Tuesday, December 05, 2006

filosofi lobster


ada teman yang pernah mengingatkanku pada filosofi lobster. ceritanya begini, dia datang ke rumahku dan melihat-lihat kolam lobster di belakang rumah. kami lalu bercerita mengenai lobster. nggak panjang-lebar, soalnya lobster sulit diukur panjang dan lebarnya, lobster suka mencapit sihhh... hahaha.

kukatakan begini: aku mempelajari banyak dari sifat lobster. keliatannya saja lobster mahluk ganas dengan dua capit yang siap mencapit mangsanya. keliatannya dia mahluk yang paling lincah karena mudah melesat mundur menghindar. namun, dia justru sangat lemah pada saat sedang moulting.

secara berkala lobster mengalami moulting alias ganti kulit cangkang.

pada saat itulah dia menjadi mangsa empuk bagi teman-temannya sesama lobster. sifat kanibalisme muncul. hukum alam berlaku: struggle for the fittest. lobster yang selamat dari proses ini mungkin karena berlindung di tempat persembunyian, kalo nggak capitnya mungkin yang kena tebas teman-temannya, dan yang paling sial: tewas sebagai korban kanibalistik.

tapi tunggu dulu. cerita belum berakhir di sini.
lewat proses moulting justru badan lobster menjadi bertambah besar dan gagah. warnanya makin mengkilap. inilah yang akan membedakannya dari lobster lain di kolam.

sehingga kalimat justru dalam kelemahanlah, aku menjadi kuat bukanlah kata-kata kosong. saya mempelajarinya dari lobster-lobster itu.

dan ketika kawan itu baru saja mengingatkanku pada filosofi lobster, aku sempat terhenyak. mungkin karena sudah lama aku tidak memberi perhatian pada lobster-lobsterku... atau karena proses moulting kehidupan yang sedang kualami.

dan dalam lubang persembunyianku,
aku menantikan saat itu
ketika musuh-musuh datang menyerbu
engkau tetap menemaniku

No comments: