menusuk ke dalam kepala
hati gundah resah
: sudah hilangkah kebaikan dalam dunia?
dinda
aku menantimu
mencecap bahagia
yang belum habis di rindu
maria
duka anak, dukamu
dukaku, dukamu
lalu dukamu
kautanggung
kau agung
khianat
tusukan
tikaman
dari belakang
dendam berkalang
: semoga puas?
ojek
aku menjemputmu di halte mimpi dan membawamu dengan sepedaku melewati angin, jalan dan tikungan yang belum kita hapal. lalu kita berpisah di ujung jalan bernama keabadian
dik
hidup itu sialan
seharusnya kau tak perlu menaruh belaskasihan
namun dik,
hidup itu bukan semalam
maka seharusnya kaulupakan saja
semua amarahmu di pagi hari
kerasnya hati
luluh di tatapmu
termangu aku di cintamu
bulan
tolong pinjamkan aku
sayap-sayap malam
supaya dapat kubawa kekasihku
yang terlelap di tilam
capek aku
berkelindan amarah
dengan ketololan dunia
namun hadirnya
buatku gairah
tiada yang abadi
semua onggokan
kesia-siaan
kecuali
cinta tak tepermanai
kepada hatimu
kuikatkan hatiku
selalu
aku mencarimu dik
sebelum dunia diciptakan
di relung-relung fantasi
bahkan setelah dunia ditiadakan
di awan-awan surgawi
aku merindukan
saat-saat gelapku
dikau datang
tanpa kata
dan sabda
hadirmu
surya merembang
tidurlah kekasihku
wangi rambutmu
dapat kucium
dalam mimpiku
@toni, 240810
Wednesday, August 25, 2010
gelisah
Label: poems
Sunday, August 22, 2010
hampa
adalah kata
tanpa makna
diriku
tanpa dirimu
musafir
sejak lampau hingga esok
kita mengembara di padang tanpa nama
ketika esok berbelok
kita berjalan ke padang savana cinta
tidurlah
meski mimpi susah dijumpa
seribu malam tidaklah lama
matamu
bola hitam kelam berair teduh
berpendar oleh cahaya subuh
seumpama
aku tak menjumpaimu lagi
langit gelap, api mati
senyummu
di tikungan jalan
dinginkan gerah hari-hari sialan
lalu apa
setelah rupa
tiada?
aku memberkati
hari-hari
yang berhenti
serasa mati
dikau tak di sini
tinggallah bersamaku
hari telah senja
hantu-hantu mengepung malamku
di ruang hampa
bersama bayang-bayangmu
aku menyelam
ke dasar hatimu
dan kutemukan diriku
jauhkah
jarak sedetik
dengan setahun
air yang dari mata menitik
dengan kelopak bunga yang berembun
seandainya
kita bertemu
sepasang bayang cermin berpadu
angin mencarimu
wangimu kucium
tawamu kudengar
: dirimu di mana
senja mencarimu
laut kehilangan ombak
pantai kehilangan riak
malam mencarimu
bulan hilang
bayang hilang
gelap datang
@toni, 220810
jam
5:27:00 PM
0
komentar
Label: poems
Saturday, August 21, 2010
jarak
antara kita
ibarat ide dan kata
tahukah rembulan
malam ini pungguk tidak datang menjumpaiku?
diam-diam
cecak menghampiri nyamuk
aku terjerat di sarangmu
bergegas
aku berlari ke senyap
mengejar bayangmu lindap
berapa lama keabadian
sebuah kayuhan perahu
di sungaimu terus melaju
ijinkan
aku tertidur di tiap sabdamu
di tirus senyummu
wangi setanggi
rambutmu mayang terurai
matamu ratna baiduri
sepotong senyummu
kusimpan di dompet
supaya tiap saat dapat kucopet
perahuku
dilamun ombak
di lautmu tak beranjak
swarga loka
tempat kita bermimpi
setiap pagi
sekeping sedih
menetes di mata
berkelindan rasa
: rindu dinda
tolong
jangan bangunkan jasadku
dari mimpi-mimpi haiku
engkaukah
yang harus kutunggu
ataukah hantu halusinasiku?
perpisahan
kumainkan serenade senja mengantarmu pulang
dengan segaris senyum merembang
satu pertanyaan bodoh
: mengapa dikau harus pergi, malaikatku?
seribu perpisahan
tidak jua membuat satu ini lebih mudah
bekukan
hatiku di tumpukan gigil beku waktu
hingga “hai”-mu hidupkan diriku
malam-malam
kita menangis berdua
air mata menjadi mata air
menghidupkan jiwa
biarkan aku mengantarmu
hingga batas langit terjauh
tanpa salam perpisahan sedih
laksana kapal mengangkat sauh
kelak ia kembali merapat di dermaga ini
sering
rintik angin dan hembusan hujan bertanya:
: dirimu di mana
pada pucuk-pucuk padi
kusemat kenangan hutan, sawah, malam,
jernih sungai, pokok bambu, burung pagi,
jejak-jejak nan lebam
oleh rindu hati
@toni, 200810
Label: poems
Saturday, May 01, 2010
mama maria
ke dalam pelukanmu
kami anak-anakmu
berlari tersedu-sedu
datang mengadu
kaki kami tertusuk duri
ketika kami coba menghindari
apa yang mesti kami hadapi
namun kami tak kuat hati
telinga kami perih
kabar baik tak teraih
selain kabar buruk nan pedih
fitnah dan dusta yang terpilih
mata kami silau
oleh dunia yang berkilau
menggoda nafsu kian galau
jiwa semakin tak terjangkau
hati kami gaduh
tiap hari mengeluh
tiada saat hening tuk mengadu
ibarat patah sudah sebatang buluh
mama maria
dikau yang pernah berduka
kami sekarang mendura
peluklah kami anak-anakmu semua
@toni, 010510
Label: poem
Friday, April 30, 2010
jalan 4
apatah jalan tanpa awal dan akhir sejak kuputuskan untuk mengikutimu selalu mengajakku terus mengenalinya dari rumput ilalang, bebatuan kerikil, aliran sungai, dan debu panas terik menyengat menjadikan aku teman yang menjejaki tubuhnya, kadang bersandar di pundaknya keletihan, atau tiba-tiba saja rasa ngantuk datang dan aku telah tertidur di atasnya?
jalanan telah mengenal jejakku dan tak pernah ia berdusta mengenai keindahan pagi yang diberikan selalu berbeda setiap hari
@toni, 300410
Label: poem
Wednesday, April 28, 2010
petani
dan aku akan menjadi petani di ladangmu
berpeluh menggemburkan tanah
menarik bajak sambil menghitung hari-hari
serta musim-musim yang kita lalui
sementara benih-benih kutaburkan
dan doa-doa dikau bisikkan
agar tiada hama dan bencana kekeringan
tunas-tunas menguncup di senyummu
dan aku akan menjadi petani di ladangmu
pada huma dan pematang jejak-jejak kita
membekas di bulir-bulir padi nan gendut
menguning ranum merunduk
@toni, 280410
Label: poem
Sunday, April 25, 2010
lara
lara
aral
liar
melarik
lari
alir
air
meriak
: boleh
kuambil kesedihan di matamu?
@toni, 250410
jam
9:44:00 PM
0
komentar
Label: poem
sudah
sudah
hapus sedih
mudah
sapih gundah
buncah
basuh basah
: Tuan
sudah datang?
@toni, 250410
jam
9:29:00 PM
0
komentar
Label: poem
lagi
lagi
lagu-lagu
semanis gula
mengulang-ulang
gaul
ugal-ugalan
mengalun-alun
di kalung relungmu
gila
menggali
lagi
menggila!
@toni, 250410
jam
9:12:00 PM
0
komentar
Label: poem
Thursday, April 22, 2010
Sebuah Pesan untuk Orang Toraja di Awal Abad ke-21
----------------------------------------------------------------
SEBUAH
PESAN UNTUK ORANG TORAJA
DI
AWAL ABAD KE-21
----------------------------------------------------------------
DI MASA LAMPAU ORANG TORAJA MAMPU MEMPERTAHANKAN DAN MENYELAMATKAN KEBERADAAN ETNIS DAN BUDAYA ‘SANG TORAYAN’; BAGAIMANA KE DEPAN?
Pengantar
Identitas setiap komunitas sosial, khususnya komunitas bangsa atau suku-bangsa tidak terbentuk sekali jadi. Masing-masing mempunyai sejarahnya. Oleh karena itu kesadaran setiap anggota komunitas atas sejarah komunitasnya mutlak perlu, apabila komunitas bersangkutan ingin tetap mempertahankan dan memperkembangkan eksistensi jatidiri dasarnya ke depan. Pengenalan atas sejarahnya akan membantu setiap komunitas sosial yang bersangkutan untuk mempertahankan warisan yang baik dan benar. Sedangkan kesalahan di masa lampau akan menjadi pelajaran berharga, agar tidak terulang di masa kini dan di masa depan. Tentu saja tidak terkecualikan dalam hal ini kelompok etnis Toraja. Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk membantu orang Toraja menyadari sejarahnya, dan dengan demikian diharapkan dapat mengambil langkah tepat dan tidak membuat kesalahan fatal ke depan. Tulisan ini berupaya berada dalam lingkup ilmiah. Setiap pernyataan dan informasi historis dilengkapi dengan referensi pada sumber terpercaya.
I. ABAD XVII-XVIII:
1. Setelah Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa (Makassar) dikalahkan Belanda (V.O.C.) yang dibantu oleh Arung Palakka dari Bone, dan dipaksa menandatangani Perjanjian Bungaya pada tahun 1667, maka Kerajaan Bone dengan cepat menjadi paling berpengaruh dan berkuasa di Sulawesi Selatan (lih. Pol, 1940:127 dsl.). Arung Palakka menjadikan kerajaan-kerajaan sekitar sebagai vassal. Ia mengalahkan Sidenreng, sebagian dari Mandar, dan Masenrempulu’. Lalu ia mulai mengarahkan perhatian ke Tondok Lepongan Bulan (lih. Veen, 1940:39). Menurut salah satu catatan hariannya, tahun 1683 pasukannya telah menduduki beberapa desa di wilayah Ma’kale-Rantepao (dikutip dlm. Veen, 1940:39).
2. Dalam invasi ke Tondok Lepongan Bulan ini Arung Palakka disertai Karaeng ri Gowa, dan didukung oleh pasukan Sidenreng dan Mandar (Lijf, 1947-48:528). Dalam beberapa manuskrip ditemukan cerita, bagaimana puang baine dari Sangalla’, Indo’ Garanta’, bersama para tomakaka¬-nya, mendatangi Arung Palakka dan Karaeng ri Gowa sebagai tanda menyerah. Kepadanya diberi dua pilihan: masuk Islam dan dengan demikian akan jadi vassal dari Bone, atau tetap berpegang pada adat dan agama nenek moyangnya dan begitu dijadikan hamba dari Bone dan Gowa. Dan ia memilih yang terakhir: tetap setia pada adat dan agama leluhur! (dikutip dlm. Lijf, 1947-48:528).
3. Perang To Pada Tindo: Pendudukan pasukan Bone lama-kelamaan menimbulkan perlawanan. Terlebih setelah pasukan pendudukan menculik tiga putri bangsawan Tallu Lembangna, dan menegaskan bahwa ketiganya baru akan dibebaskan setelah penduduk bersedia membayar pajak 15 kali lipat. Walau diberitakan ketiganya akhirnya berhasil dibebaskan seorang to barani dari Madandan, bernama Karasiak, peristiwa penculikan itu membuat shock di seluruh negeri (lih. Tangdilintin, 1978:136 dsl.). Lahirlah gerakan To Pada Tindo To Misa’ Pangimpi untuk membebaskan Tondok Lepongan Bulan, yang bersemboyankan “Misa kada dipotuo, pantan kada dipomate”. Perlawanan To Pada Tindo akhirnya berhasil mengusir tentara pendudukan. Untuk merayakan kemenangan itu, dilangsungkan bua’ di Bamba Puang, yang disebut “Bua’ Kasalle Tondok Lepongan Bulan” (Lih. Tangdilintin, 1978:144 dsl.; Veen, 1940:39 dsl.). Peristiwa ini menjadi dasar historis solidaritas tradisional orang Toraja ketika mereka menemukan diri dalam kesulitan (lih. Lijf, 1947-48:528-529).
4. Setiap komunitas adat di Tondok Lepongan Bulan mengambil bagian dalam gerakan To Pada Tindo, kecuali komunitas adat Karunanga. Itu sebabnya komunitas adat ini selanjutnya dijuluki “To ribang la’bo’, to simpo mataran” (lih. Tangdilintin, 1978:144 dsl.).
5. Tercatat sesudah itu pasukan Bone masih mencoba menginvasi Tondok Lepongan Bulan pada tahun 1702 dan 1705 (Lijf, 1947-48:528). Tetapi akhirnya pada tahun 1710 dicapai sebuah perjanjian perdamaian. Perjanjian ini dibuat di desa Malua’, sehingga disebut Basse Malua’ (Tangdilintin, 1978: 161 dan 170 dsl.). Hampir dua abad kemudian perjanjian ini tetap dihormati, ketika pada tahun 1897, atas permintaan Datu Luwu’, pasukan Bone (songko’ borrong) di bawah pimpinan Petta Punggawa memasuki Tondok Lepongan Bulan untuk memerangi pasukan Sidenreng yang dipimpin Ande Guru dalam konflik memperebutkan monopoli perdagangan kopi antara Luwu (Palopo) dan Sidenreng (Pare-Pare), yang dikenal dengan nama “rarinna kopi batu”. Di setiap tondok yang dilalui pasukannya, Petta Punggawa menekankan tugas melindungi penduduk dalam misi mereka, dan bahwa kedatangan mereka atas permintaan Luwu; mereka tidak mau merusak hubungan damai antara Bone dan Tondok Lepongan Bulan yang telah dicapai dua abad berselang. (Lih. Bigalke, 1981:54-58; Lijf, 1947-48:529-530).
II. ABAD XX:
1. Pemaksaan Agama oleh DI/TII:
Sesungguhnya gerakan yang dipimpin Kahar Muzakkar yang berlangsung sekitar 15 tahun (1950-1965) di Sulawesi Selatan, semula tidak membawa warna ideologi agama. Gerakan itu semula bernama KGSS (Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan), yang bertujuan memperjuangkan tempat yang layak dalam era Indonesia merdeka bagi para pejuang gerilya Sulsel selama perang kemerdekaan. Tetapi kemudian beralih menjadi gerakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Dan dengan itu dilanjutkanlah gerakan islamisasi dengan paksa. Dengan mengutip tulisan berjudul “20.000 Pengungsi Tercatat hingga Akhir Oktober 1953 di Luwu” dalam edisi Rakyat Berjoang, 5 November 1953: p.2, Bigalke menulis: “Akibat-akibat Islamisasi…dirasakan di dataran tinggi wilayah Luwu dan di pinggiran timur dan selatan Tana Toraja sejak awal 1952. Baik orang-orang Kristen maupun pemeluk agama asli menjadi sasaran serangan para gerilyawan. Terjadi banyak penculikan, pembunuhan, pencurian, dan insiden di mana desa-desa dibakar. Pemaksaan masuk Islam terjadi di setiap tempat tersebut, di wilayah baratdaya Toraja sendiri mencapai beberapa ribu orang. Para pengungsi dari bagian utara dan barat Luwu mulai mengalir ke Toraja di tahun 1952, dan mencapai puncaknya menjelang akhir 1953, mencapai sekitar 20.000 orang di kota Makale dan Rantepao” (Bigalke, 1981:423).
Pada September 1953 Kahar mengeluarkan Piagam Makalua’, yang berisi dasar ideologis gerakan DI/TII. Salah satu poin penting dan kedengarannya baik dalam Piagam tersebut, ialah pernyataan bahwa kebebasan beragama dijamin tetapi hanya untuk agama Islam dan Kristiani. Tetapi apa yang baik di atas kertas, ternyata tidak dilakukan dalam praktek. “Dalam kurun waktu enam bulan semua orang, yang sebelumnya telah diberitahu untuk memilih antara Islam atau Kekristenan, dipaksa menyatakan diri masuk Islam” (Bigalke, 1981:424). “Untuk mencapai tujuannya, yaitu mengislamkan orang-orang Kristen, maka mereka (para gerilyawan DI/TII) memisahkan tokoh-tokoh Kristen dengan anggota-anggota biasa. Tokoh-tokoh Kristen ini disiksa amat sangat supaya mau masuk Islam. Sudah tentu sebagian dari mereka itu akan terpaksa mengaku masuk Islam dan mereka inilah diinstruksikan kembali mengajak orang-orang Kristen lainnya masuk Islam saja. Tetapi sebagian dari mereka itu tetap bersaksi bahwa walau dengan pedang sekali pun mereka tidak akan dipisahkan dari Tuhannya. Maka menyusullah syahid-syahid lainnya dalam Gereja Toraja, antara lain Pdt. J. Tawaluyan dan Lumeno, dan J.B. Tangdililing yang dibunuh di Palopo… Pdt. S.Tappil, Guru Injil Baso’ dan 8 orang Kristen Rongkong dibunuh di Masamba…Ds. P.S. Palisungan, L. Sodu dan H. Djima’ (keduanya pengantar Jemaat) dibunuh setelah mengalami siksaan yang hebat di Tjappa’ Solo’, berpuluh-puluh lainnya disiksa kemudian dibunuh di Rongkong, antara lain pengantar-pengantar Jemaat: J. Ledo, J. Subi’, Ngila, M. Maddulu, M. Liling dan lain-lain” (Sarira, 1975:45).
2. Peristiwa Tahun 1953
Di tengah gelombang ancaman pemaksaan agama oleh DI/TII, terjadilah peristiwa pada bulan April 1953. Tampaknya kecewa karena merasa cita-cita perjuangan asli dalam KGSS telah digadaikan oleh Kahar dengan bergabung pada pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo di Jawa Barat, pada Maret 1952 Andi Sose bersama pasukannya berbalik haluan. Pasukannya dijadikan satu batalion TNI dengan nama “Batalion 720”, dan Andi Sose sebagai komandannya diangkat menjadi Kapten. Batalion ini ditempatkan di Tana Toraja. Tetapi tingkah laku anggota Batalion 720 lama-kelamaan membuat masyarakat merasa tidak aman dan mulai resah. Kenangan akan pendudukan pasukan Arung Palakka di abad ke-17 kembali muncul dibenak masyarakat. Dengan demikian keresahan masyarakat tidak lagi hanya terbatas pada soal keamanan. Masyarakat mulai menyadari bahwa eksistensi etnis dan budaya Toraja kembali terancam. Situasi ini juga membuat unsur Toraja dalam Batalion 720, Kompi 2 di bawah Frans Karangan, semakin menjauh dari Andi Sose. Diam-diam terbentuklah kelompok perlawanan yang memandang diri sebagai penjelmaan To Pada Tindo dari abad ke-17. Situasi genting semakin memuncak ketika tersiar berita bahwa Andi Sose berencana mendirikan mesjid raya di tengah kolam di kota Makale, dan memaksa orang-orang Kristen yang pergi ke gereja pada hari Minggu membawa batu kali ke lokasi itu. Akhirnya pecah konflik yang mencapai puncaknya pada pertempuran 4 April di Makale, di mana kelompok perlawanan berhasil memaksa Andi Sose dan pasukannya meninggalkan Tana Toraja (lih. Bigalke, 1981:408-418). Bigalke menulis, “Sukses perlawanan 4 April itu menaikkan prestise pemimpin-pemimpin Kristen (Gereja Toraja) di Toraja, yang pada gilirannya menjelaskan insiden tersebut sebagai luapan kesadaran etnis. Kekalahan utama sesungguhnya dialami oleh kalangan elit tradisional di selatan (Tallu Lembangna) dan kelompok Muslim sekutu mereka di Makale, yang berpihak pada Andi Sose. Sejumlah dari mereka ini sementara waktu melarikan diri dari Toraja mengikuti pasukan yang mengundurkan diri” (Bigalke, 1981:416).
Kemudian Batalion 422 Diponegoro ditarik dari Toraja, dan digantikan oleh pasukan Brawijaya dari Jatim. Kompi 2 di bawah Frans Karangan ditempatkan di Palu, yang selanjutnya ditingkatkan menjadi Batalion 758.
3. Peristiwa Tahun 1958:
Pada bulan-bulan pertama 1958 masyarakat Toraja kembali dikejutkan oleh laporan bahwa pasukan Brawijaya akan ditarik dari Toraja untuk tugas memadamkan pemberontakan Permesta di Minahasa, dan akan digantikan oleh unit-unit R.I. 23, batalion yang dikomandani Andi Sose. Parkindo, partai politik utama di Tana Toraja waktu itu, mengutus delegasi ke Jakarta untuk memprotes penarikan pasukan Brawijaya. Sebuah resolusi bersama dari partai-partai politik di Toraja juga dikirimkan melalui Kepala Daerah kepada Gubernur Sulsel dan Mendagri di Jakarta. Tetapi semua itu gagal mencegah penempatan R.I. 23 di Tana Toraja. Masyarakat Toraja memandang hal ini sebagai penghinaan besar, dan bersiap menghadapinya. Frans Karangan, yang juga merasa khawatir, mengirim perlop satu kompi di bawah Pappang dari Palu ke Toraja. Begitu juga orang Toraja dari unit-unit lainnya dicutikan ke Toraja. Dengan alasan keamanan direncanakan pengungsian penduduk dari kota Makale dan Rantepao ke desa-desa yang aman. Tanggal yang dipilih untuk boikot itu ialah 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional. Ini antara lain untuk menyatakan kepada Pemerintah Pusat bahwa nasionalisme masyarakat Toraja jangan diragukan. Pada peristiwa 1953 simbolisme yang digunakan ialah perjuangan To Pada Tindo. Pappang membentuk apa yang disebut Barisan Komando Rakyat (BKR), yang terdiri dari anggota kompinya, OPD (Organisasi Pertahanan Desa), para pelajar dan penduduk, sebagai persiapan menghadapi serangan R.I. 23 yang dipastikan akan tiba. Setelah terjadi kontak senjata kecil-kecilan, BKR memakai taktik mundur penuh ke Pangala’. Pasukan R.I. 23 maju mengejar seakan-akan tanpa dapat ditahan, sambil membakar lumbung-lumbung desa, rumah-rumah dan sekolah-sekolah. Tersiar desas-desus bahwa para komandan R.I. 23 itu kebal peluru. Yang jelas organisasi mereka lebih unggul dalam hal disiplin dan persenjataan, dibandingkan dengan pasukan BKR yang serba kurang pengalaman bertempur dan persenjataan. Di Pangala’ BKR menghentikan taktik mundur. Pappang mereorganisir pasukannya, dengan mereduksi unit-unit tergabung yang telah bertempur tidak efektif ke dalam unit-unit terpisah: polisi, OPD, penduduk, pelajar, dan kompinya sendiri. Pasukan R.I. 23 yang mengejar dan tiba di Pangala’ dalam keadaan letih tidak meyangka akan menghadapi perlawanan sengit. Pasukan BKR yang mengenal medan membuat taktik mundur, dan pasukan R.I. 23 mengejar. Tanpa mereka sangka unit BKR lainnya memotong mereka dari belakang. Pertempuran sengit itu merupakan kemenangan besar pertama bagi BKR. Pasukan R.I. 23 yang masih tersisa mundur tak teratur, meninggalkan banyak senjata dan lebih dari seratus korban di pihaknya.
Setelah itu pasukan R.I. 23 tinggal terpusat di kota Rantepao dan Makale. Dan pasukan BKR mengadakan tekanan terus-menerus atas mereka. Jalur komunikasi antara kedua kota itu berhasil diputus, sehingga tak ada bala bantuan yang bisa lolos dari Makale ke Rantepao. Akhirnya pasukan yang di Rantepao mengundurkan diri di tengah suatu malam gelap ke Makale lewat La’bo’ - Randan Batu - Sangalla’. Pasukan BKR, yang terlambat mengetahui pelarian itu, mencoba mengejar. Mereka masih berhasil mendapatkan dan menawan barisan belakang. Tiga hari kemudian semua unit R.I. 23 ditarik dari Makale dan meninggalkan Tana Toraja (lih. Bigalke, 1981:436-446).
Demikianlah orang Toraja di masa lampau membuktikan mampu mempertahankan independensinya, tak rela dijajah oleh orang lain, termasuk oleh saudara-saudara sebangsanya sendiri. Dan dengan demikian mereka berhasil menjaga eksistensi etnis dan budayanya dalam kerangka NKRI yang bersemboyankan “Bhinneka Tunggal Ika”.
4. Pa’olle-olle Anak Gembala
Sebagaimana biasanya terjadi di mana pun, dalam sejarah pergulatan orang Toraja mempertahankan eksistensi etnis dan budayanya, ada saja yang berkhianat dan bekerjasama dengan musuh. Di tahun 1950-an anak-anak gembala di Toraja dengan hati perih menyindir mereka itu lewat kata-kata berlanggam khas ini:
Olle…olle…de’,
Lai’ Rinding salle gau’,
Sampe Pandin buletuk,
Umbalukan tondokna tallu suku!
III. ABAD XXI?
Masih adakah kesadaran orang Toraja dewasa ini atas sejarah mereka? Sukarno menegaskan: “JAS MERAH!” (JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH!). Dan orang Perancis berkata: “L’histoire se repete”, (Sejarah terulang); walau kadangkala dalam wujud berbeda namun isi tetap sama. Sadarkah kita akan salah satu persoalan pokok bangsa ini yang hingga kini belum juga terselesaikan? Itulah persoalan KEBEBASAN BERAGAMA yang usianya setua Republik ini! Pasal 29 UUD 1945 menjamin Kebebasan Beragama bagi setiap warga negara. Tetapi apa kenyataannya? Apa yang dialami oleh kelompok minoritas Ahmadiyah? Dalam dua dekade terakhir berapa ratus tempat ibadah (baca: gereja) dirusak dan dibakar di negeri ini? Lalu tindakan apa yang telah diambil pihak berwenang terhadap aksi-aksi melanggar hukum dan main hakim sendiri seperti itu? Di Negara Hukum kita ini kelihatannya bahkan pihak berwenang pun takut terhadap bayangan tirani mayoritas. Kalau penguasa saja takut, apalagi rakyat minoritas! Jangan kita terlalu cepat melupakan dua peristiwa tragis resen: kerusuhan Ambon dan Poso! Mampukah kita membaca secara tepat dua peristiwa menyedihkan itu? Keduanya dimotori kelompok radikal agama yang didatangkan dari luar!
Akhirnya, relakah orang Toraja abad XXI melenyapkan JATIDIRI ETNIS dan BUDAYA SANG TORAYAN, yang oleh nenek moyang dan generasi pendahulu telah berhasil dipertahankan dengan keringat dan darah? Tetapi kalau begitu anak-anak gembala Toraja tahun 1950-an akan kembali dengan perih hati MA’OLLE-OLLE!
SUMBER
BIGALKE, Terance W.
1981 A Social History of “Tana Toraja” 1870-1965, (PhD Dissertation, Michigan London).
LIJF, J.M.van
1947/48 “Kentrekken en problemen van de geschiedenis der Sa’dan-Toradja-landen”, IndonesiĆ«, I : 518-535.
POL, H.
1940 “Geschiedenis van Loewoe”, dlm. Om te gedenken; Vijfentwintig jaar Zendingsarbeid van den G.Z.B. onder de Sa’dan Toradja’s, Zuid-Midden-Celebes, (Delft): 119-140.
SARIRA, J.A.
1975 Suatu Survey mengenai Gereja Toraja Rantepao; BENIH YANG TUMBUH VI, (Rantepao-Jakarta): khususnya Bab I.
TANGDILINTIN, L.T.
1978 Sejarah dan Pola-Pola Hidup Toraja, (Yalbu Tana Toraja, Ujung Pandang).
Veen, H. van der
1940 “Voorheen en thans”, dlm. Om te gedenken: 35-53.
jam
1:09:00 PM
1 komentar
Wednesday, April 21, 2010
trembling
now i'm trembling, my beloved
for everything moved
lower as they stranded
out of my hand
stand beside me, my beloved
it's only emptiness and cold
when i try to catch the bold
of your smile and memories shed
now i'm trembling, my beloved
nothing can be saved
only good things brewed
'til my nights faded
@makassar, 210410
jam
9:06:00 PM
0
komentar
Label: poem
Friday, April 09, 2010
laut malam
dingin malam dan ombak yang malas
selalu memanggil-manggil dirimu
perahuku kujangkarkan di lautmu
@toni, 090410Label: poem
Sunday, April 04, 2010
sajak-sajak minggu paskah
minggu paskah 1
seekor kupu-kupu
pagi tadi datang mengabarkan
: dikau terjaga dari maut!
minggu paskah 2
bila hidup setelah kematian adalah kehidupan
lalu apakah arti kematian
yang setiap hari kami jumpai?
minggu paskah 3
luka-lukamu
belum lagi kami minyaki
bekas darah, debu, ludah
belum kami bersihkan
jasadmu
belum kami mandikan dan doakan
: selalu ketergesa-gesaan kami
kaumaafkan
minggu paskah 4
tentulah engkau amat tergila-gila
pada kami
sehingga mau kembali lagi di sini
minggu paskah 5
kemarin seorang malaikat berwajah murung mampir di rumah dan bercerita tentang sayapnya ditanggalkan karena jatuh cinta pada seorang manusia namun sayangnya manusia itu lalu pergi meninggalkannya
pagi tadi malaikat itu tersenyum dan berkata: mengapa manusia selalu membayangkan malaikat bersayap?
dan kami tertawa lama sekali
minggu paskah 6
sebatang kayu kami pakai menggantungmu
sebatang kayu itu kaupakai mengangkat kami
minggu paskah 7
tolong ingatkan kami pelupa ini, Tuhan
bahwa Engkau sudah memaafkan kami
@toni, 040410
jam
7:50:00 PM
0
komentar
Label: poems
sajak-sajak sabtu sepi
sabtu sepi 1
: apa arti keheningan
seekor burung pipit
di atas batu makam
sabtu sepi 2
kupandangi dikau
berkata-kata bisu
tertawa, menangis
dan berjalan
dalam hening pagi
serindu hujan
pada sungai
di awal masa
sabtu sepi 3
ada yang berangkat
pagi-pagi buta
tergesa
sabtu sepi 4
lalu apa
setelah tiada?
sabtu sepi 5
engkau tahu sunyi pagi dapat membunuhmu, demikian sabdamu
sehelai daun
lepas dari tangkai
jatuh di pangkuanmu
sabtu sepi 6
dapatkah engkau hitung
butir-butir rindu
yang jatuh bersama hujan
sore nanti?
sabtu sepi 7
maafkan atas kekurangramahan kami
bila engkau datang lagi
kami akan menerimamu dengan hamparan karpet
kalungan bunga
segelas anggur tua
dan sekerat roti
yang belum sempat kauhabiskan
@toni, 030410
Label: poems
Saturday, April 03, 2010
ayo berlatih dengan sang naga!
bagaimana bila seorang membelot dari tradisi? apalagi tradisi yang dilanggar merupakan kebanggaan bangsa Viking yang kesohor itu: membantai naga. demikian tema yang mau diangkat oleh film: How to train your dragon. judulnya terdengar sangat teknis, namun jangan salah duga dulu, isinya sangat menghibur.
film animasi yang diangkat dari novel karangan Cressida Cowell mengambil setting bangsa Viking yang melatih anak-anak mereka bagaimana menaklukkan aneka macam naga. dengan demikian mereka mewariskan kebencian manusia terhadap mahluk reptil itu. berbagai latihan dan manual mereka pelajari untuk dapat membunuh naga. namun, Hiccup anak sang kepala suku punya cara yang aneh, alih-alih mengacungkan pedang, ia malahan melepaskan semua persenjataannya maju mendekati sang naga dan membelai-belainya. teknik ini dipelajari dari perjumpaannya dengan Toothless, seekor naga Night Fury berwarna biru dengan mata besar (mengapa wajahnya mengingatkan pada Lilo and Stitch?). Toothless ditemukannya di dekat danau dan tidak dapat terbang ke mana-mana karena sebelah sayap pada ekornya telah tiada.
Hiccup belajar banyak mengenai naga dari Toothless, lebih dari itu ia belajar mengenal dunia nan luas karena kemudian dapat menunggang sang naga terbang. Astrid yang memusuhi Hiccup dan menjadi pesaingnya dalam pelajaran menaklukkan naga, akhirnya mengetahui rahasia ini. Toothless membawa mereka berdua terbang tinggi, mengajari mereka mengenai arti persahabatan, dan menunjukkan sebuah rahasia besar di dunia naga. lihatlah bagaimana reaksi Astrid kemudian:
Astrid: [sambil meninju Hiccup] That's for kidnapping me.
[kemudian mencium Hiccup] Astrid: That's for everything else.
akankah prasangka dan tradisi bangsa Viking sebagai penakluk naga akan berubah? bagaimana Hiccup berjuang membela Toothless dari pembantaian?
film ini layak ditonton sebagai hiburan keluarga yang memberikan pelajaran mengenai prasangka, kebanggaan, serta nilai-nilai persahabatan.
untuk itu menurut saya ia layak mendapat nilai 8 dari 10.
jam
8:59:00 PM
0
komentar
Label: movie review