Tuesday, September 07, 2010

bunga kuning mentega

mengapa cinta selalu menunggu di ujung jalan?

aku memanggilnya masuk ke dalam rumah

namun dia tetap berdiri di sana

di bawah pohon ek

tempat aku dan dia pernah bertemu

di suatu masa

saat bunga-bunga rumput berwarna kuning mentega

mekar dan berseri-seri

kuuntai sebagai mahkota di rambutnya

dia, gadis kecilku, bersenyum indah memesona hati


London, 100510

Monday, September 06, 2010

hampir lebaran

aku ingin mudik
pulang ke hatimu, dik
di sana kampung halamanku
sawah, sungai, rumpun bambu menunggu

aku ingin sungkem pada Bapak dan Ibu
mohon doa dan tawadhu
menikmati maghrib terakhir
sebelum bergema takbir

pertunjukan wayang
dan tarian kemenangan
digelar anak-anak berlarian
melewati setiap pematang

aku ingin mudik
meski dirimu tak kujumpai, dik
kupandangi bintang-bintang di langitmu
malam lailatul qadar rinduku

@toni, 050910

Thursday, September 02, 2010

biarpun

tubuhku akan hancur
namun hatiku untukmu, dear!

masa depan
ada di langkahmu
dan segaris senyummu

hibernasi
jenasahku beku
nyawaku lindap
tidak cintaku!

hantui aku
dengan tawa, pelukan dan bayanganmu
aku kan menjadi mediummu

satu senja
hilang lagi
di satu mimpi pagi

menarilah
dengan musik musim panen raya
kekasihku bernyanyi
di suatu tepi hutan maya
kami menanti pagi

di fajar kehidupannya
kekasihku terjaga
surya membelai wajahnya
burung-burung menjuranya
aku di sisinya berjaga

i miss u
th s
m ch

@toni, 010910

Wednesday, August 25, 2010

gelisah

menusuk ke dalam kepala
hati gundah resah
: sudah hilangkah kebaikan dalam dunia?

dinda
aku menantimu
mencecap bahagia
yang belum habis di rindu

maria
duka anak, dukamu
dukaku, dukamu
lalu dukamu
kautanggung
kau agung

khianat
tusukan
tikaman
dari belakang
dendam berkalang
: semoga puas?

ojek
aku menjemputmu di halte mimpi dan membawamu dengan sepedaku melewati angin, jalan dan tikungan yang belum kita hapal. lalu kita berpisah di ujung jalan bernama keabadian

dik
hidup itu sialan
seharusnya kau tak perlu menaruh belaskasihan
namun dik,
hidup itu bukan semalam
maka seharusnya kaulupakan saja
semua amarahmu di pagi hari

kerasnya hati
luluh di tatapmu
termangu aku di cintamu

bulan
tolong pinjamkan aku
sayap-sayap malam
supaya dapat kubawa kekasihku
yang terlelap di tilam

capek aku
berkelindan amarah
dengan ketololan dunia
namun hadirnya
buatku gairah

tiada yang abadi
semua onggokan
kesia-siaan
kecuali
cinta tak tepermanai

kepada hatimu
kuikatkan hatiku
selalu

aku mencarimu dik
sebelum dunia diciptakan
di relung-relung fantasi
bahkan setelah dunia ditiadakan
di awan-awan surgawi

aku merindukan
saat-saat gelapku
dikau datang
tanpa kata
dan sabda
hadirmu
surya merembang

tidurlah kekasihku
wangi rambutmu
dapat kucium
dalam mimpiku

@toni, 240810

Sunday, August 22, 2010

hampa

adalah kata
tanpa makna
diriku
tanpa dirimu

musafir
sejak lampau hingga esok
kita mengembara di padang tanpa nama
ketika esok berbelok
kita berjalan ke padang savana cinta

tidurlah
meski mimpi susah dijumpa
seribu malam tidaklah lama

matamu
bola hitam kelam berair teduh
berpendar oleh cahaya subuh

seumpama
aku tak menjumpaimu lagi
langit gelap, api mati

senyummu
di tikungan jalan
dinginkan gerah hari-hari sialan

lalu apa
setelah rupa
tiada?

aku memberkati
hari-hari
yang berhenti
serasa mati
dikau tak di sini

tinggallah bersamaku
hari telah senja
hantu-hantu mengepung malamku
di ruang hampa
bersama bayang-bayangmu

aku menyelam
ke dasar hatimu
dan kutemukan diriku

jauhkah
jarak sedetik
dengan setahun
air yang dari mata menitik
dengan kelopak bunga yang berembun

seandainya
kita bertemu
sepasang bayang cermin berpadu

angin mencarimu
wangimu kucium
tawamu kudengar
: dirimu di mana

senja mencarimu
laut kehilangan ombak
pantai kehilangan riak

malam mencarimu
bulan hilang
bayang hilang
gelap datang

@toni, 220810

Saturday, August 21, 2010

jarak

antara kita
ibarat ide dan kata

tahukah rembulan
malam ini pungguk tidak datang menjumpaiku?

diam-diam
cecak menghampiri nyamuk
aku terjerat di sarangmu

bergegas
aku berlari ke senyap
mengejar bayangmu lindap

berapa lama keabadian
sebuah kayuhan perahu
di sungaimu terus melaju

ijinkan
aku tertidur di tiap sabdamu
di tirus senyummu

wangi setanggi
rambutmu mayang terurai
matamu ratna baiduri

sepotong senyummu
kusimpan di dompet
supaya tiap saat dapat kucopet

perahuku
dilamun ombak
di lautmu tak beranjak

swarga loka
tempat kita bermimpi
setiap pagi

sekeping sedih
menetes di mata
berkelindan rasa
: rindu dinda

tolong
jangan bangunkan jasadku
dari mimpi-mimpi haiku

engkaukah
yang harus kutunggu
ataukah hantu halusinasiku?

perpisahan
kumainkan serenade senja mengantarmu pulang
dengan segaris senyum merembang

satu pertanyaan bodoh
: mengapa dikau harus pergi, malaikatku?

seribu perpisahan
tidak jua membuat satu ini lebih mudah

bekukan
hatiku di tumpukan gigil beku waktu
hingga “hai”-mu hidupkan diriku

malam-malam
kita menangis berdua
air mata menjadi mata air
menghidupkan jiwa

biarkan aku mengantarmu
hingga batas langit terjauh
tanpa salam perpisahan sedih
laksana kapal mengangkat sauh
kelak ia kembali merapat di dermaga ini

sering
rintik angin dan hembusan hujan bertanya:
: dirimu di mana

pada pucuk-pucuk padi
kusemat kenangan hutan, sawah, malam,
jernih sungai, pokok bambu, burung pagi,
jejak-jejak nan lebam
oleh rindu hati

@toni, 200810

Saturday, May 01, 2010

mama maria

ke dalam pelukanmu
kami anak-anakmu
berlari tersedu-sedu
datang mengadu

kaki kami tertusuk duri
ketika kami coba menghindari
apa yang mesti kami hadapi
namun kami tak kuat hati

telinga kami perih
kabar baik tak teraih
selain kabar buruk nan pedih
fitnah dan dusta yang terpilih

mata kami silau
oleh dunia yang berkilau
menggoda nafsu kian galau
jiwa semakin tak terjangkau

hati kami gaduh
tiap hari mengeluh
tiada saat hening tuk mengadu
ibarat patah sudah sebatang buluh

mama maria
dikau yang pernah berduka
kami sekarang mendura
peluklah kami anak-anakmu semua

@toni, 010510

Friday, April 30, 2010

jalan 4

apatah jalan tanpa awal dan akhir sejak kuputuskan untuk mengikutimu selalu mengajakku terus mengenalinya dari rumput ilalang, bebatuan kerikil, aliran sungai, dan debu panas terik menyengat menjadikan aku teman yang menjejaki tubuhnya, kadang bersandar di pundaknya keletihan, atau tiba-tiba saja rasa ngantuk datang dan aku telah tertidur di atasnya?

jalanan telah mengenal jejakku dan tak pernah ia berdusta mengenai keindahan pagi yang diberikan selalu berbeda setiap hari

@toni, 300410

Wednesday, April 28, 2010

petani

dan aku akan menjadi petani di ladangmu
berpeluh menggemburkan tanah
menarik bajak sambil menghitung hari-hari
serta musim-musim yang kita lalui

sementara benih-benih kutaburkan
dan doa-doa dikau bisikkan
agar tiada hama dan bencana kekeringan
tunas-tunas menguncup di senyummu

dan aku akan menjadi petani di ladangmu
pada huma dan pematang jejak-jejak kita
membekas di bulir-bulir padi nan gendut
menguning ranum merunduk

@toni, 280410

Sunday, April 25, 2010

lara

lara
aral
liar
melarik

lari
alir
air
meriak

: boleh
kuambil kesedihan di matamu?

@toni, 250410

sudah

sudah
hapus sedih
mudah
sapih gundah

buncah
basuh basah

: Tuan
sudah datang?

@toni, 250410

lagi

lagi
lagu-lagu
semanis gula
mengulang-ulang

gaul
ugal-ugalan
mengalun-alun
di kalung relungmu

gila
menggali
lagi
menggila!

@toni, 250410

Thursday, April 22, 2010

Sebuah Pesan untuk Orang Toraja di Awal Abad ke-21

----------------------------------------------------------------
SEBUAH
PESAN UNTUK ORANG TORAJA
DI
AWAL ABAD KE-21
----------------------------------------------------------------

DI MASA LAMPAU ORANG TORAJA MAMPU MEMPERTAHANKAN DAN MENYELAMATKAN KEBERADAAN ETNIS DAN BUDAYA ‘SANG TORAYAN’; BAGAIMANA KE DEPAN?

Pengantar
Identitas setiap komunitas sosial, khususnya komunitas bangsa atau suku-bangsa tidak terbentuk sekali jadi. Masing-masing mempunyai sejarahnya. Oleh karena itu kesadaran setiap anggota komunitas atas sejarah komunitasnya mutlak perlu, apabila komunitas bersangkutan ingin tetap mempertahankan dan memperkembangkan eksistensi jatidiri dasarnya ke depan. Pengenalan atas sejarahnya akan membantu setiap komunitas sosial yang bersangkutan untuk mempertahankan warisan yang baik dan benar. Sedangkan kesalahan di masa lampau akan menjadi pelajaran berharga, agar tidak terulang di masa kini dan di masa depan. Tentu saja tidak terkecualikan dalam hal ini kelompok etnis Toraja. Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk membantu orang Toraja menyadari sejarahnya, dan dengan demikian diharapkan dapat mengambil langkah tepat dan tidak membuat kesalahan fatal ke depan. Tulisan ini berupaya berada dalam lingkup ilmiah. Setiap pernyataan dan informasi historis dilengkapi dengan referensi pada sumber terpercaya.

I. ABAD XVII-XVIII:
1. Setelah Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa (Makassar) dikalahkan Belanda (V.O.C.) yang dibantu oleh Arung Palakka dari Bone, dan dipaksa menandatangani Perjanjian Bungaya pada tahun 1667, maka Kerajaan Bone dengan cepat menjadi paling berpengaruh dan berkuasa di Sulawesi Selatan (lih. Pol, 1940:127 dsl.). Arung Palakka menjadikan kerajaan-kerajaan sekitar sebagai vassal. Ia mengalahkan Sidenreng, sebagian dari Mandar, dan Masenrempulu’. Lalu ia mulai mengarahkan perhatian ke Tondok Lepongan Bulan (lih. Veen, 1940:39). Menurut salah satu catatan hariannya, tahun 1683 pasukannya telah menduduki beberapa desa di wilayah Ma’kale-Rantepao (dikutip dlm. Veen, 1940:39).

2. Dalam invasi ke Tondok Lepongan Bulan ini Arung Palakka disertai Karaeng ri Gowa, dan didukung oleh pasukan Sidenreng dan Mandar (Lijf, 1947-48:528). Dalam beberapa manuskrip ditemukan cerita, bagaimana puang baine dari Sangalla’, Indo’ Garanta’, bersama para tomakaka¬-nya, mendatangi Arung Palakka dan Karaeng ri Gowa sebagai tanda menyerah. Kepadanya diberi dua pilihan: masuk Islam dan dengan demikian akan jadi vassal dari Bone, atau tetap berpegang pada adat dan agama nenek moyangnya dan begitu dijadikan hamba dari Bone dan Gowa. Dan ia memilih yang terakhir: tetap setia pada adat dan agama leluhur! (dikutip dlm. Lijf, 1947-48:528).

3. Perang To Pada Tindo: Pendudukan pasukan Bone lama-kelamaan menimbulkan perlawanan. Terlebih setelah pasukan pendudukan menculik tiga putri bangsawan Tallu Lembangna, dan menegaskan bahwa ketiganya baru akan dibebaskan setelah penduduk bersedia membayar pajak 15 kali lipat. Walau diberitakan ketiganya akhirnya berhasil dibebaskan seorang to barani dari Madandan, bernama Karasiak, peristiwa penculikan itu membuat shock di seluruh negeri (lih. Tangdilintin, 1978:136 dsl.). Lahirlah gerakan To Pada Tindo To Misa’ Pangimpi untuk membebaskan Tondok Lepongan Bulan, yang bersemboyankan “Misa kada dipotuo, pantan kada dipomate”. Perlawanan To Pada Tindo akhirnya berhasil mengusir tentara pendudukan. Untuk merayakan kemenangan itu, dilangsungkan bua’ di Bamba Puang, yang disebut “Bua’ Kasalle Tondok Lepongan Bulan” (Lih. Tangdilintin, 1978:144 dsl.; Veen, 1940:39 dsl.). Peristiwa ini menjadi dasar historis solidaritas tradisional orang Toraja ketika mereka menemukan diri dalam kesulitan (lih. Lijf, 1947-48:528-529).

4. Setiap komunitas adat di Tondok Lepongan Bulan mengambil bagian dalam gerakan To Pada Tindo, kecuali komunitas adat Karunanga. Itu sebabnya komunitas adat ini selanjutnya dijuluki “To ribang la’bo’, to simpo mataran” (lih. Tangdilintin, 1978:144 dsl.).

5. Tercatat sesudah itu pasukan Bone masih mencoba menginvasi Tondok Lepongan Bulan pada tahun 1702 dan 1705 (Lijf, 1947-48:528). Tetapi akhirnya pada tahun 1710 dicapai sebuah perjanjian perdamaian. Perjanjian ini dibuat di desa Malua’, sehingga disebut Basse Malua’ (Tangdilintin, 1978: 161 dan 170 dsl.). Hampir dua abad kemudian perjanjian ini tetap dihormati, ketika pada tahun 1897, atas permintaan Datu Luwu’, pasukan Bone (songko’ borrong) di bawah pimpinan Petta Punggawa memasuki Tondok Lepongan Bulan untuk memerangi pasukan Sidenreng yang dipimpin Ande Guru dalam konflik memperebutkan monopoli perdagangan kopi antara Luwu (Palopo) dan Sidenreng (Pare-Pare), yang dikenal dengan nama “rarinna kopi batu”. Di setiap tondok yang dilalui pasukannya, Petta Punggawa menekankan tugas melindungi penduduk dalam misi mereka, dan bahwa kedatangan mereka atas permintaan Luwu; mereka tidak mau merusak hubungan damai antara Bone dan Tondok Lepongan Bulan yang telah dicapai dua abad berselang. (Lih. Bigalke, 1981:54-58; Lijf, 1947-48:529-530).

II. ABAD XX:
1. Pemaksaan Agama oleh DI/TII:
Sesungguhnya gerakan yang dipimpin Kahar Muzakkar yang berlangsung sekitar 15 tahun (1950-1965) di Sulawesi Selatan, semula tidak membawa warna ideologi agama. Gerakan itu semula bernama KGSS (Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan), yang bertujuan memperjuangkan tempat yang layak dalam era Indonesia merdeka bagi para pejuang gerilya Sulsel selama perang kemerdekaan. Tetapi kemudian beralih menjadi gerakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Dan dengan itu dilanjutkanlah gerakan islamisasi dengan paksa. Dengan mengutip tulisan berjudul “20.000 Pengungsi Tercatat hingga Akhir Oktober 1953 di Luwu” dalam edisi Rakyat Berjoang, 5 November 1953: p.2, Bigalke menulis: “Akibat-akibat Islamisasi…dirasakan di dataran tinggi wilayah Luwu dan di pinggiran timur dan selatan Tana Toraja sejak awal 1952. Baik orang-orang Kristen maupun pemeluk agama asli menjadi sasaran serangan para gerilyawan. Terjadi banyak penculikan, pembunuhan, pencurian, dan insiden di mana desa-desa dibakar. Pemaksaan masuk Islam terjadi di setiap tempat tersebut, di wilayah baratdaya Toraja sendiri mencapai beberapa ribu orang. Para pengungsi dari bagian utara dan barat Luwu mulai mengalir ke Toraja di tahun 1952, dan mencapai puncaknya menjelang akhir 1953, mencapai sekitar 20.000 orang di kota Makale dan Rantepao” (Bigalke, 1981:423).

Pada September 1953 Kahar mengeluarkan Piagam Makalua’, yang berisi dasar ideologis gerakan DI/TII. Salah satu poin penting dan kedengarannya baik dalam Piagam tersebut, ialah pernyataan bahwa kebebasan beragama dijamin tetapi hanya untuk agama Islam dan Kristiani. Tetapi apa yang baik di atas kertas, ternyata tidak dilakukan dalam praktek. “Dalam kurun waktu enam bulan semua orang, yang sebelumnya telah diberitahu untuk memilih antara Islam atau Kekristenan, dipaksa menyatakan diri masuk Islam” (Bigalke, 1981:424). “Untuk mencapai tujuannya, yaitu mengislamkan orang-orang Kristen, maka mereka (para gerilyawan DI/TII) memisahkan tokoh-tokoh Kristen dengan anggota-anggota biasa. Tokoh-tokoh Kristen ini disiksa amat sangat supaya mau masuk Islam. Sudah tentu sebagian dari mereka itu akan terpaksa mengaku masuk Islam dan mereka inilah diinstruksikan kembali mengajak orang-orang Kristen lainnya masuk Islam saja. Tetapi sebagian dari mereka itu tetap bersaksi bahwa walau dengan pedang sekali pun mereka tidak akan dipisahkan dari Tuhannya. Maka menyusullah syahid-syahid lainnya dalam Gereja Toraja, antara lain Pdt. J. Tawaluyan dan Lumeno, dan J.B. Tangdililing yang dibunuh di Palopo… Pdt. S.Tappil, Guru Injil Baso’ dan 8 orang Kristen Rongkong dibunuh di Masamba…Ds. P.S. Palisungan, L. Sodu dan H. Djima’ (keduanya pengantar Jemaat) dibunuh setelah mengalami siksaan yang hebat di Tjappa’ Solo’, berpuluh-puluh lainnya disiksa kemudian dibunuh di Rongkong, antara lain pengantar-pengantar Jemaat: J. Ledo, J. Subi’, Ngila, M. Maddulu, M. Liling dan lain-lain” (Sarira, 1975:45).

2. Peristiwa Tahun 1953
Di tengah gelombang ancaman pemaksaan agama oleh DI/TII, terjadilah peristiwa pada bulan April 1953. Tampaknya kecewa karena merasa cita-cita perjuangan asli dalam KGSS telah digadaikan oleh Kahar dengan bergabung pada pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo di Jawa Barat, pada Maret 1952 Andi Sose bersama pasukannya berbalik haluan. Pasukannya dijadikan satu batalion TNI dengan nama “Batalion 720”, dan Andi Sose sebagai komandannya diangkat menjadi Kapten. Batalion ini ditempatkan di Tana Toraja. Tetapi tingkah laku anggota Batalion 720 lama-kelamaan membuat masyarakat merasa tidak aman dan mulai resah. Kenangan akan pendudukan pasukan Arung Palakka di abad ke-17 kembali muncul dibenak masyarakat. Dengan demikian keresahan masyarakat tidak lagi hanya terbatas pada soal keamanan. Masyarakat mulai menyadari bahwa eksistensi etnis dan budaya Toraja kembali terancam. Situasi ini juga membuat unsur Toraja dalam Batalion 720, Kompi 2 di bawah Frans Karangan, semakin menjauh dari Andi Sose. Diam-diam terbentuklah kelompok perlawanan yang memandang diri sebagai penjelmaan To Pada Tindo dari abad ke-17. Situasi genting semakin memuncak ketika tersiar berita bahwa Andi Sose berencana mendirikan mesjid raya di tengah kolam di kota Makale, dan memaksa orang-orang Kristen yang pergi ke gereja pada hari Minggu membawa batu kali ke lokasi itu. Akhirnya pecah konflik yang mencapai puncaknya pada pertempuran 4 April di Makale, di mana kelompok perlawanan berhasil memaksa Andi Sose dan pasukannya meninggalkan Tana Toraja (lih. Bigalke, 1981:408-418). Bigalke menulis, “Sukses perlawanan 4 April itu menaikkan prestise pemimpin-pemimpin Kristen (Gereja Toraja) di Toraja, yang pada gilirannya menjelaskan insiden tersebut sebagai luapan kesadaran etnis. Kekalahan utama sesungguhnya dialami oleh kalangan elit tradisional di selatan (Tallu Lembangna) dan kelompok Muslim sekutu mereka di Makale, yang berpihak pada Andi Sose. Sejumlah dari mereka ini sementara waktu melarikan diri dari Toraja mengikuti pasukan yang mengundurkan diri” (Bigalke, 1981:416).
Kemudian Batalion 422 Diponegoro ditarik dari Toraja, dan digantikan oleh pasukan Brawijaya dari Jatim. Kompi 2 di bawah Frans Karangan ditempatkan di Palu, yang selanjutnya ditingkatkan menjadi Batalion 758.

3. Peristiwa Tahun 1958:
Pada bulan-bulan pertama 1958 masyarakat Toraja kembali dikejutkan oleh laporan bahwa pasukan Brawijaya akan ditarik dari Toraja untuk tugas memadamkan pemberontakan Permesta di Minahasa, dan akan digantikan oleh unit-unit R.I. 23, batalion yang dikomandani Andi Sose. Parkindo, partai politik utama di Tana Toraja waktu itu, mengutus delegasi ke Jakarta untuk memprotes penarikan pasukan Brawijaya. Sebuah resolusi bersama dari partai-partai politik di Toraja juga dikirimkan melalui Kepala Daerah kepada Gubernur Sulsel dan Mendagri di Jakarta. Tetapi semua itu gagal mencegah penempatan R.I. 23 di Tana Toraja. Masyarakat Toraja memandang hal ini sebagai penghinaan besar, dan bersiap menghadapinya. Frans Karangan, yang juga merasa khawatir, mengirim perlop satu kompi di bawah Pappang dari Palu ke Toraja. Begitu juga orang Toraja dari unit-unit lainnya dicutikan ke Toraja. Dengan alasan keamanan direncanakan pengungsian penduduk dari kota Makale dan Rantepao ke desa-desa yang aman. Tanggal yang dipilih untuk boikot itu ialah 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional. Ini antara lain untuk menyatakan kepada Pemerintah Pusat bahwa nasionalisme masyarakat Toraja jangan diragukan. Pada peristiwa 1953 simbolisme yang digunakan ialah perjuangan To Pada Tindo. Pappang membentuk apa yang disebut Barisan Komando Rakyat (BKR), yang terdiri dari anggota kompinya, OPD (Organisasi Pertahanan Desa), para pelajar dan penduduk, sebagai persiapan menghadapi serangan R.I. 23 yang dipastikan akan tiba. Setelah terjadi kontak senjata kecil-kecilan, BKR memakai taktik mundur penuh ke Pangala’. Pasukan R.I. 23 maju mengejar seakan-akan tanpa dapat ditahan, sambil membakar lumbung-lumbung desa, rumah-rumah dan sekolah-sekolah. Tersiar desas-desus bahwa para komandan R.I. 23 itu kebal peluru. Yang jelas organisasi mereka lebih unggul dalam hal disiplin dan persenjataan, dibandingkan dengan pasukan BKR yang serba kurang pengalaman bertempur dan persenjataan. Di Pangala’ BKR menghentikan taktik mundur. Pappang mereorganisir pasukannya, dengan mereduksi unit-unit tergabung yang telah bertempur tidak efektif ke dalam unit-unit terpisah: polisi, OPD, penduduk, pelajar, dan kompinya sendiri. Pasukan R.I. 23 yang mengejar dan tiba di Pangala’ dalam keadaan letih tidak meyangka akan menghadapi perlawanan sengit. Pasukan BKR yang mengenal medan membuat taktik mundur, dan pasukan R.I. 23 mengejar. Tanpa mereka sangka unit BKR lainnya memotong mereka dari belakang. Pertempuran sengit itu merupakan kemenangan besar pertama bagi BKR. Pasukan R.I. 23 yang masih tersisa mundur tak teratur, meninggalkan banyak senjata dan lebih dari seratus korban di pihaknya.

Setelah itu pasukan R.I. 23 tinggal terpusat di kota Rantepao dan Makale. Dan pasukan BKR mengadakan tekanan terus-menerus atas mereka. Jalur komunikasi antara kedua kota itu berhasil diputus, sehingga tak ada bala bantuan yang bisa lolos dari Makale ke Rantepao. Akhirnya pasukan yang di Rantepao mengundurkan diri di tengah suatu malam gelap ke Makale lewat La’bo’ - Randan Batu - Sangalla’. Pasukan BKR, yang terlambat mengetahui pelarian itu, mencoba mengejar. Mereka masih berhasil mendapatkan dan menawan barisan belakang. Tiga hari kemudian semua unit R.I. 23 ditarik dari Makale dan meninggalkan Tana Toraja (lih. Bigalke, 1981:436-446).

Demikianlah orang Toraja di masa lampau membuktikan mampu mempertahankan independensinya, tak rela dijajah oleh orang lain, termasuk oleh saudara-saudara sebangsanya sendiri. Dan dengan demikian mereka berhasil menjaga eksistensi etnis dan budayanya dalam kerangka NKRI yang bersemboyankan “Bhinneka Tunggal Ika”.

4. Pa’olle-olle Anak Gembala
Sebagaimana biasanya terjadi di mana pun, dalam sejarah pergulatan orang Toraja mempertahankan eksistensi etnis dan budayanya, ada saja yang berkhianat dan bekerjasama dengan musuh. Di tahun 1950-an anak-anak gembala di Toraja dengan hati perih menyindir mereka itu lewat kata-kata berlanggam khas ini:

Olle…olle…de’,
Lai’ Rinding salle gau’,
Sampe Pandin buletuk,
Umbalukan tondokna tallu suku!

III. ABAD XXI?
Masih adakah kesadaran orang Toraja dewasa ini atas sejarah mereka? Sukarno menegaskan: “JAS MERAH!” (JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH!). Dan orang Perancis berkata: “L’histoire se repete”, (Sejarah terulang); walau kadangkala dalam wujud berbeda namun isi tetap sama. Sadarkah kita akan salah satu persoalan pokok bangsa ini yang hingga kini belum juga terselesaikan? Itulah persoalan KEBEBASAN BERAGAMA yang usianya setua Republik ini! Pasal 29 UUD 1945 menjamin Kebebasan Beragama bagi setiap warga negara. Tetapi apa kenyataannya? Apa yang dialami oleh kelompok minoritas Ahmadiyah? Dalam dua dekade terakhir berapa ratus tempat ibadah (baca: gereja) dirusak dan dibakar di negeri ini? Lalu tindakan apa yang telah diambil pihak berwenang terhadap aksi-aksi melanggar hukum dan main hakim sendiri seperti itu? Di Negara Hukum kita ini kelihatannya bahkan pihak berwenang pun takut terhadap bayangan tirani mayoritas. Kalau penguasa saja takut, apalagi rakyat minoritas! Jangan kita terlalu cepat melupakan dua peristiwa tragis resen: kerusuhan Ambon dan Poso! Mampukah kita membaca secara tepat dua peristiwa menyedihkan itu? Keduanya dimotori kelompok radikal agama yang didatangkan dari luar!

Akhirnya, relakah orang Toraja abad XXI melenyapkan JATIDIRI ETNIS dan BUDAYA SANG TORAYAN, yang oleh nenek moyang dan generasi pendahulu telah berhasil dipertahankan dengan keringat dan darah? Tetapi kalau begitu anak-anak gembala Toraja tahun 1950-an akan kembali dengan perih hati MA’OLLE-OLLE!

SUMBER
BIGALKE, Terance W.
1981 A Social History of “Tana Toraja” 1870-1965, (PhD Dissertation, Michigan London).

LIJF, J.M.van
1947/48 “Kentrekken en problemen van de geschiedenis der Sa’dan-Toradja-landen”, IndonesiĆ«, I : 518-535.

POL, H.
1940 “Geschiedenis van Loewoe”, dlm. Om te gedenken; Vijfentwintig jaar Zendingsarbeid van den G.Z.B. onder de Sa’dan Toradja’s, Zuid-Midden-Celebes, (Delft): 119-140.

SARIRA, J.A.
1975 Suatu Survey mengenai Gereja Toraja Rantepao; BENIH YANG TUMBUH VI, (Rantepao-Jakarta): khususnya Bab I.

TANGDILINTIN, L.T.
1978 Sejarah dan Pola-Pola Hidup Toraja, (Yalbu Tana Toraja, Ujung Pandang).

Veen, H. van der
1940 “Voorheen en thans”, dlm. Om te gedenken: 35-53.

Wednesday, April 21, 2010

trembling

now i'm trembling, my beloved
for everything moved
lower as they stranded
out of my hand

stand beside me, my beloved
it's only emptiness and cold
when i try to catch the bold
of your smile and memories shed

now i'm trembling, my beloved
nothing can be saved
only good things brewed
'til my nights faded

@makassar, 210410

Friday, April 09, 2010

laut malam

dingin malam dan ombak yang malas

selalu memanggil-manggil dirimu

perahuku kujangkarkan di lautmu

@toni, 090410