkan: Tibo ingin membacakan sebuah surat terbuka yang ditulisnya buat Bapak Presiden. pelaksanaan hukuman mati mengharuskan terpidana mati didampingi oleh pengacara dan pelayan rohani.

jadi, kata putus terakhir ada pada Bapak Presiden. sudikah beliau mendengar? atau membiarkan mereka terbungkam dalam kesunyian abadi?

inilah persoalan kemanusiaan.
nasib tiga perantau yang mencari nafkah, dan berujung pada eksekusi mati oleh negara. mereka dituduh sebagai dalang kerusuhan Poso. sebuah dagelan yang tidak lucu, namun dipentaskan tanpa malu-malu. sebagaimana peradilan sesat yang ditimpakan pada Yesus duaribu tahun silam...

siang tadi saya mendengar, Bapa Uskup Manado, Mgr. Joseph Suwatan bertolak dari Makassar ke Palu untuk menemani para terpidana mati. hati jadi rasanya terenyuh. seorang gembala mau menemani domba-dombanya yang dibawa pembantaian. agar kaki mereka dikuatkan melangkah. ada sang gembala berjalan di sisi mereka.

dan di tengah malam sunyi ini mereka akan berjalan dalam antrian kematian. ketika dunia masih terlelap, semoga para malaikat dan para kudus pun menemani di saat-saat terakhir ini. sebagaimana doa-doa yang begitu deras diucapkan para simpatisan tadi. ratusan Doa Salam Maria... ratusan Doa Bapa Kami... terhambur buat mereka, demi melempangkan jalan terakhir mereka sambil berharap mukjizat Tuhan.

mereka bisa saja mati tertembus peluru.
namun, Tuhan tidak tidur.

Tuesday, September 19, 2006

sesungguhnya tibo sudah mati berkali-kali



seorang tibo
petani desa
dari kampung seberang
menjadi tenar
sedunia beritanya
saat ia disangka
dalang kerusuhan poso
bersama dominggus da silva,
marinus riwu

perantau di tanah sulawesi
mati di tanah ini juga

di tahanan ia menunggu
nasib yang berjudi
dengan taruhan nyawa
bertiga

tuan, sudah puaskah
kartu truf yang di tangan
mau ditaruh,
ditarik kembali
mau ditaruh,
diambil kembali
mau ditaruh,
dipikir-pikir lagi

bila kemudian
kartu itu ditaruh
sesungguhnya
mereka sudah mati berkali-kali
sebab mereka bukan kartu
mereka punya hidup
punya keluarga
punya harapan
akan hidup
yang lebih baik

dan saat mereka
kauperhadapkan pada regu tembak
mereka akan berdarah
mereka akan meregang nyawa
mereka akan mati
...
seperti kita,
pada akhirnya

namun
mereka akan hidup
dalam catatan sejarah
dalam benak
dalam hati
setiap pencari keadilan
dan pejuang kehidupan

[stand up my friends,
He's with you all]

Monday, September 18, 2006

blunder paus



Paus Benediktus XVI disebut bikin blunder. kuliah umumnya di Universitas Regensburg, selasa [12/9] dikutip di mana-mana sebagai penghinaan terhadap salah satu agama. hari ini hari minggu [17/9], imbasnya baru mulai terasa. beberapa pesan masuk: waspada, besok akan ada demo besar memprotes Paus. pers pun tampaknya mulai mem-blow up berita ini. mengherankan, pada Kompas Minggu ini, Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI, memberikan pernyataan penyesalan atas kuliah Paus tsb:

"Selaku Kepala Negara Republik Indonesia, saya menyesalkan pernyataan Sri Paus (di Jerman) tersebut, di samping tidak bijak, juga tidak tepat dan ini sangat mengganggu upaya kita bersama untuk terus membangun dan mengembangkan dialog antarumat beragama dan antarperadaban." [Kompas Minggu, 17/9].

beberapa hal yang perlu dikaji di sini:
1. pernyataan Paus yang dianggap menghina agama tertentu itu bila dibaca secara keseluruhan, merupakan kutipan atas sebuah dokumen:

I was reminded of all this recently, when I read the edition by Professor Theodore Khoury (Münster) of part of the dialogue carried on - perhaps in 1391 in the winter barracks near Ankara - by the erudite Byzantine emperor Manuel II Paleologus and an educated Persian on the subject of Christianity and Islam, and the truth of both. It was probably the emperor himself who set down this dialogue, during the siege of Constantinople between 1394 and 1402; and this would explain why his arguments are given in greater detail than the responses of the learned Persian. The dialogue ranges widely over the structures of faith contained in the Bible and in the Qur’an, and deals especially with the image of God and of man, while necessarily returning repeatedly to the relationship of the "three Laws": the Old Testament, the New Testament and the Qur’an.

sehingga, sebagaimana dijelaskan Vatikan, hal ini bukanlah merupakan pandangan resmi Gereja dan Paus. apalagi dengan maksud menghina agama tertentu.

2. kuliah berjudul: FAITH, REASON AND THE UNIVERSITY. MEMORIES AND REFLECTIONS disampaikan secara akademis, di tengah forum akademis.
apakah masih ada kebebasan akademis, kebebasan berpikir, apabila pers kemudian masuk ke dalam ruang kuliah dan mengutip sepotong-sepotong pernyataan lektor [bahkan memelintirnya], dan kemudian seluruh dunia mengomentari bahkan bereaksi negatif terhadap potongan teks?
para pengajar tentu sulit menerima hal ini.
namun dengan sedih kita menyaksikan emosi lebih sering memainkan peran dibandingkan akal budi. pada titik ini hasutan begitu mudah masuk dan bersifat destruktif.

3. Paus menyatakan penyesalannya, sebagaimana dikutip Kompas:
Paus "dengan setulusnya menyesali bahwa beberapa paragraf dalam pernyataannya kemungkinan telah melukai kaum Muslim, di mana (kalimat) itu sama sekali tidak berhubungan dengan maksud Paus".

atau pada sebuah situs:
And at the Angelus on Sunday the 17th, Benedict XVI himself made this clarification:

“I am deeply sorry for the reactions in some countries to a few passages of my address at the University of Regensburg, which were considered offensive to the sensibility of Muslims. These in fact were a quotation from a medieval text which do not in any way express my personal thought. Yesterday, the cardinal secretary of state published a statement in this regard in which he explained the true meaning of my words. I hope that this serves to appease hearts and to clarify the true meaning of my address, which in its totality was and is an invitation to frank and sincere dialogue, with great mutual respect.”

semoga dengan demikian:
1. para ilmuwan tetap memiliki jaminan untuk kebebasan berpikir untuk membangun pengetahuan sehingga tidak takut bersuara.
2. tindakan emosional-anarkis tidak terjadi. karena bila demikian, di mana kita akan menaruh akal budi?

Thursday, September 14, 2006

aku ingin



aku ingin mencintai dengan cara sederhana
dengan kata yang tak sampai
diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat
disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada

[dari lembaran Kidung Cinta yang kutemukan siang tadi yang entah mengapa sangat menyentuh hati]

Monday, September 11, 2006

il mare atau the lake house


judul aslinya di korea "il mare" berarti lautan [bhs. italia]. film roman ini diangkat dan dikemas ulang oleh hollywood dengan judul "the lake house" dengan memasang sandra bullock dan keanu reeves sebagai tokoh utama [ehm, jadi ingat sama film speed 1, reeves dan bullock romantis banget di akhir film itu].

alur kisahnya pada bagian awal tentu membingungkan. bagaimana bisa dua orang ini berkorespondensi dengan jarak waktu terpisah dua tahun! dr.kate [bullock] hidup di tahun 2006, sementara alex [reeves] tahun 2004?

dari sinilah kisah roman berkembang. sarana korespondensi mereka hanyalah sebuah kotak surat di depan rumah kaca di tepi danau. mereka berjalan-jalan 'bersama' menggunakan peta dan penunjuk jalan. alex membantu menemukan buku kate [buku karangan jane austen, "persuasion"] yang tertinggal dua tahun lalu di stasiun. dan alex yang ternyata sempat berciuman dengan kate, tanpa menyadari bahwa dialah gadis yang dua tahun depan akan berkoresponden dengannya.

karakter alex digali dalam hubungannya yang kurang harmonis dengan sang ayah [diperankan oleh Capt. von Trapp alias Christopher Plummer yang masih tajir]. ayahnya yang mendesain the lake house untuk sang ibu. namun karena kesibukannya sebagai arsitek, sang ibu meninggalkan mereka. bahkan sampai mati pun, sang ayah tidak menghadiri upacara pemakamannya dengan kalimat dingin: "ibumu sudah mati bagiku sejak ia meninggalkan rumah ini".

tapi unik juga ya, si alex mengikuti jejak sang ayah sebagai arsitek. ia mengidamkan rumah itu dirancang ulang untuk kate, kekasihnya yang terpisah dua tahun di depan.

suatu kali, mereka berniat untuk bertemu secara fisik.
pas hari valentine 2006. pagi hari kate sementara ngobrol dengan ibunya sambil menikmati sandwich. mendadak seorang pemuda ditabrak mobil. kate berlari. sebagai seorang dokter ia berusaha menyelamatkan nyawa pemuda. namun sayang, pemuda itu tak tertolong.

malam harinya, kate menunggu seorang diri di resto il mare. alex tak kunjung datang menemuinya. kate memutuskan untuk tidak menghubungi alex lagi.

hari valentine 2008, kate masuk ke kantor arsitek vanguard associate yang dikelola henry, adik alex. kate terpesona melihat rancangan the lake house yang terpasang di dinding yang dibuat oleh alex. kate bertanya di mana alex sekarang?
"alex sudah meninggal dua tahun lalu, tepat di hari valentine. ia ditabrak mobil", kata henry.
kate terguncang saat mengetahui hal ini. ia bergegas menuju ke rumah danau dan memasukkan sebuah pesan, sambil berharap alex menemukan dan membacanya.

ia baru tahu mengapa alex tidak datang di resto il mare dua tahun lalu. alex-lah pemuda yang meninggal dalam kecelakaan itu.

kini kate menuliskan pesan agar alex tidak pergi ke plaza menjumpainya supaya luput dari peristiwa tabrakan maut. ia berlutut di depan kotak surat depan rumah danau. mengharapkan keajaiban. dan ini bagian yang memang paling emosional dari film the lake house. penonton seakan diajak untuk berdoa bersama kate.

bagaimana akhirnya?
tidak saya ceritakan di sini... hahaha. lebih baik menonton film ini secara lengkap. terdapat pesan cinta yang kuat di dalamnya.

kalimat terakhir di film ini diucapkan oleh kate: "you waited". film pun berakhir, dengan sepotong rasa tertinggal di gedung bioskop.

ya, you waited.

Saturday, September 09, 2006

kala purnama terbit



beberapa malam ini purnama selalu terbit. dalam perjalanan pada senja hari dapat kulihat bulan bundar di kejauhan. bentuknya lebih besar, jelas dan terang.

aku jadi bernostalgia. tak terasa bulan lalu dia ada di sini. dan malam hari yang kami lewati, langit berhias bulan purnama dan bintang-bintang bertaburan di langit.

dia yang menceritakan lewat e-mail mengenai bulan purnama di sana. mengingatkannya pada purnama di sini sebulan lalu.

tak sadar aku bersenandung lagu lama "di bawah sinar bulan purnama"... yang entah mengapa nada dan liriknya terasa menenangkan hati.

di bawah sinar bulan purnama
air laut berkilauan
berayun-ayun ombak mengalir
ke pantai senda gurauan

di bawah sinar bulan purnama
hati susah jadi senang
gitar berbunyi riang gembira
jauh malam dari petang

**
beribu bintang taburan
menghiasi langit hijau
menambah cantik alam dunia
serta murni pemandangan

di bawah sinar bulan purnama
hati sedih tak dirasa
si miskin pun yang hidup sengsara
semalam hidup bersuka

Friday, September 08, 2006

lubang pada gigiku



sekitar tiga bulan lalu gigiku ngilu. pas hari sabtu siang. tak ada dokter praktek siang itu. tidak juga di rumah sakit. di RS Stella Maris, maupun RS Pelamonia [RS tentara]. luar biasa ngilunya, sampai aku ke apotek mencari obat penghilang rasa nyeri [ponstan]. setidaknya hingga hari senin, obat itu harus menolongku.

hari senin tiba. dokter merawat gigiku. dibor, diobati, dan ditambal dalam dua minggu. kiranya persoalan gigiku beres.

beberapa minggu kemudian, ada yang terasa aneh pada gusiku. semacam benjolan pada bagian kaki gigi. karena tidak terasa sakit, kubiarkan saja. beberapa kali saya berniat ke dokter untuk memeriksa, namun tidak kesampaian.

sekitar 2 pekan lalu diadakan Bakti Sosial Mahasiswa Kedokteran Gigi di gereja berupa kegiatan sunatan massal dan pemeriksaan gigi. iseng-iseng saya ikut pemeriksaan gigi. pemandangan sunatan massal terlalu mengerikan untuk dikisahkan [penuh darah ...]. dokter yang memeriksa gigiku mengatakan diduga terjadi infeksi pada akar gigiku yang ditambal sehingga muncul benjolan.

waduuuhhh... gimana ni? dokter bilang musti dirawat secara khusus, bahkan kalau perlu gigiku dicabut. namun karena sibuk [atau malas, atau takut?], baru kemarin sore kesampaian niatku ke dokter gigi.

dokternya kebetulan perempuan, masih muda dan manis. namanya drg Cynthia Rieuwpassa. hitam manis, tapi dia sudah berkeluarga. hahaha... dia sempat kaget melihat benjolan kecil tersebut, dan tidak yakin bahwa hasil tambalan kali lalu penyebabnya. maka gigiku dibor kembali. tambalannya dibuka. sebuah lubang besar kembali menganga di gigiku. rasanya sedikit ngilu.

drg. Cynthia bilang kalo masih terasa ngilu, berarti syarafnya masih aktif, gigiku masih hidup. senang juga mendengarnya. namun pagi ini aku disuruh ke laboratorium gigi untuk foto gigi demi memastikan sumbernya. baru kutahu bahwa ada foto untuk gigi. hehehe... tapi yang pasti bukan foto untuk senyum pepsodent!

lubang pada gigiku, semoga dikau baik-baik saja... karena dirimu akan difoto dan dirawat kembali.
berbeda dengan lubang yang ada di hatiku. obatnya tiada di apotek dan ruang dokter, selain pada dirinya...

Monday, September 04, 2006

perahu kertas



ada sebuah kenangan mengenai sepucuk kartu bersampul merah jambon yang kukirimkan 10 tahun lalu. tukang pos telah mengembalikannya padaku dengan catatan: penerima tidak dikenal/sudah pindah alamat.
sepucuk kartu bersampul merah jambon itu sesungguhnya isinya tidaklah panjang:

aku ingin mencintaimu dengan cara sederhana
kuambil sehelai kertas
kulipat menjadi perahu
kubawa ke sungai dan kuhanyutkan
kuberharap semoga akhirnya
ia bermuara di samudera cintamu


sepucuk kartu bersampul merah jambon itu masih utuh kusimpan.

namun kutahu, perahu kertasku telah berlayar jauh. di lautan cintamu.

Saturday, September 02, 2006

telkom blokir



kemarin, Jumat, 1 September 2006, jam 22.15 aku baru sadar belum membayar rekening telkom bulan Agustus. gila benerrr... soalnya malam itu aku baru pulang dari kegiatan di luar. tiba di rumah, aku jadi bertanya-tanya seharian ini kok belum terdengar deringan telepon. kuperiksa pesawat telepon, dan alamaaak, disambut suara seorang wanita yang menyahut berulang kali: Telepon Anda saat ini sedang diblokir, silakan membereskan tunggakan rekening Anda...

sialan.
pada saat dibutuhkan, teleponnya belagu. hahaha... kucari kuitansi rekening telkom bulan sebelumnya untuk melihat periode pembayaran dan denda yang bakal kuterima. tertera di situ 'grace period' hingga tanggal 1, kena denda 2% tagihan atau min. Rp 10.000. lewat tanggal 1 kena denda 100% Pemasangan Sambungan Baru, dan bila sampai tanggal 22 belum juga dibayar, nomor telepon bisa dicabut. idiiihhh... syereeemmmm!
lah, ini kan masih tanggal 1, pikirku, meskipun sudah jam 22.30.

langsung aku berpakaian [yeee... ketahuan di rumah gak berpakaian yaa?], dan mengeluarkan kendaraan. tancap gas menuju ke atm di mal terdekat. mal panakukkang. tiba di sana, langsung nyobain atm bca buat bayar rekening telkom. eh, kartu atm-ku ditolak terus untuk melakukan pembayaran telkom. [teman-teman lain juga bilang bahwa atm bca mereka kagak bisa dipakai buat bayar telkom]

maka kucoba atm bii. di layar mesin atm berhasil muncul jumlah tagihan. ada harapan niih... trus, eh kok gagal saat mau didebet? kucoba sekali lagi. legaaa... saat struk pembayarannya berhasil keluar. artinya, tunggakan rekening telkom-ku sudah lunas dong.

segera kuhubungi operator telkom di 147 melalui HP-ku untuk komplain soal pemblokiran telepon rumah. [padahal baru semenit lalu pembayarannya, hehehe... pede aja lagi!]
operatornya berjanji akan mengecek dan segera membereskan hal ini. maka aku dapat pulang dengan tenang.

tiba di rumah pukul 23, menikmati makan malam.

pagi hari, begitu bangun, kutelepon 147 untuk memulihkan teleponku yang masih diblokir. mbaknya berjanji akan segera mengecek. sejam menunggu, masih juga teleponnya menyahut: Telepon Anda saat ini sedang diblokir, silakan membereskan tunggakan rekening Anda...

alamaaak.
siang hari di kantor, aku hubungi lagi 147. mbak Ajeng yang menerima teleponku bilang gak ada masalah lagi karena rekening teleponku sudah dilunasi. jadi seharusnya teleponku sudah kembali pulih.

pulang ke rumah sore hari, syukurlah, suara menyebalkan yang berulang kali menyahut itu sudah tak terdengar. gantinya bunyi: tut... tut... tut... kok kali ini terdengar merdu sekali ya?

moral cerita: meskipun pelupa, jangan sekali-sekali lupa melunasi rekening telkom pada waktunya!

Friday, September 01, 2006

kecerdasan lumba-lumba



So often when we're creating the perfect life, we think about earning more money, having a bigger house, a finer car, and all the accoutrements of wealth and success. As we dream and plan for our tomorrows, however, we must not forget to include time for laughter and playfulness and plain laziness, as well. That's not being silly, it's being "dolphin smart."

"Man has always assumed that he was more intelligent than dolphins because he had achieved so much -- the wheel, New York, wars and so on -- while all the dolphins had ever done was muck about in the water having a good time. But conversely, the dolphins had always believed that they were far more intelligent than man -- for precisely the same reason."

—Douglas Noel Adama
A Hitchhiker's Guide to the Galaxy

[i agree with this. hidup si lumba-lumba!]