Saturday, April 09, 2005

Bush rasanya jadi badut dalam pemakaman Paus


upacara pemakaman Paus Johanes Paulus II hari Jumat, 08 April 2005 menyimpan sebuah catatan tersendiri saat para pemimpin dunia tumpah di sana. presiden negara adidaya, AS, hadir di sana bersama rombongannya: sang isteri dan dua mantan presiden: Bush senior dan si flamboyan Clinton.

pandangan mata dunia tentu tertuju pada mereka saat memasuki lapangan St.Peter beberapa menit sebelum upacara berlangsung. saya membayangkan Bush jadi badut dalam upacara ini. betapa tidak, beberapa hari sebelumnya, di Basilika St.Peter Vatikan terlihat antrean panjang pelayat yang ingin melihat jenasah bapa suci. namun seketika para pelayat dihalau mundur, saat tuan presiden Bush tiba untuk melayat. keamanan diperketat, syaraf para pelayat dan petugas keamanan tentu jadi tegang di tengah suasana kehadiran tuan presiden. kedamaian dan persaudaraan yang terbangun mendadak buyar.

Bush secara tidak langsung pernah berhadap-hadapan dengan Bapa Suci sewaktu ia dengan pongahnya menginvasi Irak, demikian juga saat AS mengembargo Kuba, sang paus justru datang melawat ke sana. terdapat kesan hubungan yang kurang mesra antara almarhum sang paus dan tuan presiden.
sekarang tuan presiden dan rombongan datang melayat jasad beliau. dengan menunggang air force one, ia hadir di antara para pelayat. tentu dengan mudah ia dapat dikenali di antara jutaan yang hadir: beberapa orang berkaca mata hitam mengelilinginya, dan... masa lalu hubungannya dengan almarhum.

Thursday, April 07, 2005

bliss

first time
we should celebrate
life as it was
never groaning
for its fruit
sweet and bitter
mixed
and
sometimes
gone

Tuesday, April 05, 2005


pope embracing the cross, he embracing suffer in his life too
Posted by Toni


Pope John Paul II [1920-2005]

Dari kesetiaanku kepadamu, hai bumi

aku berbicara tentang cahaya, yang tak dapat engkau berikan kepadaku,

aku berbicara tentang cahaya,

yang tanpanya manusia tak bisa jadi sempurna,

yang tanpanya, pun engkau - ibu pertiwi -

mustahil

jadi sempurna dalam manusia

~ Karol Wojtyla, malam paskah 1966 ~
Posted by toni

Monday, April 04, 2005

Perginya Sang Pelari Lintas Batas

minggu pagi kemarin saya menerima beberapa sms dari beberapa sahabat yang mengabarkan kepergian bapa suci Johannes Paulus II. sunyi senyap pagi itu. udara dingin masih terasa. kicauan burung terdengar seketika melambat.

beliau berangkat tadi subuh sekitar jam satu waktu indonesia sebelah barat. kepergiannya tidak lepas dari pelototan lensa kamera, tetesan tinta wartawan, bahkan momen ini seolah telah 'dinantikan': kepergian paus pertama di awal milenium teknologi informasi. jauh hari sebelumnya telah dikabarburungkan: paus mangkat. bahkan setahun lalu, sewaktu saya masih aktif di bidang penerbitan warta paroki, saya telah menyiapkan bahan dan foto mengenai paus Johannes Paulus II, bila sewaktu-waktu beliau dipanggil sang Boss di surga. maklum, kabar paus wafat telah disiarkan setahun lalu.

sempat saya nginap di seminari tinggi anging mammiri, yogyakarta awal tahun 2004. terbaca jelas di papan tulis refter [ruang makan]: RIP Paus Johannes Paulus II. romo rektor yang membaca pengumuman swasta yang ditulis entah oleh frater siapa dengan narasumber mana, langsung memerintahkan menghapus kabar burung itu. menggantinya dengan kalimat: "Paus masih hidup! kata Vikaris Apostolik di Jakarta". lucu jadinya karena di zaman informasi masih saja kabar itu simpang siur. termasuk di seminari tinggi.

pikiranku langsung tertuju ke buku "Paus Johannes Paulus II: apa rahasianya" [penerbit Ende], di sana kuselipkan foto-foto postcard paus. namun sial sekali, saya lupa menaruhnya di mana. satu per satu buku di lemari baca tidak luput kuperiksa. tumpukan buku-buku di meja belajar, waduh bahkan beberapa berdebu tebal, habis kubongkar.
jadilah pagi itu, pagi bersih-bersih buku dan kamar. thanks, pope! :)

sayangnya, hingga kamar telah bersih dari tumpukan buku [kupindahkan ke rak buku kembali], buku yang kucari belum ketemu juga. kemudian masuklah aku ke kamar mandi.
tempat ini ajaib, karena inspirasi suka muncul. dan benar, ingatan akan buku kecil itu melintas: bukankah ia kutaruh di rak meja belajar di samping tempat tidur? yup. dia ada di sana.

utuh, dengan postcard yang peroleh tahun 1990 setelah paus mengunjungi Indonesia. aku senang membaca kisah hidupnya di buku ini. masa kecilnya yang susah, ditimpa sial tak kebayang deh: orang tua dan saudaranya mendadak meninggal semua. dia sebatang kara. hidup di zaman represi hitler. jadi imam bawah tanah. namun dia tangguh. olahragawan. bola, gunung dan kano kesukaannya. seni peran ditekuninya. nyaris dia jadi aktor, saat dia bimbang memilih jalan hidup: jadi imam apa aktor? waduh, kebayang deh, bila si Karol Wojtyla [bacanya: Woytiwa] alias Lolek, panggilan kesayangannya jadi aktor. bisa nembus ke hollywood nggak ya?
untunglah, ia menyerahkan hidupnya sebagai imam.

ada kisah menarik, sewaktu ia ditunjuk sebagai uskup, romo Karol lagi asyik berkano ria dengan mudika [muda-mudi katolik] setempat. utusan yang ditunjuk untuk menyampaikan pesan tersebut sempat kelabakan waktu dengan tenangnya romo Karol menjawab: "tunggu dulu. biar saya selesaikan acara berkano dengan kaum muda ini, baru kemudian saya kembali ke keuskupan".
kisah ini membekas di hatiku. kebersahajaan dan kerendahan hatinya terpancar melimpah.

beliau, saya yakin, telah menjadi sumber inspirasi banyak kaum muda yang menyerahkan hidupnya bagi pelayanan, entah itu sebagai imam, pengajar, atau apapun karya kemanusiaan.
namun, syukurlah, sebagai manusia, dia punya beberapa musuh entah secara langsung ataupun tidak.

Mehmet Ali Agca mencatat sejarah berhasil menyarangkan peluru ke perut sang paus di lapangan st. peter pada bulan maria 1981. kurang beberapa inci peluru itu sebetulnya nyawa sang paus dapat melayang. mukjizat menolongnya. mukjizat pula saat beliau mengunjungi sang penembak di penjara, memaafkannya secara pribadi. Mehmet kini jadi sahabatnya. beberapa kali diberitakan, Mehmet mendoakan bagi kesembuhan paus saat terbaring sakit.
namun toh, ada imam sahabatku yang pernah berkata sinis, ahh... itu kan tindakan politis paus.
beberapa kekeraskepalaan paus dibeberkannya: tidak mau turun tahta padahal umur dan kesehatannya makin uzur, tidak mau mengubah doktrin moral katolik mengenai kb, aborsi dan euthanasia, termasuk tahbisan imamat: selibat dan musti pria. selain itu, paus ini mencatat rekor paling banyak membeatifikasi alias mencetak para kudus dalam sejarah gereja, belum lagi jumlah kardinal yang diangkatnya! itu belum seberapa, ada umpatan yang lebih seru dari beberapa teman kristen: paus itu lambang kerajaan iblis [naga berkepala berapa tuh katanya, aku sudah lupa], tiara yang dikenakannya itu lambang imam kafir [berbentuk kepala ikan], bla bla bla...

apa pun kata dunia, tinta itu telah ditorehkannya indah.
dia melangkah mantap, dengan keyakinannya sebagai hamba dari sekalian hamba.
kawan dan lawan segan padanya. amerika serikat tidak luput dari kecamannya. neokapitalisme amerika mendapat lawan tanding yang berani bersuara di saat dunia bungkam. karismanya membuat komunisme rontok bersama gugurnya tembok berlin. eropa dapat menjadi suatu unieropa. fidel castro dan para pemimpin negara komunis pun hormat padanya.
dia menjadi kebanggaan dunia, meski dengan langkah tertatih, tangan gemetar didera parkinson, dan ketampanannya pun seolah pudar.

kaum pro-choice [pendukung aborsi dan euthanasia] dan semua penentangnya tentu mendapat jawaban yang gamblang saat perayaan paskah kemarin. dia muncul di jendela apartemen, dengan wajah menahan sakit berusaha memberikan berkat paskah yang dinantikan peziarah [urbi et orbi]. suaranya tak dapat keluar. tangannya memegang kepala menahan sakit. sunyi senyap.

orang-orang tertegun memandang sosok rapuh sang hamba. kali ini dia mengajar tanpa kata-kata. yang diajarkannya adalah bagaimana menanggung penderitaan, di saat orang banyak menoleh dan menyembah hedonisme. penderitaan dipeluknya, sebagaimana ia mencintai kehidupan.

meski tertatih, dia meneruskan jalan salibnya di tengah arus deras dunia modern...

angka 2, 3, 4, 5 menetes pagi kemarin...
03-04-2005, sang pelari pelintas batas telah tiba di garis akhir.
dia menyisakan lubang di hatiku.

paus gagah itu pergi.
dia telah menjadi sahabat dari jauh yang sekaligus dekat. gambar orang yang benar-benar katolik [katolik berarti umum, universal]. semua orang beragama maupun ateis, kaya maupun miskin, suku bangsa, tentu tahu namanya...

selamat jalan. arrivederci.
viva il papa!

Saturday, February 12, 2005


laying on the rock of ages Posted by Hello

Wednesday, April 21, 2004

hello hi

hi hello
allez gute
what's the day
for day's sake
tell the night tale

can you dream 'bout yesterday
while today rush
blushing

and i stand here
middle of nowhere

Friday, April 16, 2004

numb

unmusic dance
unsound scream
unsoul body

unusual life
undo nothing!

Wednesday, September 10, 2003

hey

you have something to be captured
while it's windy and winding road
so short to remember
juggle mumble
redempt other
so,
hey, stop for awhile

Saturday, April 12, 2003

rainbows

If I could catch a rainbow
I would do it just for you.
And share with you it's beauty
On the days you're feeling blue.
If I could build a mountain
You could call your very own.
A place to find serenity
A place to be alone.
If I could take your troubles
I would toss them in the sea.
But all these things I'm finding
are impossible for me,
I cannot build a mountain
Or catch a rainbow fair
But let me be...what I know best,
a friend that's always there.

— Khahlil Gibran

What difference does it make
to the dead, the orphans,
whether the mad destruction
is wrought under the name
of totalitarianism or the
holy name of liberty ?
Mahatma Gandhi

palem itu

sampai angin menderu-deru
kuda perang yang kautunggangi
berderap meringkik dan
kau dengar nyanyian anak-anak

lambaian daun daun palem
genderang perang menyambutnya
di gerbang kota abadi
penjarah bersorak ria

kapankah damai menetes
di antara genangan darah
yang dilalui sang keledai tunggangan
sementara daun-daun kami tergeletak

jejak jejak kami buat
meniti sejarah gelap lorong malam
hosanna... come and save us, Lord!

makassar, 12 April 2003
~~ton!

Senarai Perang untuk Bahan Hafalan Pelajaran Sejarah
oleh: Taufiq Ismail

1.

Ada peta dunia berteriak kepada kita minta dibaca
''Telusurilah halaman-halamanku, renangilah waktu
Langkahi dua abad dan apa yang kau lihat?''

Kemudian kita bergegas meluncur di atas halaman peta
Rangkaian adegan orang kulit merah, bangsa kulit hitam,
Kawasan Mexico, Hawaii, Filipina dan Cuba
Kemudian Vietnam, Nicaragua, Israil dan sekitarnya
Setiba di sekitar Eufrat-Tigris badai debu mengotori peta
Di negeri Seribu Satu Malam ini
Terdengar gemuruh Seribu Satu Peluru Kendali

2

Kembali kita meluncur di atas halaman peta yang tua
Nampak bekas bercak darah berwarna sepia di atasnya
Gunung dan sungainya di benua Amerika belahan utara
Di sepanjang halamannya
Kawanan Indian menunggang kuda berlarian
Orang kulit putih menembaki dan mereka berjatuhan
Orang kulit hitam dianiaya massa bergelimpangan
Mereka ngilu menyanyikan lagu blues penuh kesedihan

Lihatlah separuh Mexico ditaklukkan
Hawaii dan Filipina jadi jajahan
Ratusan ribu penduduk Filipina sasaran pembunuhan
Jenderal Aguinaldo yang memproklamirkan kemerdekaan
Tak diberi pengakuan dan bangsanya tetap jadi jajahan
Spanyol dibayar 20 juta dollar sebagai imbalan
Inilah ironi sejarah yang mengherankan
Merdeka dari Inggeris dengan perjuangan tidak ringan
Tapi ternyata rasis dan imperialis juga belakangan

[Fidel Castro (BBC Online)] Adalah Cuba, pulau sebesar
telapak tangan
Jarak dari ujung Florida sepelemparan bola tangan
Diengkuk-engkuk dan ditekuk-tekuk tidak mempan
Ditunjuk-ajari pelajaran demokrasi tidak sudi
Dicekik leher ekonominya masih bernafas saja
Dicoba bunuh presidennya tak mati-mati juga
Lihatlah Fidel Castro itu kini
Tetap saja tampan dan tegak, di senja umurnya ini

3

Kini kita menyeberang samudera tiba di Vietnam Utara
Ketika Presiden Lyndon Johnson marah-marah suatu hari
Di Teluk Tonkin kapal perusaknya diganggu patroli
Diperintahkannya pemboman pertama di Vietnam Utara
Agustus bulannya, 1964 tahunnya

''The Rolling Thunder'', ''Guruh Gemuruh''
Itulah nama serangan udara
Yang berlangsung 3 tahun lamanya
Bom bagai badai berhamburan hampir setiap hari
Bom yang dijatuhkan selama tiga tahun itu
Dua kali lipat lebih banyak ketimbang
Bom yang dijatuhkan
Di seluruh front Perang Dunia I dan II

Bom yang 7 juta ton itu
Menyebabkan kematian 3 juta manusia Vietnam
Bayangkanlah 3 juta manusia direnggutkan nyawanya.
Tiga juta.

[Pemboman di Saigon, 1965 (History Search Beat)]
Bisakah orang Vietnam menjatuhkan bom
Sebutir saja di Amerika?

Bukan saja Vietnam Utara, tapi Vietnam Selatan
Juga dihujani badai bom itu
Di negeri itu kawah-kawah menganga
Bertebaran di mana-mana

Pada Vietnam, mengapa kita lupa
Padahal selama 11 tahun perang itu,
Berita pemboman dan pembunuhan
Setiap hari masuk di harian dan televisi kita

Vietnam jadi laboratorium uji coba macam-macam senjata
Bom napalm, bom Agent Orange, bom Agent Blue yang
Mengunyah daging manusia, mengunyah pepohonan,
Mengunyah dedaunan dan mengunyah hewan-hewan
Di tanah seluas pulau Jawa

Di negeri itu ratusan kawah-kawah menganga
Sawah-sawah musnah, pabrik-pabrik hancur
3 juta orang mati dalam masa 11 tahun itu

[Pemboman di sebuah Sungai, Vietnam Selatan (History
Search Beat)]
Bisakah orang Vietnam menjatuhkan bom
Sebutir saja di Amerika?

Pada Vietnam mengapa kita lupa
Alangkah lemah ingatan kita

Sesudah Lyndon Johnson, Presiden Nixon marah
Baru 3 bulan jadi Presiden
Diperintahkannya menghujani Kamboja dengan bom
Kemudian 200 pesawat B-52 dikirimnya menghabisi
Haiphong dan Hanoi,

Bisakah orang Vietnam menjatuhkan bom
Sebutir saja di Amerika?

Presiden Amerika adalah presiden dunia
Yang paling sering memberi perintah
Menjatuhkan bom, dan semuanya di luar Amerika

Sesudah 11 tahun 179 milyar dollar dihabiskan
Atau 82 juta dollar sehari dibelanjakan
Sesudah 2 juta penduduk sipil Vietnam mati
1 juta tentara Vietnam mati,
60.000 serdadu Amerika mati,
Saigon dikepung ketat dan mereka terbirit-birit lari

[Uncle Sam (JayGee 6)] Amerika, negara adikuasa dan
kaya luarbiasa
Bertekuk lutut dikalahkan Vietnam Utara
Negara kecil, miskin dan compang-camping
Dan tidak sekali pun, tidak satu kilogram pun
Menjatuhkan bom di kota Amerika
Sehingga penduduk sipil, kehilangan nyawa

4

Tidak kapok-kapoknya Angkel Sam
Campur tangan orang punya urusan
Tahun 1980-an, yaitu di Nicaragua
Di peta, negara itu sebesar daun telinga
Di Amerika Tengah, 200.000 bermatian
Negeri kecil yang digiling dilumatkan
Mereka ke Mahkamah Dunia mengadukan
Angkel Sam didenda repatriasi dan Nicaragua
dimenangkan
Tapi si Adidaya ini mengabaikan keputusan
Ke Nicaragua balik lagi melakukan penyerangan
Dan ketika si Daun Telinga mengadukan
Ke Dewan Keamanan
Angkel Sam menjatuhkan veto sendirian

5

Kemudian tengoklah Israil luar biasa dimanja Amerika

Menindas rakyat, membunuhi perempuan
Menyapu anak-anak intifadah
Tidak apa-apa

Mengusir rakyat Palestina ke kemah-kemah di gurun
Membuldozer permukiman
Tidak apa-apa

Melanggar puluhan resolusi Dewan Keamanan
Dicerca dikutuk masyarakat dunia
Tidak apa-apa

Membuat senjata nuklir
Mengancamkan hulu nuklir
Tidak apa-apa

Israil luar biasa dimanja Amerika
Rakyat pembayar pajak Angkel Sam
Tak berdaya mau saja dipaksa
Membiayai subsidi anak manja Israil ini

Kami yang jauh ini jadi bertanya-tanya
Israil ini negara bagian Amerika Serikat
Atau Amerika Serikat provinsi Israil
Perdana Menteri Israil ini gubernur negara bagian AS
Atau Presiden Amerika gubernur provinsi Israil?
Pertanyaan ini pisau bermata dua
Amat sulit menjawabnya
Dan sangat mudah menjawabnya.

6

Pengembaraan peta kita tiba di sekitar Eufrat-Tigris
Ketika badai debu mengotori peta
Di negeri Seribu Satu Malam ini
Terdengar gemuruh Seribu Satu Peluru Kendali

Inilah kisah yang sangat menjemukan
Karena pengulangan lagi peragaan otot kekuasaan
Bersambung dengan beribu peluru kendali berlayangan
Dan 3000 bom berjatuhan
Malam ini berselimut kegelapan dan kengerian
Berulang sejarah campur tangan, intervensi 1000 alasan
Sejak zaman kulit merah Indian, kulit hitam Afrika,
Hawaii, Filipina, Cuba, Vietnam,
Nicaragua, Amerika Tengah, Palestina
Memaksakan kehendak, mau menang sendiri
Rasis dan imperialis sejati
Sehingga cendekiawan Noam Chomsky
Tak dapat menahan hati
Inilah katanya tentang negerinya sendiri:
''United States, leading terrorist state.''

Aku terkesima membaca tulisannya itu
Padahal aku suka manusianya, Amerika itu
Keluarga Werrbach yang 47 tahun lalu
Mengangkatku jadi anak mereka
Di rumah 977 East Circle Drive
Di desa Whitefish Bay
Di bulan puasa Heino menyediakan sahur untukku
Aku terkenang Tim Hubbard teman sekolahku
Yang menghubungkan aku
Ke ladang mixed farming di tepi Danau Michigan
Sehingga aku ingin jadi pengusaha ladang campuran
Seraya menulis puisi
Sehingga aku belajar kedokteran hewan dan peternakan
Aku cinta manusianya, Amerika itu
Petani, penjaga pompa bensin, oma di rumah jompo,
pemusik jazz, penyair, sopir taksi Chicago, guruku,
Tapi aku tidak suka politik pemerintah pusatnya
Dengan enam helai puisiku ini aku menentang perangnya
Kini tengah aku menulis puisi ini di Utan Kayu
Tepat tengah malam di Basrah, Najaf dan Baghdad,
Terkenang aku pada makam Sayidina Ali,
sufi Abdul Qadir Jailani,
Terkenang aku pada Tardji yang memanjat patung Abu
Nawas di Baghdad, dan kupotret dia
Teringat aku pada Gus Mus yang menerjemah untuk kami
5 penyair Indonesia di festival puisi Iraq tahun itu
Mungkin hotel tempat kami menginap sudah hancur
Mungkin fail puisi kami sudah punah dan musnah
Mungkin rekan kami penyair Iraq ada yang mati sudah
Malam ini bom dan peluru kendali
Ganas dan cerdas, berdesing-desing
Berselimut kegelapan dan kengerian
Ratusan ribu anak-anak dan orangtua mereka
Orang kebanyakan pemegang kartu penduduk biasa
Menunggu diusung dengan tandu
Pada hari keesokan
Ke ruang gawat darurat atau ke kuburan.

Jum'at, 28 Maret 2003.

Friday, April 11, 2003

aku pelaut tanpa perahu
melaju dari pantai ke pantai
mencari dikau
yang pernah berpapas
di nun laut sana
~toni

Friday, October 25, 2002

india trip 12: Ashokan Farewell

sabtu pekan lalu (19/10) sementara berjalan-jalan di keramaian mal, ada teman mengirim sms: "Ton, coba nonton sctv sekarang, ada acara bagus…" heran saya membaca sms tersebut, saya membalasnya: "saya lagi cuci mata di hero. pusing, sepekan ini kepalaku dipenuhi berita bom. emang di sctv ada acara apa sih?"
saya lanjutkan melihat sayur-sayuran dan aneka produk menarik yang dipajang di toko tersebut, dia membalas: "ada liputan eksklusif sctv mengenai peledakan bom di bali". seketika saya kehilangan selera untuk memperpanjang acara jalan-jalan di mal malam itu. saya segera pulang dan menyalakan tv. jam menunjukkan pukul 21.45 (20.45 WIB), sctv lagi memutar iklan. saluran kupindahkan… di indosiar ada film "Ashoka" sementara ditayangkan. langsung kubalas sms-nya: "sctv lagi putar iklan. ada acara yang lebih menarik di indosiar: ashoka. nonton ya…" dan sms tersebut tidak dibalas. hingga sekarang… nggak tahu apakah dia nonton ashoka apa tidak. setahu saya dia bukan penggemar film india… hehehe.

ashoka mengingatkanku pada dua hal: nama hotel tempat tinggal kami selama lima pekan di delhi. dan nama ruas jalan tempat hotel tersebut berdiri. jalan yang di sisi kanan kirinya dinaungi pepohonan yang berbunga kuning kecil-kecil. indah sekali bila dipandangi dalam temaram senja. ashoka road dan ashok group. hotel kanishka tempat kami menginap adalah bagian konglomerasi ashok hotel group. kabar terakhir yang kami terima, hotel kenangan yang pernah kusebut hotel california tersebut telah dijual dan direnovasi total beberapa saat setelah kontingen kami meninggalkan delhi. jadi susahlah kalo ada rekan alumni grup kami yang ingin kembali ke hotel kanishka buat menapak tilas, wong hotelnya sudah dirombak total… mungkin sekarang sudah setara dengan Le Meridien yang berdiri di seberang jalan.

siapa gerangan Ashoka yang demikian kesohor? saya belum punya ide hingga menemukan vcd-nya di rak toko disctarra setelah kembali di Indonesia. bukan kebetulan film ini diperankan Shahrukh Khan dan Kareena Kapoor. menurut sejarah, Ashoka adalah pangeran Kerajaan Magadha di belahan utara India pada abad ketiga SM. Ia adalah cucu Chandragupta Maurya, pendiri wangsa Maurya penguasa kerajaan Magadha. Bindusara, ayahnya, berhasil melakukan ekspansi wilayah kerajaan. Puncaknya adalah saat Ashok berhasil naik tahta pada tahun 269 SM, ia berhasil membentangkan kekuasaan dari wilayah Kashmir (saat ini) di sebelah Utara, hingga wilayah Karnataka di sebelah Selatan. Dari delta Gangga di sebelah Timur hingga beberapa wilayah Afghanistan di sebelah Barat Daya. namun sayang, kekuasaan itu diraihnya dengan tangan penuh berlumuran darah.

masih ada sebuah kerajaan yang belum ditaklukkannya, Kerajaan Kalinga. kerajaan ini makmur, gemah ripah loh jinawi, melimpah susu dan madu. setelah delapan tahun berkuasa, Ashok akhirnya berambisi menaklukkan kerajaan Kalinga.
dari plot sejarah tersebut, Santosh Sivan sang sutradara bertutur dengan bahasa gambar dan sinematografi yang indah dalam film Ashoka. terdapatlah seorang Puteri Kaurwaki (Kareena Kapoor) bersama pangeran Arya yang masih bocah berusaha menyelamatkan diri dari Kerajaan Kalinga. raja bersama permaisuri Kalinga dibantai oleh pengkhianat. dalam pengembaraan mereka bertemu pangeran Ashok (Shahrukh Khan) yang jago bermain pedang. Ashok melakukan incognito (menyamar sebagai rakyat biasa berprofesi sebagai prajurit bawahan), ia keluar dari lingkungan istana magadha dan memakai nama Pawan (angin).

Ashok tidak tahu bahwa Kaurwaki dan bocah yang dijumpainya adalah pewaris tahta Kalinga. demikian pula Kaurwaki tidak tahu bahwa Pawan adalah Ashok, pewaris tahta Magadha. Ashok jatuh cinta pada Kaurwaki, mereka menikah. Kemudian Ashok harus kembali ke istana dengan janji untuk sementara waktu… namun, Pawan tak kunjung kembali. singkat cerita, ia telah menjadi raja Magadha setelah menumpas saudara-saudaranya (yang digambarkan jahat). Kaurwaki dan Arya kembali ke Kalinga setelah sang penghianat ditemukan dan dihukum, yang tak lain adalah perdana menteri. Pangeran Arya yang masih bocah naik tahta.

waktu berlalu, kebengisan raja Ashok semakin santer karena ekspansi kerajaan Magadha dilakukan secara keji. peperangan. rakyat Magadha pun berbisik-bisik: "kerajaan Magadha sekarang dipimpin oleh iblis. iblis Ashok". namun Ashok yang kemudian menikah dengan Devi seorang pengikut Budha, tak peduli. nasihat pendeta Budha, penasehat kerajaan, dianggap angin lalu. Masih ada satu ambisinya: menaklukkan Kalinga.

kabar penyerangan santer terdengar, rakyat Kalinga bersiap diri untuk berperang. Kaurwaki mempersenjatai ibu-ibu dan membentuk laskar perempuan. mereka mengatur strategi meskipun tahu kekuatan mereka tidak seimbangan dengan pasukan tentara Magadha yang dipimpin Ashok nan bengis. pertempuran akhirnya tak tertahankan… inilah tragedi ironis: Ashok tidak menyadari bahwa pasukan yang dihadapinya tak lain adalah pasukan Kaurwaki, isterinya yang selama ini dirindukan. Santosh Sivan, sang sutradara mengatakan, "Ashoka" menampil pertempuran kolosal dan terakbar yang pernah dibuat dalam sejarah perfilman India, setelah "Mahabharat", melibatkan 6000 pemain sebagai prajurit, beberapa ratus ekor kuda dan gajah…

dapat diduga, pasukan Kalinga terpukul kalah. jenasah korban perang bertebaran. Seorang pendeta Budha memberi selamat kepada Ashok karena meraih dua kemenangan: isterinya Devi melahirkan anak kembar dan kemenangan perang atas Kalinga. namun ia mencibir: kemenangan yang diraih Ashok tak lain hanyalah air mata janda-janda, jeritan anak yatim piatu dan mayat-mayat yang dibakar… Ashok menjadi gamang, terlebih setelah ia menemukan kuda putih milik Kaurwaki yang terlantar di medan perang. ia mencari-cari di antara tumpukan jenasah. akhirnya…

gimana nih ending-nya? Ahh, nggak asyik lagi filmnya kalo sudah diceritakan di sini… mending saksikan sendiri filmnya, ya… catatan sejarah menuturkan, peristiwa ini justru menjadi titik balik kehidupan raja Ashok. ia menjadi Budhis. duabelas tahun kemudian ia mendeklarasikan perjanjian perdamaian dan perlindungan hak asasi manusia di seluruh lingkungan kerajaannya. Deklarasi yang dipahat pada permukaan batu terdiri atas tiga bahasa: Parakrit, Yunani dan Aram menjadi bahan kajian para peneliti hingga saat ini. secara sederhana menunjukkan betapa luas cakupan wilayah pengaruh raja Ashok bahkan sampai ke SriLanka. pada akhir hidupnya, ia dikenang sebagai raja yang budiman dan dicintai rakyatnya.

demikian kisah Ashoka. lumayan panjang, mirip kisah dongeng ya… maklum beberapa kukutip dari film, beberapa lagi dari ensiklopedi… hehehe.
bila dibanding-bandingkan, tampak ada kemiripan peristiwa "Pemboman Bali" dan "Ashoka": jasad korban tak berdosa yang bergelimpangan. Kemenangan yang diraih oleh pelakunya tak lain hanyalah: air mata janda-janda, jeritan anak yatim piatu dan mayat-mayat yang terbakar… kita berharap semoga setiap orang mau belajar dari sejarah.

kisah Ashoka tadi mengingatkan hari terakhir kami di delhi (26/4). Tuhina hari itu khusus mengenakan sari berwarna pink. bis yang mengantar kami ke Noida masih bis yang sama. panas dan debu jalanan yang kami lewati juga masih sama. namun ada yang berbeda hari itu. kami mengadakan evaluasi terakhir di ruang kelas. dan sore hari akan diadakan Farewell Party di hotel Kanishka. sewaktu makan siang terakhir kali di Noida, Pak Hanan membawa ayam dan kambing panggang… entah didapat dari mana. katanya sempat dibeli waktu ke Jama masjid. Kami beramai-ramai menikmatinya, sambil membayangkan bahwa makan siang model begini jarang-jarang bisa dialami lagi.

Sewaktu meninggalkan kantor Tata di Noida, beberapa teman berusaha mengabadikan momen-momen terakhir dengan berfoto-foto. ini membuat teman-teman yang sudah menunggu di bis menggerutu kelamaan menunggu.
Pukul 15.30, akhirnya Noida kami tinggalkan menuju ke hotel.
Pukul 17.30 Farewell Party dimulai. Tempatnya di Restoran Mandarin lantai teratas (roof-top) hotel Kanishka. Para pejabat kementerian dan Tata memberikan kata sambutan, kemudian menyerahkan sertifikat kepada 41 peserta training. hadir di sana para tutor dan staf Tata Infotech yang kerap berinteraksi dengan kami. Ada Yashwani, Monica, Manish, Tuhina, Puneet… itu yang sempat kuhapal. Mereka kompakan mempersembahkan lagu: "kuch kuch hota hai" sambil ngintip liriknya pada sehelai kertas.
Kemudian kami bernyanyi-nyanyi lagu poco-poco, Kemesraan, Jakarta (aku lupa judulnya liriknya begini:… di sana rumahku, dalam kabut biru, hatiku sedih di hari minggu… ke Jakarta aku kan kembali…). Ramai sekali… karena seketika seluruh peserta berbakat jadi pengamen di hotel kanishka. Mr. Puneet saking terharunya, ia lalu mempersembahkan sebuah lagu "Sealed with a kiss" yang ia sendiri nggak hapal liriknya… hehehe.

Oh ya, aku ingat, pada momen inilah ia memberiku gelar kehormatan: T3. apa itu? singkatan dari "Toni The Troublemaker"… aku yakin, inilah julukan paling keren yang pernah dianugerahkan kepadaku. acara ditutup dengan santap malam dan foto-foto bersama. Setelah itu lift mengantar kami turun ke lobi, para tutor dari Tata memberikan salam perpisahan.

malam segera larut. kami musti segera berkemas-kemas. check out hotel baru bisa setelah lewat tengah malam.
Pukul 03.00 Pak Oka menjadi petugas ronda yang baik. Satu per satu pintu kamar peserta digedor-gedor, memberi tanda untuk harus segera berkumpul di lobi hotel. di sana kami antri check-out. Ada dua bus yang datang menjemput kami. Koper-koper satu per satu dimasukkan ke bagasi. Wuih, padat dan berat sekali, kebanyakan berisi buku-buku atau souvenir, ada teman yang bela-belain membawa gendang India yang khas bunyinya… karena ruang bagasi kepenuhan, ruang penumpang pun terpaksa dijejali koper.

Pukul 04.00 bus meninggalkan hotel membelah kesenyapan malam, bus menuju ke airport.
Jadi teringat pertama kali tiba di Delhi, suasana jalan yang sama kami lalui kembali…
dalam kegelapan malam kami tiba di Ashok, dalam kegelapan malam pula kami meninggalkan Ashok. di kejauhan bandara Indira Gandhi International telah menunggu kami.

Ashokan Farewell

The sun is sinking low in the sky above Ashokan.
The pines and the willows know soon we will part.
There's a whisper in the wind of promises unspoken,
And a love that will always remain in my heart.

My thoughts will return to the sound of your laughter,
The magic of moving as one,
And a time we'll remember long ever after
The moonlight and music and dancing are done.

Will we climb the hills once more?
Will we walk the woods together?
Will I feel you holding me close once again?
Will every song we've sung stay with us forever?
Will you dance in my dreams or my arms until then?

Under the moon the mountains lie sleeping
Over the lake the stars shine.
They wonder if you and I will be keeping
The magic and music, or leave them behind.


Words by Grian MacGregor as sung by Priscilla Herdman on
Forever and Always Flying Fish Records (FF70637)
©1983 and 1991 by Swinging Door Music-BMI