Friday, September 22, 2006

kesaksian - sepotong kisah dari peristiwa Tibo



KESAKSIAN - Iwan Fals

aku mendengar suara
jerit makhluk terluka
luka, luka
hidupnya
luka

orang memanah rembulan
burung sirna sarangnya
sirna, sirna
hidup redup
alam semesta
luka


banyak orang
hilang nafkahnya
aku bernyanyi
menjadi saksi

banyak orang
dirampas haknya
aku bernyanyi
menjadi saksi


mereka
dihinakan
tanpa daya
ya, tanpa daya
terbiasa hidup
sangsi

orang-orang
harus dibangunkan
aku bernyanyi
menjadi saksi


kenyataan
harus dikabarkan
aku bernyanyi
menjadi saksi

lagu ini
jeritan jiwa
hidup bersama
harus dijaga
lagu ini
harapan sukma
hidup yang layak
harus dibela


Fabianus Tibo, Dominggus Da Silva dan Marinus Riwu telah dieksekusi mati Jumat, 22 September 2006 di ni hari. Berbagai kontroversi menyertai pelaksanaan hukuman mati ini. Berikut ini adalah kutipan kesaksian yang pernah dinyatakan oleh Fabianus Tibo dan dibenarkan oleh Dominggus Da Silva serta Marinus Riwu. Kutipan ini dibuat sebagai press release dari pihak terhukum dan disampaikan kepada berbagai pihak,
termasuk Komisi Hak Asasi Manusia sebagai pembelaan dan juga informasi bagaimana ketiganya bisa ditahan dan dijadikan tersangka kasus kerusuhan Poso.

Kronologis Terjebaknya FABIANUS TIBO, DOMINGGUS DA SILVA dan MARINUS RIWU dalam kerusuhan Poso III

Menurut Keterangan Fabianus Tibo dan Dibenarkan oleh Dominggus dan Marinus Riwu

Pada pertengahan Mei 2000, kami kedatangan seorang utusan dari Tentena yakni: Sdr.Janis Simangunsong, yang bersangkutan membawa kabar bahwa Gereja Sta. Maria Poso akan dibakar dan umatnya akan dibunuh. Sebagai orang tua/wali murid kami merasa kuatir dan gelisah memikirkan nasib anak-anak panti asuhan, para guru, suster, pastor dan lainnya. Pada saat itu pula kami mengadakan pertemuan sesama orang tua/wali murid. Hadir pada pertemuan itu 23 orang. Kami sepakat untuk secepat mungkin menjemput anak-anak bahkan seluruh penghuni yang berada di Gereja Sta. Theresia, Desa Moengko Baru, Poso.

Tanggal 21 Mei 2000, kami 17 orang berangkat menuju lokasi Gereja Sta. Theresia. Dalam perjalanan itu kami singgah di Tentena bertemu dengan Janis Simangunsong, si pembawa berita. Kami tanyakan kembali perihal beritanya, dan sdr Janis menjawab: "Terserah Om Tibo mau pecaya atau tidak, tapi yang pasti berita itu benar". Sayapun balik menentang Sdr. Janis dengan mengatakan seperti : "Bila berita tersebut hanya issu kamu harus menerima resikonya, kami akan lapor ke kantor polisi sebagai provokator". Hari itu kami dan rombongan bermalam di Tentena.

Keesokan harinya pada tanggal 22 Mei 2000 kami dan rombongan berangkat memakai mobil kijang menuju Gereja St. Theresia Poso. Sekitar jam 3 sore kami tiba dan langsung menanyakan berita tersebut kepada Pastor serta Suster dan para Guru, jawab mereka : "kami belum tahu". Kalau begitu, bagaimana kalau Pastur, Suster, Guru serta lainnya ikut kami saja sekarang kembali ke Beteleme bersama anak-anak, dan mereka katakan "tanggung" karena besok hari ujian akan berakhir, bagaimana kalau habis ujian? Kami semua menyetujui, dan kami bermalam di asrama Gereja karena baru besok akan kembali ke Beteleme.

Tanggal 23 Mei tahun 2000, sekitar jam 04.00 (jam 4 subuh) kami terbangun oleh teriakan histeris minta tolong berlari memasuki halaman gereja langsung naik ke gunung di belakang gereja. Ada yang memanggil nama saya seperti "Om Tibo tolong kami, tolong kami". Saya tidak habis pikir kenapa, sebagian massa ada yang memanggil nama saya.

Saat itu pula saya keluar halaman, tiba-tiba lampu mobil mengena muka saya dan terdengar teriakan "siapa itu" (maksudnya saya), saya jawab "ini saya Om Tibo". Polisi-polisi langsung mendekat kepada saya, salah satunya saya kenal yaitu Bapak Anton. Terjadi perbincangan dengan para polisi. Mereka mengira kamilah yang mengadakan penyerangan semalam, tetapi saya jawab kami semua penghuni yang ada di dalam tidak tahu apa-apa, kami mempersilahkan bapak polisi memeriksa ke dalam.

Sementara berbicara dengan para polisi, masa dari Kelompok Putih sudah mulai memasuki halaman gereja, bahkan sudah mengelilingi saya di hadapan para polisi. Sekali lagi saya mencoba menjelaskan bahwa para Suster, Guru yang ikut keluar asrama mau menjelaskan kepada polisi serta massa dari Kelompok Putih, tetapi penjelasan tersebut sia-sia, massa sudah mulai emosi, sebagian meneriaki seperti "Sudah dia, om Tibo yang melakukan penyerangan dan telah membunuh polisi serta mantan lurah Kaimanya", bahkan ada yang mau memukul dan sudah mengancam dengan parang kepada Suster dan Para Guru yang mau menolong menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya. Saat itu pula saya menyuruh suster dan para guru untuk masuk ke dalam karena saya berpikir situasi sudah lain. Saya mengenal salah satu Tokoh Islam yang saat itu ada di TKP bernama Abdul Gafar. Saya sempat menyapa sebagai seorang sahabat.

Selang, beberapa saat para polisi mau membawa saya ke kantor polisi dengan alasan perintah langsung Kapolres lewat HT akan tetapi saya tidak mau karena tujuan kami dan para orang tua/wali termasuk Marinus dan Dominggus yang berada di asrama Gereja adalah membawa dan menyelamatkan anak-anak Panti Asuhan. Saat itu pula para polisi mulai meninggalkan saya sendirian di tengah massa Kelompok Putih. Polisi tidak membubarkan massa saat itu dan selang beberapa lama polisi tinggalkan saya, mulailah massa menjadi-jadi bahkan dengan beringasnya mereka merusak bahkan membakar semua asset-asset gereja, bahkan rumah Gereja Katolik itu sendiri.

Di tengah-tengah amukan massa yang sudah tidak terkendali lagi, saya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya berdoa supaya saya dan penghuni yang ada di dalam bisa selamat dan oleh kemurahan Tuhan sajalah saya bisa menerobos di tengah-tengah massa dan kembali ke dalam asrama, saat itu saya sudah tidak melihat lagi seluruh penghuni asrama. Rupanya mereka sudah menyelamatkan diri lewat belakang asrama naik ke gunung, tinggal saya sendirian di dalam asrama, saya tetap hanya berdoa "Tuhan lindungilah kami". Tiba-tiba saya dikejutkan oleh seseorang yang memakai sepati lars, berkaos loreng, juga bercelana loreng seperti seorang tentara yang mengatakan kepada saya "Om cepat lari selamatkan diri", saya jawab terima kasih. Saat itu pula lewat belakang asrama saya menuju gunung menyelamatkan diri.

Tanpa disangka kami bisa bertemu dan berkumpul di atas gunung. Puji Tuhan, teman-teman lain menyangka bahwa saya sudah mati, tetapi Tuhan menyelamatkan saya, berkumpul dengan anak-anak, Pastur, Suster dan Para Guru, kamipun menengok ke bawah, gumpalan-gumpalan asap tebal sudah menghanguskan rumah gereja, asrama tinggal, aula dan lainnya. Selanjutnya kami mulai berjalan bersama dengan anak-anak Panti Asuhan berjumlah 85 (delapan puluh lima) orang anak, tidak terhitung para wali/orangtua, guru, suster, pastur. Akan tetapi Pastur, Suster serta Sopir Pastur sudah terlebih dahulu berpisah di kebun milik Daeng Hulle.

Saya dan rombongan tetap berjalan walaupun belum sempat makan, kami harus selamat. Dalam hati saya berpikir bahwa jebakan-jebakan kepada kami sudah disusun rapi. Rupanya mereka ingin supaya kami terlibat dalam setiap masalah yang terjadi. Saya yakin Sdr. Janis Simangunsong, bahkan petugas-petugas di Tentena terlibat langsung dalam skenario penyerangan semalam! Mereka sengaja mau melibatkan kami padahal kami hanya pendatang yang mau mencari kehidupan buat anak-anak kami. Semakin jauh kami berjalan semakin pula menguras tenaga, hanya buah-buah dan makanan apa adanya yang kami dapati untuk menguatkan tubuh kami disertai Doa kepada Tuhan.

Akhirnya kami tiba di pinggir kali. Sambil melepas lelah kami bertemu dengan seorang masyarakat yang nama: Henry Mangkawa warga desa Tambaru, saya katakan tolong kami, karena kami dikejar oleh Kelompok Putih, mereka menuduh kami yang menyerang di desa Kaimanya semalam bahkan mereka juga mengatakan bahwa kamilah yang membunuh polisi serta mantan lurah Kaimanya. Akibatnya Gereja kami St. Theresia Poso dibakar oleh massa kelompok Putih. Tapi syukurlah anak-anak, serta Pastur, Suster dan Guru dapat diselamatkan. Bapak Herry katakan: "kami akan menolong bersama seluruh warga Desa Tambaru, akan tetapi kami menolong dulu rombongan yang lebih dahulu, yang dipimpin oleh Ir. Lateka, itu orangnya yang lagi duduk di bawah pohon kelapa yang kepalanya diikat dengan handuk". Rupanya Sdr. Lateka sudah terluka parah dan seorang perawat di desa Tambaru merawatnya. Setelah pertolongan warga kepada Sdr. Lateka dan anggotanya selesai, mereka langsung menuju Tentena, karena mobil mereka sudah datang. Sdr. Lateka selalu memegang Radio (HT) untuk komunikasi. Saya yakin benar dialah orangnya yang menyerang semalam bersama anggota-anggotanya.

Sesudah rombongan Lateka pergi barulah saya dan rombongan ditolong oleh Bapak Herry serta seluruh warga desa Tambaru. Saat itu pula seluruh warga, juga Bapak Herry mengatakan bahwa penyerangan di desa Kaimanya dilakukan oleh Saudara Lateka beserta pasukannya, terbukti 1 (satu) pucuk pistol milik anggota polisi yang terbunuh ada di genggaman Sdr. Lateka.

Selanjutnya jam menunjukkan 03.30 wita (subuh) tanggal 24 Mei tahun 2000 kami meninggalkan desa Tambaru menuju Tentena, sampai di Tentena jam 06.00 wita, sebelumnya kami mampir di desa Kuku Umbu menurunkan anak-anak Panti Asuhan yang tinggal di desa Kuku.

Setelah kami tiba di Tentena kami langsung ditahan serta diancam akan dibunuh bila tidak mengikuti semua petunjuk yang dilakukan oleh Sdr. Paulus Tungkanan. Rupanya beliau sangat dihormati oleh Kelompok Merah sebagai Panglima atau Pimpinan Perang yang sangat ditakuti. Kami tidak bisa berbuat apa-apa apalagi kami hanya sebagai warga pendatang yang tujuannya untuk mencari hidup untuk masa depan anak-anak kami. Syukur anak-anak Panti Asuhan yang kami bawa dari Poso diperbolehkan pulang ke
rumah beserta para Guru, Suster, Pastur dan lainnya. Sedangkan kami tetap tinggal di Tentena dengan maksud dan tujuan yang tidak jelas. Saya dan Marinus juga Dominggus saat itu sudah dipisah-pisahkan di Tentena, oleh Saudara Paulus Tungkanan sebagai Panglima Perang Kelompok Merah.

Suatu ketika saya ikut pertemuan di desa Kelei, kurang lebih 4 (empat) km dari Tentena di rumah anaknya Sdr. Herman Parito. Hasil pertemuan tersebut saya diperintahkan untuk menuju Desa Tagolu, saya sempat bertanya, untuk apa saya mau kesana?. "Untuk apa tanya-tanya?" Hardik Sdr. Paulus Tungkanan. Terus terang saya sangat rindu berkumpul dengan keluarga saya, tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, nyawa saya dan keluarga saya sangat terancam. Untuk Marinus dan Dominggus saya sudah tidak tahu lagi keberadaannya. Saya mencoba mengikut Petunjuk Sdr. Paulus Tungkaman apa maunya dia. Sekira jam jam 15.00 wita (jam 3 sore) saya berangkat ke desa Tagolu, saya mampir dulu di desa Sayo, oleh Bapak Lurah serta masyarakat memberi saya makan bahkan sempat didoakan oleh Ibu Pendeta Sayo.

Saya berangkat dari Desa Sayo jam 7 malam dan tiba di desa Tagolu sudah malam. Nanti ketemu Ir. A. Lateka sudah larut malam. Di situ ada Sdr. Erik Rombot, Soni Rumead yang sibuk bicara via HT. Sdr. Lateka berbicara kepada saya yaitu menggantikan dia dalam melaksanakan tugas, tetapi saat itu pula saya tidak menerima tugas tersebut karena tidak ada kejelasan. Saya tetap waspada karena ternyata saat ke Tagolu hanya semata-mata untuk menggantikan tugas dari Sdr. Ir. A. Lateka. Saya tahu setelah saya menolak tawaran mereka yang bertentangan dengan hati nurani, gerak gerik saya selalu dimonitor oleh Sdr. Paulus Tungkanan beserta anak buahnya serta petinggi-tinggi kelompok Merah (Kristiani).

Pada tanggal 28 Mei 2000 sekitar jam 07.30 di rumah Sdr. Bate Lateka di Desa Tagolu, kami kedatangan 5 (lima) orang anggota Polres Poso yang dipimpin oleh Kapten Mandagi dan 4 (empat) anak buahnya membawa perintah langsung dari Bapak Kapolres Poso sekaligus memohon bantuan kelompok Merah (Kristiani) yang ada di Desa Tagolu untuk mengevakuasi seluruh perempuan dan anak-anak yang berada di KM.9, Komp. Wali Songo dan akan diamankan di Asrama Kompi Kawu, sedangkan para lelaki tetap ditempat untuk menjaga lokasi tersebut. Bapak-Bapak Polisi tersebut diterima oleh Saudara Erik Rombot, Bate Lateka, Angke Tungkanan, serta Ventje Angkouw. Perbincangan tetap berlanjut, saya mohon pamit karena mau menuju Desa Sayo atas perintah langsung Panglima Perang, Paulus Tungkanan via telepon yang diterima oleh Sdr. Erik Rombot.

Saya dan kurang lebih 60 (enam puluh) orang berangkat ke Desa Sayo untuk menjemput 9 orang yang sudah tak berdaya akibat gempuran massa dari kelompok putih. Sekembalinya saya dan teman-teman dari Desa Sayo, di ujung kampung kami dihadang oleh sebahagian masyarakat desa Tagolu yang menyampaikan bahwa di Km.9, komp. Wali Songo sudah terjadi penyerangan yang dilakukan oleh kelompok Merah (Kristiani) yang dipimpin oleh Sdr. Erik Rombot, Bate Lateka, Angki Tungkanan, Ventje Angkouw. Saya tidak mengerti mengapa bisa terjadi penyerangkan di Km.9 (komp. Wali Songo)?

Rupanya perintah langsung Bapak Kapolres untung mengevakuasi massa perempuan dan anak-anak di km.9 ternyata merupakan suatu rekayasa dan permainan politik yang rapi, bahkan masyarakat mengatakan bahwa kejadian di km.9 (komp. Wali Songo) adalah pembuatan Kapten Mandagi dan 4 (empat) anggotanya yang telah memprovokasi massa kelompok Merah (Kristiani), yang saat penyerangan dipimpin langsung oleh Sdr. Erik Rombot, Bate Lateka, Angki Tungkanan, dan Ventje Angkouw, bahkan sebelumnya ada salah satu anggota polisi bernama Peter Pasepe yang berteriak-teriak sambil menangis
yang tujuannya mencari simpati massa kelompok Merah (Kristiani) katanya "Rumahnya habis terbakar dibakar Kelompok Putih (Islam) di Poso. Mulai saat itu disertai emosi yang meluap-luap terjadi penyerangan di Km.9 (komp. Wali Songo) mengakibatkan pembunuhan, pembakaran rumah, di Km.9 (komp. Wali Songo) tidak terelakkan lagi, tetapi ada sebahagian masyarakat yang beragama Kristiani di Desa Tagolu tidak mau mengikuti penyerangan tersebut yang saya yakin semata-mata disuluh oleh api provokasi dari Kapten Mandagi dan 4 (empat) anggotanya. Perintah langsung bapak Kapolres kepada Kapten Mandagi, saya bisa artikan yaitu Perintah Penyerangan.

Ada beberapa hal yang bisa saya sampaikan sehubungan dengan peristiwa penyerangan di Km. 9 (komp. Wali Songo), sebagai berikut : 1. Apa betul Bapak Kapolres Poso (Pa Basaopu) memerintahkan Kapten Mandagi untuk mengevakuasi seluruh perempuan dan anak-anak di Km.9 (komp. Wali Songo) serta harus dibawa di asrama Komp. Kawua? Tetapi mengapa bukan di asrama Polres, karena yang evakuasi tersebut adalah Bapak Kapolres? Atau kenapa pihak TNI tidak dilibatkan untuk pelaksanaan evakuasi?
2. Mengapa perintah Bapak Kapolres hanya ditujukan kepada Massa Kelompok Merah (Kristen) sedangkan yang mau dievakuasi adalah kaum perempuan dan seluruh anak-anak yang beragama Islam?


Saya menduga lanjutan pembicaraan Kapten Mandagi dan 4 (empat) anak buahnya bersama pimpinan Kelompok Merah yang bisa saya sebut Sdr. Erik Rombot, Angki Tungkanan, Bate Lateka dan lainnya, setelah saya tinggalkan menuju Desa Sayo, merupakan strategi penyerangan yang akan dilakukan di km. 9 (komp. Wali Songo).

Perlu saya sampaikan juga bahwa untuk diketahui kehidupan antar umat beragama di km. 9 (komp. Wali Songo) sebelumnya sangat damai, rukun dan tidak konflik. Akan tetapi mengapa kehidupan yang damai rukun bisa mengakibatkan kehancuran?. Apalagi mayoritas di km.9 (komp. Wali Songo) adalah warga pendatang. Semua ini terjadi karena ada kepentingan-kepentingan tertentu baik pribadi maupun organisasi/ kelompok.
Begitupun karena api provokasi yang sengaja diciptakan, orang-orang yang tidak mau bertangung jawab karena tidak suka damai, dan hanya mau mementingkan diri sendiri.

Saya sangat berharap apa yang saya sampaikan dapat dipertimbangkan, karena saya yakin jeritan saya ini merupakan jeritan begitu banyak orang-orang yang tertindas, teraniaya, terancam karena tidak bisa bicara tentang kebenaran dan semuanya ditimpahkan dan dituduhkan kepada kami.

Sayapun sangat berterima kasih bila penyampaian saya ini boleh menjadi pertimbangan Bapak guna pengusutan lebih lanjut, dan saya tiap menjadi saksi apapun resiko yang akan saya terima demi keadilan dan kebenaran!!!

Sayapun sempat kecewa karena suara hati kami mulai persidangan tingkat pengadilan negeri, sampai peninjauan kembali ke Mahkamah Agung, belum diperhatikan secara hukum, semoga saatnya sekarang kebohongan publik tidak akan terjadi lagi. Semua yang melanggar hukum harus taat pada hukum dan perundangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.

Inilah yang dapat saya sampaikan dengan sebenarnya semoga teriakan hati nurani kami dapat didengar sehingga bisa terungkap kebenaran yang sebenarnya.

Terima kasih.

Palu, April. 2005

Yang menyampaikan,
Fabianus Tibo

Dibenarkan oleh
Dominggus da Silva
Marinus Riwu

Sumber : Independent Media Center Jakarta
Keterangan : 21 September 2006

No comments: