lepaskan genggamanmu pada tiang perahu berjalanlah di atas gelisah ombak dan badai kemarahan yang membuat rambutmu bergelora di sela kilat dan guruh sambung menyambung, datanglah padaku
meniti satu tapak demi satu tapak kaki bayi yang baru lepas susu dan belajar berjalan meski jatuh dia merangkak terus berceloteh gumaman cinta yang tak tertahankan
lihat, aku kan mengejarmu meski tertatih oleh berat langkahku sesaat sebelum pongahku menenggelamkan hampir ke dasar samudera cintamu dan dikau memegang tanganku seolah takkan lepas lagi diriku darimu
angin timur berhembuslah, angin barat mengamuklah, menghantam mengharu biru dirinya yang tetap menungguku
makassar, 090609
Tuesday, June 09, 2009
pada mulanya 3
Label: poems
Monday, June 08, 2009
pada mulanya 2
semuanya diciptakan pada dirimu, senyummu, wajahmu, tangisan, tawamu dan aku bagian sel yang terbelah dari potongan selmu yang hilang tatkala swargaloka dan bumi masih satu daratan sehingga orang tua-tua mengisahkan ibarat dongeng atau sebutlah legenda
Label: poem
pada mulanya
semesta berpendar di matamu senjakala matahari meledak dan melahirkan bintang baru saat kududuk di garis pantai yang pernah menghantam dan menyeret cakrawala masuk ke dalam pusaran gelap keabadian bersama sepotong bayangan yang mengajakku menari-nari
Label: poems
Thursday, June 04, 2009
Omnipotent-nya RS Omni

kasus Prita yang beberapa hari ini menjadi sorotan media, mengantar ingatan saya kepada masa kelabu rezim Soeharto dan kekuasaannya. aroma ketakutan begitu tajam menusuk. pers dikendalikan. kebebasan bersuara dipasung. saya masih ingat, majalah Suara Independen, media bawah tanah yang diterbitkan dengan cara fotokopi dari satu tangan ke tangan lain menjadi artikulasi pembebasan informasi dari belenggu tirani. kebenaran pada waktu itu merupakan suatu kemewahan yang amat sulit diperoleh.
seorang ibu rumah tangga menuliskan pengalaman buruknya mengenai pelayanan yang diterima dari RS Omni. kemudian dia justru ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. apa yang tersirat dari peristiwa ini?
saya tidak tertarik menganalisa detil peristiwa yang dapat menjadi bahan studi kasus kedokteran dan hukum. namun jelas sekali, aroma ketakutan itu begitu tajam baunya kembali dihembuskan ke masyarakat. suatu tanda peringatan seolah ditunjukkan melalui pelajaran pahit bagi Prita sang ibu rumah tangga: penjara.
pertanyaan saya: seberapa Omnipotent-kah (mahakuasa) RS Omni itu? siapa tuan besar yang ada di balik RS Omni sehingga bisa menyuruh jaksa mengenakan tahanan penjara bagi Prita?
lalu babak berikut muncullah lakon cari muka politisi. beramai-ramai mereka menjadi tamu di halaman rumah Prita, seolah mereka pahlawan kesiangan yang membebaskan Prita. musang berkedok domba pun menyaru di antara pejuang rakyat.
rakyat jadi bingung diterjang hantaman pemberitaan beruntun: Rani, Manohara, Ambalat, dan terakhir Prita. kemudian tayangan kampanye Capres dan Cawapres mengajak untuk: "Lebih Cepat Lebih Baik, Lanjutkan... Pro Rakyat!"
di antara wajah-wajah kandidat yang tersenyum itu, ada wajah dari masa lalu dengan aroma ketakutan yang pernah menguar tajam. aktivis mahasiswa yang mati ditembak maupun diculik, para kyai yang dibantai ninja di Jawa Timur, korban kerusuhan di Ambon, Jakarta dan tempat lain di nusantara ini mengenalnya.
bila dia sampai di tampuk kekuasaan, saya amat yakin tidak hanya RS Omni menjadi Omnipotent, rakyat pun musti siap dibungkam... Prita-prita lain bersiaplah masuk bui.
akankah rezim totaliter kembali lagi ke bumi Indonesia setelah digulingkan gelombang reformasi?
saya masih ingat kalimat waktu itu: "hanya ada satu kata: Lawan!"
Taufik Wijaya - detikNews
Lampung Selatan - Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari mengaku pihaknya tidak ada urusan dengan kasus Prita Mulyasari dengan RS Omni International. Sebab, RS Omni merupakan RS swasta, sehingga dia tidak bisa menjewernya.
"RS Omni itu swasta, jadi tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Saya tidak bisa menjewer, saya tidak tahu," kata Siti saat ditanya pers mengenai kasus Prita Mulyasari ketika meresmikan Posko Kesehatan Pesantren Nurul Huda, Jalan Pemanggilan, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Kamis (04/06/2009).
Siti mengatakan kasus itu bukan kasus pelayanan, melainkan kasus pencemaran nama baik. "Saya tidak tahu. Kasus itu bukan kasus pelayanan kesehatan. Itu kasus pencemaran nama baik. Kalau ada pelayanan kesehatan tidak baik, ada jalannya, bukan dilemparkan ke blogger," kata Siti saat ditanya soal kelanjutan kasus tersebut.
Siti juga menyarankan kalau ada persoalan kasus pelayanan kesehatan, harus disampaikan pada jalurnya bukan ke tempat yang tidak semestinya. "Menurut saya kalau ada keluhan terhadap pelayanan kesehatan, jangan melapor ke tempat yang tidak semestinya. Kalau melapor ya ke kepala dinas kesehatan. Gunakan jalur-jalur yang benar,” pinta dia.
--------------------------
http://adinfoserpong.blogs
2.6.08
Peresmian Omni International Hospital Alam Sutera
Sejak soft opening 8 Agustus tahun lalu, tanpa terasa Omni International Hospital Alam Sutera telah beroperasi selama delapan bulan. Dan pada Rabu, 30 April lalu, rumah sakit internasional yang satu ini secara resmi telah melakukan grand opening oleh Menteri Kesehatan RI.
Omni International Hospitas Alam Sutera yang mengusung konsep ‘hospital, hotel, and mal’ ini menghadirkan layanan kesehatan berkualitas internasional untuk masyarakat dengan menyediakan tenaga-tenaga medis yang handal dan peralatan yang canggih.
Dalam kesempatan ini, Menkes yang meresmikan Omni Hospital diwakili oleh Direktur Jendral Bina Pelayan Medik Departemen Kesehatan Dr. Farid W. Husain, Sp.B. Selain itu hadir juga Bupati Tangerang, H. Ismer Iskandar, dan perwakilan Gubernur Banten yakni Djaja Budisuharja, yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Banten.
Peresmian Omni International Hospital ini ditandai dengan pemotongan rangkaian bunga melati yang dilakukan oleh Direktur Jendral Bina Pelayan Medik Departemen Kesehatan. Selanjutnya persemian ini juga ditandai dengan pemberian piagam batu oleh Presiden Direktur Omni International Hospital, Dr. Sukendro kepada ketiga pejabat tadi.
Diposkan oleh majalah AdInfo SERPONG-KARAWACI di 09:05
Label: opini
Friday, May 29, 2009
Terminator Salvation (T4): mesin manusiawi
bagaimana bila kehidupan dikendalikan oleh mesin ciptaan manusia? bagaimana bila manusia berhadapan melawan ciptaannya sendiri? demikian pertanyaan yang hendak dijawab film Terminator Salvation: The Future Begins. meskipun pemeran utama tidak lagi dipegang oleh Arnold Schwarzenegger yang kekar dan macho itu, sekuel Terminator tetap saja menarik bagi penikmat aksi manusia melawan robot.
Thursday, May 28, 2009
"masihkah kau mencintaiku?" kisah usang keretakan rumah tangga

iseng-iseng menunggu final champion MU vs Barca di saluran RCTI semalam, saya menonton tayangan berjudul "masihkah kau mencintaiku?". semacam reality show namun lebih berani mirip kuis, karena menghadirkan pasangan yang sedang berantem dan pertanyaan-pertanyaan personal diajukan kepada mereka. siapa lagi kalo bukan Helmy Yahya, jagoan acara kuis televisi, penggagas sekaligus pemandu acaranya, yang ditemani Dian Nitami.
selain pasangan, anak-anak, juga orangtua (kakek-nenek) dari keluarga mereka turut hadir supaya sumber informasi berimbang. mereka mengenakan topeng, demi identitas tersamarkan. nama yang disebut juga bukanlah nama asli.
alkisah, Bapak dan Ibu Ronald sudah membangun bahtera rumahtangga selama 15 tahun. dua tahun terakhir karir sang istri menanjak dan menempati posisi sebagai Manajer Public Relation. dengan kata lain, lebih tinggi dari posisi kerja sang suami. sejak itulah, Ibu Ronald musti beragi peran sebagai wanita karir, istri dan ibu rumah tangga. dan ternyata waktu dan perhatian lebih banyak tersita pada lembur dan target pekerjaan.
pada awalnya, Bapak Ronald sudah memberikan ijin dan kepercayaan kepada sang istri untuk menjalani karir tersebut. lama kelamaan, kata Pak Ronald: "istri saya tidak mau melayani kebutuhan saya..."
dia merasa dicuekin, diterlantarkan.
ekonomi rumah tangga pun dilimpahkan kepada sang istri. duit jajan anak dilimpahkan semuanya kepada istri (trus, gajinya dikemanakan?).
keributan demi keributan tak terelakkan. kedua anaknya bercerita bahwa papa dan mama kerjanya bertengkar terus. "kami malu, setiap pulang di rumah papa dan mama berantem melulu... kenapa tidak bisa seperti papa dan mama teman-teman lain?", tutur sang anak.
tahap demi tahap terungkap: kebutuhan biologis sang Bapak Ronald yang tak terpenuhi membuatnya kasar.
dan hal yang mengejutkan penonton, Ibu Ronald memperlihatkan lebam bekas pukulan di tangannya... suasana menjadi emosional.
Bapak Ronald yang selalu mengelak, membenarkan diri dengan menyebut diri sebagai kepala keluarga, lelaki yang harus dihormati, dll menjadi kehilangan suara. dia telah melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan ini bukanlah masalah ringan.
Dian Nitami pun tampak emosional dan terbawa "menghakimi" Bapak Ronald.
Rae Sita Supit dan Psikolog Nia memberikan pandangan-pandangan terhadap rumah tangga yang carut-marut begini: mereka untuk sementara harus hidup terpisah dulu, merenungkan apa yang sudah mereka lewati bersama. sang suami musti mengikuti konseling "anger management" dan bagaimana berkomunikasi yang baik.
seingat saya, di saluran tv lain, masalah keretakan rumah tangga juga dijual dalam acara yang dipandu oleh Anjasmara (suami Dian Nitami) dan sempat diprotes karena menampilkan tayangan caci maki kasar pihak yang berseteru. bedanya, pada tayangan yang dipandu Helmy, kata-kata kasar direm (diedit?) sehingga tidak sampai terdengar.
cukup unik juga menimbang kabar tetangga sebelah mengatakan, Helmy Yahya juga saat ini sedang berseteru dengan istrinya yang kedapatan berdua dengan pria lain. setelah pertama kali gagal maju dalam sidang perceraian, kali ini mereka berdua bersama-sama mengajukan tuntutan cerai.
bagaimana bila Helmy dan istri sekali-kali menjadi peserta dalam acara "masihkah kau mencintaiku"? tentu akan seru dan dinanti penonton.
pukul 00.30 wita acara ini selesai, televisi langsung kumatikan dan beranjak untuk tidur.
bagaimana dengan final piala champion?
"cintaku di Barcelona... hasta la vista mi amor...", Fariz RM bernyanyi dalam setengah tidurku dan telah kutaruh sebagai tag Facebook sebelumnya.
Wednesday, May 27, 2009
napak tilas 3
sekelumit mantra membeku di udara malam. "say anything..." bisikku.
kata-kata meluruh
coba kususun lagi perca demi perca yang terlepas dari rangkaian gerbong yang membawa bayang-bayang pergi dari stasiun tugu
penjaja dan pejalan berlalu lalang
jam
8:50:00 PM
0
komentar
napak tilas 2
kuukur jalan dengan lambaian helai-helai daun kelapa yang dihembus angin seperti ketika rambutmu dibelainya di antara petak sawah dan pemakaman yang kita lewati di kilometer terjauh
kubelok di tikungan senyummu segaris sungai jernih dengan ikan-ikan kecil mengalir ke huma yang nyaris kering meranggas dilanda kemarau ganas
kuhendak berhenti ketika dikau membawakan nyiru setampah bunga yang kauhamburkan di sepanjang jalan tadi
jam
8:06:00 PM
0
komentar
napak tilas 1
kucintai dikau seperti malam menunggu fajar sambil menyenandungkan lagu-lagu tanpa syair sebut saja nyanyian jangkrik atau bunyi-bunyian malam dan deram ombak bersahutan di pantaimu
dingin malam menusuk amat dalam hingga terlelah aku di rembang fajar kesunyataan merabunkan mata "nirwanakah ini?" tanyaku pada surya gilang nan cemerlang menguntai pendar cahayamu
dan
dikau
dekap
daku
jam
8:04:00 PM
0
komentar
Friday, May 15, 2009
Angels and Demons movie: wisata di Roma dalam 2 jam
novel Dan Brown yang ditulis sebelum "The da Vinci Code" (TdVC) berjudul "Angels and Demons" (AD) diangkat ke layar lebar. tokoh superhero masih Robert Langdon, ahli simbologi dari Universitas Harvard (jangan coba mencari jurusan simbologi di Harvard, karena memang cuma ada di novel Dan Brown). film ini ditampilkan seolah-olah merupakan sekuel (kelanjutan) TdVC.
jam
8:53:00 PM
1 komentar
Label: movie review
Thursday, May 07, 2009
parodi swine flu atawa flu A atawa H1N1

virus flu merebak di Mexico. ratusan korban berjatuhan. pasar, gereja, dan tempat keramaian ditutup. masyarakat dianjurkan tinggal di dalam rumah. ini bukanlah sinopsis film, melainkan kisah nyata. virus ini telah menjangkiti dunia berkat kemudahan mobilitas penduduk dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menaruh kesiagaan pada level kelima. artinya, semua negara tanpa terkecuali dapat menjadi lokasi pandemi.
Friday, April 17, 2009
twilight the movie: vampir juga manusia...

diangkat dari novel berjudul sama, film twilight sangat elok dinikmati. tayangan artistik, alur cerita, soundtrack movie, penokohannya komplet membuat film berdurasi sekitar 120 menit ini tidak membosankan sebagai tontonan.
Label: movie review
Thursday, April 09, 2009
Isa di mata Chairil Anwar
Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?
kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka
aku bersuka
Itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah
Kepada Nasrani Sejati
Oleh: Chairil Anwar
November 1943
Tuesday, April 07, 2009
Herman
membaca kolom catatan pinggir GM kali ini, mengantar ingatan kembali 10 tahun lampau. masa pergerakan reformasi. masa heroisme mahasiswa dan ketakutan yang ditebar penguasa waktu itu. begitu cepatnya perubahan itu. begitu lekasnya ingatan memudar... Kamis, 9 April 2009, bangsa Indonesia akan memilih wakil-wakil rakyat...
dan di antara wajah-wajah itu, GM mengingatkan, terdapat wajah keji pembunuh.
ya, rasanya saya masih mengenal sosoknya.
Herman
Potret itu dipajang berderat-deret, hampir di tiap pohon. Tapi di manakah Herman? Tiba-tiba saya ingat dia. Ia tak pernah kembali. Sepuluh tahun lebih, sejak ia hilang 12 Maret 1998. Orang banyak sudah lupa akan kejadian itu, orang mungkin bahkan lupa ada nama itu, nama seorang yang diculik, terutama karena Herman tak dikenal luas. Saya juga tak mengenalnya betul – dan memang tak harus mengenalnya betul.
Baru kemudian saya ketahui aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu bernama lengkap Herman Hendarwan, lahir 29 Mei 1971 di Pangkal Pinang, Bangka. Selebihnya tak banyak lagi informasi. Wilson, aktivis PRD yang juga sejarawan, menulis kenangan tentang kawannya ini dan mengakui: “Menulis… tentang Herman Hendrawan bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali aktivitas politiknya yang dilakukan secara rahasia dan tersembunyi …”
Rahasia dan tersembunyi: saya dan Herman saling bertemu dalam beberapa rapat seperti itu. Itu tahun 1998, di hari-hari ketika tentara Suharto menangkap dan memburu para anggota PRD, setelah rezim itu memenjarakan anggota-anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen), setelah orang-orangnya menduduki dengan kekerasan Kantor PDI-P…. Beberapa orang sudah dilenyapkan. Dan Herman salah satu buron, seperti halnya Andi Arif , Nezar Patria, Bimo Petrus, dan lain-lain…
Dari bangunan di Jalan Utan Kayu 68-H, saya dan teman-teman aktivis lain, tahu kami dimata-matai. Di tempat yang kini dikenal sebagai “Komunitas Utan Kayu”, kami belajar bagaimana mengamankan diri, setelah markas AJI, organissai kami, digrebeg polisi dan tiga anggota ditangkap. Satu tim dari kami -- Irawan Saptono, Ging Ginanjar, Stanley Adi Prasetya, Tedjobayu -- mengatur cara pengamanan itu, yang kadang membingungkan karena tiap kali diubah.
Itu tak bertambah gampang ketika kami harus berhubungan dengan lingkaran yang lebih luas. Tapi waktu itu kalangan pergerakan perlu membentuk jaringan, bahkan front bersama, secara pelan-pelan. Suharto terlampau kuat, dan kami hanya sekelompok aktivis dengan jangkauan terbatas. Di luar pelbagai gerakan pro-demokrasi bergerak, diam-diam atau terbuka, dan kami saling mendukung, tapi tak ada front persatuan untuk perlawanan.
Selebihnya gagu. Suharto berhasil menundukkan Indonesia dengan cara yang efisien: menyebarkan ketakutan. Rezim itu punya modal teror yang amat cukup, setelah di tahun 1965-66 puluhan ribu orang dibunuh, dibui dan dibuang. Dalam keadaan itu, membentuk kerja sama dengan kalangan lain dalam pergerakan pro-demokrasi perlu didahului dengan mematahkan teror itu. Dengan menjajal keberanian..
PRD ada di garis depan keberanian itu. Saya mulai bekerja sama dengan mereka secara lebih dekat sejak saya mengetuai Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) – sebuah langkah ke arah pembentukan front bersama dan sekaligus sebuah siasat untuk mendeligitimasi pemilihan umum Suharto (“kami pura-pura memantau pemilu, karena rezim ini juga pura-pura mengadakan pemilu”). Harus saya katakan sekarang: para anggota PRD – mereka umumnya sadar arti gerakan politik, bersemangat, dan tak gentar -- adalah sayap yang paling saya andalkan dalam KIPP.
Tapi sebelum KIPP bekerja penuh, PRD digrebek. Pimpinan mereka, antara lain Budiman Sudjatmiko, kemudian tertangkap. Kami terpukul, tentu: seluruh daya harus dibagi. Sebagian untuk meningkatkan perlawanan == “la lutta continua!” -- dan sebagian menggagalkan usaha tentara Suharto mematahkan bagian gerakan yang tersisa. Langkah baru harus diatur.
Sejak itu hubungan kami berlangsung makin berahasia, termasuk membangun kontak ke tempat tahanan. Dari Utan Kayu 68-H, operasi seperti ini, termasuk operasi penyebaran informasi dan disinformasi, dikerjakan oleh yang kami sebut “Tim Blok M”. Lewat jaringan yang dibentuk Irawan kami secara periodik bertemu dengan link PRD”: Andi Arif dan Bambang Ekalaya. Kemudian Herman -- meskipun saya tak mengenalnya betul sebagiamana ia tak akan mengenal saya betul. Ada yang harus dijaga, karena bisa saja suatu hari kami tertangkap dan dipaksa buka mulut.
Dan benar: di bulan Maret itu Herman tertangkap. Atau lebih tepat, diculik. Tak hanya dia; Andi Arief, Faisol Reza, Waluyo Jati, Mugianto, Nezar Patria, Aan Rusdianto -- semua aktivis PRD yang diangkut dengan paksa, dalam mobil yang tertutup rapat, dengan mata yang diikat dan kepala yang diselubungi seibo, dan dimasukkan ke dalam yang oleh Nezar Patria disebut, dalam testimoninya kemudian, sebagai “kuil penyiksaan Orde Baru”.
Sebagian mereka kemudian dilepas. Tapi Herman tidak. Ia hilang. Juga dua nama lain Bimo Petrus dan Suyat. Wiji Thukul, yang untuk beberapa lama berhasil disembunyikan satu tim teman-teman, juga kemudian lenyap.
Tak ada alasan untuk tak menduga mereka dibunuh. Setidaknya mati dalam penyiksaan. Nezar pernah menggambarkan bagaimana tentara Suharto menganiaya mereka: pada satu bagian dari interogasi, kepalanya dijungkirkan. Listrik pun menyengat dari paha sampai dada. “Allahu akbar!”, ia berteriak. Tapi mulutnya diinjak. Darah mengucur lagi. Satu setruman di dada membuat napasnya putus. Tersengal-sengal.
Saya bayangkan Herman di ruang itu. Mungkin ia lelap selamanya setelah tersengal-sengal. Mungkin ia langsung dibunuh. Yang pasti, ia tak pernah pulang. Para pejuang dalam sajak Hr. Bandaharo berkata “tak berniat pulang, walau mati menanti”. Dan Herman pernah menulis surat ke orang tuanya: “Herman sudah memilih untuk hidup di gerakan”, sebab Indonesia, tanahairnya, membutuhkan itu. Tapi haruskah kekejian itu?
Saya memandang potret-potret pemilihan umum itu, ada orang-orang keji yang saya kenal. Tak ada Herman.
Goenawan Mohamad
(Caping majalah Tempo, 6 April 2009)
Friday, April 03, 2009
ada apa dengan UOB Buana?

siang tadi saya menerima sms dari seorang kerabat di Jakarta: "Ton, masih punya rekening di UOB Buana? sebaiknya besok Jumat (3/4) segera diamankan, karena Senin-Rabu (6-8/4) akan ada aksi mogok dan demo karyawan UOB".
sms itu kujawab: "pernah sih ada rekeningku di bank Buana (sebelum jadi UOB Buana), tapi sudah lama tidak aktif..."
beberapa teman yang kuduga punya rekening di UOB Buana pun kuberitahu melalui sms.
maka mereka pun tampaknya jadi bingung.
saya coba mencari kabar, apa sesungguhnya yang terjadi di UOB Buana.
waah, masalahnya klasik. semula kuduga, UOB kena imbas krisis global. ternyata persoalan internal yakni kesejahteraan dan kenyamanan bekerja karyawan yang terabaikan oleh pihak atasan. nah, bila sampai berakibat pada mogok kerja dan kecemasan nasabah (rush), tentu ongkos yang dibayar UOB Buana akan lebih mahal.
informasi tambahan, pemegang saham mayoritas UOB Buana (61%) adalah UOB International Investment Private Ltd berbasis di Singapura.