Saturday, January 15, 2000

LBH 5 : Home for Christmas

Liburan kali ini memang ajaib. 22 Desember bertepatan dengan ultah adikku di Denpasar, namanya Kiky. Sekarang kelas 2 SMP. Kami ke Pizza Hut mencari "the edge" untuk dibawa pulang... sembari menunggu, saya sempat iseng memperhatikan sepasang muda-mudi yang sedang mengambil salad. Tampak menarik, karena mereka sangat telaten menyusun daun-daun selada di sekeliling sebuah mangkuk (ibarat pagar penahan). Baru kemudian mengisinya penuh dengan bit merah, jagung, kentang, dll... hingga tingginya, minta ampuunnn... Selama ini kupikir kalo mengambil salad di Pizza Hut, sayalah yang selalu mengisi paling penuh dan banyak. Ternyata rekor dipecahkan oleh mereka! Tampilan saladnya pun jadi menarik. Pada bagian bagian terakhir setelah menuangkan Thousand island dan mayonaise (salad dressing), dilekatkan potongan-potongan roti kering (garlic bread) yang sebetulnya untuk sup krim jagung. Kuminta Kiky untuk melihat pemandangan itu, dan kami pun tertawa terkikik-kikik...:-) Sekarang baru tersingkap rahasia cara mengambil salad di Pizza Hut.

Saya jadi teringat sama hidangan di Hogwart sekolah HP. Di sana di sediakan piring untuk tiap-tiap siswa. Secara ajaib hidangan tersaji di piring dan tak pernah habis sampai dimakan kenyang... Jenis makanannya aneh-aneh, ada coklat kodok, kacang segala rasa, serta aneka makanan yang baru terdengar. Uniknya, kacang segala rasa belum ketahuan rasanya kalo belum dimakan... sial sekali kalo dapat kacang rasa kotoran telinga! :-) sorry, demikian itu yang ada di buku HP... hehehe. HP sangat senang dengan kehidupan di sekolah Hogwart dibandingkan tinggal di rumah keluarga Dudley (keluarga angkatnya). Demikian pula saya sangat menikmati makanan waktu liburan ini. Ibuku memasak hidangan yang saya jamin nggak ada di Depok... Apa misalnya? Salad dan pastay. Setiap kali pulang, hidangan ini pasti spesial dibuatkan.

Oh ya, saya belum ceritakan mengenai insiden di "carrefour" cawang gara-gara sebotol mayonaise untuk bikin salad... Begini, ketika Ibuku tahu bahwa saya akan berangkat ke Denpasar, beliau nitip untuk dibelikan sebotol "mayonaise adik bayi". Merek produknya nggak jelas, karena semuanya memakai huruf kanji (Jepang). Yang mencirikan hanya gambar adik bayi berdiri di depan botol itu. Karena itu kami menyebutnya: mayonaise adik bayi. Di Denpasar produk itu nggak ditemukan. Kakak saya memberitahu bahwa ia pernah melihat barang tersebut di Carrefour Cawang, maka kami pun ke sana mencari. Dan memang ketemu barangnya. Seingat saya, barang yang sama pernah juga kulihat di Sogo Bunderan HI. Tapi karena Cawang lebih dekat, kami pun ke sana. Setelah membeli, botol itu kubawa pulang (ke Depok)... Malam hari buruan belajar, karena besok pagi ada ujian.

Sepulang dari ujian, baru sempat kuperhatikan bentuk botol bayi itu. Ya astaga, ada susunan angka tertera pada bungkusnya yang sepintas tidak kelihatan. Kurang lebih menunjukkan expired date: Oktober 2000. Yeee... barangnya sudah kadaluwarsa dua bulan lalu! Kutelepon kakak untuk komplain ke carrefour. Susah juga kepepet waktu. Besok sore sudah harus berangkat, dan pagi hari masih ada ujian terakhir. Dan malam itu harus ke Carrefour untuk menukar mayonaise... Apa boleh buat. Sore kami ke Carrefour lagi, petugasnya membolehkan menukar produk tersebut dengan yang masih aman dikonsumsi. Kami disuruh mengambil sendiri barangnya di rak. Jaraknya lumayan jauh dengan counter tersebut. Kami periksa satu per satu botol yang ada, ya astaga, semuanya (sekitar 12 botol) bernasib sama: kadaluwarsa Oktober 2000! Daripada disuruh bolak-balik mengecek, botol-botol itu kami gendong dan letakkan ke counter petugas... Singkat kata, nggak ketemu mayonaise yang diharapkan di Carrefour. Pulang ke Depok dengan rasa kecewa. Saya lalu minta agar kakak yang mencarikan di Sogo HI.

Apa yang terjadi?? Botol mayonaise adik bayi memang kemudian menyusul, bersama kedatangan kakak dan suaminya (ipar) yang sempat "nyasar" di Riyadh sebelum balik ke Indonesia, bersama seorang adik bayi sungguhan (alias keponakanku) yang lagi lucu-lucunya. Namanya Aristides. Kami dapat berkumpul merayakan Natal dan Tahun Baru di sini, menikmati salad dengan mayonaise (dressing) yang belum kadaluwarsa, bergaya di pantai sepi di Kuta, pesta sate di teras, bermain kembang api di malam tahun baru, "berkejaran" dengan monyet di tebing Uluwatu, bengong dikeroyok para penjaja di Kintamani, berhujan-hujan di jalan ke Besakih, menggotong durian sejauh 50 km dari Klungkung...

Apa yang dapat kukatakan selain bahwa liburan kali ini memang ajaib?? Dan memang, keajaiban tidak hanya bisa dialami Harry Potter...
.HABIS.

LBH 4 : Doyong ke Kiri, Doyong ke Kanan...

Bali dalam kegelapan sama saja suasananya dengan daerah lain yang pernah kulewati tengah malam. Membosankan. Apalagi pakai acara tikungan berliku-liku, biasanya memabukkan kalau tidak sedang ketiduran di bus... Untungnya perjalanan dari Gilimanuk ke terminal Ubung Denpasar hanya tiga jam. Penumpang dibangunkan pakai musik rock. Kreatif juga sopir bus PT KAI, pikirku :-) Dipikirnya semua penumpangnya turis bule, kali.

Kami mendarat sekitar pukul 21.00 di terminal Ubung... Yang menjemput: persoalan :-). Iya, karena masalah utama di Denpasar adalah transportasi. Jangan berharap ketemu taksi atau bus kota di sana. Taksi dilarang memasuki areal terminal. Sedangkan bus kota?? Di Bali nggak ada bus kota, yang ada cuma bus pariwisata :-)... "penguasa" terminal adalah ojek ataupun mobil omprengan (sewa) untuk jarak jauh. Tarif resminya nggak ada, tergantung kepandaian menawar calon penumpang.

Pernah sekali aku ditertawai teman dari Jerman yang lagi liburan di Bali. Waktu itu dia tanya, "kamu bayar berapa dari Ubung ke Sanglah". Kubilang: Sepuluh ribu. Dia tertawa terbahak-bahak, dengan tampang menyebalkan dia bilang: "Saya dari Ubung ke sini cuma bayar limaratus rupiah..." Gila juga turis ini, dia hapal tarif di Bali... Iya sih, soalnya setahun tiga kali jadwalnya liburan ke Bali. Kalo semua turis macam dia, bisa rusak harga pasar di Bali :).

Dengan menggendong barang bawaan, saya keluar terminal mencari ojek. Beberapa ojek yang kutawar nggak mau kurang dari limaribu perak untuk jarak kurang satu kilometer ke rumah... karena sudah malam, kuterima saja. Sambil dongkol tentu saja. Bayangin ojek di Depok saja paling banter dibayar Rp 1500-2000 sudah bisa diajak putar-putar kampus UI... Makanya pada keluarga di rumah kubilang: kalo semua tukang ojek di kampus UI dibawa ke Denpasar, mereka bisa cepat kaya... hehehe. Muncul ide di kepala, sekali-sekali nongkrong di depan Ubung jadi tukang ojek. Lumayan, buat uang saku liburan... :)

Home sweet home. Dengan satu tarikan gas, kami sudah tiba di depan rumah... Keluarga sudah menanti, namun nggak menyangka saya muncul semalam itu. Yah, maklum sempat mengukur panjang pulau Jawa dan Bali pakai kereta api... :-) Rasanya masih jetlag (tepatnya: "trainbuslag") alias doyong. Untung nggak dinyanyikan: doyong ke kiri, doyong ke kanan, tralala...lala... Yang penting sudah tiba dengan selamat. Liburan sudah dimulai. Mandi air hangat, makan malam, ngobrol, kemudian bobok. Buku HP sudah kembali di samping bantal, goodnight...

bersambung ke LBH 5...

LBH 3 : Selat Bali Kembali

Selat Bali akhirnya. Kembali lagi akhirnya. Menembus selat ini sama dengan menembus tirai waktu antara wilayah Indonesia Barat dan Indonesia Tengah. Kami tiba di dermaga Ketapang sekitar pukul 16.00, setelah dijemput oleh bus PT KAI dari Stasiun Banyuwangi. Bus penuh disesaki penumpang yang ingin ke Bali. Penumpang diminta naik ke kapal Ferry, sementara bagasi ditinggalkan di bus. Rasanya aneh juga, karena pada perjalanan sebelumnya, bus tidak ikut nyebrang... mungkin sudah terjadi perbaikan layanan PT KAI. Dan ini tentu menguntungkan bagi penumpang yang membawa bagasi banyak, misalnya bapak-bapak yang duduk di sebelahku. Katanya mereka habis mengikuti pelatihan kepolisian di Bandung, dan sekarang mereka hendak pulang ke Kupang. Ke Kupang?? Masyaallah... berarti ini belum setengah perjalanan yang ditempuh.

Sembari berjalan ke dermaga kami ngobrol. Mereka bercerita, masih untung mereka dapat bangku di kereta ke Banyuwangi, soalnya waktu berangkat dari Bandung ke Yogya, mereka dapat tiket "no seat"... alias harus berdiri sepanjang jalan. Biasanya sekalipun dapat tiket "no seat" kenyataan di KA masih ada beberapa bangku kosong, kali ini benar-benar "no shit" alias nggak bohong, mereka harus berdiri... :-)

Sore begini dermaga Ketapang tidak ramai. Hanya beberapa mobil besar (truk, bus) yang nyebrang... Pemandangan indah kunikmati: laut. Rasanya di Depok belum pernah kulihat laut :-)... Beda dengan Makassar, sehari-hari bisa melihat laut, karena lokasi kampus sangat dekat dengan pantai.

Apa yang bisa dibayangkan dari Selat Bali selain keindahannya?? Kengeriannya. Sungguh. Pernah dalam perjalanan pulang ke Jawa, kapal ferry yang kutumpangi terguncang oleng kiri-kanan oleh arus selat yang terkenal ganas. Penumpang kontan panik dan menjerit-jerit mengucapkan doa: "Allahuakbar..." ketika dek kapal nyaris mencium permukaan laut... Jadi teringat sama film Titanic :-), "You jump, I jump". Padahal waktu itu hari masih siang. Di kejauhan dapat terlihat sebuah kapal ferry lain sementara "bergulat" melawan "terkaman" arus dan lebih parah kemiringannya. Untung dari kejauhan terlihat sebuah kapal mendekat untuk menolong...

Di atas selat bali kembali... Termangu melihat tenangnya permukaan laut. Kubayangkan di dasarnya terdapat sebuah palung yang telah menelan beberapa kapal ferry yang baru-baru kudengar tenggelam tersedot arus palung... ah, sudah ah... protes seorang teman bergidik, cerita yang bagusan dikitlah. Namun itulah kenyataan yang kurenungkan, di balik keindahan alam tersimpan potensi yang luarbiasa tak terbayangkan.

Harry Potter-nya mana?? HP-nya disimpan dulu. Karena di kapal ada atraksi menarik. Seorang penjual (kayaknya ABK sendiri) menawarkan tas multi guna. Dengan beberapa lipatan, sebuah tas dapat menjadi topi, ikat pinggang, blangkon, gendongan bayi... dan beberapa fungsi lain. Banyak penumpang yang tertarik menyaksikan atraksi promosi itu, termasuk turis-turis bule. Mereka terbahak-bahak ketika penjualnya memperagakan bagaimana menggendong dan menyusui bayi menggunakan tas tersebut. Hiburan gratis untuk rakyat.

Kami mendarat sekitar pukul 17.00 (berarti pkl 18.00 WITA) di Gilimanuk, Bali. Ya astaga, bus PT KAI yang harus mengantar ke Denpasar belum ada di sana! Petugasnya berusaha menjelaskan kepada penumpang mengenai keterlambatan bus dari Negara. Kami menunggu. Kembali saya tenggelam bersama HP yang sedang bertanding Quidditch dengan serunya... Beberapa penumpang duduk di halaman rumput dermaga, beberapa di dalam bus. Ada yang menggerutu, karena perjalanan ke Denpasar sekitar 3 jam dipastikan tiba malam.

Ketika itu HP sedang berjuang mengendalikan sapu terbangnya untuk menangkap Snitch (bola emas terbang) dalam pertandingan melawan anak-anak Slytherin yang terkenal jahat... dan ups, HP terjerembab ke bumi. Seketika hening. Namun ternyata dalam genggamannya terdapat Snitch, sebelum HP pingsan. Horreee... semua penonton bersorak. Tanpa sadar, saya pun melompat-lompat di halaman rumput itu.

Sekitar 45 menit menunggu, baru kemudian 2 bus PT KAI datang. Hari sudah mulai gelap, dan kami meneruskan perjalanan dalam kegelapan pulau dewata...

bersambung ke LBH 4...

LBH 2 : Peron Sembilan Tiga per Empat

Di ransel punggung selalu kusediakan bahan bacaan untuk perjalanan. Kali ini beberapa novel dan beberapa buku renungan untuk refleksi akhir tahun. Di antaranya: Harry Potter 2 jilid. Buku ini sudah lama menemaniku tidur, jilid pertama kubeli sekitar 3 bulan lalu. Namun sebagaimana kebiasaan jelekku membaca buku nggak bisa cepat, kata-per-kata biasanya kunikmati. Makanya bagi saya buku renungan maupun novel sama saja: cara membacanya... :-) Bayangkan dalam 3 bulan ini belum 1 bab selesai kubaca... padahal kakak saya meminjam kedua buku itu dan dihabiskan kurang tiga hari! Iya sih, soalnya banyak waktu luang yang bisa dipakainya untuk membaca... sedangkan saya baru sempat membuka buku itu kalau sudah tergeletak di tempat tidur alias sebelum tidur malam. Itupun harus bersaing dengan buku-buku lain setumpuk di samping tempat tidur... :-)
Di kereta api baru dapat kunikmati kisah Harry Potter tanpa terganggu...

Jeleknya, Harry Potter (HP) sanggup menyihir pembacanya yang sudah "tuning" dengan jalan ceritanya. Bab demi bab rasanya makin membuat penasaran, diselingi bumbu kelucuan dan keajaiban. Saya dapat membayangkan mengapa anak-anak di Amerika dan Eropa jadi tergila-gila dibuatnya, bahkan rela ngantri di depan toko buku berjam-jam sebelum toko dibuka demi mendapat edisi terbaru HP. Contohnya, Peron sembilan tiga per empat tempat kereta api Hogwart Express yang akan mengantar HP ke sekolah sihir Hogwart benar-benar lucu dan mendebarkan ketika pertama kali dicari...

Untungnya peron tempat keberangkatan kereta di Gambir tidak sesulit itu mencarinya, sekalipun jadwal kereta banyak yang terlambat karena arus mudik. Di Stasiun Turi baru muncul masalah. Tiket yang kupegang mentok di sini. Padahal tujuan perjalanan ke Denpasar... Ketika kudengar petugas mengumumkan bahwa penumpang yang ingin melanjutkan ke Banyuwangi dan Denpasar dapat menumpang kendaraan yang disediakan PT. KAI ke Sta. Gubeng, hatiku senang sekali. Sudah ada colt yang menunggu di luar. Yang menumpang hanya tiga orang, termasuk saya... Padahal tiket KA ke Denpasar aku belum punya.

HP harus mengalah dengan lawannya yang tidak seimbang: Kompas. Pagi itu Kompas terbit lebih tambun daripada biasanya: 70 halaman. Apalagi berita utamanya tentang bom yang meledak di RS Yogyakarta. Wow... it's real world! Seandainya HP muggle (manusia) real, maka saya akan meminjam Nimbus 2000-nya (nama sapu terbang HP) ke Yogya... Buat apa?? Jalan-jalan ke Malioboro, mampir ke USD dan Atma Jaya Yogya tentu saja. :-) Soalnya waktu di peron Gambir, sempat ketemu seorang anak Jepang mahasiswa FSUI. Rambutnya dicat merah. Katanya dia mau ke Yogya liburan. Namanya Miyako, Masako, apa Ajinomoto?? Ahh, sudah lupa... tapi kalo ketemu anak itu di kampus saya pasti dapat mengenalinya. Soalnya kami sempat ngobrol panjang pakai bahasa "planet" (gado-gado) di peron Sta. Gambir sebelum Sembrani tiba.

Oh ya, tiba di Gubeng pagi sekali, pukul 05.45. Loket baru buka pk. 06.00. Jadi ngantri di depan loket bersama beberapa calon penumpang KA. Mutiara Timur. Ketika loket sudah buka, saya beruntung masih dapat tiket Eksekutif. Dan itu tiket terakhir yang dijual. Sisanya tiket Bisnis. Saya pernah menempuh rute ini sebelumnya, dan sangat membosankan. Enam jam jarak yang ditempuh siang bolong. Kereta baru akan berangkat pk. 08.20.

Sta. Gubeng lebih asri dibandingkan Sta. Turi. Mungkin karena kepala stasiunnya beda, ya?? :-) Banyak penumpang yang sedang menunggu keberangkatan, kursi-kursi penuh terisi. Kebetulan ada wartel di stasiun, jadi aku ke sana. Just to say hello... daripada bete nongkrong dua jam.

Ada peristiwa lucu sempat terekam, ketika KA Sancaka (jurusan Yogya apa Solo??) sudah bergerak hendak berangkat, mendadak seorang ibu yang sedang menggendong bayi diikuti suami dan anggota keluarga lain yang baru tiba berlarian masuk ke peron... petugas KA di peron segera meniup peluit. Kereta berhenti, dan mereka segera loncat ke dalam... Bukan main, "high risk", karena setahu saya pemakaian rel KA sudah terjadwal apalagi untuk jalur padat pada musim mudik ini.

Kereta akhirnya nongol juga. Eksekutif hanya disediakan satu gerbong, dan letaknya pada gerbong terakhir. Lumayan nyaman untuk menghabiskan 6 jam jarak Surabaya-Banyuwangi... Sepanjang jalan, saya terbang lagi ke Hogwart bersama HP...

bersambung ke LBH 3...

Liburan Bersama Harry potter 1 [LBH1]: Mengejar Hujan, Mengejar Ujian

Pengantar:
Liburan akhir tahun 2000 kutuangkan dalam tulisan bersambung bagi rekan-rekan milis. Ada beberapa bagian merupakan hasil refleksi, namun selebihnya kisah pengalaman perjalanan... selamat membaca.

Ramalan cuaca akhir tahun 2000 di Indonesia cukup membuat waswas, karena bertepatan dengan 2 kegiatan yang kujadwalkan di bulan Desember 2000: ujian akhir semester (uas) dan liburan! UAS yang semula dijadwalkan akhir bulan sempat diprotes mahasiswa FSUI, karena ada 2 hari raksasa (lebih dari "besar") yang bergandengan: Natal (25) dan Lebaran (27-28). Sehingga FSUI memajukan jadwal ujian pada minggu kedua dan ketiga Desember. Sementara liburan, semula kurencanakan ke Makassar untuk menjenguk kampung halaman yang lama tak terdengar kabarnya... Namun rencana ini akhirnya juga bergeser, karena padatnya arus mudik: tiket Pelni di kemayoran amblas diborong calo. Mau naik kapal perang? Nggak lucu, masak pulang ke kampung halaman naik kapal perang dalam masa damai?

Pulang dari kemayoran kehujanan tanpa tiket di tangan, akhirnya datang ilham untuk menyusun rencana cadangan (plan B): memutar rute liburan. Ke Denpasar, terus ke Makassar baru kembali ke Jawa. Beberapa pihak kumintai pendapat, dan mereka malah memanas-manasi, "Ke Denpasar dulu, Ton. Sungkeman sama ortu-mu... baru ke Makassar ngurus yang lain. Ntar lu kualat". Makanya, saya tidak mudah percaya waktu diberitakan Mas Tommy (soeharto) nggak muncul waktu sungkeman lebaran kemarin :).

Naik KRL ke Gambir, di sana malah bingung, "nowhere to go". Loket kereta eksekutif dipindah ke Juanda karena renovasi Sta. Gambir. Petugasnya bilang reservasi tiket baru dapat dilakukan minimal 7 hari sebelum keberangkatan. Bila tiada aral ujian menghadang, saya merencanakan tanggal 19 Desember berangkat. Berarti paling cepat tgl. 12 Desember baru loketnya dibuka. Kakak saya (putri) menawarkan bantuan. Kantornya berada di kawasan Harmoni tidak jauh dari Stasiun Juanda, dia berjanji akan mengantrikan tiket pada hari itu.

Tibalah UAS, Wisma Bimbang Ceria (WBC) mendadak sepi. Para penghuninya tekun meditasi di hadapan buku-buku... Oh ya, WBC adalah nama pondokan kami di Depok. Penghuninya kebanyakan pustakawan JPA yang sedang "dihukum" menjalani serangkaian kegiatan kepustakawanan di pa-Depok-an...
Apalagi pada malam menjelang Ujian matakuliah Ibu Irma... sepi hening nan sunyi nian, transfer ilmu dapat berlangsung sangat cepat bila diukur dengan satuan nbps (nbps: nano byte per second :-)).

Sayangnya, bila dibandingkan hardisk, mutunya jelek...:-) karena pada sore sehabis ujian satu-satu mengaku sudah (atau pura-pura) lupa pada apa yang dipelajari dan diujikan. Gantinya: acara soda gembira dan ayam panggang. Ada teman WBC yang mengaku sudah kelar masa "hukuman"nya, sehingga acara ini sekaligus acara akhir tahun sebelum ia berangkat liburan untuk menunggu wisuda. Namun yang penting, semuanya bergembira bersama soda gembira... kesusahan sehari cukup untuk sehari, hari esok punya kesusahan sendiri...

Kawan-kawan yang masih punya jadwal ujian harus segera menyiapkan diri dan menyelesaikan beberapa tugas matakuliah. Sementara itu kudengar kabar baik (karena ditelepon pagi hari), kakak saya sedang ngantrikan tiket di Juanda sejak subuh, dan tiketnya masih dapat. Thanks God.

Pada jadwal ujian kulihat masih ada satu matakuliah diujikan pada tanggal 19 Des. pagi. Keberangkatan KA: 19 Des. sore. Lumayan, pasti terburu-buru, pikirku. Dan benar, berangkat ke stasiun gambir sore itu terburu-buru sehingga beberapa bahan (PR) yang menurut rencana kukerjakan waktu liburan tertinggal di Depok.

Hujan yang diramalkan ternyata tidak jua turun di sepanjang perjalanan. Namun penumpang yang membludak di stasiun memang sesuai dengan ramalan H-7 Lebaran. Baru kusadari, satu semester telah berlalu di tengah derunya laju kereta api...

bersambung ke LBH 2...

Thursday, December 16, 1999

Sang Humanis, Bukanlah Superhero [Soe Hok Gie, 1942-1969]

Suatu hari Soe Hok Gie melihat seekor monyet diikat di pinggir jalan, karena kasihan melihat kondisi monyet yang sedang sakit ia mengeluarkan beberapa keping uang dari sakunya. Monyet itu dibeli dan dirawat hingga sehat kembali. Namun setiap kali hendak pergi kuliah, tugas perawatan diserahkan kepada sang kakak dengan pesan singkat, “Rief, jangan lupa kasih makan monyetku”.
Sialnya, monyet itu lebih bersahabat dengan Hok Gie daripada kakaknya. Demikian sepenggal pengalaman dikisahkan Arief Budiman, sang kakak, dalam acara Diskusi Sehari “Mengenang Seorang Demonstran: Peringatan 30 Tahun Soe Hok Gie” yang diselenggarakan Iluni FSUI (Ikatan Alumni Fakultas Sastra Universitas Indonesia) dan Mapala UI di kampus Universitas Indonesia, Depok.


Kisah mengenai Soe Hok Gie dengan monyetnya menegaskan gambaran sisi kemanusiaan (humanis) dan keluguan Hok Gie, yang lebih dikenal sebagai pemikir kritis di tahun 1960-an. “Soe Hok Gie dikenal bukan pertama-tama karena ia memimpin demonstrasi, melainkan gerakan moral yang dilakukannya melalui tulisan. Ia berpolitik karena suatu prinsip, namun tidak mau bergabung dengan partai politik mana pun”, kata Arief. Dalam catatan hariannya yang telah diterbitkan oleh LP3ES berjudul “Catatan Seorang Demonstran” (1983) dapat dibaca refleksi sikap moral Hok Gie sebagai intelektual muda terhadap situasi politik zaman itu yang terkesan tanpa kompromi.

Anti-hero
Arief sempat menyatakan keheranannya bahwa setelah 30 tahun nama Soe Hok Gie masih diingat orang padahal periode politiknya cukup singkat, hanya sekitar tiga tahun (1967-1969). Contohnya, jajak pendapat yang dimuat di majalah Tempo no. 36/XXVIII edisi 8-14 November 1999 mengenai siapa yang dapat disebut sebagai pahlawan. Nama Soe Hok Gie tertera di antara deretan nama besar tokoh-tokoh Indonesia. Hok Gie disebut sebagai pahlawan oleh empat persen responden, setingkat dengan nama Wiranto dan Budiman Sujatmiko; namun berada setingkat di atas nama Benny Moerdani dan Ali Moertopo yang memperoleh tiga persen suara.
Terhadap hasil jajak ini, secara bercanda Arief mengungkapkan adanya persaingan sebagai kakak-adik antara dirinya dengan Hok Gie. “Dibandingkan Hok Gie, sebenarnya tulisan saya jumlahnya lumayan lebih banyak. Karena itulah saya merasa iri terhadap hasil jajak pendapat di Tempo”.

Mengenai kepahlawanan, dijelaskan Arief, zaman Suharto (Orde Baru) merupakan zaman “heroisme”, karena begitu banyak bintang anugerah kepahlawanan yang diberikan oleh negara kepada siapa saja yang dianggap “pahlawan”. Padahal yang dibutuhkan oleh masayarakat sesungguhnya “moral leaders” dan “anti-hero”, yakni pemimpin humanis yang tidak perlu dikuburkan di Taman makam Pahlawan.

Mohamad Sobari, peneliti LIPI, mengakui bahwa Hok Gie punya kelebihan yakni keberanian berbicara ketika orang-orang tidak berani dan tidak memiliki akses untuk berbicara. Satu hal yang disayangkan dan dianggap sebagai suatu “kecelakaan” oleh Sobari, Hok Gie sempat menaruh kepercayaan pada tentara untuk membangun institusi demokrasi negara ini. “Apakah ia hendak menyembunyikan rasa takutnya dengan seolah-olah membenturkan kepalanya di tembok dan mengungkapkan harapan absurd pada tentara?" tanya Sobari.

John Maxwell yang turut hadir dalam diskusi ini pernah menyusun disertasi berjudul: “Soe Hok Gie a biography of a young Indonesia intellectual” (Australian National University, 1997) menjelaskan dalam tesisnya bahwa Hok Gie mendukung secara terbuka para perwira senior Angkatan Darat sepanjang akhir 1960-an. Ia berharap bahwa mereka akan membawa Indonesia kepada suatu masyarakat yang adil dan sederajat, tetapi menjelang akhir 1969 semakin jelas baginya bahwa ia telah salah menaruh kepercayaan. Semakin dalam perasaan keterasingan dan keputusasaan Hok Gie, akhirnya timbul suatu sikap acuh terhadap dunia politik Jakarta yang semakin melebarkan jangkauannya. Hal ini yang kemudian membuat ia memilih untuk mengasingkan dirinya di puncak-pucak gunung di Jawa, dimana dia merasakan bisa menyatu dengan alam dan di atas segalanya dia bisa merasa bersih.


Dalam catatan hariannya, Hok Gie mengungkapkan, “Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauh-jauhnya”. (LP3ES, 1983, h.221).

Kritis-Militan
Ignas Kleden, pengajar STF Driyarkara, mengaku secara fisik tidak mengenal Hok Gie, tetapi telah membaca tulisan-tulisannya yang waktu itu banyak dimuat di koran (Kompas, Sinar Harapan) sejak masih di kampung dulu. Hok Gie menurutnya mengartikan kebenaran sebagai tindakan yang sesuai dengan hati nuraninya, pembelaan terhadap kaum lemah (istilah yang dipakai Hok Gie: orang-orang kalah), dan kesesuaian kata dengan perbuatan.

Menurut Ignas, wajar bila seorang intelegensia menganggap diri lebih dari anggota masyarakat lainnya, karena pertama-tama ia harus menuntut lebih dari dirinya sendiri. Soe Hok Gie memusuhi sikap hipokrit termasuk dalam hal keberagamaan. Ia pernah menulis: “maaf, saya saya tidak percaya pada 'Tuhan'”. Dalam surat kepada sahabatnya ia berkata: “... dahulu kita melawan revolusi dan kini kita melawan 'Tuhan', jauh lebih sulit sekarang, dan hanya orang-orang yang berani sajalah yang dapat membuka kedok kaum munafik. Seolah-olah hanya mereka sajalah pemilik Tuhan, dan kita semua orang-orang yang tidak tahu apa-apa”. Kalimat itu dilontarkan Hok Gie karena kekesalannya melihat organisasi keagamaan (HMI, PMKRI) waktu itu cenderung ditunggangi motif propaganda politik mahasiswa di kampus UI.

Ignas menyatakan terkesan pada sikap spiritualitas Hok Gie yang disebutnya sebagai examination of conscience (latihan kepekaan hati nurani) dari waktu ke waktu. Menurutnya, orang yang bersikap kritis biasanya tidak militan, demikian pula orang yang bersikap militan biasanya tidak kritis terhadap situasi. Namun Hok Gie memiliki keduanya, sikap kritis yang sekaligus militan.

Dalam buku Mengenang Seorang Demonstran yang diterbitkan oleh Iluni FSUI-Mapala UI, disebutkan bahwa sikap konsisten Hok Gie menempuh jalan sulit serupa dengan Noam Chomsky, intelektual kontemporer terkemuka yang juga pakar linguistik dari Massachusetts Institute of Technology. Seperti halnya Chomsky, Hok Gie cenderung menempatkan diri di sisi orang-orang yang kalah. Misalnya, simpati yang dia perlihatkan kepada keluarga Partai Komunis Indonesia (PKI) yang mengalami dehumanisasi.

Sejak lama Soe Hok Gie menaruh perhatian pada pergerakan PKI. Skripsi sarjana mudanya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI yang kemudian dibukukan “Di Bawah Lentera Merah” (Bentang, 1999) menganalisa Sarekat Islam Semarang yang kemudian melahirkan Sarekat Islam Merah, gerakan marxis pertama di negeri ini. Untuk skripsi sarjana penuh di universitas yang sama, ia mengangkat soal pemberontakan PKI di Madiun. Skripsi yang menelaah tragedi kemanusiaan itu telah dibukukan berjudul: “Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan” (Bentang, 1997). Kedua telaah humanistis tersebut sampai sekarang masih termasuk karya terbaik tentang PKI yang pernah dihasilkan peneliti Indonesia.


Apakah Hok Gie seorang komunis? Pertanyaan ini banyak diajukan oleh kaum muda yang sepintas membaca bukunya. Menurut Ignas kleden, bukan persoalan kiri (komunis) atau kanan, yang terutama adalah moral force yang dilakukan Hok Gie. Anak muda yang dipuji Soedjatmoko itu hanyalah seorang cendekiawan humanis.

Kolusi Aktivis PRD
Hendri Kuok, aktivis Partai Rakyat Demokratik, dalam diskusi ini menuturkan pertama kali mengenal nama Soe Hok Gie ketika ia masih duduk di bangku SMA melalui buku “Catatan Seorang Demonstran”: Waktu itu, guru di sekolahnya melarang buku itu dibaca oleh para murid. Setelah melakukan kolusi dengan pustakawan, ia pun dapat membaca buku itu secara sembunyi-sembunyi. Ketika duduk di bangku Perguruan Tinggi dan mulai terjun dalam gerakan mahasiswa, Hendri punya kesempatan yang lebih banyak mendiskusikan siapa Soe Hok Gie dan pemikiran-pemikirannya.
“Catatan Seorang Demonstran” yang diijinkan beredar oleh pemerintah waktu itu bahkan sempat dianggap sebagai 'kitab suci' oleh kawan-kawan aktivis SMID. Bahkan menurut Hendri, ada seorang teman yang sedikit mengalami gangguan jiwa merasa dirinya sebagai reinkarnasi Soe Hok Gie.

Kemudian muncul kesadaran bahwa tindakan mereka justru bertentangan dengan pemikiran Hok Gie. Kultus individu dan dogmatisme tidak ada dalam kamus hidup Hok Gie. Mereka berusaha membuang jauh-jauh pemujaan berlebihan dan mencoba membumikan pemikiran-pemikiranya dalam realitas politik.

Intelektual yang gelisah
Soe Hok Gie, pemuda berperawakan kecil yang menurut sahabat-sahabatnya tidak memiliki ketampanan, dilahirkan tanggal 17 Desember 1942 sebagai putra keempat seorang penulis dan redaktur bernama Soe Lie Piet. Ia tak pernah membayangkan namanya akan dikenang (oleh aktivis angkatan ‘66 dan Mapala UI) apalagi dianggap sebagai super-hero oleh aktivis zaman sekarang. Hok Gie meninggal sebagai intelektual yang gelisah tepat sehari sebelum ulangtahunnya yang ke-27 yang ingin dirayakannya di Puncak Mahameru, Jawa Timur bersama sahabat-sahabatnya. Ia gugur bersama Dhavantari Lubis, rekan anggota Mapala UI karena terjebak gas beracun.

Kuburan Hok Gie sempat dua kali dipindahkan sebelum akhirnya diperabukan. Pertamakali ia dimakamkan di Menteng Pulo berdampingan dengan Dhavantari Lubis sahabatnya. Kemudian jasadnya dipindahkan ke kuburan zaman Belanda di Tanah Abang, karena keluarga Hok Gie terus menerus diganggu oleh pemerasan kecil di Menteng Pulo.

Pada nisan marmer puti terukir lirik lagu rohani kesayangannya: “Nobody knows the troubles I see, nobody knows my sorrow” (Tak seorang pun tahu kesusahan yang kusaksikan, tak seorang pun tahu kepedihaanku). Lirik lagu nostalgia ini juga dicantumkan dalam teks lagu yang disusun Iluni FSUI untuk dinyanyikan pada akhir acara diskusi, antara lain berbunyi:
“Nobody knows the troubles I’ve seen,
nobody knows but Jesus.
Nobody knows the troubles I’ve seen,
glory Halleluya”


Tahun 1975, pemerintah kota Jakarta memindahkan kuburan Tanah Abang untuk tujuan pembangunan. Jasad Hok Gie dikremasikan. Pada hari peringatan ulangtahunnya, abu kremasi dibawa oleh sahabat-sahabatnya dan ditaburkan di tempat yang sering dikunjungi Hok Gie saat ia butuh kedamaian dan kesendirian, yakni lembah Mandalawangi dekat puncak Pangrango, sekitar 90 km selatan Jakarta.

Dalam puisinya berjudul “Mandalawangi-Pangrango” yang ditulis tanggal 19 Juli 1966, Hok Gie berkata:
“Senja itu ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
.....
Aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup”.
*** [Toni Sidjaya]