Showing posts with label surat pembaca. Show all posts
Showing posts with label surat pembaca. Show all posts

Tuesday, January 19, 2010

Grundelan Romo Magniz: Tepuk tangan saat Komuni

PERKENANKAN SAYA berbagi grundelan dengan para pembaca terhormat. Malam Natal saya konselebrasi dalam misa di salah satu gereja paroki. Perhiasannya bagus, liturgi pantas, kotbah menyentuh, koor menyanyi indah, umat bersemangat.

Hanya ini: waktu komuni suci dibagikan, seorang bapak dari koor, dengan suara penyanyi profesional, menyanyi solo, sangat ekspresif. Sesudah selesai, umat penuh semangat bertepuk tangan. Pada saat komuni dibagi!

Saya amat terkejut. Kok bisa! Komuni adalah peristiwa paling sakral bagi umat katolik, bahkah ritus paling sakral dari semua agama. Pada saat itu, seluruh perhatian umat seharusnya seratus persen terpusat hanya pada satu ini: Yesus, Allah-beserta-kita yang sedang datang. Masak pada saat suci itu umat membawa diri bak penonton sinetron! (Pastor paroki kemudian menceritakan bahwa ia sudah memperingatkan umat tetapi tanpa hasil, dan bahwa pernah waktu itu mau memberikan hosti suci kepada seorang umat, dia itu bertepuk tangan dulu).

Apa umat belum pernah membaca I Korintus 11:29? Terus terang, andaikata saya yang memimpin upacara, saya akan langsung menghentikan seluruh pembagian komuni dan mengajak umat berdoa doa tobat.

Saya mengalami tepuk tangan seperti itu juga pada perayaan ekaristi lain. Suatu kesesatan penghayatan yang memalukan apabila orang tidak lagi bisa membedakan antara ibadat yang diarahkan kepada Allah dan acara hiburan!
Apakah dilupakan bahwa hormat semua pemeran dalam Ekaristi -pastor, pengkhotbah, koor, umat, dll terletak dalam pelayanan tanpa pamrih, demi kemuliaan Tuhan, yang mereka berikan? Apakah koor-koor kita lupa bahwa tugas satu-satunya mereka adalah membuka hati umat bagi Tuhan dengan keindahan lagu-lagu mereka. Tentu tepuk tangan pada akhir Misa, pada saat pastor menyatakan terima kasih adalah tepat dan sesuai.

Sebagai catatan: Lagu solo sebaiknya hanya diadakan pada akhir ibadat. Hal itu sepenuhnya juga berlaku bagi Ekaristi perkawinan. Kalau perkawinan ditempatkan dalam Ekaristi, seluruh perayaan harus berupa pujaan terhadap Allah dan bukan pemanis para mempelai. Kalau iman kita pada Ekaristi mau credible, kita harus belajar kembali menunjukkan sikap hormat terhadap Allah yang hadir.

Franz Magniz-Suseno SJ
Johar Baru, Jakarta Pusat

Thursday, August 20, 2009

Prudential Jujurlah!

Atas keluhan saya mengenai buruknya layanan yang saya alami di Asuransi Prudential (di Kompas.com “Prudential Benar-benar Mengecewakan” (4/7)), saya menerima surat Permohonan Maaf dari Customer Care Manager Prudential. Dalam surat itu disebutkan bahwa Pengajuan Klaim Perawatan Rumah Sakit dan Operasi yang saya jalani pada April 2009 tetap ditolak, karena saya sebagai Pemegang Polis bertanggung jawab sepenuhnya atas kelengkapan dan kebenaran data pada Surat Permohonan Asuransi Jiwa (SPAJ).

SPAJ tersebut dibuat oleh agen Prudential pada tahun 2007 dan kemudian hari baru saya menyadari bahwa riwayat kesehatan saya tidak dicantumkannya. Saya mempunyai saksi pada waktu agen Prudential tersebut mendesak saya membeli polis dan mengisi formulir SPAJ saya secara kilat demi mengejar target penjualan.

Prudential dalam suratnya menyebut bahwa “Kami telah melakukan penelusuran untuk memastikan apakah ada faktor kelalaian agen dalam proses pengisian SPAJ tersebut”, namun tidak disebutkan lebih lanjut hasil penelusuran.

Karena itu saya memohon, Prudential Jujurlah! Bila agen Prudential lalai dalam proses pengisian SPAJ saya, akuilah dengan jiwa besar. Bila tidak, pertemukanlah dengan data dan saksi saya untuk membuka kembali rekaman masa lalu.

Terus terang saya menjadi trauma akibat pengalaman buruk dengan Asuransi Prudential. Alih-alih klaim rawat inap dan bea operasi yang dijanjikan tidak diterima, layanan agennya benar-benar tidak etis. Layanan konsumennya demikian lamban. Malahan dalam pemberitahuan penolakan klaim saya pun terdapat kekeliruan pencantuman data tanggal berlakunya polis saya! Itulah alasan sehingga saya langsung meminta untuk menutup polis. Dari seluruh premi yang telah saya bayar berjumlah Rp 15.750.000,- Prudential hanya mengembalikan Rp 3.957.230,- Nilainya tentu tak seberapa dibandingkan nilai kejujuran. Dan untuk itu, Prudential hanya menyampaikan permohonan maaf tanpa komunikasi dengan nasabah.

Saya berharap pengalaman buruk yang terjadi pada diri saya, cukup sekali ini saja dan tidak menimpa nasabah lain.

Toni Sidjaya
Mantan nasabah Prudential polis no. 27167849

Saturday, July 04, 2009

Prudential Benar-benar Mengecewakan dan Merugikan Nasabah

Saya pemegang polis Prudential no. 27167849. Pada April 2009 saya menjalani operasi polip saluran pernapasan dan rawat inap di RS Stella Maris Makassar selama 5 hari. Kemudian saya mengajukan klaim ke Prudential. Proses klaim Prudential benar-benar tidak profesional. Dari sinilah muncul masalah yang baru saya sadari amat fatal.
Setelah memproses klaim saya selama sebulan, Jumat sore (5/6) saya menerima Surat Keputusan Klaim melalui e-mail yang menyatakan Prudential menolak klaim saya.
Pernyataan di SK Klaim tsb al.:
"Keterangan, pernyataan atau pemberitahuan yang disampaikan kepada kami ternyata keliru atau tidak benar atau ternyata terdapat penyembunyian keadaan yang diketahui oleh Anda ..., maka: (i) dan (ii) Polis dan seluruh pertanggungan berdasarkan polis dengan sendirinya batal serta harus dianggap tidak berlaku dan, dalam hal demikian, Anda harus bertanggung jawab atas segala risiko, kerugian dan biaya (selain Biaya Asuransi) yang timbul sebagai akibat penerbitan polis ..."
Singkat kata, saya telah danggap berbohong/menyembunyikan kebenaran pada awal polis sehingga polis saya dianggap gugur. Pada awal pembuatan polis saya telah memberitahukan keadaan sesungguhnya bahwa saya pernah Operasi Sinusitis kepada YS, agen Prudential dari Surabaya.
Awal mula saya jadi nasabah Prudential pada tahun 2007, YS datang ke Makassar dan menginap di rumah teman saya. Teman itu memberitahu bahwa YS ke Makassar untuk mencari nasabah baru Prudential demi mengejar target omzet penjualan dan meminta saya menjadi nasabah Prudential. Saya katakan bahwa saya sudah punya asuransi komersil (AIG) dan Askes.
Terus terang saya merasa terpaksa mengambil Polis Prudential hanya demi pertimbangan pertemanan. Saya didesak mengambil polis dengan premi Rp1juta/bulan. Saya akhirnya setuju mengambil dengan premi Rp750ribu/bulan. YS mengisi semua kelengkapan formulir pendaftaran saya. Saya menceritakan riwayat kesehatan, termasuk pernah rawat inap di RS tahun 2003 untuk operasi Sinusitis. YS mengatakan bahwa hal itu tidak masalah. Dia membanding-bandingkan dan mengatakan asuransi Prudential punya kelebihan yakni memberikan biaya Operasi, selain biaya rawat inap di RS.
Saya juga tanyakan apakah perlu diadakan check up laboratorium? YS bilang: tidak perlu karena pertanggungan kecil dan bila diminta oleh pihak Prudential baru diadakan check up. Sewaktu saya memberikan keterangan ini ada saksinya.
Setelah mendaftarkan diri saya, saya diminta memberikan referensi kenalan saya kepada YS. Salah satu anggota keluarga saya juga turut menjadi nasabah Prudential, dan sekarang saya menyesalinya. Setelah YS kembali ke Surabaya, beberapa saat kemudian teman saya dan anggota keluarganya berhenti dari Prudential. Istrinya bercerita bahwa dia kecewa pada YS yang tidak bertanggung jawab dalam hubungan relasi usaha sehingga dia menutup semua polis Prudential keluarganya.
Saya merasa dijebak. Namun polis saya sudah berjalan beberapa bulan.
Saya telah menyampaikan ketidakpuasan saya kepada CSO Prudential melalui e-mail, termasuk melampirkan salinan polis asuransi lain (AIG no. 20543489) yang lebih dulu saya buat sebelum Prudential, sejak 12 April 2005, di mana di situ jelas tercantum riwayat saya pernah menjalani operasi Sinusitis. Lalu mengapa YS sampai tidak mencantumkan hal serupa di polis Prudential?
YS dalam percakapan telepon menyesali tindakan saya mengajukan klaim saya ke Prudential tanpa sepengetahuannya. Dia berkata bahwa dia dapat diminta datang ke Makassar untuk meminta dokter membuat Surat Keterangan Dokter sedemikian rupa sehingga klaim saya dapat dicairkan Prudential. Saya bertanya-tanya hingga kini, bisakah Surat Keterangan Dokter direkayasa YS untuk itu?
Saat saya mengurus Surat Keterangan Dokter, dokter THT yang menangani operasi saya dengan yakin mengatakan bahwa Polip Saluran Pernapasan saya tidak ada hubungannya dengan Operasi Sinusitis sebelumnya.
Saya menemukan kesalahan fatal dalam SK Klaim Prudential disebutkan: "Polis Bapak mulai diberlakukan pada tanggal 27 November 2008". Sementara di buku Polis saya, tertulis: "Tanggal mulai berlakunya Polis: 27 September 2007". Penulisan data yang tidak akurat menunjukkan ketidaktelitian yang amat fatal!
Dengan tetap menolak klaim saya, saya menganggap Prudential membenarkan cara-cara curang YS agennya dalam membuat polis nasabah secara tidak lengkap demi mengejar target, sekaligus bertindak sepihak (tidak komunikatif) dengan mengabaikan informasi nasabah maupun saksi.
Karena itulah sejak 1 Juli 2009 saya menyatakan berhenti sebagai nasabah Prudential. Sangat riskan memercayakan risiko kehidupan saya kepada lembaga asuransi yang tidak dapat dipercaya. Untuk itu saya harus menanggung kerugian dan hanya menerima pengembalian uang Rp 3.750.000,- dari jumlah Rp 15.750.000 seluruh premi yang telah saya bayar. Klaim rawat inap dan operasi saya tidak cair, ditambah kerugian premi. Duh, pelajaran yang sangat mahal dan berharga ini semoga tidak menimpa orang lain.
Mantan nasabah Prudential polis no. 27167849

Wednesday, July 09, 2008

indosat, the future is not here...

Layanan Indosat 3.5G
Indosat 3.5G Hendak Merampok Saya - II
Kamis, 10 Juli 2008 22:41 WIB

Kejadian menyedihkan menggunakan Indosat 3.5G sudah saya utarakan melalui Surat Pembaca KOMPAS, dimuat di KOMPAS.com 21 Juni dan Harian KOMPAS Sabtu, 5 Juli berjudul "Layanan Indosat 3.5G Menyesatkan".

Lebih menarik kejadian yang menyertai setelah surat saya dimuat di KOMPAS. Sabtu siang 5 Juli, saya dihubungi Mbak Mimi dari Indosat Jakarta melalui HP untuk cross check. Mbak Mimi mengatakan bahwa pada billing 3.5G saya jumlah tagihan Rp 0,-, mengapa sampai bisa dikatakan 3-4 juta, apakah benar Customer Service (CS) mengatakan demikian? "Ya", jawab saya.. Dalam hati saya bersyukur bahwa ternyata tagihan Rp 0,- karena pemakaian ternyata rendah sekali. Mbak Mimi berjanji bahwa CS Indosat Makassar selanjutnya akan menghubungi saya.

Sore hari saya menerima telepon dari Mbak Dini CS Indosat Makassar. Dia menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan CS membaca pemakaian 7 Mb sebagai 7 Gb. "Ini masalah perbedaan titik dan koma", katanya menyederhanakan, "Dan CS tsb sudah berbaik hati membuatkan surat permohonan dispensasi buat saya sekiranya tagihan Bapak sampai 3 juta lebih.."

Ini membuat saya bertanya, berarti ada petugas/ atasan yang menerima laporan permohonan dispensasi (yang saya minta tempo hari dengan mengiba) dan memerosesnya. Seharusnya atasan tsb mengetahui kejanggalan/ perbedaan jumlah pemakaian aktual dengan alasan permohonan dispensasi itu diajukan, sehingga dapat langsung menghubungi saya yang dilanda ketakutan akan tagihan 3-4 juta selama 2 pekan lebih.

Mbak Dini menawarkan harga khusus bila saya mau melanjutkan berlangganan 3.5G. Sungguh terlalu menurutku, dia tidak berempati dengan trauma saya terhadap 3.5G. Yang membuat saya marah, pada akhir pembicaraan Mbak Dini menawarkan, "Sekarang bagaimana Pak, apakah Bapak mau menuliskan Surat Pembaca bahwa permasalahan ini sudah selesai atau kami yang menuliskan?"

Bagian mana yang sudah selesai? Sesederhana inikah mereka menganggap masalah ini? Saya memberitahu kepada Mbak Mimi di Jakarta melalui sms, "Saya benar-benar tidak puas dengan cara CS Indosat di sini menangani masalah. Tampaknya mereka butuh training CS. Saya akan tanggapi jawaban mereka di KOMPAS".

Mbak Mimi menelpon saya, saya ceritakan apa yang tadi terjadi dan meminta mereka untuk beristirahat di akhir pekan. Senin pagi 7 Juli, Mbak Dini membuat janji untuk mempertemukan saya dengan Direksi Indosat di rumah saya jam 14.00. Untuk itu, saya meninggalkan kantor dan menunggu mereka di rumah pukul 14.00 - 14.30.

Karena mereka tidak datang, saya kembali ke kantor. Pukul 14.45 SMS dari Mbak Dini, "Kami sedang di perjalanan menuju rumah Bapak". Saya beritahukan bahwa saya sudah berada di kantor kembali. Kemudian mbak Mimi dari Indosat Jakarta menelpon, "Katanya Bapak meng-cancel rencana pertemuan tadi?" Saya jawab, "Siapa yang meng-cancel? Saya menunggu pukul 14.00-14.30 mereka tidak datang. Pukul 14.45 baru SMS masuk memberitahu mereka dalam perjalanan."

Selasa 8 Juli, pukul 12 siang akhirnya janjian bertemu di rumah. Yang datang ke rumah adalah Mbak Dini, dan dua CS (termasuk Mbak Apri). Mbak Apri yang terakhir melayani saya dan memberitahu pemakaian saya 7Gb. Saya menceritakan kronologis peristiwa, ketidakpuasan terhadap layanan CS Indosat.

Mereka menyampaikan permohonan maaf. Mbak Dini berusaha menunjukkan bagaimana tampilan layar CS sehingga kekeliruan terjadi. Dia coba menghubungi temannya di kantor menggunakan video calling. Mereka baru menyadari bahwa betapa jeleknya kualitas sinyal 3.5G di tempat kami karena terputus-putus. Padahal lokasi rumah berada di tepi pantai, disekitarnya terdapat rumah dinas Walikota, Inco, Perumahan Tanjung Bunga dan Hotel Imperial Aryaduta.
Slogan "sinyal kuat" Indosat tidak berlaku di sini. Akhirnya kami ke kantor Indosat di Jl. Slamet Riyadi. Saya diterima di ruangan VIP. Tampak ruangan ini jarang digunakan, perkakas untuk tamu musti dicari ke tempat lain.

Mbak Dini berusaha menunjukkan kepada saya bagaimana tampilan layar pembacaan status pemakaian 3.5G. Dan memang membingungkan, bahkan untuk seorang CS Indosat. Saya menyebutkan trauma bahkan phobia yang saya alami akibat indosat:

1. Saya tidak berani lagi menggunakan akses 3G dan 3.5G.

2. Saya tidak berani menghidupkan Yahoo!Go, aplikasi ini bahkan sudah saya hapus dari HP saya. Karena menurut CS indosat Yahoo!Go bisa merampok pulsa bila tidak di-log-off.

3. Bahkan sejak pertemuan terakhir di Galeri Indosat, saya mematikan HP dan tidak berani menyalakan selama sepekan. Kuatir bila HP tsb menyala, saya bisa di-charge 3-4 juta, lebih mahal dari harga HP tersebut.

Pertemuan berlangsung hingga pukul 15.00. Saya harus kembali ke kantor saya. Tiga jam waktu sudah saya luangkan buat Indosat. Isi pertemuan bila diringkas: Permohonan maaf atas kelalaian CS Indosat. Saya kembali ke kantor, sesudah itu baru sempat menikmati makan siang.
Luar biasa, cara Indosat untuk menyampaikan permohonan maaf selama 3 jam di siang itu. Satu fakta baru yang menyedihkan dan justru saya temukan dalam pertemuan itu. Surat tagihan (billing) 3.5G sampai tulisan ini saya buat belum pernah tiba di rumah. Suatu pembiaran yang keterlaluan.

Ketika keluhan saya dimuat di Surat Pembaca KOMPAS barulah mereka memberi perhatian, meskipun dengan setengah hati. Rabu, 9 Juli 2008 sore, saya sementara berada di luar rumah. Anggota keluarga menelepon mengatakan orang Indosat datang ke rumah untuk bertemu dengan saya.

Ya astaga, separah inikah etiket CS Indosat? Setahu saya, di mana-mana urusan resmi dengan pelanggan harus disepakati/ didahului dengan membuat janji. Mbak Dini menelepon saya, "Pak, tadi kami rumah tetapi Bapak tidak di tempat. Bisakah besok kami bertemu Bapak?"
Saya tidak tahu, apalagi yang harus saya ungkapkan. Semua kronologis dan ketidakpuasan sudah saya tumpahkan. Karena itu saya jawab, "Waktu saya selama 3 jam kemarin di Indosat apakah belum cukup?"

Apakah mereka masih terus mau memaksakan permohonan maaf mereka kepada saya? Akhir-akhir ini beban psikologis dan tekanan darah saya rasanya meningkat bila mengingat betapa menyedihkannya layanan CS Indosat dan saya harus jadi korban mereka yang dipaksa disodori maaf.

Beberapa hal yang saya temukan dari kasus ini:

1. Indosat meluncurkan produk 3.5G namun menyedihkan sekali tidak disertai sistem yang mudah dibaca pelanggan, bahkan oleh Customer Service-nya. Ini sangat berpotensi menjebak, bahkan menyesatkan pelanggan. Berpikirlah seribu kali sebelum memutuskan menggunakan Indosat 3.5G.

2. Sistem internal CS Indosat benar-benar tidak profesional, payah. Slogan indosat "The future is here?" tampaknya justru terbelakang jauh. Saran saya cs indosat perlu mengikuti training bagaimana memahami dan melayani konsumen.

3. CS Indosat (dan mungkin manajemen Indosat) terlalu menganggap remeh masalah yang menimpa konsumennya. Langkah-langkah penanganan pengaduan konsumennya benar-benar menyedihkan. Suatu bentuk keangkuhan perusahaan besar? Ganti rugi apa yang diterima konsumen yang jelas-jelas dirugikan indosat? Hanya kata "maaf".

4. Sinyal kuat Indosat? Masih jauh dari kenyataan di lapangan, baik itu sinyal telepon maupun 3.5G.

Toni Sidjaya

Tuesday, July 08, 2008

Indosat 3.5G hendak merampok saya

Layanan Indosat 3.5G
Indosat 3.5G Hendak Merampok Saya
Sabtu, 21 Juni 2008 22:07 WIB

Saya seorang guru SD, pada akhir Mei 2008 saya berlangganan Indosat 3.5G dan mendapat Promo Paket College bulanan Rp 180.000,- dengan kuota 1,2 Gigabite per bulan. Pada pertengahan Juni saya ke Galeri Indosat di Jl. Pettarani, Makassar, menyampaikan keluhan betapa lambatnya akses Indosat 3.5G di telepon seluler yang saya gunakan (E51) dan menanyakan bagaimana cara berhenti berlangganan. Dijawab oleh petugas bahwa pelanggan Indosat 3.5G harus berlangganan beberapa bulan baru dapat berhenti. Tidak dijelaskan berapa bulan persisnya harus berlangganan Indosat 3.5G.

Tanggal 20 Juni 2008 saya ke Galeri Indosat kembali dengan maksud mendaftar Paket Matrix Rp15,-/ detik untuk nomor Matrix saya +628164387xxx. Semula saya menyangka Paket Rp15,-/ detik berlaku otomatis bagi semua pelanggan Matrix akibat penurunan tarif Operator Seluler akhir-akhir ini. Anggota keluarga saya menyarankan saya ke Galeri Indosat untuk mendaftar. Ternyata memang demikian, Paket Rp15,-/detik mengharuskan pelanggan untuk datang mendaftar ke Galeri Indosat. Betapa tidak efisiennya.

Setelah urusan mendaftar Paket Rp15,-/detik selesai, saya menanyakan mengenai sisa kuota pemakaian Indosat 3.5G untuk nomor saya +6281425001249. Semula petugas mengatakan bahwa masih ada sisa 1,5 Megabite, dan menyarankan sebaiknya pada tanggal 28 Juni 2008 jika saya hendak menutup/ berhenti berlangganan Indosat. Namun setelah menanyakan kepada temannya, ia meralat penyampaiannya. Dikatakan bahwa pemakaian saya sudah mencapai 7 Gigabite. Berarti ada kelebihan pemakaian 6 Gigabite. Untuk itu saya akan dikenakan biaya sekitar Rp3juta sampai 4juta. Saya sangat terkejut mendengar kabar ini. Petugas mengatakan kemungkinan aplikasi Yahoo! Go di ponsel saya yang tidak di-log off sehingga biaya menjadi sebesar itu.

Saya harus menunggu datangnya billing pemakaian Indosat 3.5G untuk mengetahui jumlah tagihan dan pelunasan. Namun pada hari itu juga (20/6) saya menyatakan berhenti berlangganan Indosat 3.5G. Sebagai seorang guru SD saya merasa hendak dirampok oleh Indosat dengan jumlah uang sebesar itu.

Sepulang saya dari Galeri Indosat, saya mengecek pemakaian saya di portal 3G Indosat (http://3g.indosat.com). Sungguh ajaib, di sana disebutkan pemakaian saya hingga 19 Juni 2008: 7 Megabite dan masih ada sisa 1,5Mb. Saya mengecek pada telepon seluler saya, status transfer data (log) harian sekitar 100Kb. Tidak tertera pemakaian yang luar biasa. Terus terang saya amat kecewa atas ketidakprofesionalan pelayanan Indosat dan tidak transparannya pemakaian Indosat 3.5G. Belum lagi kualitas kecepatan internet 3.5G yang sangat jauh api dari panggang dengan yang diiklankan di media masa.

Saya menyarankan agar para pembaca berhati-hati dan mempertimbangkan baik-baik bila hendak menggunakan 3.5G, dan semoga pengalaman ini tidak kembali menimpa siapa pun.

Toni Sidjaya