Saturday, February 21, 2009

Benjamin Button: permenungan hidup dan waktu


bagaimana bila kehidupan berjalan mundur, sementara waktu berjalan maju? bagaimana cinta diselaraskan di antara keduanya? film The Curious Case of Benjamin Button (disingkat BB atawa Benjamin Button) mencoba menjawab pertanyaan tersebut. diangkat dari novel F. Scott Fitzgerald (1921), kehidupan Benjamin ditampilkan rada aneh. penonton akan berkerut kening melihat bayi yang lahir dengan wajah manusia berumur 80tahun! kemudian dia diasuh oleh Queenie, seorang ibu berkulit hitam. masa kecilnya dihabiskan dengan di panti jompo. namun takdirnya: dia semakin hari kelihatan muda! Benjamin menjalani hidup secara terbalik.

Brad Pitt berperan sebagai BB. ketika muda, dia bertampang tua. dandanannya tampak lazim. penata rias dan efek visual berhasil menampilkannya secara luar biasa justru ketika ia berusia tua, dan bertampang culun anak muda! wow, kulitnya kelihatan kencang mulus seperti remaja. film ini mengingatkan saya pada sebuah film bertema serupa yang pernah diperankan oleh aktor watak Robin Williams. juga film Forrest Gump. BB mengambil durasi hampir 3 jam! sepanjang film bertutur mengikuti alur hidupnya.

Cate Blanchett, berperan sebagai Daisy, kekasih BB. pesona Cate Blanchett di film ini justru mengingatkan saya pada peran peri menawan yang dimainkannya di film The Lord of The Rings. flash back kehidupan BB bertautan dan mengundang tawa. pengalaman Benjamin muda (dengan tampang tua) masuk ke rumah bordil sampai pengalaman tragis di Pearl Harbour.

alur kisah cintanya baru mengalir pada pertengahan film. dan pada akhir film penonton akan terkejut menemukan kenyataan hidupnya.

film BB yang memakai tag filosofis: "Life isn't measured in minutes, but in moments", memang berisi permenungan mendalam mengenai hidup dan waktu. lihatlah tutur yang bertaburan dengan kata-kata sarat makna:

BB: I was thinking how nothing lasts, and what a shame that is.
Daisy: Some things last.

BB: Your life is defined by its opportunities... even the ones you miss.

dan pada kalimat terakhirnya di film ini BB berkata seperti merenung:
Some people, were born to sit by a river.
Some get struck by lightning.
Some have an ear for music.
Some are artists.
Some swim.
Some know buttons.
Some know Shakespeare.
Some are mothers.
And some people, dance.


dan, seperti ada ruangan senyap yang disisakan pada bagian akhir film.

Friday, February 20, 2009

from Australia with love


film Australia berdurasi 2,5 jam cukup membuat ujian kesabaran. apakah penonton akan betah memelototi layar selama itu dan mengurai jalinan kisah yang cukup kompleks? ternyata bisa. film yang dibesut Baz Luhrmann (Moulan Rouge!, Romeo+Juliet) menghadirkan kisah yang mengalir seperti drama panggung dengan latar Australia serta keindahan alamnya.

Nicole Kidman berperan sebagai Lady Sarah Ashley, berangkat dari Inggris ke Australia di tahun 1939 untuk menjumpai suaminya. sang suami punya peternakan Faraway Downs dan mendapat order sebagai pemasok 2000 ekor ternak untuk memenuhi logistik Perang. tragis, suaminya tewas. Fletcher, yang bekerja mengelola peternakan, sebagai tokoh antagonis. dialah sang pembunuh, sekaligus pencuri ternak. ini diceritakan oleh Nullah, seorang bocah aborigin campuran yang tinggal di Faraway Downs.

Fletcher dipecat dan diusir oleh Lady Sarah. kemudian dia bekerja pada Carney, pengusaha ternak terbesar di sana. ketika Lady Sarah dan peternak dari Faraway Downs menggiring ribuan ternak untuk memenuhi order tadi, Fletcher berulah lagi. dia membakar pepohonan. ternak berlarian ketakutan di antara tebing-tebing bukit. hingga suatu ketika ternak berlarian menuju jurang, sebagaimana diharapkan si jahat Fletcher, dan di tepi jurang berdiri Nullah...

Nullah mengeluarkan kemampuan sihir yang diperoleh dari kakeknya. ia berdiri tenang, menatap para ternak yang berlari ke arahnya, menggerakkan tangannya. seketika mereka semua berhenti... luar biasa!

kisah cinta terjalin di sini antara Lady Sarah dan Drover yang diperankan Hugh Jackman (The X-man). di tengah tandusnya padang, mereka berhasil mengantar ribuan ternak menuju ke kapal yang sudah siap mengangkut, dan mengalahkan peternakan Carney dan Fletcher.

kejahatan Fletcher makin menjadi-jadi. Mr.Carney bosnya dibunuhnya dengan cara didorong ke sungai penuh buaya. Fletcher menjadi penguasa peternakan terbesar dan berambisi menguasai Faraway Downs.

di tengah film, Nullah memainkan lagu "Somewhere over the rainbow" dengan harmonika. indah sekali terdengar. demikian juga, menjelang akhir film, ketika Nullah dan Drover disangka sudah tewas akibat penyerbuan Jepang yang meluluhlantakkan wilayah utara Australia, musik harmonika Nullah dari kejauhan dapat didengar Mrs.Boss (panggilan Lady Sarah).

Drover juga sempat patah hati. ketika berada di sebuah pohon di padang, tempat mereka dulu mengaso dan pertama kali ia jatuh hati pada Lady Sarah, kalimat ini diucapkan temannya: "Without love, you are nothing. You will have no dreams, no hope..."

kupikir inilah kalimat kunci film ini. sebuah Australia yang meskipun kemudian hancur, dibangun dengan cinta dan pengharapan. bukan dengan ambisi buta dan kejahatan sebagaimana dibuat Fletcher.

Somewhere, over the rainbow, way up high.
There's a land that I heard of Once in a lullaby.

Somewhere, over the rainbow, skies are blue.

And the dreams that you dare to dream
Really do come true.

menurutku film ini layak mendapat 8,5 dari 10 bintang.

defiance: pembangkangan terhadap nasib


film Defiance merupakan satu di antara beberapa film tentang nasib orang Yahudi di masa Hitler. dengan embel-embel: diangkat dari kisah nyata, alur kisah perjuangan Bielski bersaudara menyelamatkan 1200 orang pelarian Yahudi menjadi amat asyik untuk diikuti. mengingatkan saya pada "Schindler List", "Cold Mountain" dan "Enemy at the Gates". film ini bersetting Polandia, Eropa Timur, dan menyajikan potongan-potongan pemandangan alam indah tempat para pelarian Yahudi bersembunyi di hutan-hutan. maklum, lokasi syuting film di Lithuania.

Bielski bersaudara mengambil inisiatif bersembunyi di hutan bersama para pelarian Yahudi. pilihan bagi mereka sangatlah sedikit: mati ditembak pasukan SS, ditahan di kamp konsentrasi (dan mati di sana), atau lari bersembunyi di hutan. semakin lama, jumlah mereka bertambah banyak. persediaan makanan pun menjadi persoalan, belum lagi penyakit, dan rasa aman yang amat mahal. tempat mereka terkepung pasukan SS, setiap saat dapat menjadi akhir pelarian mereka.

Daniel Craig berperan utama sebagai Tuvia Bielski, pemimpin pelarian. sosoknya mengingatkan pada James Bond 007 yang belum lama beredar. di film ini, dia tidak hanya disegani sebagai pemimpin, namun dia pun menderita sakit di tengah cuaca dingin yang ganas. sisi kemanusiaannya sebagai pemimpin kerap kali diuji. misalnya, dia memberi aturan tidak boleh ada anak kecil/bayi selama pelarian mereka. ketika seorang perempuan kedapatan melahirkan akibat diperkosa tentara SS, dia tidak tega mengusir perempuan dan bayinya. risiko bagi keselamatan bayi memang besar, tak kurang juga bagi rombongan pelarian bila bayi tersebut menangis... hmmh, serba salah sebetulnya.

Tuvia Bielski berseberangan dengan Zus Bielski, saudaranya. Zus menghendaki pertempuran dan pembalasan terhadap lawan. Tuvia menghendaki persembunyian di hutan dengan risikonya. Zus kemudian bergabung dengan gerilyawan Rusia untuk melawan pasukan SS.

pondok-pondok dari batang pohon mereka dirikan di hutan. musim dingin membawa salju yang tebal dan rasa lapar yang menggigit. Tuvia menembak kuda kesayangannya, demi memberi makan ratusan orang yang kelaparan.

akhirnya, lokasi mereka ketahuan oleh pasukan SS. mereka digempur dengan persenjataan berat pesawat udara. kemudian pasukan infanteri hendak menyelesaikan pembasmian para pelarian ini. pertempuran sangat tidak imbang.

kisah Musa yang memimpin orang Israel melewati Laut Merah, seolah ditampilkan pada adegan ini. Tuvia memimpin mereka menuju "tanah terjanji". mereka sungguh menunjukkan sikap pembangkangan terhadap nasib, bahwa mereka harus mati konyol di tangan Nazi.

tag film jadi sangat mengena: "Freedom begins with an act of defiance". kebebasan senantiasa diawali tindakan pembangkangan.

kisah heroik Bielski yang nyaris dilupakan sejarah, disajikan dalam film ini. mungkin untuk mengingatkan kita yang kadang cepat lupa, dan menyerah pada nasib.

Tuesday, February 03, 2009

keheningan


pelajaran yang paling sulit dalam kehidupan? belajar untuk hening. itu pelajaran yang coba kudalami beberapa hari lalu. maka perjalanan kulanjutkan ke Pertapaan Karmel, Tumpang, Malang.

tempat ini sangat indah. terletak di pelosok nun di atas daerah perbukitan. sekitar 15 tahun lalu, pertama kali saya ke tempat ini jalan yang dilewati berbatuan. benar-benar perlu menghayati arti jalan penderitaan untuk dapat tiba di sana... sekarang, syukurlah, jalanan sudah licin beraspal.

dari bandara Juanda, Surabaya menumpang bus Damri (Rp 15.000) dari bandara ke terminal Purabaya atau Bungurasih. di sana naik bus Patas jurusan Malang (Rp15.000)... kendaraan sempat melambat di jalur Porong, Sidoarjo. satu-satunya jalan raya disesaki kendaraan dua arah, akibat jalan tol yang terputus gara-gara lumpur Lapindo!
tiba di terminal Arjosari menumpang mikrolet putih TA (Tumpang-Arjosari). saya hampir keliru naik mikrolet AT (Arjosari-Tidar). sampai di pasar Tumpang (Rp 4.000), menyewa ojek sampai ke Pertapaan (Rp 20.000).

Seorang Bapak pengemudi ojek mengantarku dengan kecepatan asik naik turun jalan berbukit-bukit, di sisi kiri-kanan sawah dan kebun... hujan gerimis mulai turun... pengalaman tak terlupakan off-road hingga ke Ngadireso, pemandangannya indah sekali.
tiba di Pertapaan, hujan bertambah deras mengguyur. suatu sambutan yang hangat (hangat???) dari alam atas kedatanganku ke tempat ini setelah 15 tahun... hahaha.

rencana saya menginap selama dua hari di sana. istilahnya retret pribadi. tanpa pembimbing rohani. pertama kali saya ke tempat ini juga begitu. nginap sendiri, retret pribadi. saya menyebutnya pengalaman rohani tak terlupakan, ibarat di Gunung Tabor bersama Yesus.

kegiatan harian: ikut doa dan misa pagi, saat hening, sarapan pagi, renungan di kapel (memakai buku-buku yang sudah saya siapkan), makan siang, istirahat sore, doa sore, saat hening, makan malam, istirahat malam.

doa sore saat saya tiba disertai misa yang dipimpin Romo Petrus O.Carm. renungannya mengenai Benih yang Ditaburkan sangat menarik. dia langsung berkata (di tengah suasana hening): setiap orang tidak membutuhkan pembimbing, karena Sabda Allah yang ditaburkan di hati masing-masing memiliki daya tumbuh... saya langsung berpikir, kok kalimat ini ibarat menyapa saya dengan penuh kehangatan?

pada misa pagi esok harinya, mengenai Yesus yang tertidur di buritan kapal saat badai melanda, Romo Petrus bilang: ada suster yang protes mengenai kalimat saya semalam, lhah terus apa lagi tugas kami sebagai pembimbing, guru, bila tidak dibutuhkan? Romo menunjukkan Yesus yang tertidur di kapal, seolah-olah dibiarkan tidur hingga para murid berteriak-teriak minta tolong... "Jadi, jangan pernah membiarkan Yesus tertidur. ajaklah Yesus berbicara dalam hidupmu..."

ada beberapa orang menginap di sana. biasanya mereka didampingi oleh pembimbing rohani. misalkan Ibu Maria Goretti dari Bali, menginap 10 hari di sana. juga Ibu Lili dan Siska dari Surabaya. selain itu ada pasutri dari Jember yang tiba Sabtu malam.

pagi hari, saya berjalan-jalan ke taman di belakang pertapaan. di sana terdapat Sendang (sumber air) bernama Sendang Retno Adi. keran air di depan Gua Maria dapat dinyalakan untuk menikmati air sumber. rasanya segar dan manis. letaknya di tepi bukit, sehingga pemandangan alam berupa sawah dan hutan terhampar indah.

di depan pertapaan, ada jalan kecil menuju ke Gua Maria dan tempat Jalan Salib yang ditata dengan taman bunga yang apik. di sana kupu-kupu banyak berterbangan. bunga teratai mekar di pagi hari.

saat refleksi pribadi di kapel, saya merenungkan mengenai Keheningan dari buku Henri JM Nouwen, "Dapatkah Kamu Minum dari Cawan Itu?". katanya, sulit mencari keheningan di tengah dunia entertainment (dari kata "enter"= di dalam, tengah, "tain"= tinggal) yang memang bertujuan agar orang tinggal berlama-lama dalam dunia hiburan, menjauhkan dari diri dan permasalahannya. perlu keheningan, untuk mendengarkan suara diri yang selama ini tidak terdengar.

kupikir-pikir ada benarnya. sekian puluh tahun usia seseorang, bila diibaratkan spons, dia menyerap amat banyak informasi, pengalaman, pikiran, dan segala macam ke dalam dirinya. tidakkah ini membebani? menjadi tak tertanggungkan bila satu dengan yang lain saling bertentangan?

keheningan ibarat me-recharge batere dalam diri yang sudah low-batt.

karena itu, saya bersyukur atas waktu hening yang saya dapatkan di Pertapaan.

Tuesday, January 27, 2009

resep hidup sehat


tadi saya menerima sebuah e-mail dari seorang teman di Lithuania. dia bercerita bahwa dia barusan ikut lomba menulis esai singkat mengenai hidup sehat, dan tulisannya menang dan dipublikasikan! lumayan, dia memperoleh hadiah sebuah buku sebagai imbalan.

tulisannya itu dikirimkannya padaku. karena isinya yang bagus, sementara saya sedang minta ijin untuk menayangkan di blog ini padanya, kurasa dia takkan keberatan kusharekan di sini. hehehe... [mode percaya diri: on]

When days became shorter and nights longer, when summer passed by and wind tore off the last leaves of the trees, dark thoughts came into my mind. I didn‘t want to go anywhere, neither to communicate with anybody, only to lie in bed. I had no friends, neither trust in myself, my life seamed meaningless.

But after the dark night always comes the bright morning, like the spring follows the winter. Having interest in psychology, religion, philosophy I understood, that it‘s essential to think not only about myself, but also about the others, to offer a support, to give a smile, to encourage, to console. To enjoy every moment of a daily life. To live in harmony with myself, The God and the World – such is my recipe of a healthy life.


resepnya ternyata amat sederhana: hidup dalam harmoni. kebetulan masih dalam suasana Imlek, banyak yang terdengar pesimis di Tahun Kerbau. katanya butuh usaha ekstra keras dan banyak yang akan gagal di tahun ini. beberapa shio mendapat warning untuk berhati-hati. untung saja shio-ku (tahun yang baru lewat itu) lolos dari screening sang Kebo. hehehe...

anyway, bila kita tidak hanya memikirkan diri sendiri, namun juga peduli terhadap sesama, keep aware, offer a support, give a smile, to encourage and to console other, and enjoy every moment, kata Alfredas, yakin deh... kesulitan sebesar apapun akan terasa lebih ringan.

so, thank you very much, Alfredas, for this nice writing.

Monday, January 26, 2009

tahun baruan lagi nih

semalam diajak teman acara malam tahun baru imlek di rumahnya. open house ceritanya. menu yang disediakan ampun-ampunan deh: beberapa macam nasi goreng (ada yang berwarna merah, coklat dan putih), mie goreng, capcay, ikan, ayam goreng, sate babi dan salad buah. apalagi ditemani wine putih yang gak terasa pahit (sumpee, baru kali ini saya menikmati wine sebagai minuman). rasa eneg akibat lemak berlebih pada masakan seketika larut... hmmhh...

setelah itu kami main kembang api. ukurannya sebesar kaleng biskuit. harganya? jangan ditanya, jutaan rupiah... setelah sumbunya dibakar, api meluncur ke udara beruntun-runtun dan menimbulkan ledakan yang indah... kembang api berwarna-warni. seorang teman bilang: sayang juga duit sejuta dipakai buat kembang api, coba kalo dibagi-bagikan saja. tapi demi kepercayaan bahwa kembang api menghalau kegelapan malam (dan kegelapan hati dalam menatap tahun yang baru) sehingga ada sedikit pembenaran setahun sekali buat menyalakan kembang api... hehehe.

tahun baruan lagi nih? iya ya, belum beberapa pekan lalu merayakan tahun baru. kali ini tahun baru imlek 2560.

ada saja alasan untuk merayakan kehidupan. dan untuk itu, imlek tidak harus dikaitkan dengan kepercayaan agama tertentu. karena perayaan ini sudah ada sebelum kelahiran pendiri agama, untuk merayakan musim semi dan menyambut musim tanam. dengan harapan semoga panen kali ini berhasil, generasi muda diberi bekal (angpao) untuk menjadi penerus usaha...

sebut saja ini tradisi yang memuat nilai-nilai positif. tanpa perlu dikaitkan kepercayaan pada dewa-dewa tertentu. sehingga ketika siang tadi saya mengirimkan sms ucapan selamat kepada kerabat, ada sms balasan: "Maaf, saya tidak merayakan Imlek".

menurutku aneh saja. etnis china, namun menolak diberikan doa dan harapan untuk tahun baru ini. tentu ada yang salah dengan keyakinannya.

kalaupun tahun baru dirayakan sampai berkali-kali, bukankah ini suatu cara untuk mengatakan: selalu ada alasan untuk merayakan kehidupan?

Tuesday, January 20, 2009

kisah ulat

pernah seekor ulat meminta kepada burung
untuk dapat meminjamkan sayapnya
ulat ingin melihat langit biru, lautan luas dan kebebasan
burung menertawainya
ulat menangis

kesedihan tersimpan di hatinya
'aku hanyalah ulat'
tiada yang dapat menghibur hatinya
ia menyepi, mengurung diri, membatin
lapisan kulitnya menggumpalkan serat

dia terbungkus sepenuhnya
dalam harapan, kesedihan, dan ketiadaan

hingga sesuatu merobek bungkusan itu
ia terjaga
melihat cahaya silau kemilau
dunia yang terang benderang
semua terasa ringan

yaaa... inikah surga?
inikah langit dan angkasa biru?
sepasang sayapnya berkepakan lincah
ia seekor kupu-kupu

bebas mencari kembang dan arah
berjumpa kumbang dan lebah
terlebih lagi, kupu-kupu pasangan hidupnya

mereka memadu kasih
semanis madu di sarang lebah

hingga sang burung datang
menyambar dan mematuk
kekasihnya, sebelah sayapnya
ibarat ikut terlepas

sang kupu-kupu tenggelam gulana
hujan membasahi dedaunan
airmatanya tak juga kering

ia terus berterbangan
ke sana kemari

setelah hujan, ia tahu
matahari akan bersinar cerah
hidup harus dimulai kembali

kupu-kupu terbang terus
kian kemari
di hatiku

makassar, 20 Januari 2009

Saturday, January 17, 2009

Red Cliff: jangan pernah menyerah


sebuah film mandarin yang sementara beredar di bioskop dan layak ditonton: Red Cliff. sempat kaget ketika masuk di gedung bioskop ternyata filmnya sudah main, dan ini adalah jilid kedua! versi aslinya memang berdurasi 4 jam! di Indonesia, film ini dipenggal menjadi 2 bagian. sempat ada keraguan, jangan-jangan alurnya nanti tidak runut.

untunglah dugaanku meleset. film besutan John Woo ini menyajikan pemandangan indah. baik itu suasana peperangan demi mempertahankan tanah air, juga pemandangan alam, dan animasi yang cukup halus (bandingkan jeleknya teknik animasi pada film The Curse of Golden Flower). pemainnya pun tidak membuat mata sepet, macam Tony Leung dan Takeshi Keneshiro. apalagi permaisuri Xiao Qiao yang diperankan oleh Lin Chi-ling, meskipun pendatang baru namun saya menduga karirnya akan mengilap.

film ini bersetting masa akhir Dinasti Han (tahun 208 M) dengan ambisi Perdana Menteri Cao Cao mengalahkan raja-raja kecil (landlords) demi mempersatukan Daratan Tiongkok dalam satu kerajaan. sekalipun memiliki pasukan besar, ternyata tidaklah mudah menaklukkan daerah Selatan. apalagi bila menggunakan strategi perang dan kemampuan membaca tanda-tanda alam yang justru diremehkan oleh PM Cao Cao.

diperlihatkan kekejian sang PM. ketika wabah tipus menyebar, prajurit yang meninggal tidak dimakamkan ataupun kremasi. jenasah mereka dihanyutkan dengan kapal dan tiba di daerah kerajaan yang ingin mereka kalahkan. inilah cara licik untuk mengalahkan Zhou Yu. prajuritnya hanya berjumlah 50.000, bagaimana bisa melawan pasukan PM Cao cao yang berjumlah sejuta?

kecerdasan, kerjasama, kekompakan. tiga kata kunci tersebut kutemukan di film ini. dan yang utama adalah: jangan pernah menyerah, dalam situasi yang sangat berat sekalipun.
kisah ini akan berlanjut ke Sam Kok, kisah Tiga Kerajaan. John Woo tampaknya akan melanjutkan film ini. lihat saja pada ending Red Cliff yang mengingatkan pada film The Lord of The Rings. nuansa pemandangan alam yang indah sebagai latar perpisahan dua sahabat.

Sunday, January 11, 2009

sumber informasi dua pihak: Palestina dan Israel


dalam perang di Palestina sesungguhnya terjadi perang yang tak kalah dahsyatnya: perang informasi. siapa yang menguasai informasi, menguasai dunia. dalil itu tak terbantahkan di zaman informasi ini. kebenaran sering berada jauh di seberang sana.

bagaimana sebenarnya kondisi Palestina? bagaimana konflik di Jalur Gaza ini menurut Pemerintah Israel? The Palestinian Centre for Human Rights (PCHR dan Situs Pemerintah Israel dalam Bahasa Indonesia semoga dapat menjadi sumber yang "covered both side of story".

satu hal yang pasti, peperangan yang mengorbankan rakyat tak bersalah harus dihentikan!

[gambar: pchrgaza.org]

Saturday, January 10, 2009

tulisan Ulil tentang konflik Palestina dan Israel

tulisan Ulil membuka tahun 2009 yang telah dipekakkan bunyi tembakan dan tangisan di Gaza. ada sesuatu yang salah dalam setiap peperangan... semoga manusia tidak selalu mengulang kebodohan yang sama. selamat mengawali tahun yang baik.

Tentang bangsa Yahudi dan konflik Palestina-Israel

Saya kadang-kadang berpikir, jangan-jangan konflik Palestina-Israel tidak akan selesai "ila yaum al-qiyamah", sampai hari kiamat. Satu-satunya harapan adalah jika kedua belah pihak lelah dan bosan perang, lalu dengan "sadar" meletakkan senjata dan saling jabat tangan. Tetapi titik-lelah itu belum kelihatan hingga sekarang. Kita harus siap untuk melihat jatuhnya korban terus-menerus di waktu-waktu mendatang. Sudah berkali-kali usaha untuk mendamaikan kedua belah pihak dilakukan oleh komunitas internasional, tetapi gagal terus.

Masing-masing pihak mempunyai versinya masing-masing kenapa usaha diplomatik itu gagal. Pihak Israel sudah tentu menyalahkan pihak Palestina, sejak zaman PLO di bawah Arafat hingga sekarang ini di mana Hamas muncul ke permukaan menggantikan popularitas PLO. Pihak Palestina dan negara-negara Arab, kemudian diamini juga oleh dunia Islam, tentu
menyalahkan pihak Israel sebagai biang kegagalan usaha diplomatik itu.

Saat perang atas terorisme dikumandangkan oleh Presiden Bush dari Washington, semua negara makin punya alasan untuk menjadikan momen ini untuk meningkatkan aksi-aksi militer mereka, tentu dengan alasan untuk memerangi terorisme. Rusia dan Cina telah melakukan itu. Kini Israel, sebelum Bush lengser beberasa saat lagi, seperti "kejar tayang" untuk
menyelesaikan "masalah Hamas" dengan melakukan agresi besar-besaran.
Seperti sudah bisa kita duga, aksi Israel ini didukung "tanpa syarat" oleh Presiden Bush.

Mari kita lihat konflik ini dalam perspektif yang lebih luas sehingga kita bisa lebih "tenang" memahaminya. Tak ada dalam sejarah manusia di mana sebuah bangsa dibenci secara sistematis, menjadi sasaran prasangka buruk, stereo-type, rasialisme, dan persekusi seperti dialami oleh bangsa Yahudi. Itulah sebabnya di Eropa di mana bangsa Yahudi mengalami banyak persekusi dan diskriminasi selama berabad-abad dikenal istilah "Jewish question", masalah Yahudi. Debat menganai "Jewish question" ini berlangsung lama sekali di Eropa dan baru tuntas pada pertengahan abad ke-20.

Secara kuantitas, bangsa Yahudi tidaklah besar jumlahnya. Total jumlah orang Yahudi di seluruh dunia saat ini mungkin tak lebih dari 15 juta orang. Sebagian besar mereka tinggal di Israel dan Amerika. Selebihnya mereka terserak-serak sebagai koloni kecil-kecil di berbagai belahan dunia, mulai dari Eropa, Amerika Latin, Asia, termasuk di negeri-negeri Arab sendiri. Tetapi bangsa yang kecil jumlahnya ini menjadi sasaran
prasangka buruk dan kebencian oleh banyak pihak sejak zaman dahulu.

Pertama-tama yang layak kita sebut adalah pihak Kristen. Selama beradad-abad, bangsa Yahudi menjadi sasaran diskriminasi dari pihak Kristen. Konflik antara Kristen dan Yahudi sudah berlangsung sejak awal, bahkan sejak kelahiran agama Kristen itu sendiri. Pertikaian antara orang-orang Yahudi dan Kristen bukan sekedar pertikaian politik biasa,
tetapi juga pertikaian yang dijustifikasi secara teologis melalui ajaran agama.

Lalu datang Islam. Sejak awal, pertikaian antara Islam dan Yahudi sama sekali tak terhindarkan. Pada saat Nabi Muhammad datang di Madinah, ada sejumlah koloni orang-orang Yahudi di sekitar Madinah. Karena konflik dengan Nabi dan umat Islam saat itu, orang-orang Yahudi ditumpas habis dan sebagian lagi diusir secara total dari kawasan itu. Pada saat Islam berjaya sebagai kekuatan politik di kawasan Arab pada rentang antara abad 8 hingga abad 15 Masehi, bangsa Yahudi sebetulnya menikmati suasana yang lebih bersahabat di dunia Islam ketimbang di dunia Kristen.

Tetapi, kebencian pada Yahudi sebagai sebuah agama tetap bertahan secara endemik dalam Islam. Bangsa Yahudi digambarkan sangat negatif dalam beberapa ayat di Quran, dan kemudian disokong pula dengan sejumlah hadis.
Contoh kecil saja: sebuah hadis terkenal menyebutkan bahwa pada akhir zaman nanti Nabi Isa (atau Yesus) akan turun kembali ke bumi (persis dengan keyakinan dalam Kristen). Menurut hadis itu, tugas Nabi Isa pada saat itu, antara lain, adalah untuk menghancurkan salib dan membunuhi orang-orang Yahudi.

Sebuah hadis lain menyebutkan bahwa dua frasa di ujung Surah al-Fatihah (bab pembuka dalam Quran) merujuk kepada orang Kristen dan Yahudi. Dua frasa itu adalah: "al-maghdub 'alaihim" (orang-orang yang dibenci oleh Tuhan) dan "al-dallin" (orang-orang yang sesat). Orang yang dibenci Tuhan maksudnya, sebagaimana dijelaskan oleh hadis itu, adalah orang Yahudi, sementara orang-orang yang sesat adalah orang-orang Kristen. Karena
pengaruh Kitab Suci sangat mendalam pada umatnya, kita bisa membayangkan bagaimana dua frasa yang diulang-ulang setiap salat oleh seluruh umat Islam ini memiliki pengaruh dalam membentuk prasangka buruk terhadap bangsa Yahudi.

Baik agama Kristen atau Islam mengandung unsur-unsur ajaran yang bisa membiakkan kebencian pada bangsa Yahudi. Ini bukan kebencian biasa, tetapi kebencian yang dijustifikasi oleh firman dan ajaran Tuhan sehingga pengaruhnya sangat mendalami. Tak heran sekali jika kebencian pada agama dan bangsa Yahudi bertahan selama berabad-abad. Kalau kita baca sejarah, tidak ada bangsa yang mengalami korban sebagai sasaran kebencian selama dan seserius seperti dialami oleh bangsa Yahudi. Yang mengherankan, jumlah mereka sangat kecil sekali, tetapi kebencian pada mereka sungguh tak sebanding dengan jumlah itu. Atau justru karena mereka kecil lah dengan mudah menjadi "kambing hitam" di mana-mana. Persis seperti dialami oleh kaum minoritas di manapun yang cenderung dijadikan sasaran demonisasi dan pengambing-hitaman.

Kalau kita baca sejarah Amerika, hingga pertengahan abad 20, diskriminasi dan perlakuan yang tak menyenangkan dialami oleh bangsa Yahudi secara konsisten. Seorang profesor Yahudi yang pernah belajar di Universitas Harvard dan sekarang sudah pensiun pernah bercerita pada saya bahwa hingga tahun 60an, orang-orang Yahudi mendapat kesulitan untuk memperoleh posisi sebagai profesor di Universitas Harvard. Menurut dia, seorang ekonom
Yahudi yang sangat kondang dan pernah memenangkan hadiah Nobel, Paul Samuelson, ditolak lamarannya sebagai profesor di Universitas Harvard pada tahun 40an. Menurutnya, Samuelson ditolak terutama karena keyahudiannya. Akhirnya, MIT (Massachusetts Institute of Technology) menampung dia. Saat di MIT itulah Samuelson mendapatkan hadiah Nobel. Saya kira, Universitas Harvard malu dengan kejadian ini.

Di dunia Islam, jelas orang-orang Yahudi saat ini merasa kurang nyaman. Oleh karena itu, sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, jumlah orang Yahudi yang tinggal di kawasan Arab merosot tajam. Mereka kurang merasa nyaman tinggal di lingkungan yang kurang bersahabat dengan mereka. Dalam periode pra-modern, memang dunia Islam memperlakukan bangsa Yahudi jauh lebih baik ketimbang dunia Kristen di Eropa. Tetapi secara umum,
kondisi orang-orang Yahudi di dunia Islam pun pada zaman dahulu tetap menjadi sasaran diskriminasi dan kebencian. Sebagaimana sudah saya sebut, kebencian pada Yahudi dalam Islam tertanam melalui ajaran Islam itu sendiri, sebagaimana juga dalam Kristen. Kebencian itu mendalam sekali karena dijustifikasi dengan ajaran agama.

Sekarang ini, di dunia Islam, terutama di Indonesia, istilah "antek Yahudi" adalah kata-kata kotor yang dipakai untuk menyerang siapa saja yang dianggap "memusuhi" Islam -- sama kotornya dengan istilah "antek PKI". Dulu, almarhum Prof. Nurcholish Madjid pernah dijuluki oleh sebuah media kalangan Islam fundamentalis di Jakarta sebagai "antek Yahudi".
Majalah itu menggambarkan Cak Nur melalui sebuah karikatur yang menarik: nama Cak Nur dibelit oleh ular yang membentuk bintang David. Kita tahu apa maksud karikatur itu: Cak Nur adalah antek Yahudi yang terperangkap dalam belitan "ular" Yahudi.

Hingga saat ini, bahkan di Amerika sekalipun, kita menyaksikan beredarnya sebuah teori konspirasi tentang "rencana Yahudi" untuk menguasai dunia. Buku "Protocols of Zion", misalnya, yang merupakan karangan palsu dinas rahasia Rusia beredar luas di Eropa, Amerika, dan meluber pula sampai ke dunia Islam. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan bahasa-bahasa lain itu dunia Islam. Buku itu juga dipercayai oleh banyak
kalangan sebagai dokumen otentik yang didasarkan pada fakta-fakta sejarah tentang rencana bangsa Yahudi untuk menguasai dan menghancurkan dunia. Buku semacam ini jelas dengan gampang menyebarkan rasa kebencian pada bangsa Yahudi yang jumlahnya sangat kecil itu.

Tak hanya itu. Henry Ford, pendiri perusahaan mobil Ford yang terkenal itu menulis buku yang sangat anti-Yahudi berjudul "The Jews". Beberapa tahun yang lalu, saat usai memberikan ceramah di Malaysia, seorang audiens memberikan saya buku itu seraya berkata, "Bapak harus membaca buku ini". Hingga sekarang, sentimen anti-Yahudi masih bertahan di banyak kalangan di Amerika.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah bahwa bangsa Yahudi yang kecil jumlahnya itu menjadi sasaran kebencian dari banyak pihak. Anda bisa bayangkan, bagaimana perasaan sebuah bangsa kecil yang dibenci oleh dua agama besar selama berabad-abad, yaitu Kristen dan Islam. Sekarang ini, jumlah pengikut kedua agama itu boleh jadi lebih dari 2,5 milyar. Dari jumlah sebanyak itu, ada persentasi yang cukup besar, sekurang-kurangnya
dari sebagian kalangan Islam, yang sangat membenci, atau minimal kurang bersahabat, dengan bangsa Yahudi. Tentu keadaan semacam ini menciptakan rasa yang sangat tidak aman bagi orang-orang Yahudi.

Bagaimana mungkin orang Yahudi yang hanya berjumlah tak lebih dari 15 juta itu bisa merasa aman di tengah-tengah bangsa-bangsa yang membenci dan mempunyai stereo-type negatif mengenai mereka? Jangan lupa, kebencian ini sudah berlangsung berabad-abad, dan karena itu sudah merasuk ke dalam psyche bangsa-bangsa yang membenci orang-orang Yahudi itu. Ini yang menjelaskan kenapa bangsa Yahudi, terutama di Israel, mempunyai instink
yang sangat kuat untuk membangun pertahanan diri, kadang-kadang instink itu bekerja secara berlebihan, meskipun hal itu bisa kita pahami. Sebab bangsa Yahudi mempunyai memori yang sangat buruk mengenai masa lalu mereka. Jika mereka kehilangan negara Israel yang sudah berhasil mereka dirikan dengan susah payah itu, mereka khawatir akan kembali kepada "zaman kegelapan" yang berlangsung sejak berabad-abad sebelumnya.

Ini yang menjelaskan kenapa Israel bersikap tanpa kompromi pada Hamas sebab kelompok ini memiliki misi khusus untuk menghancurkan negara Israel. Di mata Israel, Hamas jelas semacam mimpi-buruk yang menghantui mereka. Bangsa Yahudi jelas tak mau jatuh ke masa silam yang buruk, ke zaman pogrom dan holocaust.

Tetapi justru di sini letak kelemahan bangsa Yahudi di Israel dan di manapun saat ini. Karena terlalu dihantui oleh masa lampau yang pahit, reaksi mereka terhadap ancaman saat ini terlalu berlebihan. Yang menjadi korban adalah bangsa Palestina. Sebagai sebuah negara, Israel, negara Yahudi itu, saat ini sudah cukup kuat dan sangat makmur. Memang kita bisa paham kenapa Israel selalu merasa tidak was-was dan tidak aman selama ini,
sebab ia dikepung oleh tetangga-tetangga yang sangat membenci keberadaannya.

Kalau di awal tulisan ini saya mengtakan bahwa konflik Palestina-Israel boleh jadi tak akan pernah selesai, di ujung tulisan ini saya ingin mengemukakan sebuah harapan. Salah satu harapan itu adalah jika pihak bangsa Yahudi dan bangsa Arab, terutama Palestina, bisa mengatasi "masa lalu" mereka masing-masing. Bangsa Yahudi harus melepaskan diri dari
"mentalitas diaspora" yang membuat mereka merasa terancam terus dan selalu mencurigai tetangga-tetanggany a. Jika mentalitas ini tak bisa diatasi, maka negara Israel akan terus mencari musuh dengan tetangga-tetangga dekatnya seperti kita saksikan sekarang ini.

Dari pihak bangsa Arab, tantangan terbesar adalah mengatasi "rasa superioritas" mereka sebagai bangsa yang pernah berjaya selama berabad-abad di kawasan Arab dan sekitarnya, dan merasa bahwa bangsa Yahudi tak punya hak untuk mendirikan negara di tanah Palestina, sebab hal itu akan melukai rasa superioritas itu.

Dari pihak umat Islam sendiri secara keseluruhan juga ada tantangan yang sangat berat jika mereka benar-benar ingin ikut menyelesaikan masalah Palestina-Israel ini. Selama ini, kita semua tahu, ajaran yang membenci bangsa Yahudi diajarkan terus di sekolah-sekolah agama di seluruh dunia Islam, sejak zaman klasik hingga sekarang. Waktu saya di pesantren dulu, setiap guru saya menerangkan ayat-ayat dalam Quran yang membenci bangsa
Yahudi, maka mereka memahaminya dengan tidak kritis, sehingga secara tak sengaja, mereka mengajarkan kebencian turun-temurun terhadap bangsa Yahudi. Bagaimana mungkin dunia Islam mau menyelesaikan masalah Palestina-Israel jika ajaran-ajaran yang membenci bangsa Yahudi ini terus ditularkan dari satu generasi ke generasi berikutnya?

Menurut saya, harus ada reinterpretasi ulang atas sejumlah ayat dan hadis yang membenci bangsa Yahudi dan selama ini diajarkan di lembaga-lembaga Islam. Jika tidak, maka selamanya akan terjadi kebencian dan permusuhan antara umat Islam dan bangsa Yahudi. Saya tak percaya bahwa umat Islam akan berhenti membenci bangsa Yahudi seandainya pun yang terakhir itu, misalnya, dengan sukarela membubarkan negara Israel lalu pergi dari tanah
Palestina. Menurut saya, masalahnya lebih serius dari sekedar masalah "tanah". Yang bermasalah adalah doktrin dalam agama itu sendiri.

Apa yang saya tulis ini jelas tak populer di kalangan Islam saat ini. Boleh jadi, tulisan ini dianggap sebagai bagian dari konspirasi Yahudi pula. Silahkan saja. Dengan terus terang saya katakan, saya bukan "fan" atau pendukung ringan, apalagi berat, negara Israel. Saya benci dan jengkel pada tindakan dan kebijakan pemerintah Israel selama ini terhadap bangsa Palestina. Tetapi kita juga harus jujur melakukan otokritik pada diri kita sendiri. Ada sikap-sikap yang salah dan tak tepat juga di kalangan umat Islam terhadap bangsa Yahudi yang jumlahnya sangat kecil itu. Sikap-sikap yang berdasarkan pada doktrin agama itu harus dikritik jika umat Islam memang benar-benar ingin menegakkan perdamaian di bumi Palestina.[]

Wallahu a'lam bissawab

Ulil Abshar Abdalla

Saturday, December 13, 2008

kaleidoskop 2008: melamun di taize 4

Jiwa yang mencinta

So far I go
with empty heart.
Where should I go
if you have left.


Senin, 17 Maret 2008 pukul 07.30 saya terbangun dalam dingin tenda dan pemandangan berkabut di luar. Sleeping bag yang dipinjamkan El Abiodh cukup membantu sehingga semalam saya dapat tidur nyenyak.

08.00 ke kapel utama untuk doa pagi. Berbeda dengan doa malam sebelumnya, pada akhir doa, semua yang hadir bangkit berdiri. Beberapa bruder mengambil komuni yang sudah disiapkan dari tabernakel dan membagikannya. Saya maju mengantre komuni. Namun entah kenapa, perasaan hati ini jadi membuncah saat mengambil hosti dan mencelupkannya dalam anggur darah Kristus yang tampak bening. Saat kembali ke tempat dan berdoa, air mata tak dapat tertahankan. Saya menangis seperti anak kecil, mengalami Kristus yang datang menyapa secara personal pada pagi itu. Untung sapu tangan ada di saku, sehingga saya dapat langsung menyeka air mata.

Selesai doa pagi, kembali ke Tenda F untuk menyiapkan sarapan. Saya membantu membagikan roti. Setelah itu, giliran saya menikmati sarapan pagi: roti baget yang keras, dengan selai buah, mentega, susu coklat. Pierluigi dan Cristina, pasangan Italia dari Pescara menemani saya ngobrol. Inilah awal perkenalan kami. Mereka menjadi teman mengobrol yang asik selama berada di Taize. Pagi itu mereka bercerita tentang Assisi karena mereka tahu saya hendak berziarah ke sana. “Assisi adalah kota yang indah, kamu harus mengunjungi basilika St. Fransiskus di sana”, kata Pierluigi.
Setiap hari pukul 10.00 diadakan konferensi bersama seorang bruder di Tenda F. sebelumnya, kami dibagi dalam kelompok-kelompok menurut bahasa. Saya masuk dalam kelompok berbahasa Inggris, kelompok ini termasuk minoritas alias dapat dihitung dengan jari jumlah pesertanya dibandingkan kelompok berbahasa Jerman, Perancis dan Spanyol. Kemudian dua orang volunteer yakni Olga dan Claire memperkenalkan diri. Olga, gadis dari Rusia. Claire, gadis manis dari Belgia. Mereka fasih berbahasa Inggris yang dijadikan bahasa pengantar resmi dalam setiap pertemuan. Olga dan Claire menjadi semacam pusat informasi aktivitas harian di Taize. Termasuk pembagian jadwal tugas harian bagi setiap kelompok. Ada yang bertugas membersihkan toilet dan kamar mandi, atau mencuci piring di dapur. Saya dan kelompok minoritas kami kebagian tugas membagikan sarapan setiap pagi.

Siang itu bruder memberikan tugas sharing kelompok tentang Mengapa ke Taize? Kelompok kami terdiri dari: Alfredas dari Lithuania, Emil dari Bulgaria, Lorenz dari Jerman, dan saya. Ada teman yang bercerita bahwa ia datang ke Taize untuk mencari ketenangan hati. Ada juga yang berprofesi sebagai pemandu wisata, dia mengantar sekelompok anak muda ke Taize. Saat tiba giliran saya sharing, mereka cukup terpesona mendengarkan kisah mukjizat tiket gratis yang saya peroleh. Mereka bilang saya beruntung. Saya cuma tersenyum-senyum saja.

Setelah ibadat siang, kami menikmati makan siang di Tenda F. Menunya unik: nasi goreng jagung dengan roti. Selesai makan siang, bagi yang ingin berlatih nyanyian Taize dapat bergabung di kapel utama. Namun saya memilih untuk berjalan-jalan ke Taman St. Etienne (St. Stefanus). Letaknya di bawah areal perkemahan, melewati jalan setapak dan pepohonan. Tempat ini disediakan untuk renungan pribadi. Saya menyebut tempat ini sepotong surga, karena indah sekali.

Di bawah terdapat danau dan padang rumput. Bayang-bayang pepohonan nampak pada pantulan permukaan danau dengan garis langit senja. Sementara bebek-bebek berterbangan dan mendarat di permukaan air.

Ada sebuah kapel di tepi danau dengan atap berbentuk kubah ortodoks. Semula kusangka di sinilah tempat makam Bruder Roger. Ternyata tidak demikian.
Setelah itu, saya mampir ke Oyak untuk membeli batere. Harga barang-barang yang dijual di Oyak tidak mahal. Batere AA merek Kodak 1 pak isi 4 pcs seharga 1 euro. Malam ini saya tentu tidak akan meraba-raba dalam kegelapan lagi. Senter saya sudah bernyala!

19.00 makan malam sambil berkenalan dengan teman dari Barcelona. Dia seorang pria guru sekolah anak-anak cacat mental. Saya pun seorang guru, ujarku memperkenalkan diri. Dia bercerita betapa sulitnya mengajar anak-anak cacat, butuh banyak kesabaran. Kemudian dia bercerita tentang tempat-tempat indah di Spanyol: Montserrat, Catalan, Andalusia...

20.00 doa malam di kapel utama. Lagu ini sangat bersemangat dan menyentuh hati: “El alma que anda en amor, ni cansa ne se cansa...” (The soul filled by love neither tires nor grows tired).

Selesai doa malam, saya bertemu Br. Alois, pemimpin komunitas Taize. Beliau tersenyum hangat saat menerimaku. Dia mencoba mengingat di mana pernah bertemu. Saya menyebut: Yogya! “Ah ya, Indonesia...”, ujarnya. Kami mengobrol sejenak sebelum beliau mengatakan: “besok selesai doa siang, maukah ikut makan siang bersama kami di biara?” Tentu saja tawaran ini kusambut dengan sukacita. Kami lalu berpamitan.
Saat menuju pintu keluar saya melihat beberapa imam mengenakan stola berdiri dan mendengarkan pengakuan dosa. Entah mengapa, ada dorongan untuk menemui salah satu imam tersebut. Ini kejadian pertama kali saya mengaku dosa dalam bahasa Inggris! Mulanya juga sempat gregetan, imam tersebut dengan ramah mengajak bercakap-cakap, lalu bertanya: Apakah Anda mau mengaku dosa?

Ah yes, jawabku. Lalu rumusan itu meluncur: Forgive me Father for I have sinned. Bla bla bla.... ketika sampai pada bagian daftar dosa-dosa, dengan sabar dia mendengarkan dan bertanya. Kami jadinya seperti sedang berdiskusi. Beberapa nasehat pun diberikan, antara lain dan ini yang paling kuingat: “Love in silent...”
Sempat juga kuceritakan pada imam mengenai kejadian tadi pagi di kapel, saya menangis ketika menerima komuni. Imam itu tersenyum hangat. Lalu memberikan penitensi dan absolusi: “.... I release you from all sins ...”

Udara terasa ringan, sekalipun malam itu dingin sekali. Dengan senter yang menyala di tangan saya kembali ke kemah. Rasanya saya dapat tidur pulas malam ini.

“El alma que anda en amor...”

kaleidoskop 2008: melamun di taize 3

Taize
Pukul 13.14 bus ke Taize tiba. Tiket dibeli pada sopir. Perjalanan memakan waktu sekitar 40 menit melewati kebun-kebun anggur, bunga-bunga persik di sepanjang jalan, dan kota Cluny. Francois turun di sini.

Pukul 13.50 tiba di Taize, hujan deras. Saya dan Min nongkrong di teras sambil bercakap-cakap. Min sempat bilang, apabila dia tidak betah tinggal di Taize maka dia akan langsung pulang ke Bristol. Dia masih menikmati biskuit abon karena inilah makan siang yang ada. Di papan pengumuman tertera jadwal Welcome Registration pukul 15.30. Kelompok dewasa dipisahkan dengan anak muda. Min bergabung dengan kelompok anak muda, saya dengan kelompok dewasa. Jadi, kami berpisah.

Saya masuk dalam grup berbahasa Inggris dan mendapat pengarahan dari Sarah Christina seorang volunteer dari Jerman. Dia menjelaskan peta lokasi Taize, kemah F sebagai tempat pertemuan utama kelompok dewasa, jadwal kegiatan harian, dan apa saja yang dapat dilakukan di sana setiap hari. Kemudian pembagian kamar untuk peserta. Saya mendapat kamar dorm no. 265. Lalu pembayaran. Saya cukup terharu sewaktu volunteer yang melayani berkata bahwa karena saya datang dari Asia, maka saya bebas menentukan jumlah pembayaran. Saya telah menyiapkan anggaran untuk ini berdasarkan tarif orang dewasa di dormitory selama 8 hari. Kemudian rehat sejenak, kami menikmati kue bolu dan teh lemon hangat.

Taize memiliki beberapa blok dormitory. Untuk orang dewasa dormitory letaknya lebih jauh dari dorm anak muda. Masing-masing dilengkapi kamar mandi, toilet dan wastafel yang bagus. Di setiap kamar terdapat 3 ranjang susun (bunk bed), sehingga total 6 orang sekamar. Saya sekamar dengan 4 orang Spanyol dan 1 orang Porto. Kami bercerita mengenai pengalaman perjalanan sampai ke sini. Rasanya seru, mereka jauh-jauh naik mobil sampai ke tempat ini!

Lalu saya bertanya mengenai tempat peziarahan terkenal itu, Santiago de Compostella. Seru sekali perjalanan ke sana, kata teman Spanyol. ”There are many ways to Santiago. You should try which one fit for your time...”, katanya dengan logat Spanish. Santiago ini sangat menggoda setiap kali saya membaca novel Paulo Coelho.

Yang terjadi berikutnya, saya memutuskan pindah kamar. Saya ke El Abiodh, tempat hospitality di Taize. Bila sakit, atau butuh menu makanan khusus, atau butuh tempat istirahat, silakan melapor ke El Abiodh. Di sana para suster melayani dengan ramah. Saya mengatakan bahwa saya butuh tempat khusus untuk beristirahat, karena saya cukup sulit tidur bila ada suara gaduh. Suster menyarankan saya untuk menginap di kemah. Kupikir ini ide yang baik. Suster memberikan sleeping bag dan kunci kemah no. 18.
Pengalaman tidur di kemah di Fuhlinger See sewaktu World Youth Day membuat saya menggemari kegiatan berkemah. Taize memiliki beberapa kemah yang bagus. Kemah tersebut dilapisi terpal berwarna biru sehingga air hujan tidak akan tembus. Selain itu, lantai kemah dilapisi papan dan terdapat dua kasur lateks bersisian dan seprai putih. Ini sih kemah mewah, menurutku. Tent sweet tent...

Sambil menunggu waktu makan malam, saya bergabung dengan anak-anak muda Jerman. Mereka mengadakan permainan memindahkan mangkuk-mangkuk plastik yang dipakai minum, juga biskuit, coklat, jepitan rambut dengan tepukan tangan berirama. Saya diajak ikut bermain, sementara ketua kelompok memberikan contoh. Pertama kali kagok juga, namun lama kelamaan permainan ini makin cepat dan asik sekali...
Tak terasa waktu makan malam tiba. Ratusan anak muda antre makan, jadi saya ikut bersama mereka. Menu makan malam yang dibagikan: sup kacang hijau dengan ham, roti, biskuit, yoghurt dan apel. Belakangan baru saya menyadari bahwa saya keliru tempat makan malam. Seharusnya saya bergabung bersama kelompok orang dewasa dan makan malam bersama mereka di kemah F.

Dalam kegelapan, nyalakan api yang tak pernah padam...
Doa malam diadakan pukul 20.30. Saya menyiapkan jaket, senter sebelum ke kapel utama. Saya coba mengetes senter, menyala namun sudah sangat redup. Baterenya harus diganti karena tidak ada penerang dalam kemah.

Hari-hari pertama di Taize, kapel utama tidak terlalu penuh sehingga tidak sulit mencari tempat duduk. Saya suka memilih tempat agak di depan, biar lebih fokus. Lagu-lagu yang dinyanyikan beberapa dalam versi asing. Seperti lagu: ”Dans nos obscurites, allume le feu qui ne s’e-teint jamais, qui ne s’eteint jamais...”, lidah ini cukup berlepotan berbahasa Perancis. Saya memilih tetap menyanyikan versi bahasa Indonesia-nya: ”Dalam kegelapan, nyalakan api yang tak pernah padam...”

Selesai doa malam, pukul 22.10 saya ke Oyak. Di Oyak terdapat toko, kafe dan tempat kongkow-kongkow. Saya butuh batere AA untuk senter. Anak-anak muda ramai berkumpul di sana menikmati minuman sambil bernyanyi-nyanyi. Saya bertanya kepada volunteer di Oyak, di mana saya dapat membeli batere. Dia menjawab: sayang sekali toko sudah tutup pukul 22.00. Jadi, dia tidak dapat membantu.

Saya berjalan menuju perkemahan. Malam itu saya menghayati kegelapan malam tanpa penerangan dalam kemah. Darkness, I come into You totally... Kesenyapan. Udara dingin malam terasa makin menggigit. Sambil meraba-raba, saya masuk ke dalam sleeping bag. Berpasrah dalam kegelapan, lagu ini jadi sangat bermakna: “dalam kegelapan, nyalakan api yang tak pernah padam, yang tak pernah padam ...”
Sebelum saya kemudian jatuh terlelap.

kaleidoskop 2008: melamun di taize 2

Paris
I wish it would rain now
And watch you standing there
Wearing the hat and smile
And I will let the rain falling down


Sabtu, 15 Maret 2007 pukul 06.35 pesawat mendarat di Paris. Keluar dari lambung pesawat, petugas langsung memeriksa dokumen masing-masing penumpang. Saya ditanya dalam bahasa Inggris: “Pertama kali ke Paris?” Ini kali kedua, jawabku. Petugas itu membolak-balik pasporku yang kelihatan masih baru. “Dalam rangka apa?” tanyanya lagi. “Taize”, jawabku singkat.
“Sudah pernah ke Taize?”
“Ini kali pertama”. Dia rupanya menemukan invitation letter yang dilampirkan dalam paspor. Sehingga saya diijinkan lewat meninggalkannya. Setelah mengambil bagasi berupa sebuah backpack (tas ransel), segera saya menuju ke pintu keluar bandara untuk menumpang bus Air France.

Udara dingin langsung menerpa. Beruntung bus Air France jurusan Gare de Lyon tidak terlalu lama datangnya. Tiket dibeli pada sopir seharga 14 euro. Di dalam bus terasa lebih hangat. Saya coba mengingat-ingat perjalanan terakhir kali ke bandara CDG, namun kali ini berbeda dengan musim dingin dan pepohonan yang tanpa daun di sepanjang jalan.

Printemps
Pukul 08.00 Tiba di Gare de Lyon, barang-barang penumpang diturunkan dari bagasi bus. Bangunan-bangunan tinggi berwarna kusam dan artistik khas Paris sangat menggoda mata mengelilingi daerah sekitar stasiun Lyon. Saya bergegas menuruni tangga bawah tanah ke stasiun Metro sambil mencoba mengingat-ingat pengalaman naik Metro tiga tahun silam. Jangan sampai keliru naik Metro. Soalnya 3 tahun lalu kami naik Metro bertiga, jadi rasanya aman ada penunjuk jalan. Kali ini saya jalan sendiri. Saking gugupnya saat antre di depan kasir, uang kertas yang kupegang jatuh karena memegang kertas coret-coretan rute yang kubuat. Seorang Bapak yang antri di belakangku membantu memungutnya. Cukup sulit membungkuk dengan ransel besar di punggung. Tiket kereta Metro sekali jalan 1,40euro. Saya mengambil jurusan M1 ke stasiun Nation.

Tiba di Nation, pakai acara nyasar. Maklum saya tidak membawa peta, cuma mengingat-ingat lokasi berdasarkan petunjuk Google Map. Kenyataannya, Bundaran Nation memiliki beberapa pertemuan jalan. Akhirnya saya menanyakan kepada orang yang lewat: ke arah mana Jalan Picpus? Hotel yang saya tuju adalah Hotel du Printemps, Boulevard de Picpus. Bila dilihat di peta, lokasi jalan ini tidak sulit ditemukan. Namun, sampai melewati kerumunan Bazaar yang digelar di pinggir jalan dengan dagangan seafood, bunga-bunga, buah-buahan, tentu tidak mudah memastikan lokasinya.

Akhirnya, ketemu jalan Picpus... hotelnya juga, senang sekali. Terlebih petugas hotel langsung memberikan kunci kamar no.50. Karena jam menunjukkan pukul 9 lewat. Menurut e-mail yang kuterima dari hotel, check-in baru boleh setelah pukul 12. Tiba di kamar rasanya lega. Kamar di lantai lima menghadap ke jalan, dengan single bed dan kamar mandi dengan hot shower. Kecil, namun nyaman. Tarifnya 50 euro semalam, termasuk murah untuk lokasi di tengah kota Paris. Setelah mandi dan sarapan mie gelas dan susu coklat, saya langsung tertidur...

Sacre Coeur
Pukul 15.00 bangun. Saatnya berjalan-jalan menikmati kota Paris.
Naik bus no. 65 yang melewati Nation ke arah Gare de L’Est dan Nord. Aha, sempat juga melewat hotel Francais tempat kami menginap dulu. Turun di Boulevard Barbes, sempat kebingungan menentukan arah, sebelum menemukan petunjuk arah ke Sacre Coeur. Di sini, aneh bahwa saya menemukan dua lembar uang kertas 50 euro di tengah jalan. Orang-orang lalu lalang, saya memandang dan memegang duit itu cukup lama sebelum berlalu pergi. Melewati jalan kecil yang menanjak, berujung pada tangga menuju ke Sacre Coeur. Banyak anak muda duduk-duduk di tangga depan Sacre Coeur sekedar menikmati pemandangan kota Paris yang tampak dari atas bukit sambil menikmati suguhan lagu pengamen yang seperti sedang menggelar konser.

Gereja Sacre Coeur (Hati Kudus) terletak di atas bukit bernama Mont Martre (bukit martir). Bangunan ini telah menjadi salah satu ikon kota Paris karena sejarahnya. Setelah masuk dan berdoa di dalam gereja Sacre Coeur, saya mengunjungi gereja St. Denis, masih di Mont Martre. Di sana terdapat ranting-ranting berdaun hijau dengan buah kecil berwarna merah disediakan di depan pintu gereja. Apakah ini berkaitan dengan simbol kemartiran St. Denis? Tanyaku dalam hati. Ah ya, baru kemudian kusadari bahwa ini adalah hari Sabtu menjelang Minggu Palem.

Eiffel, I’m wet and lost...
Setelah itu, perjalanan dengan bus no.30 menuju ke Trocadero. Hujan rintik-rintik di luar. Bangunan Arc de Triomphe Etoile terlihat megah di tengah bayang-bayang hujan pada jendela bus. Turun di Trocadero, Eiffel terlihat megah di sana. Lampu-lampu dinyalakan di sekujur menaranya di sertai kilatan-kilatan blits. Indah sekali. Pengunjung tetap saja ramai berfoto-foto atau sekedar duduk-duduk menikmati pemandangan meskipun hujan.

Hujan semakin deras, disertai angin kencang. Saya berlindung di bawah menara Eiffel. Beberapa petugas keamanan terlihat mengejar-ngejar orang India pedagang asongan, namun pedagang itu lebih pandai. Beberapa saat kemudian mereka sudah kembali lagi menawarkan souvenir Eiffel kepada pengunjung dengan harga miring. Setelah hujan sedikit reda, saya berjalan ke arah Picquet. Di sana ada swalayan kecil (supermarche). Lumayan untuk membeli kebutuhan pokok: air botol, buah, roti. Tepat di depannya terdapat tangga bawah tanah Metro. Naik M8 kemudian M1, tiba kembali di Nation.

Tiba di Nation, nyasar di tengah hujan gerimis. Bila kuhitung-hitung, malam itu mungkin sekitar dua putaran sudah kulewati Bundaran Nation untuk mencari jalan ke Picpus. Kali ini malah dengan mencoba masing-masing percabangan jalan, jadi makin tersesatlah... Hingga kemudian saya memberanikan diri bertanya pada seorang Bapak di pinggir jalan. Bapak itu ramah sekali, dia justru menemaniku berjalan di tengah hujan tanpa memakai payung, mengantarku sampai di Picpus. Olala, percabangan jalan Picpus rupanya setelah dua menara raja (kusebut Two Towers Lord of The Rings)...

Alangkah leganya kembali di kamar hotel.

Farewell to Nation
Minggu, 16 Maret 2008 bangun kesiangan pukul 08.15! Waduh, jam weker yang saya setel di hape tidak berbunyi. Buru-buru berkemas dan sarapan pagi roti, buah dan yoghurt yang dibeli semalam. Lumayan menghemat 7 euro dibandingkan bila memesan sarapan di hotel. Pukul 09.15 check-out dari hotel. Udara dingin dan jalanan senyap saat saya kembali ke stasiun Metro di Nation. Rasanya saya mulai hafal jalanan ini setelah beberapa kali tersesat. Namun sekarang saya musti mengejar waktu agar tidak ketinggalan kereta ke Macon. Di Metro Nation nyaris lagi tertukar kereta, alias saya hampir naik kereta ke arah berlawanan. Saya langsung loncat keluar dan berlari menaiki tangga memutar ke arah sebaliknya. Beruntung: kereta Metro ke arah Gare de Lyon masih ada di sana. Fiuuuhh... nyaris saja nyasar jauh. 09.40 Tiba di Stasiun Lyon. 10 menit lagi jadwal kereta TGV pagi terakhir ke Macon akan berangkat. Saya bertanya ke bagian informasi di lantai atas, di mana tempat membeli tiket? Saya berlari ke tempat yang ditunjuk, tapi alamaaak, antrean calon pembeli tiket panjang nian dan petugas telah menutup antrean. Jadi kutanya ke petugas, saya musti beli tiket TGV ke mana?

Dia mengatakan untuk membeli tiket TGV ada loket khusus di dekat tangga stasiun Metro di bawah... Kembali lagi turun ke bawah. Beruntung loket TGV sepi, sehingga petugasnya langsung melayani dan dengan muka cemas dia minta saya segera berlari ke peron 19 di atas. Setelah membayar 53,7 euro dan memperoleh tiket, saya tidak mengecewakan petugas itu. Saya berlari secepat mungkin dengan ransel di pundak. Keretanya masih ada di sana, tapi di gerbong berapa? Saya tunjukkan tiket saya ke petugas TGV, “Voiture atau gerbong 17 ada di sana”, dia menunjuk jauh ke belakang... Alamaaakk jaan, acara lari pagiku masih harus dilanjutkan....
Syukur akhirnya sampai, sekarang nomor kursi. Saya dapat kursi di lantai atas. Place assise (nomor bangku) 115. Selesai menyimpan ransel dan duduk, kereta TGV bergerak meninggalkan Gare de Lyon. Saya masih perlu mengatur nafas dan minum air beberapa teguk. Ibu yang duduk di samping saya sepertinya mengerti bahwa saya habis berkejaran kereta. Saya duduk di samping jendela sehingga dapat menikmati keindahan alam sepanjang perjalanan: landscape, pohon-pohon, rumah, bukit-bukit...

11.30 kereta berhenti di Stasiun Macon. Ibu itu memberi tanda bahwa di sini saya harus turun. Gerimis menyambut di stasiun. Saya bertanya ke bagian informasi, bus ke Taize. Dia menulis pada secarik kertas: “13h.14”. Jadi saya harus menunggu hampir dua jam. Di sini saya berkenalan dengan Min, seorang gadis Korea yang hendak ke Taize. Dia mengenal Taize dari temannya. Saat ini dia kuliah di Bristol, Inggris Jurusan Media. Kami ngobrol di ruang tunggu sambil menikmati biskuit malkist abon yang saya bawa. Lalu seorang bapak tua bernama Francois datang menghampiri kami dan bercakap-cakap mengenai masa mudanya. Dia pernah mampir di Yogya, Jepang dan beberapa daerah di Asia. Sekarang dia bekerja sebagai sopir taksi dan tinggal di Cluny. Katanya dia hidup seorang diri di sana. Dia menawarkan kami untuk mampir ke tempatnya setelah pulang dari Taize.

kaleidoskop 2008: melamun di taize 1

Pendahuluan
Perjalanan kali ini dimulai dengan kisah yang semula sulit dipercaya. Saya mendapat tiket gratis dari Singapore Airlines (SQ) saat iseng-iseng bermain games online dalam rangka Perayaan 60 tahun SQ. Pemberitahuan pertama berupa e-mail semula kusangka junk mail sehingga kuabaikan. Pemberitahuan kedua yang dikirim membuatku terkejut, karena klaim hadiah mendekati batas tenggat waktu bulan Oktober 2007. Demikianlah saya mendapat berkat untuk mengadakan perjalanan ziarah dengan tiket pesawat Denpasar – Paris pp gratis dari SQ (kecuali pajak sejumlah USD 225 harus dibayar pada saat menebus tiket).

Bila kupikir-pikir, mungkin kejadian ini ada kaitannya dengan peristiwa tahun 2005 saat saya bersama teman-teman melanjutkan perjalanan dari World Youth Day di Koeln menuju ke Lourdes. Di Lourdes disediakan kotak donasi bertuliskan: 1 euro untuk tahun 2008, Jubileum 150 tahun Penampakan di Lourdes. Saya memasukkan sekeping uang 1 euro ke kotak donasi dan berkata kepada teman-teman: “Saya ingin datang ke Lourdes pada tahun 2008”. Meskipun belum tahu bagaimana caranya, karena pada tahun 2008 juga akan digelar World Youth Day di Sydney. Namun dengan tiket SQ gratis di tangan, kuduga doaku didengarkan Tuhan.

Persoalan berikut, bagaimana dengan urusan visa? Visa ini menentukan dari kota mana saya memulai perjalanan ziarah. Beberapa pilihan: Frankfurt, Roma atau Paris? Ada teman di Jerman yang mau membantu membuatkan invitation letter. Namun mengingat bahwa sewaktu mengurus visa Jerman tahun 2005, pemohon harus datang ke Jakarta saat mengajukan dan mengambil visa di kedutaan, ini berarti saya harus menambah waktu libur untuk mengurus visa ke Jakarta. Bapa Uskup juga sempat kutanya mengenai kemungkinan mengambil visa melalui Nuntius. Mengejutkan bahwa Bapa Uskup sungguh menanyakan hal ini kepada Nuntius. Saat saya menghadap Bapa Uskup, beliau bercerita sempat bertemu Nuntius di bandara. Nuntius menanggapi dengan berkata: “bila permintaan ini saya kabulkan, satu orang awam bisa masuk Eropa melalui Vatikan, bagaimana bila 100 juta penduduk Indonesia lain minta hal yang sama?” Saya sempat tertawa menyetujui pernyataan tersebut.

Saya menyusun beberapa rute alternatif perjalanan ziarah. Perjalanan akan melewati Taize, Perancis. Karena itulah saya mencari informasi mengenai Meeting di Taize. Tahun 2008, Meeting dimulai pada Pekan Suci, 16-23 Maret 2008. Saya mendaftar melalui situs Taize (www.taize.fr). Jawaban dari Taize datang tak lama kemudian melalui e-mail. Surat undangan akan dikirimkan dari Taize melalui pos untuk mengurus visa. Surat bertanggal 17 Desember 2007 saya terima pada awal Januari 2008. Pastor Frans Nipa, sekretaris keuskupan menyarankan supaya menggunakan jasa Raptim untuk mengurus visa. Beliau memberikan nomor telepon Bapak Andre di Raptim. Saya menghubungi Pak Andre untuk menanyakan berkas apa saja yang dibutuhkan untuk mengurus visa di Kedutaan Perancis. Saya segera mengurus antara lain surat keterangan dari tempat kerja, surat pernyataan bank dan rekening, booking tiket, pas foto. Dokumen tersebut bersama Paspor asli kukirimkan dengan kurir cepat ke Raptim. Pak Andre sempat memberitahu bahwa sejak awal tahun 2008, Kedutaan Perancis menggunakan jasa VFS untuk urusan visa, sehingga belum ada kepastian waktu selesainya visa.

Ternyata visa schengen tersebut selesai dalam seminggu dan langsung dikirimkan ke alamat saya menggunakan kurir cepat. Saya menyampaikan terimakasih dan apresiasi atas kesigapan layanan Raptim c.o. Bpk Andre dalam pengurusan visa.

Sekarang saya dapat mengatur rute perjalanan. Dimulai dari Paris, menuju ke Taize, lalu terus ke mana? Saya mencari informasi sarana transportasi di internet. Akhirnya menemukan EasyJet, penerbangan murah. Saya memesan tiket penerbangan dari Lyon ke Roma, Roma ke Madrid, Madrid ke Toulouse, Toulouse ke Paris Orly total senilai 115 euro. Beberapa teman di Eropa mengatakan bahwa tiket tersebut benar-benar murah. Iya, mungkin karena pada saat saya mengambilnya jauh hari dan ada promo diskon 25%.

Berangkat
Hari keberangkatan dari bandara Ngurah Rai, Bali pada Jumat, 14 Maret 2008 akhirnya tiba. Br. Francesco dari Taize sempat menelponku mengingatkan bahwa acara pada Minggu Paskah di Taize berlangsung hingga siang hari, saya diminta untuk mengatur jadwal selama berada di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain.
Pukul 19.25 boarding dengan pesawat Singapore Airlines menuju ke Singapura. Tiba pukul 22.30 di Terminal 2 bandara Changi. Setiap penumpang transit ditempeli stiker bertuliskan T3 oleh petugas bandara dengan maksud agar segera menuju ke terminal baru yakni Terminal 3. menurut jadwal yang tertera di layar monitor, pesawat ke Paris boarding pukul 22.50! Ini tentu membuat penumpang transit segera berlarian melewati eskalator menuju ke skytrain yang mengangkut penumpang ke Terminal 3.

Tiba di Terminal baru, saya tidak sempat menikmati pemandangan di sana, termasuk terminal internet yang dipasang untuk penumpang ataupun lantai berlapis beludrunya. Saya menghampiri petugas yang berjaga di pos untuk menanyakan bagaimana cara tercepat menuju ke terminal keberangkatan. Dia menunjuk ke train shuttle yang menuju ke Terminal 1. Katanya kereta itu akan berhenti di depan tempat keberangkatan ke Paris. Namun saya tidak berani mengambil risiko, saya berlari lagi terengah-engah sampai di tempat keberangkatan. Antrian sudah memanjang, beruntung air gelas dari pesawat tadi kubawa sehingga bisa kuteguk memuaskan dahaga. Model transit seperti begini tentu tidak cocok untuk orang lanjut usia karena harus berlari atau setidaknya berjalan cepat agar tidak ketinggalan pesawat.

Pukul 23.30 pesawat berangkat. Perjalanan memakan waktu 12 jam, saya coba menikmati sajian hiburan KrisWorld: beberapa album lagu seperti John Lenon, Katie Melua, dan nonton film dagelan India yang diperankan Shah Rukh Khan “Om Shanti Om”. Kemudian terlelap kecapaian.

kaleidoskop 2008: rainy night in paris

hujan turun deras di trocadero saat hendak melintasi eiffel. seorang gadis duduk berpayung. pemandangan yang sangat artistik. gambar ini pun kuambil dan kubuat versi waterpainted. setiap kali melihatnya masih terasa dinginnya Paris, dan indahnya pemandangan hujan dan kerlap-kerlip lampu di sekujur eiffel. seperti pohon terang.