Showing posts with label movie review. Show all posts
Showing posts with label movie review. Show all posts

Saturday, April 03, 2010

ayo berlatih dengan sang naga!

bagaimana bila seorang membelot dari tradisi? apalagi tradisi yang dilanggar merupakan kebanggaan bangsa Viking yang kesohor itu: membantai naga. demikian tema yang mau diangkat oleh film: How to train your dragon. judulnya terdengar sangat teknis, namun jangan salah duga dulu, isinya sangat menghibur.

film animasi yang diangkat dari novel karangan Cressida Cowell mengambil setting bangsa Viking yang melatih anak-anak mereka bagaimana menaklukkan aneka macam naga. dengan demikian mereka mewariskan kebencian manusia terhadap mahluk reptil itu. berbagai latihan dan manual mereka pelajari untuk dapat membunuh naga. namun, Hiccup anak sang kepala suku punya cara yang aneh, alih-alih mengacungkan pedang, ia malahan melepaskan semua persenjataannya maju mendekati sang naga dan membelai-belainya. teknik ini dipelajari dari perjumpaannya dengan Toothless, seekor naga Night Fury berwarna biru dengan mata besar (mengapa wajahnya mengingatkan pada Lilo and Stitch?). Toothless ditemukannya di dekat danau dan tidak dapat terbang ke mana-mana karena sebelah sayap pada ekornya telah tiada.

Hiccup belajar banyak mengenai naga dari Toothless, lebih dari itu ia belajar mengenal dunia nan luas karena kemudian dapat menunggang sang naga terbang. Astrid yang memusuhi Hiccup dan menjadi pesaingnya dalam pelajaran menaklukkan naga, akhirnya mengetahui rahasia ini. Toothless membawa mereka berdua terbang tinggi, mengajari mereka mengenai arti persahabatan, dan menunjukkan sebuah rahasia besar di dunia naga. lihatlah bagaimana reaksi Astrid kemudian:
Astrid: [sambil meninju Hiccup] That's for kidnapping me.
[kemudian mencium Hiccup] Astrid: That's for everything else.

akankah prasangka dan tradisi bangsa Viking sebagai penakluk naga akan berubah? bagaimana Hiccup berjuang membela Toothless dari pembantaian?

film ini layak ditonton sebagai hiburan keluarga yang memberikan pelajaran mengenai prasangka, kebanggaan, serta nilai-nilai persahabatan.

untuk itu menurut saya ia layak mendapat nilai 8 dari 10.

Friday, April 02, 2010

pertarungan para dewa

Sam Worthington setelah sukses berperan di film Avatar kini beraksi kembali di film Clash of the Titans yang dirilis 1 April 2010. kali ini ia memerankan tokoh Perseus, anak Zeus sang Mahadewa, yang lahir sebagai manusia. berlatar belakang kisah mitologi Yunani, film ini memperlihatkan bagaimana manusia bertarung melawan superioritas para dewa, dan celakanya di alam abadi para dewa pun saling bertarung.

penduduk kerajaan Argos menumbangkan patung mahadewa Zeus ke dasar laut. hal ini menimbulkan kemarahan Hades adik Zeus yang menguasai alam neraka (underworld). ia meluluhlantakkan pasukan Argos dan berjanji akan melepaskan sang monster Kraken tepat saat gerhana matahari untuk menghukum manusia yang tidak lagi menghormati para dewa.

Perseus sebagai manusia setengah dewa (karena Zeus ayahnya), ikut serta sebagai pasukan Argos melawan Hades. kalajengking raksasa, perjumpaan dengan para penyihir, dan perjalanan mereka ke underworld untuk mencari Hermes, puteri cantik berbadan ular dengan rambut terdiri ratusan ular itu benar-benar mendebarkan. jangan coba-coba melirik dan memandang mata Hermes! sudah banyak prajurit yang menjadi patung batu dibuatnya!

film ini berhasil menyajikan gambar-gambar indah dunia mitologi Yunani. tak luput para puteri nan cantik rupawan: Andromeda dan Io (endingnya belum jelas mengenai siapa jodoh Perseus). namun kesan film Avatar dan Harry Potter mengapa sangat terasa di film ini? mungkin karena Sam Worthington pemeran utamanya, dan Ralph Fiennes (Voldemort) berperan sebagai Hades yang jahat itu yaaa...

secara keseluruhan, film ini layak mendapat nilai 8 dari 10.

Monday, December 21, 2009

Avatar: Ketika Manusia Menjadi Alien

bayangan manusia mengenai alien sudah banyak digambarkan di film-film. bagaimana bila manusia sendiri justru yang menjadi alien bagi mahluk di planet lain? James Cameron sang sutradara mencoba mengangkat pertanyaan ini dalam film Avatar.

keindahan planet Pandora (sebetulnya Pandora adalah bulan dari planet Polyphemus berjarak 4,5 tahun cahaya dari bumi) divisualkan demikian fantastik dalam film ini beserta para penghuninya. namun bukan itu yang dicari Kolonel Miles Quaritch, melainkan bebatuan yang berharga 20 juta USD sekilo. sifat dasar kemaruk menjadikan 'alien' ini berusaha mengeksploitasi planet Pandora tempat mahluk Na'vi bermukim. sebuah tim Avatar dikirim menyaru sebagai bagian mahluk Na'vi untuk mempelajari lokasi.

seorang prajurit AL berkaki lumpuh bernama Jake Sully ikut serta dalam program ini. dia dibaringkan dalam sebuah kapsul, seketika pikiran dan jiwanya masuk ke dalam Avatar berwujud Na'vi yang berbadan tinggi, kulit kebiruan, bermata bola serta memiliki ekor. di sinilah petualangannya di Pandora dimulai. Jake bertemu Neytiri, anak gadis kepala suku Na'vi dan jatuh cinta padanya. Jake diperhadapkan pilihan dilematis: melanjutkan misi Kolonel Miles Quaritch atau justru melindungi Pandora dari keserakahan manusia yang ingin menguasainya.

gambar-gambar disajikan dengan sangat apik sehingga film berdurasi 2,5jam tidak membosankan, apalagi bila ditonton dalam format film 3 atau 4 dimensi, tentu akan lebih memacu adrenalin. beberapa adegan dalam film ini juga seperti hendak mengingatkan penonton akan kelestarian alam serta beberapa pesan moral. namun beberapa adegan patut menjadi kewaspadaan juga: kebiasaan merokok, adegan kekerasan, serta sensualitas. selebihnya, siapkan makanan ringan serta nikmatilah keindahan gambar alam Pandora yang disajikan dengan efek visual CGI nyaris sempurna.

kalau coba dibanding-bandingkan film Avatar merupakan perpaduan apik dari film Lord of The Rings, Pocahontas dan Star Trek! unsur-unsur ketiganya teramu komplet di dalamnya, ditambah bumbu daya imajinasi tanpa batas, maka lengkaplah ramuan yang disajikan James Cameron setelah film Titanic yang dibesutnya meledak di pasaran.

harap penonton masih dapat membedakan mana dunia nyata dan dunia mimpi setelah menyaksikan Avatar. sebagaimana Jake Sully yang bertanya-tanya: "Everything is backwards now, like out there is the true world and in here is the dream". dunia mimpi seringkali tampak lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.

Avatar menurut saya layak mendapat angka 8,5 dari skor 10.

Friday, July 17, 2009

Harry Potter and the Half-Blood Prince: Death Eater Pelaku Pengeboman

diawali dengan kerusuhan yang dilakukan para pelahap maut (death eater) di kota London: meledakkan bangunan, merubuhkan jembatan, dan ujung-ujungnya sekolah Hogwart dalam bahaya, film Harry Potter membawa penonton ke suasana tegang. tak lupa dibumbui ramuan kelucuan dan cinta anak remaja, lengkaplah sudah sajian hiburan yang ditawarkan film yang semakin mendekati sekuel terakhirnya.


death eater merupakan kelompok pengikut Voldemort. mereka makin merajalela menjelang kebangkitan the dark lord. siapa kawan dan siapa lawan, ingin dijelaskan pada sekuel ini. Snape melakukan sumpah maut untuk melindungi Draco Malfoy, sang pemuja Voldemort.

Prof. Horace Slughorn dipanggil sang kepsek Hogwart, Prof. Dumbledore untuk mengajar kembali ilmu ramuan di Hogwart. Prof. Slughorn dulunya juga pernah mengajar Tom Riddle, sang murid yang kemudian menjadi iblis Voldemort.

Dumbledore menyimpan kenangan masa lalunya dalam pensieve, dan meminta Harry Potter menyusuri jejak Tom Riddle dan Prof. Slughorn. belakangan terungkap rahasia keinginan Tom Riddle untuk hidup abadi, yakni menyimpan potongan jiwanya ke dalam beberapa horcrux. untuk mencegah kebangkitan Voldemort, Prof. Dumbledore membawa Harry ke sebuah pulau demi menemukan sebuah horcrux.

adegan saat Dumbledore dalam sekarat mengangkat tongkat sihir yang mengeluarkan kobaran api mengusir mahluk-mahluk yang bermunculan dari air, mengingatkan saya pada adegan Penyihir Putih Gandalf (Lord of The Rings) saat mengangkat tongkatnya yang bercahaya kemilau untuk menghalau para iblis di angkasa. luar biasa indah!

dengan durasi sekitar 2,5 jam, memang film ini tidak memuat utuh kisah sebagaimana ditulis JK Rowling pada novelnya yang tebalnya 800 halaman. namun kisahnya mengalir, diwarnai kelucuan dan cinta khas anak remaja (tidak sangka pemain tokoh kisah Harry Potter sebesar itu!), apalagi disertai adegan ciuman, ehem... kayaknya film ini tidak tepat buat anak di bawah 12 tahun.

sekuel terakhir tentulah yang paling dinanti-nanti karena akan menjawab pertanyaan mengenai Snape, kematian Dumbledore (ups, spoiler!) dan para horcrux yang harus dilawan Harry Potter. untuk rangkaian menyusun puzzle jalinan kisah HP, JK Rowling memang patut mendapat pujian sebagai pengarang berdaya fantasi tinggi dan konsisten.

dengan keindahan gambar dan alur cerita, film ini pantas menyabet 8,5 dari 10 bintang.

Thursday, July 09, 2009

The Bucket List: Sekeranjang Cita-cita Sebelum Ajal

bagaimana bila masa hidupmu sudah ditentukan kurang dari setahun?

dua orang pasien kanker dirawat dalam satu ruangan. Carter Chamber (Morgan Freeman), teknisi dari keluarga sederhana mengidap kanker paruparu. Edward Cole (Jack Nicholson), pengusaha kaya raya juga mengidap kanker stadium lanjut. keduanya berbagi masa lalu dan kelucuan.

Carter mudah mengingat sejarah. cita-citanya menjadi seorang profesor sejarah kandas di masa mudanya karena "tidak punya duit, berkulit hitam, dan pacarnya hamil". Edward seorang pengusaha sejak masih muda, kini ia seorang konglomerat dan sebatang kara. sudah empat kali ia kawin cerai. katanya: semangatnya sebagai lajang sulit diperdamaikan dalam ikatan perkawinan. Carter punya kegemaran minum kopi Luwak (ini menarik, karena produk Indonesia). keduanya divonis dokter tidak lebih setahun masa hidup mereka yang tersisa.

Carter membuat coret-coretan di secarik kertas "The Bucket List" atawa sekeranjang daftar cita-cita. serupa dengan "things to do before die". dalam satu kesempatan, Edward membaca catatan tersebut dan tertarik untuk mewujudkannya.

berdua mereka kabur dari rumah sakit, kegilaan petualangan mereka mulai: skydiving, balapan mobil, perjalanan safari di Afrika, menyaksikan piramid Mesir serta keindahan dunia.

dalam perjalanan itu terungkap pandangan dan keyakinan Edward yang skeptis. segalanya diukur dengan materi (uang) dan nyaris melupakan afeksi personal serta iman. tatkala berada di piramid, Carter bercerita: menurut keyakinan orang Mesir kuno, pada saat mereka mati, di akhirat mereka hanya akan diberi dua pertanyaan: 1. apakah engkau bahagia dalam kehidupan ini? 2. apakah engkau telah membagikan kebahagiaan itu kepada orang lain?

Edward mengalami krisis dalam hubungan dengan puterinya gara-gara terlalu mencampuri urusan rumah tangga puterinya. ia membayar orang menghajar menantunya karena suka melakukan KDRT. itu dilakukan karena dia sebagai ayah sayang pada puterinya, namun justru membuat puterinya malah menjauhinya.

kelucuan masih berlanjut ketika Carter menceritakan rahasia kenikmatan Kopi Luwak dalam surat yang dibacakan oleh Edward: "kopi luwak adalah koping paling mahal di dunia, bahkan termasuk ajaib bagi sebagian orang... di pedalaman Sumatra tempat kopi ini tumbuh, hidup sejenis musang liar pemakan kopi. dalam perut musang, kopi ini dicerna dan dibuang sebagai kotoran. penduduk desa mengumpulkan dan mengolahnya. jadi, perpaduan biji kopi dan enzim pencernaan perut musang, menjadikan Kopi Luwak ..."
Edward merasa keberatan dan protes: "tapi, rasa dan aromanya begitu unik... kau ngibul!"
Carter menjawab: "si musang yang maksa bilang begitu..."
mereka berdua tertawa gila-gilaan. satu lagi item dalam Bucket List: tertawa gila-gilaan, sudah terpenuhi.

satu per satu daftar mereka dicoret, terpenuhi.

kehidupan perlahan-lahan menunjukkan kepenuhannya pada hidup Edward. tiga bulan pertemanannya dengan Carter membuatnya mengerti makna hidup: membagikan sukacita kepada orang lain.

dia tidak perlu lagi cemas bila mati harus dikuburkan dalam peti emas, atau dikremasi, atau lalu diapakan...

Carter memberi kesaksian mengenai Edward seperti ini:
He was 81 years old. Even now, I can't claim to understand the measure of a life, but I can tell you this: I know that when he died, his eyes were closed and his heart was open, and I'm pretty sure he was happy with his final resting place because he was buried on the mountain, and that was against the law...

film ini amat menghibur dan mengesan, karena itu patut mendapat 8 dari 10 bintang.

Friday, May 15, 2009

Angels and Demons movie: wisata di Roma dalam 2 jam

novel Dan Brown yang ditulis sebelum "The da Vinci Code" (TdVC) berjudul "Angels and Demons" (AD) diangkat ke layar lebar. tokoh superhero masih Robert Langdon, ahli simbologi dari Universitas Harvard (jangan coba mencari jurusan simbologi di Harvard, karena memang cuma ada di novel Dan Brown). film ini ditampilkan seolah-olah merupakan sekuel (kelanjutan) TdVC. 


bila dalam TdVC, Prof. Langdon menghadapi simbol-simbol karya Leonardo da Vinci sehubungan dengan Maria Magdalena dan kelompok khusus yang disebut-sebut berusaha melindungi keturunannya dengan segala macam cara, pada AD Prof. Langdon berhadapan pada karya-karya Gian Lorenzo Bernini.

diawali dengan penemuan partikel "anti-materi" (teks di layar bioskop dengan jeleknya menyebutnya: anti-meter) di sebuah laboratorium di Italia, yang disebut-sebut sebagai "God's particle", karena merupakan biang terjadinya Penciptaan. salah satu tabung berhasil dicuri. pesan yang ditinggalkan pencuri: satu per satu kardinal kandidat paus akan dieksekusi setiap jam. dan tepat pukul 12 malam, Vatikan akan diledakkan menggunakan tabung anti-materi.

utusan Vatikan menghubungi Prof. Langdon, mengingat reputasinya sebagai ahli simbologi, dan memintanya untuk segera memecahkan teka-teki kelompok Illuminati sang pengirim pesan tersebut. menurut saya aneh saja, bila dimaksud reputasi Langdon dalam TdVC, maka kurang logis bila sampai Vatikan meminta bantuan Langdon. apa boleh buat, penonton musti maklum TdVC telanjur lebih dulu tenar baru kemudian prekuelnya ini diangkat.

maka alur ketegangan berseliweran sepanjang film: di kapel Sistina tempat para pangeran Gereja (kardinal) mengadakan pemilihan paus baru (konklaf), perpustakaan Vatikan yang ditampilkan begitu elok dan canggihnya, basilika-basilika yang tersebar di kota Roma, dan lapangan St. Peter (St. Peter Square). seolah-olah sebuah wisata kota Roma dalam suatu ritme yang memacu rasa ingin tahu!

dalam AD, Dan Brown berhasil menempatkan Galileo, Bernini dalam satu barisan Illuminati sebagai musuh resmi Gereja dan sekaligus memperlihatkan sisi manusiawi para pemimpin Gereja. sayang sekali, Ewan McGregor (yang begitu memukau dalam "Moulin Rouge!") tampak amat canggung dan tidak terlalu meyakinkan dalam peran sebagai Camerlengo atawa Chamerlagne, yakni orang yang ditunjuk oleh Paus yang mangkat sebagai pengganti sementara.

demikian pula pada adegan penyingkapan rahasia si Camerlengo, terasa janggal bahwa para kardinal yang berada di kapel Sistina sudah melihat rekaman pembunuhan kepala polisi Vatikan (posisi ini juga jelas hanya rekaan Dan Brown), yang berarti melebihi kecepatan berjalan Camerlengo, padahal kardinal itu kan sudah berumur lanjut!

AD berhasil menampilkan suspens dengan latar belakang Gereja Katolik. sutradara Ron Howard berhasil menangkap sudut-sudut dan detail menarik dan menjelaskannya ibarat pemandu wisata. meskipun, karena dilarang pihak Vatikan, film ini sebetulnya membuat lokasi tiruan lingkungan Vatikan semirip mungkin.

ibarat mengikuti wisata selama 2 jam, penonton perlu menyiapkan adrenalin dan snack yang cukup. dan tak perlu kaget, bila pada akhir film menemukan pesan ini (sebagaimana di film Spiderman, Batman, Twilight dan superhero lainnya): pemimpin Gereja juga manusia... manusia yang dipilih Tuhan menjadi pemimpin. 
"please write gently...", demikian pesan pemimpin Gereja pada Langdon yang ingin menyelesaikan karyanya mengenai Galileo.

untuk wisata yang menegangkan dan lokasi-lokasi menarik yang disajikan, menurut saya AD layak mendapat 8,5 bintang dari 10.

Friday, April 17, 2009

twilight the movie: vampir juga manusia...


diangkat dari novel berjudul sama, film twilight sangat elok dinikmati. tayangan artistik, alur cerita, soundtrack movie, penokohannya komplet membuat film berdurasi sekitar 120 menit ini tidak membosankan sebagai tontonan. 


dimulai dengan seorang gadis belia bernama Isabella Swan yang pindah ke rumah ayahnya di Forks. di sekolah barunya, dia berkenalan dengan Edward Cullen, seorang pria misterius masa lalu dan keluarganya. di sinilah kisah mengalir dengan rangkaian cukup mendebarkan. Edward menolong Bella yang hampir ditabrak mobil di halaman sekolah. beberapa kejadian aneh mengantar Bella pada jati diri Edward, sang vampir tampan.

Edward mencintai Bella. demikian juga akhirnya Bella. kodrat keabadian Edward sebagai vampir pemangsa dibenturkan dengan kerapuhan Bella sebagai manusia. tema cinta yang pas pada kisah ini telah menjadi magnet sepanjang film twilight. selain itu, twilight terkesan mau menjungkirbalikkan anggapan klise mengenai vampir: introvert, hidup dalam kegelapan, dan haus darah manusia... 
vampir juga manusia, bisa jatuh cinta!

dan pemandangan hutan, alam pegunungan, close up dan frame yang diambil dengan sudut yang indah semakin melengkapi film twilight. film ini juga cukup boros dengan lagu-lagu tema yang terasa pas dengan adegan. coba simak lagu Linkin Park "Leave Out All The Rest", atau lagu balada yang dinyanyikan Iron & Wine "Flightless Bird" yang nikmat terdengar (semula kusangka sebuah lagu dari Simon and Garfunkel).

dengan keindahan cerita dan gambar, film ini layak mendapat 9 bintang dari 10.

Monday, March 16, 2009

Slumdog Millionaire: satir kemiskinan

apa bedanya kehidupan dengan tayangan televisi? film Slumdog Millionaire menyajikan potongan-potongan kehidupan seorang Jamal Malik yang seolah dirangkai sebagai gambar puzzle dalam setiap pertanyaan tayangan Who Wants to be a Millionaire.

tengoklah setiap jawaban yang diberikan mengandung kilas balik potongan kisah yang getir. misalnya, Amitabh Bachan idola yang takkan pernah dilupakannya. saat Jamal kecil terkunci di sebuah kakus di atas sungai, ia berusaha keluar untuk dapat menjumpainya. sampai-sampai ia terjun bebas ke dasar kakus. berlumuran tinja, ia mengacungkan foto untuk ditandatangani sang artis idola.

setiap babak pertanyaan, mengantarnya pada babak lain kehidupan. bagaimana ibunya tewas karena kerusuhan agama di India. bagaimana Jamal bersama Salim, kakaknya bertahan hidup di tengah pahitnya kemiskinan. sekelompok bandit yang menyekap anak-anak jalanan dan mempekerjakan mereka sebagai pengemis secara tidak manusiawi. dan Jamal yang jatuh hati pada Latika, gadis jalanan. motivasinya untuk ikut acara Who Wants to be a Millionaire juga tidak lain demi Latika, kekasih hatinya.

film yang dibesut Danny Boyle dan Loveleen Tandan ini diganjar 8 piala Oscar (2009) dan memenangkan penghargaan dari British Independent Film Award (2008). tak kurang film ini juga mendapat kecaman dari negaranya sendiri, India, karena dianggap mengeksploitasi kemiskinan.

film Slumdog memang berbeda aras dengan film-film Bollywood yang menawarkan pembebasan dan mimpi-mimpi indah dunia. ia menampilkan potret kekumuhan dan kerasnya kehidupan kaum marjinal di Tanah Hindustan.

kalimat-kalimat yang diucapkan Jamal cukup membuat sindiran lucu. misalkan, ketika ia siuman dan berada di Agra, Jamal bertanya pada Salim kakaknya: "apakah kita sudah berada di surga?"
Salim menjawab: "engkau belum mati, Jamal..."
Jamal terpesona memandang Taj Mahal di kejauhan dan berkata: "apakah itu sebuah hotel?"
penonton boleh terbahak-bahak pada bagian Agra ini. karena Jamal yang kemudian menjadi pemandu wisatawan asing amatiran, menjelaskan Taj Mahal dengan cara pandangnya sendiri yang tentu sangat berbeda dengan buku panduan. dengan tenangnya, Jamal berkata: "The guide book was written by a bunch of lazy good-for-nothing Indian beggars". halah...

kisah Slumdog sebetulnya diangkat dari novel Q&A karya Vikas Swarup dan telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul "Teka-teki Cinta Sang Pramusaji" (Serambi). begitu film ini meledak, dalam tempo 1,5 bulan terjual 35.000 kopi buku.

menurut saya film ini layak mendapat 8 dari 10 bintang.

Saturday, February 21, 2009

Benjamin Button: permenungan hidup dan waktu


bagaimana bila kehidupan berjalan mundur, sementara waktu berjalan maju? bagaimana cinta diselaraskan di antara keduanya? film The Curious Case of Benjamin Button (disingkat BB atawa Benjamin Button) mencoba menjawab pertanyaan tersebut. diangkat dari novel F. Scott Fitzgerald (1921), kehidupan Benjamin ditampilkan rada aneh. penonton akan berkerut kening melihat bayi yang lahir dengan wajah manusia berumur 80tahun! kemudian dia diasuh oleh Queenie, seorang ibu berkulit hitam. masa kecilnya dihabiskan dengan di panti jompo. namun takdirnya: dia semakin hari kelihatan muda! Benjamin menjalani hidup secara terbalik.

Brad Pitt berperan sebagai BB. ketika muda, dia bertampang tua. dandanannya tampak lazim. penata rias dan efek visual berhasil menampilkannya secara luar biasa justru ketika ia berusia tua, dan bertampang culun anak muda! wow, kulitnya kelihatan kencang mulus seperti remaja. film ini mengingatkan saya pada sebuah film bertema serupa yang pernah diperankan oleh aktor watak Robin Williams. juga film Forrest Gump. BB mengambil durasi hampir 3 jam! sepanjang film bertutur mengikuti alur hidupnya.

Cate Blanchett, berperan sebagai Daisy, kekasih BB. pesona Cate Blanchett di film ini justru mengingatkan saya pada peran peri menawan yang dimainkannya di film The Lord of The Rings. flash back kehidupan BB bertautan dan mengundang tawa. pengalaman Benjamin muda (dengan tampang tua) masuk ke rumah bordil sampai pengalaman tragis di Pearl Harbour.

alur kisah cintanya baru mengalir pada pertengahan film. dan pada akhir film penonton akan terkejut menemukan kenyataan hidupnya.

film BB yang memakai tag filosofis: "Life isn't measured in minutes, but in moments", memang berisi permenungan mendalam mengenai hidup dan waktu. lihatlah tutur yang bertaburan dengan kata-kata sarat makna:

BB: I was thinking how nothing lasts, and what a shame that is.
Daisy: Some things last.

BB: Your life is defined by its opportunities... even the ones you miss.

dan pada kalimat terakhirnya di film ini BB berkata seperti merenung:
Some people, were born to sit by a river.
Some get struck by lightning.
Some have an ear for music.
Some are artists.
Some swim.
Some know buttons.
Some know Shakespeare.
Some are mothers.
And some people, dance.


dan, seperti ada ruangan senyap yang disisakan pada bagian akhir film.

Friday, February 20, 2009

from Australia with love


film Australia berdurasi 2,5 jam cukup membuat ujian kesabaran. apakah penonton akan betah memelototi layar selama itu dan mengurai jalinan kisah yang cukup kompleks? ternyata bisa. film yang dibesut Baz Luhrmann (Moulan Rouge!, Romeo+Juliet) menghadirkan kisah yang mengalir seperti drama panggung dengan latar Australia serta keindahan alamnya.

Nicole Kidman berperan sebagai Lady Sarah Ashley, berangkat dari Inggris ke Australia di tahun 1939 untuk menjumpai suaminya. sang suami punya peternakan Faraway Downs dan mendapat order sebagai pemasok 2000 ekor ternak untuk memenuhi logistik Perang. tragis, suaminya tewas. Fletcher, yang bekerja mengelola peternakan, sebagai tokoh antagonis. dialah sang pembunuh, sekaligus pencuri ternak. ini diceritakan oleh Nullah, seorang bocah aborigin campuran yang tinggal di Faraway Downs.

Fletcher dipecat dan diusir oleh Lady Sarah. kemudian dia bekerja pada Carney, pengusaha ternak terbesar di sana. ketika Lady Sarah dan peternak dari Faraway Downs menggiring ribuan ternak untuk memenuhi order tadi, Fletcher berulah lagi. dia membakar pepohonan. ternak berlarian ketakutan di antara tebing-tebing bukit. hingga suatu ketika ternak berlarian menuju jurang, sebagaimana diharapkan si jahat Fletcher, dan di tepi jurang berdiri Nullah...

Nullah mengeluarkan kemampuan sihir yang diperoleh dari kakeknya. ia berdiri tenang, menatap para ternak yang berlari ke arahnya, menggerakkan tangannya. seketika mereka semua berhenti... luar biasa!

kisah cinta terjalin di sini antara Lady Sarah dan Drover yang diperankan Hugh Jackman (The X-man). di tengah tandusnya padang, mereka berhasil mengantar ribuan ternak menuju ke kapal yang sudah siap mengangkut, dan mengalahkan peternakan Carney dan Fletcher.

kejahatan Fletcher makin menjadi-jadi. Mr.Carney bosnya dibunuhnya dengan cara didorong ke sungai penuh buaya. Fletcher menjadi penguasa peternakan terbesar dan berambisi menguasai Faraway Downs.

di tengah film, Nullah memainkan lagu "Somewhere over the rainbow" dengan harmonika. indah sekali terdengar. demikian juga, menjelang akhir film, ketika Nullah dan Drover disangka sudah tewas akibat penyerbuan Jepang yang meluluhlantakkan wilayah utara Australia, musik harmonika Nullah dari kejauhan dapat didengar Mrs.Boss (panggilan Lady Sarah).

Drover juga sempat patah hati. ketika berada di sebuah pohon di padang, tempat mereka dulu mengaso dan pertama kali ia jatuh hati pada Lady Sarah, kalimat ini diucapkan temannya: "Without love, you are nothing. You will have no dreams, no hope..."

kupikir inilah kalimat kunci film ini. sebuah Australia yang meskipun kemudian hancur, dibangun dengan cinta dan pengharapan. bukan dengan ambisi buta dan kejahatan sebagaimana dibuat Fletcher.

Somewhere, over the rainbow, way up high.
There's a land that I heard of Once in a lullaby.

Somewhere, over the rainbow, skies are blue.

And the dreams that you dare to dream
Really do come true.

menurutku film ini layak mendapat 8,5 dari 10 bintang.

defiance: pembangkangan terhadap nasib


film Defiance merupakan satu di antara beberapa film tentang nasib orang Yahudi di masa Hitler. dengan embel-embel: diangkat dari kisah nyata, alur kisah perjuangan Bielski bersaudara menyelamatkan 1200 orang pelarian Yahudi menjadi amat asyik untuk diikuti. mengingatkan saya pada "Schindler List", "Cold Mountain" dan "Enemy at the Gates". film ini bersetting Polandia, Eropa Timur, dan menyajikan potongan-potongan pemandangan alam indah tempat para pelarian Yahudi bersembunyi di hutan-hutan. maklum, lokasi syuting film di Lithuania.

Bielski bersaudara mengambil inisiatif bersembunyi di hutan bersama para pelarian Yahudi. pilihan bagi mereka sangatlah sedikit: mati ditembak pasukan SS, ditahan di kamp konsentrasi (dan mati di sana), atau lari bersembunyi di hutan. semakin lama, jumlah mereka bertambah banyak. persediaan makanan pun menjadi persoalan, belum lagi penyakit, dan rasa aman yang amat mahal. tempat mereka terkepung pasukan SS, setiap saat dapat menjadi akhir pelarian mereka.

Daniel Craig berperan utama sebagai Tuvia Bielski, pemimpin pelarian. sosoknya mengingatkan pada James Bond 007 yang belum lama beredar. di film ini, dia tidak hanya disegani sebagai pemimpin, namun dia pun menderita sakit di tengah cuaca dingin yang ganas. sisi kemanusiaannya sebagai pemimpin kerap kali diuji. misalnya, dia memberi aturan tidak boleh ada anak kecil/bayi selama pelarian mereka. ketika seorang perempuan kedapatan melahirkan akibat diperkosa tentara SS, dia tidak tega mengusir perempuan dan bayinya. risiko bagi keselamatan bayi memang besar, tak kurang juga bagi rombongan pelarian bila bayi tersebut menangis... hmmh, serba salah sebetulnya.

Tuvia Bielski berseberangan dengan Zus Bielski, saudaranya. Zus menghendaki pertempuran dan pembalasan terhadap lawan. Tuvia menghendaki persembunyian di hutan dengan risikonya. Zus kemudian bergabung dengan gerilyawan Rusia untuk melawan pasukan SS.

pondok-pondok dari batang pohon mereka dirikan di hutan. musim dingin membawa salju yang tebal dan rasa lapar yang menggigit. Tuvia menembak kuda kesayangannya, demi memberi makan ratusan orang yang kelaparan.

akhirnya, lokasi mereka ketahuan oleh pasukan SS. mereka digempur dengan persenjataan berat pesawat udara. kemudian pasukan infanteri hendak menyelesaikan pembasmian para pelarian ini. pertempuran sangat tidak imbang.

kisah Musa yang memimpin orang Israel melewati Laut Merah, seolah ditampilkan pada adegan ini. Tuvia memimpin mereka menuju "tanah terjanji". mereka sungguh menunjukkan sikap pembangkangan terhadap nasib, bahwa mereka harus mati konyol di tangan Nazi.

tag film jadi sangat mengena: "Freedom begins with an act of defiance". kebebasan senantiasa diawali tindakan pembangkangan.

kisah heroik Bielski yang nyaris dilupakan sejarah, disajikan dalam film ini. mungkin untuk mengingatkan kita yang kadang cepat lupa, dan menyerah pada nasib.

Saturday, December 06, 2008

paint your wagon: satu istri dengan dua suami?

bagaimana bila dua sahabat memiliki istri yang sama? tema rada nyeleneh ini diusung dalam "Paint Your Wagon". film yang diproduksi tahun 1969, diperankan aktor ganteng Clint Eastwood. di sampul VCD malah terpasang kalimat: See Clint sing in a rollicking Western musical comedy!

Ya, baru dalam film ini Anda bisa mendengarkan Clint Eastwood yang biasanya memerankan film koboi atau sebagai sheriff, bernyanyi semirip suasana film The Sound of Music. selain itu siapkan perut yang siap diguncang oleh kekonyolan dan kocaknya situasi penambangan emas tempat mereka berada.

diawali pertemanan si tua pemabuk Ben Rumson dengan Pardner (Eastwood). mereka kelompok penambang hanya terdiri kaum lelaki saja. suatu ketika seorang lelaki dengan dua isteri datang ke sana. dia melepaskan seorang isterinya untuk para penambang.

supaya adil, diadakan pelelangan. dalam mabuknya, si tua Rumson memenangkan lelang dengan harga $800. ketika upacara pernikahan dilangsungkan, saking mabuknya, Pardner membantunya menjawab Janji Pernikahan:

Haywood Holbrook: Dearly beloved. We have gathered together to grant this man, Ben Rumson, exclusive title to this woman, Mrs. Elizabeth Woodling, and to all her mineral resources. I have drawn up this Record of Claim which here and henceforth will be recognized as a certificate of marriage. So I ask you Ben, do you recognize this claim as a contract of marriage and do you take this woman to love honor and cherish?
Pardner: [after long silence] Oh, he does.
Haywood Holbrook: Elizabeth Woodling, do you take this man, Ben Rumson, to love, honor and obey him until death do you part.
Pardner: She does.
Haywood Holbrook: I now pronounce you claimed and filed as Mr. and Mrs. Ben Rumson.

si istri minta agar mereka tidak tinggal di kemah, melainkan sebuah rumah permanen. permintaannya dikabulkan, sebuah pondok kayu mereka dirikan. dan si istri minta agar dia diperlakukan dengan hormat, bukan seperti seorang pelacur, ataupun seorang yang dimenangkan dari undian.

Pardner dapat kemah di luar rumah. si tua Rumson pergi dengan rencana bagus bagi para penambang: menangkap kereta berisi perempuan-perempuan, sehingga daerah mereka lebih hidup. sekembali Rumson, dia terbakar api cemburu. pernah saking cemburunya dia menginterogasi istrinya yang baru selesai mandi di sungai malam hari:

Ben: You was down at the rapids just now, bare beam and buck naked?
Elizabeth: Well, I'm not like to take a bath with my clothes on, Mr. Rumson.
Ben: Are you trying to tell me that you was taking a *bath*?
Elizabeth: That's right. I was taking a bath.
Ben: In the middle of the night?
Elizabeth: Mr. Rumson, in a community of 400 men, would you rather I took my bath "bare beam and buck naked" in the middle of the day?

akhirnya, Pardner mengakui bahwa dia mencintai Elizabeth. parah lagi, Elizabeth mengakui mencintai kedua lelaki itu. keduanya tinggal serumah. semua berjalan baik, sampai mereka menolong sebuah keluarga dan memberi mereka tumpangan di rumah mereka. siapa yang layak disebut kepala keluarga di rumah itu?

bagaimana akhir kisah "Paint Your Wagon" yang kocak dan nyeleneh? yakinlah, tidak ada pertumpahan darah dalam film ini. justru pertemanan si tua pemabuk Rumson dan Pardner (kedengarannya 'partner', karena nama aslinya baru ketahuan di akhir film) yang sangat erat. pemandangan prairie, bukit-bukit hijau dan pertambangan masa lampau mengingatkan pada film klasik koboi jadul.

dan lagu-lagu yang dinyanyikan... sangat menghibur. coba saja cari filmnya saat senggang.

Wednesday, January 23, 2008

the heartbreak kid: cinta yang tak jelas


Ben Stiller bikin ulah dalam film ini. berperan sebagai Eddie Cantrow, jomblo berusia 40 tahun yang bertobat dan berusaha mencari jodoh. di jalan, ia bertemu Lila yang baru saja kecopetan sehabis dari binatu. diberinya duit $5 buat ongkos transport buat Lila. Lila pergi, namun selembar pakaian dalamnya yang baru dicuci ketinggalan.

inilah yang jadi bahan diskusi hangat dirinya dengan sang ayah. sementara membahas pakaian dalam, mendadak Lila muncul. berikut penggalan percakapan mereka:
Eddie Cantrow: This is my dad.
Lila: Oh, hi Dad.
Doc: Nice to meet you, Lila.
Lila: How do you know my name?
Doc: Okay, cat's out of the bag. My son found your panties on the sidewalk and we've been talking about you all week. Eddie, give her back her undies.

film ini memang dagelan tapi rada jorok. lelucon orang dewasa mengenai cinta, relationship, dan bagaimana mengenali pasangan hidup.

setting utama cerita digelar saat Lila dan Eddie menikah 6 minggu setelah pertemuan itu. mereka berbulan madu di Cabo, Mexico. tersingkap semua latar belakang dan kepribadian Lila yang tak terbayangkan oleh Eddie. singkat kata: mengerikan!

saat sedang gulana Eddie bertemu Miranda dengan keluarganya yang penuh kehangatan yang sedang berlibur di Cabo. Eddie jatuh hati pada Miranda. di tengah neraka bulan madu hubungannya dengan Lila, Eddie menjalin hubungan dengan Miranda. di sini banyak kelucuan yang terjadi, maklum kucing-kucingan ala orang dewasa dipertontonkan.

sampai akhirnya semua terbongkar.
Eddie apes. semuanya kacau gara-gara cinta yang tak jelas. Ben Stiller benar-benar mampu mengocok perut penonton dengan perannya yang culun di film ini. ia menjadi imigran gelap di Mexico gara-gara semua dokumennya termasuk paspor dibakar Lila, bagaimana ia mengejar-ngejar Miranda, dan sebuah akhir yang mengejutkan...

sempat bertanya-tanya: inikah stereotip orang Amerika mengenai cinta?
easy come, easy go... the heartbreak kid.

Tuesday, January 08, 2008

the golden compass yang membuatku tertidur


film ini sempat membuatku tertidur, mungkin karena kecapaian. sore itu bela-belain masuk bioskop sepulang kerja. atau jalan ceritanya pada awal amat datar dengan peran Nicole Kidman yang kurang greget. alurnya kurang jelas. mengapa tiap orang mesti punya daemon? itu pertanyaan yang muncul di sepanjang film, dan belum terjawab hingga film usai. malah endingnya menggantung, masih bakal ada sekuel selanjutnya.

perjalanan yang ditempuh Lyra Belacqua seorang gadis cilik dengan kompas emasnya barulah mampu membuat mata melek. di sepanjang perjalanan dia bertemu beberapa tokoh unik Iorek Byrnison, seekor beruang kutub petarung yan gagah dengan jubah perangnya. juga seorang penyihir, Serafina Pekkala. ambooi, manisnya penyihir yang tiba-tiba muncul ini. juga cara dia terbang dan memanah musuh-musuhnya. sempat terpana memandangnya! jadi berpikir, namanya kok indah sekali terdengar.

beberapa tokoh menurut saya juga punya nama unik dan enak didengar: John Faa, anak Mama Faa yang sempat diculik; Farder Coram, Ragnar Sturlusson, beruang kutub yang menjadi lawan Iorek.

dibandingkan Harry Potter, Narnia dan Lord of the Rings, film ini memang masih kalah mutu. cuma penasaran, mengapa sempat muncul isu bahwa film ini diprotes oleh kalangan Katolik konservatif. katanya karena film ini diangkat dari novel karya Philip Pullman, seorang ateis.

sepanjang film yang saya nikmati, The Golden Compass tidak menyajikan hal-hal yang bertentangan dengan moral. seandainya iya, tentu film ini sudah ditolak masuk sebagai hiburan di ruang publik terlebih untuk anak-anak.