Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Tuesday, February 03, 2009

keheningan


pelajaran yang paling sulit dalam kehidupan? belajar untuk hening. itu pelajaran yang coba kudalami beberapa hari lalu. maka perjalanan kulanjutkan ke Pertapaan Karmel, Tumpang, Malang.

tempat ini sangat indah. terletak di pelosok nun di atas daerah perbukitan. sekitar 15 tahun lalu, pertama kali saya ke tempat ini jalan yang dilewati berbatuan. benar-benar perlu menghayati arti jalan penderitaan untuk dapat tiba di sana... sekarang, syukurlah, jalanan sudah licin beraspal.

dari bandara Juanda, Surabaya menumpang bus Damri (Rp 15.000) dari bandara ke terminal Purabaya atau Bungurasih. di sana naik bus Patas jurusan Malang (Rp15.000)... kendaraan sempat melambat di jalur Porong, Sidoarjo. satu-satunya jalan raya disesaki kendaraan dua arah, akibat jalan tol yang terputus gara-gara lumpur Lapindo!
tiba di terminal Arjosari menumpang mikrolet putih TA (Tumpang-Arjosari). saya hampir keliru naik mikrolet AT (Arjosari-Tidar). sampai di pasar Tumpang (Rp 4.000), menyewa ojek sampai ke Pertapaan (Rp 20.000).

Seorang Bapak pengemudi ojek mengantarku dengan kecepatan asik naik turun jalan berbukit-bukit, di sisi kiri-kanan sawah dan kebun... hujan gerimis mulai turun... pengalaman tak terlupakan off-road hingga ke Ngadireso, pemandangannya indah sekali.
tiba di Pertapaan, hujan bertambah deras mengguyur. suatu sambutan yang hangat (hangat???) dari alam atas kedatanganku ke tempat ini setelah 15 tahun... hahaha.

rencana saya menginap selama dua hari di sana. istilahnya retret pribadi. tanpa pembimbing rohani. pertama kali saya ke tempat ini juga begitu. nginap sendiri, retret pribadi. saya menyebutnya pengalaman rohani tak terlupakan, ibarat di Gunung Tabor bersama Yesus.

kegiatan harian: ikut doa dan misa pagi, saat hening, sarapan pagi, renungan di kapel (memakai buku-buku yang sudah saya siapkan), makan siang, istirahat sore, doa sore, saat hening, makan malam, istirahat malam.

doa sore saat saya tiba disertai misa yang dipimpin Romo Petrus O.Carm. renungannya mengenai Benih yang Ditaburkan sangat menarik. dia langsung berkata (di tengah suasana hening): setiap orang tidak membutuhkan pembimbing, karena Sabda Allah yang ditaburkan di hati masing-masing memiliki daya tumbuh... saya langsung berpikir, kok kalimat ini ibarat menyapa saya dengan penuh kehangatan?

pada misa pagi esok harinya, mengenai Yesus yang tertidur di buritan kapal saat badai melanda, Romo Petrus bilang: ada suster yang protes mengenai kalimat saya semalam, lhah terus apa lagi tugas kami sebagai pembimbing, guru, bila tidak dibutuhkan? Romo menunjukkan Yesus yang tertidur di kapal, seolah-olah dibiarkan tidur hingga para murid berteriak-teriak minta tolong... "Jadi, jangan pernah membiarkan Yesus tertidur. ajaklah Yesus berbicara dalam hidupmu..."

ada beberapa orang menginap di sana. biasanya mereka didampingi oleh pembimbing rohani. misalkan Ibu Maria Goretti dari Bali, menginap 10 hari di sana. juga Ibu Lili dan Siska dari Surabaya. selain itu ada pasutri dari Jember yang tiba Sabtu malam.

pagi hari, saya berjalan-jalan ke taman di belakang pertapaan. di sana terdapat Sendang (sumber air) bernama Sendang Retno Adi. keran air di depan Gua Maria dapat dinyalakan untuk menikmati air sumber. rasanya segar dan manis. letaknya di tepi bukit, sehingga pemandangan alam berupa sawah dan hutan terhampar indah.

di depan pertapaan, ada jalan kecil menuju ke Gua Maria dan tempat Jalan Salib yang ditata dengan taman bunga yang apik. di sana kupu-kupu banyak berterbangan. bunga teratai mekar di pagi hari.

saat refleksi pribadi di kapel, saya merenungkan mengenai Keheningan dari buku Henri JM Nouwen, "Dapatkah Kamu Minum dari Cawan Itu?". katanya, sulit mencari keheningan di tengah dunia entertainment (dari kata "enter"= di dalam, tengah, "tain"= tinggal) yang memang bertujuan agar orang tinggal berlama-lama dalam dunia hiburan, menjauhkan dari diri dan permasalahannya. perlu keheningan, untuk mendengarkan suara diri yang selama ini tidak terdengar.

kupikir-pikir ada benarnya. sekian puluh tahun usia seseorang, bila diibaratkan spons, dia menyerap amat banyak informasi, pengalaman, pikiran, dan segala macam ke dalam dirinya. tidakkah ini membebani? menjadi tak tertanggungkan bila satu dengan yang lain saling bertentangan?

keheningan ibarat me-recharge batere dalam diri yang sudah low-batt.

karena itu, saya bersyukur atas waktu hening yang saya dapatkan di Pertapaan.

Tuesday, December 09, 2008

weird day

kusebut saja hari ini weird day, hari yang aneh. pagi hari saya terjaga sebelum weker berbunyi. rasanya segar sekali, siap memulai hari yang baru setelah long wiken kemarin.

saat mengajar di kelas, ada teman yang membunyikan hp-ku cuma untuk menanyakan hal sepele. sempat dongkol jadinya karena sedang berada di depan kelas.

trus, saat kembali ke kantor, baru kusadari satu hal: pakaianku beda sendiri warnanya dengan yang lain. olala... teman-teman pada bertanya: kok pakaian berbeda hari ini, Ton?

kujawab saja tanpa malu: iye nih, istriku sehabis nyetrika langsung digantungnya berjejer pakaian kerja harian. jadi kuambil saja yang pertama untuk hari Senin.

padahal hari ini Selasa, kemarin Senin libur lebaran kurban. rasanya memang seperti hari Senin, hehehe...

jam 14.00 masih di kantor menyelesaikan tugas di laptop. tiba-tiba mahasiswa saya menelpon: Pak kuliah siang ini ada? Ealah... sampai lupa jadwal kuliah Selasa siang. "tunggu lima menit lagi yaa... saya menuju ke sana", sambil terburu-buru membereskan pekerjaan dan ngebut ke kampus.

sore hari lebih seru, bolak-balik saya menelpun ke Jakarta untuk menanyakan kiriman yang belum tiba. sampai-sampai teman yang melayani kiriman pesanan saya kena semprot... iya sih, kebangetan telatnya.

habis itu baru kata ini muncul di kepalaku: weird day.

weird day, when things got strange.

Wednesday, July 09, 2008

indosat, the future is not here...

Layanan Indosat 3.5G
Indosat 3.5G Hendak Merampok Saya - II
Kamis, 10 Juli 2008 22:41 WIB

Kejadian menyedihkan menggunakan Indosat 3.5G sudah saya utarakan melalui Surat Pembaca KOMPAS, dimuat di KOMPAS.com 21 Juni dan Harian KOMPAS Sabtu, 5 Juli berjudul "Layanan Indosat 3.5G Menyesatkan".

Lebih menarik kejadian yang menyertai setelah surat saya dimuat di KOMPAS. Sabtu siang 5 Juli, saya dihubungi Mbak Mimi dari Indosat Jakarta melalui HP untuk cross check. Mbak Mimi mengatakan bahwa pada billing 3.5G saya jumlah tagihan Rp 0,-, mengapa sampai bisa dikatakan 3-4 juta, apakah benar Customer Service (CS) mengatakan demikian? "Ya", jawab saya.. Dalam hati saya bersyukur bahwa ternyata tagihan Rp 0,- karena pemakaian ternyata rendah sekali. Mbak Mimi berjanji bahwa CS Indosat Makassar selanjutnya akan menghubungi saya.

Sore hari saya menerima telepon dari Mbak Dini CS Indosat Makassar. Dia menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan CS membaca pemakaian 7 Mb sebagai 7 Gb. "Ini masalah perbedaan titik dan koma", katanya menyederhanakan, "Dan CS tsb sudah berbaik hati membuatkan surat permohonan dispensasi buat saya sekiranya tagihan Bapak sampai 3 juta lebih.."

Ini membuat saya bertanya, berarti ada petugas/ atasan yang menerima laporan permohonan dispensasi (yang saya minta tempo hari dengan mengiba) dan memerosesnya. Seharusnya atasan tsb mengetahui kejanggalan/ perbedaan jumlah pemakaian aktual dengan alasan permohonan dispensasi itu diajukan, sehingga dapat langsung menghubungi saya yang dilanda ketakutan akan tagihan 3-4 juta selama 2 pekan lebih.

Mbak Dini menawarkan harga khusus bila saya mau melanjutkan berlangganan 3.5G. Sungguh terlalu menurutku, dia tidak berempati dengan trauma saya terhadap 3.5G. Yang membuat saya marah, pada akhir pembicaraan Mbak Dini menawarkan, "Sekarang bagaimana Pak, apakah Bapak mau menuliskan Surat Pembaca bahwa permasalahan ini sudah selesai atau kami yang menuliskan?"

Bagian mana yang sudah selesai? Sesederhana inikah mereka menganggap masalah ini? Saya memberitahu kepada Mbak Mimi di Jakarta melalui sms, "Saya benar-benar tidak puas dengan cara CS Indosat di sini menangani masalah. Tampaknya mereka butuh training CS. Saya akan tanggapi jawaban mereka di KOMPAS".

Mbak Mimi menelpon saya, saya ceritakan apa yang tadi terjadi dan meminta mereka untuk beristirahat di akhir pekan. Senin pagi 7 Juli, Mbak Dini membuat janji untuk mempertemukan saya dengan Direksi Indosat di rumah saya jam 14.00. Untuk itu, saya meninggalkan kantor dan menunggu mereka di rumah pukul 14.00 - 14.30.

Karena mereka tidak datang, saya kembali ke kantor. Pukul 14.45 SMS dari Mbak Dini, "Kami sedang di perjalanan menuju rumah Bapak". Saya beritahukan bahwa saya sudah berada di kantor kembali. Kemudian mbak Mimi dari Indosat Jakarta menelpon, "Katanya Bapak meng-cancel rencana pertemuan tadi?" Saya jawab, "Siapa yang meng-cancel? Saya menunggu pukul 14.00-14.30 mereka tidak datang. Pukul 14.45 baru SMS masuk memberitahu mereka dalam perjalanan."

Selasa 8 Juli, pukul 12 siang akhirnya janjian bertemu di rumah. Yang datang ke rumah adalah Mbak Dini, dan dua CS (termasuk Mbak Apri). Mbak Apri yang terakhir melayani saya dan memberitahu pemakaian saya 7Gb. Saya menceritakan kronologis peristiwa, ketidakpuasan terhadap layanan CS Indosat.

Mereka menyampaikan permohonan maaf. Mbak Dini berusaha menunjukkan bagaimana tampilan layar CS sehingga kekeliruan terjadi. Dia coba menghubungi temannya di kantor menggunakan video calling. Mereka baru menyadari bahwa betapa jeleknya kualitas sinyal 3.5G di tempat kami karena terputus-putus. Padahal lokasi rumah berada di tepi pantai, disekitarnya terdapat rumah dinas Walikota, Inco, Perumahan Tanjung Bunga dan Hotel Imperial Aryaduta.
Slogan "sinyal kuat" Indosat tidak berlaku di sini. Akhirnya kami ke kantor Indosat di Jl. Slamet Riyadi. Saya diterima di ruangan VIP. Tampak ruangan ini jarang digunakan, perkakas untuk tamu musti dicari ke tempat lain.

Mbak Dini berusaha menunjukkan kepada saya bagaimana tampilan layar pembacaan status pemakaian 3.5G. Dan memang membingungkan, bahkan untuk seorang CS Indosat. Saya menyebutkan trauma bahkan phobia yang saya alami akibat indosat:

1. Saya tidak berani lagi menggunakan akses 3G dan 3.5G.

2. Saya tidak berani menghidupkan Yahoo!Go, aplikasi ini bahkan sudah saya hapus dari HP saya. Karena menurut CS indosat Yahoo!Go bisa merampok pulsa bila tidak di-log-off.

3. Bahkan sejak pertemuan terakhir di Galeri Indosat, saya mematikan HP dan tidak berani menyalakan selama sepekan. Kuatir bila HP tsb menyala, saya bisa di-charge 3-4 juta, lebih mahal dari harga HP tersebut.

Pertemuan berlangsung hingga pukul 15.00. Saya harus kembali ke kantor saya. Tiga jam waktu sudah saya luangkan buat Indosat. Isi pertemuan bila diringkas: Permohonan maaf atas kelalaian CS Indosat. Saya kembali ke kantor, sesudah itu baru sempat menikmati makan siang.
Luar biasa, cara Indosat untuk menyampaikan permohonan maaf selama 3 jam di siang itu. Satu fakta baru yang menyedihkan dan justru saya temukan dalam pertemuan itu. Surat tagihan (billing) 3.5G sampai tulisan ini saya buat belum pernah tiba di rumah. Suatu pembiaran yang keterlaluan.

Ketika keluhan saya dimuat di Surat Pembaca KOMPAS barulah mereka memberi perhatian, meskipun dengan setengah hati. Rabu, 9 Juli 2008 sore, saya sementara berada di luar rumah. Anggota keluarga menelepon mengatakan orang Indosat datang ke rumah untuk bertemu dengan saya.

Ya astaga, separah inikah etiket CS Indosat? Setahu saya, di mana-mana urusan resmi dengan pelanggan harus disepakati/ didahului dengan membuat janji. Mbak Dini menelepon saya, "Pak, tadi kami rumah tetapi Bapak tidak di tempat. Bisakah besok kami bertemu Bapak?"
Saya tidak tahu, apalagi yang harus saya ungkapkan. Semua kronologis dan ketidakpuasan sudah saya tumpahkan. Karena itu saya jawab, "Waktu saya selama 3 jam kemarin di Indosat apakah belum cukup?"

Apakah mereka masih terus mau memaksakan permohonan maaf mereka kepada saya? Akhir-akhir ini beban psikologis dan tekanan darah saya rasanya meningkat bila mengingat betapa menyedihkannya layanan CS Indosat dan saya harus jadi korban mereka yang dipaksa disodori maaf.

Beberapa hal yang saya temukan dari kasus ini:

1. Indosat meluncurkan produk 3.5G namun menyedihkan sekali tidak disertai sistem yang mudah dibaca pelanggan, bahkan oleh Customer Service-nya. Ini sangat berpotensi menjebak, bahkan menyesatkan pelanggan. Berpikirlah seribu kali sebelum memutuskan menggunakan Indosat 3.5G.

2. Sistem internal CS Indosat benar-benar tidak profesional, payah. Slogan indosat "The future is here?" tampaknya justru terbelakang jauh. Saran saya cs indosat perlu mengikuti training bagaimana memahami dan melayani konsumen.

3. CS Indosat (dan mungkin manajemen Indosat) terlalu menganggap remeh masalah yang menimpa konsumennya. Langkah-langkah penanganan pengaduan konsumennya benar-benar menyedihkan. Suatu bentuk keangkuhan perusahaan besar? Ganti rugi apa yang diterima konsumen yang jelas-jelas dirugikan indosat? Hanya kata "maaf".

4. Sinyal kuat Indosat? Masih jauh dari kenyataan di lapangan, baik itu sinyal telepon maupun 3.5G.

Toni Sidjaya

Tuesday, July 08, 2008

Indosat 3.5G hendak merampok saya

Layanan Indosat 3.5G
Indosat 3.5G Hendak Merampok Saya
Sabtu, 21 Juni 2008 22:07 WIB

Saya seorang guru SD, pada akhir Mei 2008 saya berlangganan Indosat 3.5G dan mendapat Promo Paket College bulanan Rp 180.000,- dengan kuota 1,2 Gigabite per bulan. Pada pertengahan Juni saya ke Galeri Indosat di Jl. Pettarani, Makassar, menyampaikan keluhan betapa lambatnya akses Indosat 3.5G di telepon seluler yang saya gunakan (E51) dan menanyakan bagaimana cara berhenti berlangganan. Dijawab oleh petugas bahwa pelanggan Indosat 3.5G harus berlangganan beberapa bulan baru dapat berhenti. Tidak dijelaskan berapa bulan persisnya harus berlangganan Indosat 3.5G.

Tanggal 20 Juni 2008 saya ke Galeri Indosat kembali dengan maksud mendaftar Paket Matrix Rp15,-/ detik untuk nomor Matrix saya +628164387xxx. Semula saya menyangka Paket Rp15,-/ detik berlaku otomatis bagi semua pelanggan Matrix akibat penurunan tarif Operator Seluler akhir-akhir ini. Anggota keluarga saya menyarankan saya ke Galeri Indosat untuk mendaftar. Ternyata memang demikian, Paket Rp15,-/detik mengharuskan pelanggan untuk datang mendaftar ke Galeri Indosat. Betapa tidak efisiennya.

Setelah urusan mendaftar Paket Rp15,-/detik selesai, saya menanyakan mengenai sisa kuota pemakaian Indosat 3.5G untuk nomor saya +6281425001249. Semula petugas mengatakan bahwa masih ada sisa 1,5 Megabite, dan menyarankan sebaiknya pada tanggal 28 Juni 2008 jika saya hendak menutup/ berhenti berlangganan Indosat. Namun setelah menanyakan kepada temannya, ia meralat penyampaiannya. Dikatakan bahwa pemakaian saya sudah mencapai 7 Gigabite. Berarti ada kelebihan pemakaian 6 Gigabite. Untuk itu saya akan dikenakan biaya sekitar Rp3juta sampai 4juta. Saya sangat terkejut mendengar kabar ini. Petugas mengatakan kemungkinan aplikasi Yahoo! Go di ponsel saya yang tidak di-log off sehingga biaya menjadi sebesar itu.

Saya harus menunggu datangnya billing pemakaian Indosat 3.5G untuk mengetahui jumlah tagihan dan pelunasan. Namun pada hari itu juga (20/6) saya menyatakan berhenti berlangganan Indosat 3.5G. Sebagai seorang guru SD saya merasa hendak dirampok oleh Indosat dengan jumlah uang sebesar itu.

Sepulang saya dari Galeri Indosat, saya mengecek pemakaian saya di portal 3G Indosat (http://3g.indosat.com). Sungguh ajaib, di sana disebutkan pemakaian saya hingga 19 Juni 2008: 7 Megabite dan masih ada sisa 1,5Mb. Saya mengecek pada telepon seluler saya, status transfer data (log) harian sekitar 100Kb. Tidak tertera pemakaian yang luar biasa. Terus terang saya amat kecewa atas ketidakprofesionalan pelayanan Indosat dan tidak transparannya pemakaian Indosat 3.5G. Belum lagi kualitas kecepatan internet 3.5G yang sangat jauh api dari panggang dengan yang diiklankan di media masa.

Saya menyarankan agar para pembaca berhati-hati dan mempertimbangkan baik-baik bila hendak menggunakan 3.5G, dan semoga pengalaman ini tidak kembali menimpa siapa pun.

Toni Sidjaya

Monday, June 16, 2008

menghitung kematian

beberapa hari ini ada beberapa peristiwa kematian terjadi. pertama, seorang pastor kenalanku di Yogya. Rabu, 11 Juni 2008 pukul 18.45 (17.45wib), beliau kena serangan jantung saat sedang bermain badminton. langsung meninggal. Kamis pagi jam 10.00 jenasahnya sudah tiba di Makassar dan disemayamkan di aula keuskupan. Sabtu pagi, dimakamkan di pemakaman rohaniwan Pakatto, Gowa.

kedua, seorang pemuda tetangga. anak keluarga baik-baik dan kaya. Jumat pagi 13/6 pukul 6.00 dia ditemukan di kamar sudah meninggal. katanya dia menderita penyakit lever. aneh saja kalo sampai penderita sakit meninggal di rumah tanpa ada yang tahu. tetangga lain memberitahu bahwa pemuda itu pecandu narkotika. ia pernah membeli narkotika lewat tukang becak dekat rumah.

kematian pemuda berusia 28 tahun ini cukup membuat saya berpikir lama dan merenung. mengapa bisa dia meninggal seperti itu? kedua orangtuanya saya kenal sebagai orangtua ideal. mereka pembina para pasangan suami isteri di gereja. aktivis kegiatan gereja.

pemuda itu sewaktu masih kecil dulu tampangnya imut, berpakaian putera altar. gak akan ada yang menyangka bila ia berakhir hidup tragis seperti ini.


Minggu siang (15/6) saya menyempatkan diri melayat dan mengikuti upacara pelepasan jenasah di rumahnya. sang Ibu tampak sangat shock, menangis sejadi-jadinya dan memanggil nama anaknya.

pukul 13.30 upacara Requiem di gereja. pastor mengatakan bahwa anak ini telah lepas dari penderitaan hidup. hidup sekalipun di permukaan tampak penuh sampah dan kotoran, namun di dasar terdapat arus kuat keilahian. sekarang ia telah bersatu dalam arus ilahi.

pukul 15 saya mengantar sampai ke pemakaman. saya duduk terpekur sambil mencoba menarik makna peristiwa yang getir ini. entahlah, apakah ini ilusi apa bukan. saya melihat pemuda tersebut dalam rupa bocah berpakaian misdinar berdiri di depanku. ia memegang tongkat salib memandang ke makam. saya memandangnya cukup lama dan jadi tersenyum...
ya kutahu, ia kini sudah berbahagia.

di akhir upacara, kutemui sang ibu. kusalami dan kuceritakan mengenai peristiwa tadi sambil berkata: "dia sudah berbahagia sekarang..."

semoga beristirahat dalam damai.

Saturday, May 10, 2008

"aku sedih duduk sendiri, papa pergi, mama pun pergi..."

lagu itu mengingatkan pada seorang gadis kecil di tahun '70-an. Yoan Tanamal. dia melantunkan lagu yang menggambarkan kisah hidupnya dalam Seminar Penanggulangan HIV-AIDS di Makassar, 5 Mei 2008.

Yoan bukan lagi seorang bocah berwajah imut dengan suara khasnya. ia kini sudah sangat dewasa, berusia 35 tahun, pernah terjerumus ke dalam dunia narkotika sejak usia 14 tahun. ayahnya meninggalkan dia dan sang ibu. dia dibesarkan oleh sang ibu hingga sang ibu dipanggil sang Pencipta. dunianya runtuh. ia menjual semua barang miliknya untuk memperoleh narkoba. sempat hidup meluntang-lantung di stasiun kereta.

hingga Yoan ditangkap polisi saat membeli shabu seharga 'cuma' Rp 50.000,- (menurutnya apes sekali waktu itu). dia dijebloskan dalam tahanan LP Pondok Bambu. di sana dia menemukan Tuhan yang tidak pernah meninggalkannya. dia bertobat, meninggalkan dunia gelap narkoba dan sempat bersyukur tidak terjangkit HIV-AIDS yang adalah saudara kembar narkoba.

saat berkisah tentang kerasnya hidup yang dijalaninya, Yoan terdengar beberapa kali menarik napas. pandangan matanya kosong menerawang ke masa lalu. suaranya serak, namun dia tampak sangat tegar. dari warna suaranya orang akan salah mengira suara lelaki.

itulah potret seorang Yoan Tanamal. penyanyi bocah saat masa kecilku.

gambaran yang sangat manusiawi, termasuk saat ia menyanyikan kembali tembang itu: "aku sedih duduk sendiri, papa pergi, mama pun pergi..."

Saturday, March 08, 2008

maafkan bila ku tak sempurna

kamis pagi itu akhirnya kuberanikan diri membaca e-mail yang sejak kemarin kuterima. kutahu isinya pasti kalimat kurang sedap, karena siang sebelumnya kuterima sms bernada demikian. jadi e-mail tsb sempat kupindahkan ke folder lain supaya tidak mengganggu perhatian saat melihat inbox.

dan terjadilah, awal hari kamis yang buruk. kepikiran seharian, juga saat sedang mengajar di kelas V SD. ada anak yang bandel sekali, suka menyela bila saya sedang menerangkan sehingga perhatian teralih. cara terakhir yang kutempuh adalah menyuruh anak tersebut keluar dari ruang kelas... setelah dia keluar, justru buyar semua perhatianku. buku-buku kukemas ke dalam tas, lalu pergi meninggalkan kelas meskipun jam mengajar belum selesai.

saya masuk ke ruangan guru. berusaha tidak menyapa guru walikelas V, kuatir dia akan bertanya mengapa lekas selesai. ujung-ujungnya, anak tersebut bisa-bisa akan dihukum lebih keras bila ketahuan walikelas. jadi saya diam-diam ke balkon, duduk dan membaca surat kabar. menunggu jam pelajaran berikut.

beberapa anak kelas V datang menghampiri saya di balkon. termasuk anak bandel tersebut. mereka menyampaikan permintaan maaf. namun anak bandel tersebut pandangan matanya selalu di arahkan ke tempat lain. ia tidak mau memandang lurus.

kujawab, "ya sudah, kalian kembali ke kelas saja..."

teman-temannya menyahut: "minta maaf pada pak guru".

"maaf, pak..."

"sudah...", jawabku masih mangkel.

lalu seorang anak mulai bernyanyi: "maafkan bila ku tak sempurna..."

aku tak dapat menahan tawa mendengar lagu "ayat-ayat cinta" dinyanyikan bocah itu.

ya, memang tak ada yang sempurna... aneh saja bahwa saat bersamaan saya menerima sms dari sahabat jauh yang mengingatkan untuk selalu untuk tertawa. katanya begini melalui sms: "ketawa beberapa menit dapat menstimulasi tubuh ibarat berolahraga selama satu jam. jadi jangan lupa ketawa... hahaha"

iya iya, resep klasik yang hampir kulupakan hari itu.

Tuesday, January 29, 2008

bendera setengah hati


judul di atas diinspirasi oleh tulisan di koran tempo: "bendera setengah hati untuk soeharto". terjadi penolakan pengibaran bendera setengah tiang di sebagian masyarakat sebagai tanda perkabungan meninggalnya Soeharto.

siang tadi saya sempat mampir ke rumah seorang kenalan. kebetulan rumahnya di sebuah kompleks dan bertetangga dengan rumah para prajurit TNI. tiang benderanya kosong melompong. maka saya bertanya pada eyang putri (nenek): "eyang kok tidak mengibarkan bendera setengah tiang?"
eyang putri menjawab: "penjahat meninggal kok kita mengibarkan bendera merah putih?"
saya sempat terperangah mendengar jawaban nenek berumur 80 tahun itu. ia langsung melanjutkan dengan kisah kekejian Soeharto sewaktu masih berkuasa dulu. "meskipun selalu tersenyum, dari belakang ia sangat jahat..."

nenek itu berasal dari Jawa dan sudah lama menetap di Makassar. namun ia berhasil mematahkan stereotip bahwa sebagai orang Jawa ia harus membela sesama orang Jawa. apalagi dengan prinsip: mikul dhuwur, mendem jero (memikul kebaikan/jasa-jasa orang yang sudah meninggal dan mengubur semua kesalahannya). bukan masalah kesukuan atau primordialisme di sini. tetapi lebih pada pengalaman personal yang membentuk persepsi dan penilaian terhadap sesuatu.

sore hari di televisi diberitakan bahwa beberapa warga Jakarta tidak mengibarkan bendera setengah tiang. saat diwawancarai, mereka menjawab: lupa mengibarkan, bendera hilang, tidak sempat mengibarkan. malahan ada seorang ibu yang sedang berjualan, tanpa mengangkat wajah dia berkata: kalau diberikan bendera, maka saat itu juga dia akan mengibarkannya...

sementara saya menikmati istirahat sore, telepon rumah berdering.
eyang puteri menelepon: "Ton, aku cuma mau bilang: ada yang lebih parah lagi..."
"apa itu?" tanyaku setengah terjaga.
"ada yang mengibarkan bendera satu tiang di halaman rumahnya", tutup si eyang.

hah??
emang apa bedanya setengah tiang dan satu tiang bendera buat Soeharto?

Sunday, January 27, 2008

kepergian Soeharto menutup lembaran lama RI


Minggu, 27 Januari 2008 pukul 13.10, Soeharto meninggal dunia. liputan kematian Soeharto memenuhi ruang pemberitaan media TV, radio maupun internet. masyarakat dibiarkan sejenak tenggelam dalam gelombang berita duka ini. lupakan sejenak harga-harga kebutuhan pokok yang berlomba-lomba naik: minyak goreng, kedelai, tepung terigu, BBM, bahan bangunan, dll.

"HM (his majesty?) Soeharto, mantan presiden RI meninggal dunia", begitu bunyi tajuk berita. ada yang menyebut wafat, adapula yang menyebut mangkat. istilah kematian yang dicitrakan seperti seorang raja. apa pun, ia telah pergi. pergi bersama banyak kasus yang belum terungkap: supersemar, G30S, pembunuhan, penculikan aktivis, serta kasus korupsi.

akhirnya, rakyat biasa bergumam: "semuanya ada batasnya. semua ada akhirnya".
di sinilah peristiwa ini bermakna sebagai pengingat. "memento mori", ingatlah kau akan mati, kata pepatah Latin.

Soeharto telah pergi sebagai seorang anak manusia dengan prestasi baik dan buruknya. semoga ia beristirahat dalam damai. bangsa Indonesia harus lekas melangkah maju melewati lembaran kelam sejarah masa lalu.

from ash to ash, Soeharto bashed...

Tuesday, January 15, 2008

cuocok


A friend whom you've known for years might suddenly shock you by saying some unkind things that you would never have expected. If they're said about you, you might be very upset - because it isn't fair or just! Sometimes it's hard to forgive these things, but make the effort. Your friend is going through some rough times that may not have shared with you. Try to put yourself in shoes. Forgive and forget.

aha. cocok banget kalimat di atas dengan peristiwa yang kualami hari ini. siang tadi kabar mengejutkan kuterima dari seorang teman jauh mengenai suatu hal yang tidak kusangka-sangka. benar-benar membuatku berpikir seharian... dan kemudian kubaca kalimat ini. cuocok!

Saturday, January 05, 2008

cabut gigi


akhirnya eksekusi itu jadi dijalankan, gigiku dicabut. setelah coba kuulur waktu dan tawar menawar dengan dokter Chintya. dokter menyuruhku ke pusat klinik gigi untuk foto rontgen gigi supaya kondisi akar gigiku dapat dipantau.

memang beberapa hari lalu gigiku sempat sakit dan gusi bengkak. dokter bilang, terjadi peradangan di akar gigi sehingga harus dicabut. perjanjian dibuat, tanggal 3 Januari 2008 gigiku akan dicabut.

saat tiba di klinik, dokter belum datang. saya pergi ke kios sebelah untuk makan malam dulu supaya kalau gigiku jadi dicabut, setidaknya aku sudah tidak lapar. ternyata, nyaliku tidak sebegitu kuat. kucoba menanyakan alternatif bila gigi tidak usah dicabut. dokter mengatakan, untuk memastikan aku harus foto gigi.

Jumat, 4 Januari 2008 pukul 20 tiba giliranku masuk ruang periksa. "bagaimana", tanya dokter Chintya.
"yah, hasil fotonya jelek. katanya musti dicabut saja, dok..."
"jadi sudah siap?"
aku mengangguk dengan penuh keraguan.

berbaring di kursi periksa ibarat menunggu eksekusi mati. tapi tidak tahu bagaimana cara eksekusi dan kapan eksekusi itu telah selesai. mataku terpejam sambil menduga-duga. beberapa kali alat semprotan didekatkan pada gusi (kuduga ini cairan untuk pemati rasa). dokter menggoyang-goyangkan gigiku dengan alat semacam tang dan terasa sakit.
alat semprotan itu didekatkan pada gusi, lalu aku berkumur dan memuntahkan cairan itu. rasa kebas mulai terasa di pipi.

kali ini aku harus membuka mulut lebih lebar. alat semacam dongkrak dimasukkan ke dalam mulut. "tibalah saatnya", pikirku pasrah...
alat itu mencoba menarik akar gigiku hingga tercerabut dari gusi. perjuangan yang cukup mendebarkan. apakah berhasil?

aku sampai berkeringat dingin di dalam ruangan ber-AC. dokter mengatakan: "lemaskan badan dan kepalanya... jangan tegang". gimana bisa tidak tegang? ini ibarat perjuangan melawan alat dongkrak...

krakk... kutahu gigiku sudah tercabut. perlahan kudengar suara dokter mengatakan kepada asistennya: "tidak rata permukaannya" sambil menggosokkan sebuah alat pada tempat bekas gigi yang dicabut.

apa??? pikirku liar. apakah tulang bekas patahan yang ditinggalkan gigiku menonjol sehingga perlu dirapikan? gila benar.

kemudian aku berkumur-kumur dan memuntahkan darah segar yang ada di mulutku. dokter menaruh kapas pada bekas gigi untuk digigit. katanya itu cara untuk menghentikan perdarahan.

aku diberi resep analgesik untuk membantu hilangkan nyeri karena katanya obat pemati rasa yang disuntikkan di gusi itu dosisnya cuma dua jam. dijamin pada malam hari bila tidak minum analgesik maka akan terasa nyerinya.

di tengah hujan deras, aku mampir ke apotek untuk menebus resep.

gigi yang telah dicabut itu diberikan dokter kepadaku.

kuterima sambil mengucapkan terimakasih (dalam hati aku bertanya: terimakasih untuk apa? gigi dicabut dan dibuat berdarah kok malah bilang terimakasih? hahaha...