Thursday, June 21, 2007

ranting 7

terhanyut ia ke lautan
"laut adalah mimpiku", bisiknya
gelombang mengalun
ia naik dan turun

jangan hentikan angin
menimbusnya jauh
hingga serupa noktah
pada tepi samudera

ranting
dari dahanku
tidakkah engkau
ingin pulang?

Wednesday, June 20, 2007

ranting 6

seekor ulat pada ranting adalah kehidupan para peri yang menjelma laksana kupu-kupu. apakah daun-daunmu cukup untuk bekal tidurmu dalam kepompong? ia telah berbungkus keabadian. diam, tak bergerak. mati semati-matinya.

cahaya fajar merobek kantung kematian. seekor peri dengan sayapnya yang masih lemah. dikibas sekali dua kali dan tiga kali.... ke kiri ke kanan, dan ke atas...
terbang, terbanglah jauh tinggi ke surga.

di sana setiap mimpi menjelma untukmu.

Tuesday, June 19, 2007

perjalanan ke perut bumi

seharian ini kami mengadakan acara di daerah Maros, sekitar 35 km dari Makassar. di sana kami disambut dengan tarian 'ganrang bulo' yang dimainkan oleh anak-anak. semangat kepahlawanan diperlihatkan dalam sajak yang dibacakan seorang anak memakai bahasa daerah setempat.

tempat ini indah sekali, sekelilingnya berdiri bukit-bukit batu dengan tanaman hijau. jadi terigat pada gambaran masa kecil saya. waktu itu setiap akhir siaran TVRI, diputar klip lagu: "di mana sawah luas menghijau, di mana pipit bernyanyi merdu... itu tanahku, tumpah darahku..." sambil diperlihatkan keindahan alam indonesia. sawah, hutan laut, rumah-rumah di desa. kesan indah itu masih tertinggal hingga sekarang.

selesai acara penanaman pohon dan hiburan bersama penduduk setempat (nyanyi, penyerahan bantuan), kami menuju ke Taman Nasional Bantimurung. satu hal yang kusesalkan: saya tidak membawa kamera dan pakaian ganti untuk berenang. padahal pemandangan di Bantimurung begitu indah, dengan air terjunnya yang amat menggoda. dan noraknya, saya pakai kemeja dan sepatu kerja (ada teman dengan teganya berkomentar: orang kota tapi ndeso... hahaha)

kami menaiki tangga di sisi air terjun dan berjalan menyusuri tepi sungai yang dipenuhi pepohonan serupa hutan hingga kami tiba di sebuah danau.
tempat ini pernah kukunjungi sewaktu masih kecil dulu, sekitar tahun 1980-an. kisah pusaran air yang kerap menelan korban masih tergambar jelas di benakku. sehingga pada danau yang kelihatan indah ini selalu musti diingatkan agar tidak seorang pun berenang, namun tetap saja korban pusaran air tercatat setiap tahun di tempat ini. konon tanah pasir di dasar danau sangat rapuh. tatkala dipijak oleh seseorang yang berenang di atasnya, maka ia akan longsor dan menyeret korban dalam suatu pusaran air... wuiih, serem sekali.

di tepi danau ada sebuah gua bukit karang. namanya Gua Jodoh. katanya orang-orang datang ke sana untuk memohon jodoh. dari luar, gua ini terlihat sangat gelap. butuh penerang berupa senter atau lampu petromaks. beramai-ramai kami menyewa lampu petromaks dan berjalan memasuki perut bumi.

pembawa petromaks sekaligus berfungsi sebagai pemandu. dia bercerita tentang dinding-dinding karang ada yang mirip kera, gajah. ya, tonjolan-tonjolan karang yang basah membuat aneka bentuk tampak di sana. bila mendongak ke atas, rasanya lebih eksotis lagi. ada celah dan cekungan. ada stalagtit yang selalu meneteskan air.

kami tiba sebuah celah, yang disebut oleh pemandu tempat untuk memohon jodoh. seseorang harus memanjat ke atas celah dan mengikatkan seutas tali sambil mengucapkan permohonan... tak ada dari rombongan kami yang mau melakukannya. gak tahu kenapa. hahaha... pada dinding banyak coret-coretan nama. mungkin pasangan itu mau mengabadikan nama di sini. tapi yang jelas telah merusak tampilan gua ini.

kami terus berjalan dan tiba pada sebuah lorong rendah dan ada sungai kecil. kepala harus ditundukkan rendah supaya tidak terbentur pada karang. lumayan sakit soalnya. aku sempat satu kali terbentur, untung gak terlalu keras. di seberang sana, ada tempat yang pernah dijadikan tempat bertapa para raja dahulu kala. ruangannya luas, ada tempat untuk bersila beberapa orang. namun ada juga tempat bersila yang hanya muat satu orang di pojokan dinding karang.

perjalanan dalam perut bumi kami selesai sampai di sini.
kami kembali ke tempat semula di tepi danau yang berbahaya tadi. kata pemandu, ada jalan kecil di samping danau menuju ke hutan. bila telah melewati hutan, maka akan ketemu sebuah danau yang lebih besar lagi. katanya turis-turis bule lebih suka berenang di sana.

kami menyusuri kembali jalan ke tempat air terjun sambil mengobrol.
celana panjang, rompi dan sepatu yang dikenakan tampak jelas penuh noda lumpur... tapi pengalaman berada dalam perut bumi tadi begitu berkesan. semoga kali berikut ada kesempatan lagi jadi "jejak petualang". tapi jangan pakai sepatu kantor dan kemeja kerja, ya.

Friday, June 15, 2007

ranting 5

apabila satu ranting ditambah satu ranting, apakah menjadi dua ranting? tanyamu padaku suatu hari. tidak selalu begitu, jawabku padamu senja itu.

lihatlah ranting memiliki tangkai-tangkai dan cabang.

ia tidak persis satu.

dan tidak bisa dijumlahkan cuma menjadi dua.

menyangkali para korban


ada kecenderungan aneh dalam sejarah kita: menyangkali para korban. ini topik hangat diskusi kami hari ini, sehubungan dengan berita konferensi Holocaust yang dipromotori Gus Dur di Jimbaran, Bali.

ada pembantah Holocaust, seperti presiden Iran Ahmedinejad. buku Holocaust Revisionist pernah saya lihat versi bahasa Indonesianya di TB Gramedia. sempat bergidik waktu sekilas membacanya. bukan karena kisah horor, tapi argumentasi bantahan dalam buku yang mengatakan bahwa holocaust itu cuma isapan jempol kaum zionis. tak ada jumlah korban 6 juta orang Yahudi yang dibunuh. kalaupun ada korban, mereka mati di kamp akibat wabah sampar. kisah holocaust dikarang hanya untuk simpati bagi zionis.

lalu bagaimana dengan kamp konsentrasi Dachau, Auschwitz dan kamp-kamp lain yang tersebar di daratan Eropa? apakah mau dikatakan itu hanya tempat bermain anak-anak? ya nonton saja film Roberto Benigni: La vita e bella. di film itu kegetiran hidup kamp konsentrasi dijadikan seolah tempat rekreasi oleh sang ayah bagi anak kesayangannya.

catatan harian Anne Frank? semata fiksi belaka?
dan Schindler's List atau Daftar yang dibuat Oskar Schindler?

belum lama berselang, pada peringatan Kerusuhan Mei, sebuah stasiun tv menayangkan wawancara dengan Ester Jusuf, seorang relawan yang menangani para korban. turut hadir seorang pria (seorang pengacara kalo nggak salah). perut saya benar-benar dibuat mulas dan mau muntah, sewaktu si pengacara mengeluarkan argumentasi membantah habis keberadaan korban pemerkosaan...
tak ada korban pemerkosaan saat kerusuhan Mei di Jakarta, katanya. mana orangnya? kenapa nggak mau bersaksi? itu kan hanya cerita-cerita orang saja.

kurang lebih sebangun dengan peristiwa di atas dengan mengatakan: tak ada peristiwa pembantaian massal oleh Nazi. mana orangnya? kenapa nggak mau bersaksi?

demikian juga dengan peristiwa pembantaian massal mereka yang dicap PKI, maupun golongan yang berseberangan.

gejala apa semua ini? para korban dibungkam selamanya dan disangkal keberadaannya.
dan selalu kita tiba pada kenyataan ini: kita tidak akan pernah bisa maju bila tidak dapat berdamai dengan masa lalu: mengungkapkan kebenaran dan rekonsiliasi.

Thursday, June 14, 2007

ranting 4

sebutir benih dalam saku bisa jadi apa? tanyamu. bisa jadi tiada. ya, malam itu kita menanamnya di halaman belakang rumah. dan pagi hari benih itu tiada. sebatang pohon jagung tumbuh dengan tarian kita mengelilinginya. lalu datanglah serigala merampasnya. bahkan sampai akar-akarnya, tempat kehidupan berawal

engkau menangis tersedu. butir-butir jagung seumpama menetes dari matamu. sebelum kusadari telah kubuat garis dengan ranting di tanah

mari kita buat garis

ranting kupatahkan untukmu

kubuat garis berlekuk-lekuk
kaubuat garis melingkar

garis kita bertabrakan tepat di sini
dalam hatiku

Wednesday, June 13, 2007

ranting 3

tahukah kesedihan itu meneteskan embun dari tangkai bambu?

ranting 2

patahkan
patahkan

setiap kali
ranting terkulai
setiap kali
ia patah lagi

tumbuh
tunas
tubuh
bernas

matahari
angin
bintang pagi
menciumnya ingin

Tuesday, June 12, 2007

ranting 1

setiap hari
kuambil satu ranting
menandai
pagi yang akan datang

ranting bambu
yang pernah berbisik
di telingamu
dan angin berdesir

kusematkan di rambutmu
yang bergelombang
dan perahuku
laksana bimbang

dialun senja yang gelisah
di manakah kita berlabuh

horee... bandara kami terjelek


hehehe... terjelek kok senang sih? iya, supaya bandara Hasanuddin di Makassar mendapat perhatian khususnya pejabat yang mengurusi bandara.

hasil audit Departemen Perhubungan terhadap 5 bandara di Indonesia dari segi keselamatan, keamanan penerbangan, dan layanan publik di bandara, peringkat pertama terbaik: bandara Ngurah Rai Denpasar. dan terburuk ya, itu tadi.

kalo menurut saya pribadi, bandara Hasanuddin termasuk bandara yang termahal di Indonesia dan layanannya tidak memadai. taksi bandara masih memakai sistem monopoli, alias taksi lain selain taksi bandara dilarang mengangkut penumpang di lokasi bandara. tarif untuk jarak terdekat saja Rp 60.000,-. pajak bandara yang 30.000-an tidak jelas untuk apa. belum lagi karcis pungutan pemda Maros.

penumpang harus berjalan kaki ke tangga pesawat, atau menuju ke tempat pengambilan bagasi. itu pun setiap portir sudah menguasai troli, sehingga penumpang harus menyewanya... benar-benar tidak nyaman.

tips untuk menghemat ongkos transport dari bandara, bila Anda baru mendarat di bandara Hasanuddin, jangan memakai taksi bandara. berjalan kaki sebentar hingga melewati portal tempat pembayaran parkir bandara, di sana Anda bisa melihat jasa ojek, minibus, dan taksi argo telah menunggu.

kabarnya, bulan Agustus 2007, bandara baru Hasanuddin yang lebih luas dan lebih baik (katanya) akan beroperasi... kita tunggu saja. semoga dengan demikian peringkat bandara Hasanuddin tahun depan justru menjadi nomor 1 alias terbaik. tapi, masih tetap pakai monopoli taksi bandara?

Monday, June 11, 2007

nai dai

derai derai hujan kemarin
sepertinya membelai helai helai
tirai
daun daun
yang di hutan
dan bebatuan
bekasmu
bekasku
wangimu
rumpun bambu
dan rindu

nyanyian itu
dari bibirmukah
yang di pantai
bersama ombak
pernah kudengar

duhai zaman,
kuhampakan diriku
untuk dirimu

the rese man


kali ini saya mau bercerita mengenai orang rese. whaat? iya beneran, rese. kusebut saja "rese man". sebetulnya ini cerita dari kawan saya. jadi harap maklum, detailnya tidak saya berikan di sini.

dia dipilih oleh para orangtua murid untuk jadi ketua panitia sebuah acara. karena orangtua lain gak ada yang mau jadi ketua panitia, jadilah tugas itu diterimanya. mereka mengadakan pertemuan para ortu untuk membahas biaya-biaya acara. beberapa ortu kaya berinisiatif menanggung beberapa pos pengeluaran.

tiba hari H pelaksanaan acara. semua ortu diberikan amplop untuk diisikan derma dimaksudkan untuk honor pengajar dan kepala para pengajar. maklum para pengajar selama ini bekerja sukarela tanpa dibayar, bahkan ongkos transport sekalipun.

acara berjalan lancar. namun di akhir acara, si kepala para pengajar mengambil kotak derma tersebut. teman yang menjadi ketua panitia mengatakan, sore hari mereka panitia akan datang untuk menghitung bersama isi kotak derma.

apa yang terjadi?
sore hari saat mereka datang, kepala para pengajar mencela acara siang tadi dan tidak mau memberikan amplop-amplop pada kotak derma buat dihitung. dia malah mengacung-acungkan buku peraturan yang menyebutkan bahwa itu adalah hak dia sebagai kepala. dibacanya peraturan itu di depan panitia. teman saya dongkol, dia berlalu saat sang kepala masih membacakan ayat-ayat peraturan...

ini bukan kisah fiktif, karena nyata terjadi kemarin.
kami dibuat terperangah oleh kisah the rese man. dan mungkin Anda lebih terkejut bila detil kisah disebutkan.

coelho dalam novelnya "the zahir" menyebutkan orang-orang tolol sebaiknya diberi label supaya mudah dikenali, dan sebaiknya mereka dikumpulkan saja dalam sebuah perahu.

rese man tidak perlu diberi label. Anda mudah mengenalinya dalam hidup sehari-hari.

Friday, June 08, 2007

zahir


seorang istri tiba-tiba pergi meninggalkan suaminya. kepergiannya menimbulkan pertanyaan yang kian lama menggerogoti hati dan pikiran. sang suami berusaha mencari jejak istrinya. pencarian itu membawanya keluar dari dunianya yang aman tenteram, ke jalur yang tidak dikenalnya, dan membukakan matanya akan makna cinta serta kekuatan takdir.

demikian kurang lebih sinopsis novel "the Zahir" Paulo Coelho. novel ini kunikmati selama berhari-hari, menemani acara rutinku di pagi hari (di toilet, hahaha).

membaca novel ini rasanya selalu ada wawasan baru terbit di pagi hari. mengenai cinta yang membebaskan dari belenggu. mengenai pemahaman spiritual. bank budi dan pembebasan dari relativisme (tahukah mengapa jarak antara rel kereta api konstan sekian inci?).

zahir dalam bahasa Arab berarti suatu hal yang dipuja, didambakan dan dikejar sepanjang hayat. istilah lain dari obsesi? mungkin ya. tapi dapatkah obsesi bertahan lama?

kuduga Coelho tentu pernah mendengar pepatah ini:
Cinta selalu membebaskan. Biarkan Cinta terbang lepas dari dirimu.
Bila ia kembali kepadamu, maka ia benar-benar menjadi milikmu.


kalian tentu tahu setiap orang memiliki zahir jauh di dalam lubuk hatinya. di sana sebuah arca pemujaan kita taruh, dan memujanya.

she is my zahir.

Thursday, June 07, 2007

kawan lama


seorang kawan lama mengirim sms.
"apakabar Ton? kangen lama tidak ketemu. sejak 1 april saya tidak kerja lagi di kampus".

agak lama saya melongo, berusaha mencerna kabar ini.

kemudian kubalas sms-nya: ada apa di sana? sekarang kerja di mana? kangen juga, lama tidak bertemu.

dia lalu menceritakan mengenai kisruh di kampusnya. katanya dia sempat memimpin demo ke rektorat, sehingga dia dimutasi. sebelum SK pemberhentiannya keluar, dia sempat ditawari sebuah posisi di rektorat.

kutanya: kok menolak tawaran itu?

dia belum menjawab sms saya.

tidak kusangka kabar seperti ini kuterima dari dirinya. soalnya setahuku, dia orang yang sabar, baik hati dan tidak emosional sepertiku. mungkin karena usianya lebih tua dariku. dia memiliki keluarga: istri dan anak-anak.

waktu masih kuliah dulu, kebetulan kami bersebelahan kamar.
bila sudah pusing dengan bahan kuliah, kami duduk-duduk di beranda menikmati soda gembira sambil tertawa-tawa...

ah, waktu begitu lekas berubah.
bila sampai dia memimpin demo dan menolak tawaran posisi di rektorat, saya yakin bahwa ada masalah besar yang benar-benar mengganggunya.

pak Frans, Tuhan tentulah amat sibuk saat-saat ini. namun, untuk masalahmu kuyakin Dia takkan meninggalkanmu seorang diri...

kubayangkan, suatu saat nanti bisa berkumpul dengan kawan-kawan lama, menikmati soda gembira sambil menertawakan hidup ini. sekeras-kerasnya.