bunga mekarlah kelopakmu di tunas hati berembun
malam ini takkan beranjak lunas kobar api menuntun
@toni, 110411
welcome to Toni. here I am. freedom.
Label: poem
Label: poem
kita pernah berjanji bertemu di stasiun sunyi
ketika lagu tak lagi bernyanyi disertai tari
aku menunggu kereta sunyi, malam lindap di peron hati
satu per satu penumpang turun berjalan, juga ada yang berlari
stasiun sunyi berkali-kali
segelas kopi tak mampu atasi
rasa kantuk dan rindu yang terus menghampiri
kita pernah berjanji bertemu di stasiun sunyi hati ketika pagi belum lagi lahir
gambir, 070311
termini
apa bedanya termini dan gambir? tanyamu suatu ketika
gelandangan tidur pulas di emperan dengan mimpi yang sama, namun berwarna cerah di Termini
saat terjaga, mereka bisa menikmati segelas kopi atau cappucino
namun saat hari berdentang mereka dapat terdampar di piazza atau gerbong kereta sambil meminta-minta sedekah
lalu apa bedanya termini dengan gambir?
gambir, 070311
Label: poems
mengapa cinta selalu menunggu di ujung jalan?
aku memanggilnya masuk ke dalam rumah
namun dia tetap berdiri di sana
di bawah pohon ek
tempat aku dan dia pernah bertemu
di suatu masa
saat bunga-bunga rumput berwarna kuning mentega
mekar dan berseri-seri
kuuntai sebagai mahkota di rambutnya
dia, gadis kecilku, bersenyum indah memesona hati
London, 100510
jam
8:13:00 AM
1 komentar
Label: poem
aku ingin mudik
pulang ke hatimu, dik
di sana kampung halamanku
sawah, sungai, rumpun bambu menunggu
aku ingin sungkem pada Bapak dan Ibu
mohon doa dan tawadhu
menikmati maghrib terakhir
sebelum bergema takbir
pertunjukan wayang
dan tarian kemenangan
digelar anak-anak berlarian
melewati setiap pematang
aku ingin mudik
meski dirimu tak kujumpai, dik
kupandangi bintang-bintang di langitmu
malam lailatul qadar rinduku
@toni, 050910
Label: poem
tubuhku akan hancur
namun hatiku untukmu, dear!
masa depan
ada di langkahmu
dan segaris senyummu
hibernasi
jenasahku beku
nyawaku lindap
tidak cintaku!
hantui aku
dengan tawa, pelukan dan bayanganmu
aku kan menjadi mediummu
satu senja
hilang lagi
di satu mimpi pagi
menarilah
dengan musik musim panen raya
kekasihku bernyanyi
di suatu tepi hutan maya
kami menanti pagi
di fajar kehidupannya
kekasihku terjaga
surya membelai wajahnya
burung-burung menjuranya
aku di sisinya berjaga
i miss u
th s
m ch
@toni, 010910
jam
6:35:00 AM
0
komentar
Label: poems
menusuk ke dalam kepala
hati gundah resah
: sudah hilangkah kebaikan dalam dunia?
dinda
aku menantimu
mencecap bahagia
yang belum habis di rindu
maria
duka anak, dukamu
dukaku, dukamu
lalu dukamu
kautanggung
kau agung
khianat
tusukan
tikaman
dari belakang
dendam berkalang
: semoga puas?
ojek
aku menjemputmu di halte mimpi dan membawamu dengan sepedaku melewati angin, jalan dan tikungan yang belum kita hapal. lalu kita berpisah di ujung jalan bernama keabadian
dik
hidup itu sialan
seharusnya kau tak perlu menaruh belaskasihan
namun dik,
hidup itu bukan semalam
maka seharusnya kaulupakan saja
semua amarahmu di pagi hari
kerasnya hati
luluh di tatapmu
termangu aku di cintamu
bulan
tolong pinjamkan aku
sayap-sayap malam
supaya dapat kubawa kekasihku
yang terlelap di tilam
capek aku
berkelindan amarah
dengan ketololan dunia
namun hadirnya
buatku gairah
tiada yang abadi
semua onggokan
kesia-siaan
kecuali
cinta tak tepermanai
kepada hatimu
kuikatkan hatiku
selalu
aku mencarimu dik
sebelum dunia diciptakan
di relung-relung fantasi
bahkan setelah dunia ditiadakan
di awan-awan surgawi
aku merindukan
saat-saat gelapku
dikau datang
tanpa kata
dan sabda
hadirmu
surya merembang
tidurlah kekasihku
wangi rambutmu
dapat kucium
dalam mimpiku
@toni, 240810
Label: poems
adalah kata
tanpa makna
diriku
tanpa dirimu
musafir
sejak lampau hingga esok
kita mengembara di padang tanpa nama
ketika esok berbelok
kita berjalan ke padang savana cinta
tidurlah
meski mimpi susah dijumpa
seribu malam tidaklah lama
matamu
bola hitam kelam berair teduh
berpendar oleh cahaya subuh
seumpama
aku tak menjumpaimu lagi
langit gelap, api mati
senyummu
di tikungan jalan
dinginkan gerah hari-hari sialan
lalu apa
setelah rupa
tiada?
aku memberkati
hari-hari
yang berhenti
serasa mati
dikau tak di sini
tinggallah bersamaku
hari telah senja
hantu-hantu mengepung malamku
di ruang hampa
bersama bayang-bayangmu
aku menyelam
ke dasar hatimu
dan kutemukan diriku
jauhkah
jarak sedetik
dengan setahun
air yang dari mata menitik
dengan kelopak bunga yang berembun
seandainya
kita bertemu
sepasang bayang cermin berpadu
angin mencarimu
wangimu kucium
tawamu kudengar
: dirimu di mana
senja mencarimu
laut kehilangan ombak
pantai kehilangan riak
malam mencarimu
bulan hilang
bayang hilang
gelap datang
@toni, 220810
jam
5:27:00 PM
0
komentar
Label: poems
antara kita
ibarat ide dan kata
tahukah rembulan
malam ini pungguk tidak datang menjumpaiku?
diam-diam
cecak menghampiri nyamuk
aku terjerat di sarangmu
bergegas
aku berlari ke senyap
mengejar bayangmu lindap
berapa lama keabadian
sebuah kayuhan perahu
di sungaimu terus melaju
ijinkan
aku tertidur di tiap sabdamu
di tirus senyummu
wangi setanggi
rambutmu mayang terurai
matamu ratna baiduri
sepotong senyummu
kusimpan di dompet
supaya tiap saat dapat kucopet
perahuku
dilamun ombak
di lautmu tak beranjak
swarga loka
tempat kita bermimpi
setiap pagi
sekeping sedih
menetes di mata
berkelindan rasa
: rindu dinda
tolong
jangan bangunkan jasadku
dari mimpi-mimpi haiku
engkaukah
yang harus kutunggu
ataukah hantu halusinasiku?
perpisahan
kumainkan serenade senja mengantarmu pulang
dengan segaris senyum merembang
satu pertanyaan bodoh
: mengapa dikau harus pergi, malaikatku?
seribu perpisahan
tidak jua membuat satu ini lebih mudah
bekukan
hatiku di tumpukan gigil beku waktu
hingga “hai”-mu hidupkan diriku
malam-malam
kita menangis berdua
air mata menjadi mata air
menghidupkan jiwa
biarkan aku mengantarmu
hingga batas langit terjauh
tanpa salam perpisahan sedih
laksana kapal mengangkat sauh
kelak ia kembali merapat di dermaga ini
sering
rintik angin dan hembusan hujan bertanya:
: dirimu di mana
pada pucuk-pucuk padi
kusemat kenangan hutan, sawah, malam,
jernih sungai, pokok bambu, burung pagi,
jejak-jejak nan lebam
oleh rindu hati
@toni, 200810
Label: poems
ke dalam pelukanmu
kami anak-anakmu
berlari tersedu-sedu
datang mengadu
kaki kami tertusuk duri
ketika kami coba menghindari
apa yang mesti kami hadapi
namun kami tak kuat hati
telinga kami perih
kabar baik tak teraih
selain kabar buruk nan pedih
fitnah dan dusta yang terpilih
mata kami silau
oleh dunia yang berkilau
menggoda nafsu kian galau
jiwa semakin tak terjangkau
hati kami gaduh
tiap hari mengeluh
tiada saat hening tuk mengadu
ibarat patah sudah sebatang buluh
mama maria
dikau yang pernah berduka
kami sekarang mendura
peluklah kami anak-anakmu semua
@toni, 010510
Label: poem
apatah jalan tanpa awal dan akhir sejak kuputuskan untuk mengikutimu selalu mengajakku terus mengenalinya dari rumput ilalang, bebatuan kerikil, aliran sungai, dan debu panas terik menyengat menjadikan aku teman yang menjejaki tubuhnya, kadang bersandar di pundaknya keletihan, atau tiba-tiba saja rasa ngantuk datang dan aku telah tertidur di atasnya?
jalanan telah mengenal jejakku dan tak pernah ia berdusta mengenai keindahan pagi yang diberikan selalu berbeda setiap hari
@toni, 300410
Label: poem
dan aku akan menjadi petani di ladangmu
berpeluh menggemburkan tanah
menarik bajak sambil menghitung hari-hari
serta musim-musim yang kita lalui
sementara benih-benih kutaburkan
dan doa-doa dikau bisikkan
agar tiada hama dan bencana kekeringan
tunas-tunas menguncup di senyummu
dan aku akan menjadi petani di ladangmu
pada huma dan pematang jejak-jejak kita
membekas di bulir-bulir padi nan gendut
menguning ranum merunduk
@toni, 280410
Label: poem
lara
aral
liar
melarik
lari
alir
air
meriak
: boleh
kuambil kesedihan di matamu?
@toni, 250410
jam
9:44:00 PM
0
komentar
Label: poem
sudah
hapus sedih
mudah
sapih gundah
buncah
basuh basah
: Tuan
sudah datang?
@toni, 250410
jam
9:29:00 PM
0
komentar
Label: poem
lagi
lagu-lagu
semanis gula
mengulang-ulang
gaul
ugal-ugalan
mengalun-alun
di kalung relungmu
gila
menggali
lagi
menggila!
@toni, 250410
jam
9:12:00 PM
0
komentar
Label: poem
|
A woman must have money and a room of her own.
Virginia Woolf (1882-1941) |