Thursday, August 11, 2005

Melamun di Dom 2: keramahan khas timur

Rencana gila yang saya susun sebelumnya untuk pagi itu adalah lari ke Depok untuk mengikuti `reuni akbar' dengan teman-teman di JIP-UI dulu. Namun pikiran waras saya beberapa kali mengingatkan mengenai mepetnya waktu yang harus saya tempuh ke bandara untuk penerbangan sore ke KL.
Mohon maaf kepada teman-teman yang sudah kecewa atas batalnya acara `soda gembira', terus terang saya juga sangat kecewa. Mungkin di lain kesempatan kita kumpul-kumpul lagi di kantin balsem atau tempat teater daun, ya…

Siang itu saya naik taksi ke Blok M, tempat pangkalan Damri bandara.
Rasanya waktu lekas sekali bergegas. Tiba terminal 2 di bandara, saya segera masuk dan sempat menunggu di depan counter check-in Malaysia Airlines [MAS] mengamati orang yang sedang mengepak barang dengan plastik [plastic wrapped]. Kedatangan Mbak Adriana, teman seperjalanan saya, yang menurut sms yang dikirimnya masih di perjalanan ke bandara, membuat saya memutuskan untuk langsung check in.
Kemudian saya berlari menuju ke meja petugas "fiskal". Saya mengeluarkan surat pengantar dari Departemen Agama dan menunjukkan pada petugas. Namun saya di arahkan ke loket Pabean di seberang imigrasi untuk mengurus pernyataan Bebas Fiskal.
Cukup banyak orang yang ngantri di sana. Saya sempat panik karena tidak paham prosedur. Ini hal baru buat saya. Syukurlah petugasnya cukup simpatik, saya diberi formulir untuk diisi dan menyertakan surat dari Depag. Saat tiba giliran saya, petugas mengamati dengan seksama form yang saya isi. Di formulir tsb saya menuliskan nama dan no. paspor mbak Adriana sebagai peserta perjalanan. Namun petugas itu
meminta surat rekomendasi yang menyebutkan nama Adriana. Karena tidak ada, petugas langsung mencoret dan mencetak kartu bebas fiskal atas nama saya sendiri.
Dari situ saya menuju ke antrian imigrasi. Lebih banyak baris antrian dan orang ngantri di sini.
Tiba giliran saya, saya sempat bermasalah lagi… nasib. Kartu keberangkatan dan kepulangan yang seharusnya diisi lengkap, saya hanya mengisi kartu keberangkatan saja. Petugas langsung meminta saya minggir dulu. Antrian di belakang saya langsung maju. Saya kewalahan buru-buru mengisi kartu yang saya anggap saat kepulangan baru saya isi dan serahkan.

Paspor saya akhirnya mendapat cap imigrasi… lega rasanya sewaktu melewati pintu itu. Masih hampir satu jam sebelum keberangkatan.
Saya menuju ke executive lounge bandara. Waduh, suasananya benar-benar beda di terminal keberangkatan ke LN dibanding executive lounge di terminal keberangkatan lokal! Mungkin gara-gara berkejaran dengan waktu aku jadi lapar… rehat sebentar. Ruangannya ibarat tempat persembunyian yang nyaman, karena suara panggilan untuk naik pesawat sama sekali tidak terdengar di sini. Karena kuatir saat untuk boarding
sudah tiba, bergegas saya tinggalkan tempat nyaman ini.
Gate D7 nyaris terlewati karena saya mengikuti ban berjalan… masuk ke antrian lagi. Kali ini pemeriksaan paspor, boarding pass dan pemindaian tas bawaan.
Setelah menunggu beberapa saat, penumpang dipersilakan masuk pesawat. Saya perhatikan ada beberapa kursi yang kosong hingga pesawat lepas landas. Termasuk kursi di sebelah saya… saya berjalan ke belakang dan menemukan mbak Ina sudah duduk di sana. Saya tawarkan kepadanya untuk pindah ke depan, dia malah balik menawarkan pindah ke belakang karena ada beberapa kursi kosong.

Masalah berikutnya muncul saat makan malam disajikan… perutku sudah cukup terisi tadi, sekarang ditawari mau Nasi Lemak atau … maaf, saya lupa apa namanya. Yang pasti saya memilih yang kedua. Nasi lemak bisa berakibat kurang baik karena lemaknya, pikirku… hehehe. Untunglah, pramugaranya rajin menawarkan minuman, termasuk wine.

Wow, jarang-jarang aku mau minum wine. Saya perhatikan ada dua gadis yang duduk di depanku. Setiap gelasnya kosong, si pramugara dengan sigap menuangkan wine dan membagikan camilan berupa kacang goreng. Pssst… bahkan sebelum pesawat mendarat, ada sebungkus souvenir berisi sebotol wine diberikan si pramugara khusus buat meraka, itu kutangkap dari obrolan mereka dalam bahasa Melayu. Keramahan khas Timur, tak
perlu diragukan.

Kami mendarat pukul 21.30 waktu setempat di bandara Kuala Lumpur International Airport [KLIA]. Tepat saat mendarat, panggilan dari pengeras suara: "Mr Sidjaya, Toni, please come to the officer immediately…" disampaikan beberapa kali.
Waduh, penyambutan personal itu untukku? Bergegas kuambil ransel kecil yang menyertaiku dipenuhi pertanyaan dalam benak. Ada apa gerangan? Saya hampiri pramugari, dia langsung menunjuk ke petugas yang berdiri di mulut garbarata. Saya mengikuti petugas itu dengan bertanya:
"What's up?"
Dia hanya menjawab: "We have a problem with your ticket. Follow me"…

Langsung aku siaga satu. Kutunjukkan padanya boarding pass yang kubawa.
Sesampai di counter MAS, mereka menerangkan bahwa mereka menerima teleks dari MAS Jakarta bahwa tiket saya belum disobek waktu di Jakarta. Aku serahkan semua tiketku kepada mereka untuk diperiksa.
Selembar kupon pada tiketku mereka robek. Dengan demikian, persoalan segera selesai dan aku bisa bebas, pikirku… Betapa sambutan hangat kedatanganku di KL telah membuatku gugup. Bayangin kalo seisi penumpang pesawat tadi tiba-tiba tahu namamu, and unfortunately you have a problem with that!

Sekarang aku tertinggal sendiri di bandara asing ini, semua penumpang sudah pergi. Tak tahu ke mana musti melangkah, aku bertanya ke bagian informasi di mana gate transit C26 untuk ke Frankfurt.
Kuputuskan untuk mengabaikan godaan untuk menjelajah dan melihat-lihat isi bandara KLIA akibat shock tadi. Ada stand internet gratis dari Samsung dipajang menyolok di tengah koridor. Di sana aku bertemu dengan mbak Ina dan Susan temannya. Syukurlah, sekarang saya tidak menjadi orang asing lagi.
Kami duduk di ruang tunggu C26 sambil ngobrol. Susan ternyata orang Jerman yang sudah lama bermukim di Jakarta. Dia fasih berbahasa Indonesia. katanya sekarang dia pulang liburan, namun dia tidak begitu suka dengan udara dingin di sana. Dia lebih suka tinggal di Indonesia. Wow! Aku minta padanya untuk mengajari bahasa Jerman. Maklum ada beberapa buku yang dipinjamkan Pak Lis, namun aku belum pernah praktekkan percakapan bahasa Jerman. Dia cuma ketawa waktu mengoreksi cara pelafalanku yang bengkok…

Jam 23.05 kami diperbolehkan masuk ke kabin pesawat. Saya dapat kursi di barisan depan bagian tengah, namun sayangnya pas berhadapan dengan lorong. Asik buat kaki selonjor, namun gak enak bila melihat lorong di depan mata. Untunglah saat pesawat lepas landas, tirai lorong diturunkan, sehingga pemandangan itu tidak mengganggu lagi.
Kini saatnya untuk tidur.

Tuesday, August 09, 2005

Melamun di Dom 1: bedroll louis vuitton

9 Agustus 2005

Perjalanan panjang ini dimulai sejak pesawat saya dari Makassar mendarat malam hari di bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Sewaktu menunggu bagasi datang, saya berkenalan dengan sepasang bapak-ibu yang sepesawat dari Makassar. Si ibu terlebih dulu menyapa saya, katanya dia mengenal saya sebagai guru krisma anaknya… saya sendiri terus terang tidak ingat lagi.
Namun saya merespon sapaan mereka, hingga bagasi saya tiba, yakni sebuah ransel besar yang saya beli belum lama.

Mereka tampaknya heran dan mulai bertanya mengenai tujuan saya. Lalu saya katakan bahwa saya akan berangkat ke Jerman mengikuti Pekan Pemuda Sedunia. “Lanjut ke Paris, nggak?” tanya ibu itu antusias. “Memang begitu sih rencananya. Dari Cologne kami akan lanjut ke Paris untuk ziarah ke Lourdes…”, jawab saya.
“kalau begitu, boleh saya titip untuk belikan tas Louis Vuitton?”, pintanya sambil menjelaskan jenis yang dikehendakinya lengkap dengan harganya yang sekitar 600 euro. Saya terperangah mendengar dan spontan saya jawab, “kenapa nggak nyari yang di Cihampelas saja…”
Si Ibu tertawa dan berkata: “bisa kelihatan jelas beda Louis Vuitton buatan Cihampelas dengan yang aslinya.”
Lalu mereka mengajak saya ikut menumpang di mobil yang datang menjemput.
Dalam hati saya bersyukur atas kebaikan hati mereka.

Jakarta sudah malam, lampu-lampu jalan bersinar terang. Sangat kontras dengan di tempat asal saya, Makassar. Sewaktu-waktu PLN dapat memadamkan listrik. Kami mengobrol di sepanjang jalan. Mereka menuju ke arah Pondok Indah, saya ke Ciputat. Jadi, saya akan turun di depan PIM.
Sewaktu menyinggung kembali soal Louis Vuitton, ibu itu bilang kalau mau saya pakai dulu kartu kredit untuk beli tas itu, nanti sekembali di Jakarta dia akan membayar kontan. Namun, karena kuatir barang bagasi saya akan cukup banyak sehingga saya mencoba menolak secara halus. Sebelum turun di depan PIM, saya memberikan kartu nama saya. Mereka dapat mengontak saya apabila mereka sungguh serius soal pembelian tas itu.
Sebuah taksi blue bird berhenti. Sopir mereka dengan baiknya membantu memindahkan barang-barang saya ke bagasi taksi. Lalu kami pun bersalaman untuk berpisah.

Taksi membawa saya ke tempat kakak saya di Ciputat.
Setiba di sana dan taksi telah pergi, saya baru menyadari bahwa bedroll [matras] yang saya bawa telah tertinggal di bagasi taksi. Maklum bawaan saya mirip orang mau pergi berkemah. Sleeping bag saya taruh di dalam ransel. Namun bedroll harus dijinjing karena ukurannya besar. Ada pelapis aluminium di sekelilingnya. Itulah yang muncul di pikiran saat saya mengamati seluruh barang saat berada di kamar dan baru menyadari kehilangan benda berkilau satu itu.

Saturday, July 30, 2005

es krim italia


gila banget kalimat ini: "An ice cream a day keeps the doctor away" waktu membacanya di situs WantedinRome.com, aku tertawa. membayangkan Forrest Gump lagi ngomong: Life is just like a box of chocolate, you never know what will you get. terus ngiler membayangkan aneka gelato [es krim Italia]. coba lihat tuh gambar es krim ukurannya gila-gilaan gedenya...

ini gara-gara ada teman ngajakin jalan ke Roma. Roma? hmmh... musti reschedule lagi nih rencana perjalanan backpacking besok: Cologne-Paris-Lourdes-Nice-Genoa-Rome ? rute itu mengikuti Eurotrain.

kakiku musti latihan berjalan mulai sekarang. paling tidak ada 3 bahasa musti kukenali: Jerman, Perancis, dan Italiano! :) dan, dompet musti disediakan isinya... lumayan bila es krim italia alias gelato tadi bisa membuat dokter tidak diperlukan lagi dalam hidup ini... hehehe.

yang penting: jalan.
bukankah hidup adalah perjalanan? jangan pernah berhenti, kecuali untuk rehat dan menikmati es krim!

Tuesday, July 26, 2005

ketika pejabat kampanye makan ayam


pekan lalu di tv ada berita menarik. berita apa? anggota dpr dengan tanpa malu-malu dengan lahapnya menyantap ayam... hehehe, gitu aja kok dibilang menarik?
selain karena virus flu burung telah merenggut 3 nyawa di Tangerang dan 2 orang diduga sedang mengidap virus flu burung, rasanya anggota dpr kita tampak gagah berani memamerkan betapa sedapnya nasi dos dengan lauk daging ayam di depan kamera tv.

saat saya menceritakan hal ini pada teman saya, sebut saja namanya Drs. Arief, ia langsung nyelutuk: "waaa... kalau makan ayam sih, memang pejabat doyan! basi, bukan berita!"

saya memandangnya dengan heran. "maksudnya..."

"iyalah, beberapa pejabat kita doyan ayam muda kalau sedang kunjungan dinas..."


oohhh... ayam itu toh yang dimaksudnya. kukira ayam beneran.
dia langsung berkisah bahwa belum lama ini diadakan acara pameran besar di kota ini yang dihadiri para pejabat petinggi daerah. mereka nginap di hotel mewah. lokasi penginapan jadi penuh sesak, bus-bus mewah berjejer di depan hotel siap mengantar tamu-tamu terhormat ini ke tujuan wisata di daerah ini.

nah, malamnya dia ditugaskan mencari ayam lokal oleh si bos.

"dapat?" tanyaku melongo.

"lha iyalah", katanya. cewek putih dari daerah utara.

"berapa?" ya, setelah menawar dengan bapak ayamnya, dapat 800rebu semalam. itupun nyarinya di tempat tertentu yang identik dengan botol dan disko...

lalu dia berkisah dengan riangnya, seolah-olah dia paling tahu soal satu ini. katanya pernah kejadian dia dikirim ke luar negeri ikut suatu kegiatan pelatihan. mereka nginap di hotel, dan suatu malam ada temannya yang kebetulan pejabat juga di suatu daerah terpencil negeri ini bercerita, bahwa ia baru saja menikmati 'ayam lokal'. harganya bila dikurskan, lumayan 1 jutaan lebih.

padahal, katanya, uang saku pelatihan mereka tidak sebanyak itu.

"nah", sekarang wajahnya tidak ceria lagi, "bila melihat pejabat kampanye makan ayam di tv, saya jadi merasa jijik... mereka benar-benar doyan makan ayam sungguhan!"

ahh... nggak semua pejabat begitu dong! Drs. Arief teman saya ini kadang suka telanjur menyamaratakan semua pejabat dengan persepsi negatif.

"bukannya kenapa, mereka suka makan ayam pakai uang negara. coba kalo ada pejabat yang sampai kena flu burung, baru kapok!" tambahnya sengit. aku tak bisa berkata-kata lagi.

Tuesday, July 19, 2005

film GIE jelas bukanlah biografi



film GIE sempat membuat bioskop pol. semalam aku beruntung masih dapat bangku deretan depan. terjepit di antara para remaja yang sibuk ngobrol.

film ini melewati pemanasan di media massa. kontroversi berseliweran: dari tokoh Gie tidak pantas dimainkan oleh Nicholas yang tampan itu, sponsor perusahaan rokok, bahkan isi dari film yang menyederhanakan sosok Soe Hok Gie.

aku penasaran saja. bagaimana Mira Lesmana dan Riri Riza membangkitkan anak muda yang mati muda hampir limapuluh tahun lalu untuk hadir di alam kini. jelas bukan persoalan main-main. setting lokasi dan situasi yang sangat berubah musti dibangun dengan kejelian pada detail yang nyaris sulit ditemukan saat sekarang.

Gie kukenal dari tulisannya. masa kuliah dulu, dia mampu memompakan idealisme dan gelora perjuangan dengan membaca "Catatan Seorang Demonstran". idealisme yang katanya sudah menjadi barang mahal zaman sekarang. dia mahasiswa kritis dan humanis. semua teman yang mengenalnya tentu setuju. itu yang kutangkap dalam Diskusi mengenang 30 tahun kepergian Gie tempo hari. Gie bukanlah superhero.

beberapa hal menarik di film ini adalah lambang-lambang PKI [palu arit] yang ditampilkan seolah menandai era kebebasan yang tengah berhembus saat ini, juga lagu "genjer-genjer" diperdengarkan kepada penonton GIE. saya teringat lagu ini dalam novel Ayu Utami "Larung" dinyanyikan oleh Gerwani, sayang lagu ini tidak disertakan dalam kaset soundtrack GIE... konon bila disertakan, dikuatirkan nanti bisa melejit ke tangga lagu populer di Indonesia! [tapi saya jamin, popularitas "Cucak Rowo" masih lebih tinggi dibandingkan lagu kuno genjer-genjer... :)]


mau lihat wajah si Bung? waduh, si Bung Karno tampil dengan gagahnya pakai kaca mata hitam dan tak lupa tongkat komandonya. Gie diperlihatkan berkunjung ke istana memakai jas pinjaman dan si Bung menegurnya, jas tersebut kekecilan... adegan Gie melangkah pulang meninggalkan istana kiranya gambaran sutradara bahwa Gie beroposisi terhadap si Bung. ada dua kekuatan besar pada zaman itu: militer dan PKI, si Bung mendekati PKI untuk mengendalikan kekuatan militer. pada waktu peristiwa Gerakan 30 September 1965 meletus diperlihatkan adegan si Bung sedang gundah di kamarnya.

dari sisi ini film GIE memperkaya khasanah perfilman Indonesia. Ariel Haryanto pernah mengritik betapa miskinnya film independen Indonesia yang mengangkat tema seputar pergerakan 1965, selain film klise "Pengkhianatan G-30-S/PKI" produksi pemerintah Orde Baru itu.

GIE memperlihatkan sekelumit adegan pembantaian orang-orang yang dianggap PKI. adegan ini dibalut dengan kisah tragedi Tjin Han, sahabat Gie. Han memilih PKI untuk dapat memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya. Gie sendiri berasal dari kalangan menengah yang berkecukupan. mereka bersahabat sejak kecil, bermimpi bermain di pantai... nasib memisahkan mereka. Han berakhir di tahanan, kemudian di bawa ke pantai, lalu ditembak. katanya eksekutornya adalah milisi berpakaian hitam? siapakah mereka itu? jangan-jangan ini rekaan sutradara untuk memperhalus tampilan GIE?

Han memang diakui Riri Riza sebagai tokoh imajiner. sejatinya Gie tak punya teman bernama Tjin Han. yang ada adalah seorang bernama "Boen ..." yang memang mati, menurut Catatan Seorang Demonstran. jelaslah bahwa tokoh Tjin Han adalah romantisasi dari kisah GIE. dia menjadi benang yang direntangkan sutradara sejak awal pertengahan hingga akhir film.

mimpi mereka untuk melihat pantai terpenuhi. Gie mati, dalam kilasan masa kecilnya berguling-guling di puncak Pangrango bersama Han. nilai persahabatan dan nilai perjuangan disajikan sutradara untuk pemirsa kawula muda zaman ini. dari segi ini, film GIE patut diapresiasi secara layak.***


kalo yang ini sih, fotoku waktu di pantai di tahun '65-an... hahaha, percaya?"

GIE di mata Arief Budiman


Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini.
Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya.
Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.

Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, "Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidsak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian".

Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai "Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja". Ibu saya sering gelisah dan berkata: " Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang". Terhadap ibu dia Cuma tersenyum dan berkata "Ah, mama tidak mengerti".

Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju - mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: "Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya". Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: "Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan".
Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.

Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.

Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman Lantang.
Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: "Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu".
Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta.

Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab "Tidak. Mengapa?" Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, untuk siapa peti mati ini? Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. "Soe Hok Gie yang suka menulis di koran? Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab " Dia orang berani. Sayang dia meninggal".

Jenazah dibawa pleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: "Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal.
Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus". Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan saya mencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?

Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun akalau malam hari. Di sana juga banyak
nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang?
Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata "Ya" atau "Tidak", meskipun Cuma di dalam
hatinya.

Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik "Gie, kamu tidak sendirian". Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.

Arief Budiman (Soe Hok Djin)
~ seperti dimuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran edisi 1993

Friday, July 08, 2005

bom meledak di london: the world is not enough?


pagi ini berita heboh diwartakan di media massa: Bom Mengguncang London. betapa tidak, bom hari kamis (7/7) diledakkan di tiga lokasi sekaligus saat-saat keramaian kota. korban jatuh 30-an orang tewas, beberapa ratus yang luka, angka pastinya mungkin lebih banyak. rasanya dunia akan bergerak lagi... tapi belum jelas ke mana.

AS yang dilanda serangan teroris 911 bersikap sangat reaktif introvert. Inggris bagaimana bersikap pasca-serangan ini?

kabarnya ada pesan dari Al Qaeda mengenai pernyataan bahwa mereka tahu peledakan di London kemarin. namun, satu pertanyaan besar: kemana saja MI-6, intelijen Inggris? mengapa mereka tak dapat mengendus kejadian ini sebelumnya?

di layar perak kita dapat menyaksikan kegagahan tokoh intel 007 James Bond mengarungi dunia mengejar dan menghajar para kriminal [selain perempuan cantik, tentu saja]...

namun gambar kelabu yang kita saksikan di layar kaca, para korban dan petinggi Inggris sungguh shock dan menyesali peristiwa 707 ...

peristiwa ini terjadi tanpa pesan peringatan. tanpa tanda-tanda dari teroris. ledakan pertama di sebuah terowongan kereta bawah tanah dekat Moorgate, 21 orang tewas dalam ledakan kedua dekat King’s Cross, dan lima orang tewas di Stasiun Edgware Road di London barat.

jelaslah, ada sesuatu yang tidak beres di sini.
kesaktian sistem intelijen Inggris patut dipertanyakan... dan James Bond mungkin sedang pulas saat itu dalam pelukan perempuan molek.

dunia ini memang tidak cukup baginya.
sudah saatnya Mr.Bond pulang kampung, kembali ke London, markasnya, dan berjaga di sana... the world is not enough, is it?

Saturday, June 25, 2005

batman begins: batman juga manusia!



judul di atas terinspirasi sama tulisan kompas [24/6], dan lagu "rocker juga manusia" yang semalam dinyanyikan Judika dengan bertenaga di Indonesian Idol. ya, sisi manusia tokoh batman lebih disorot dalam film batman begins. tema superhero yang berkedok kelelawar ini sudah beberapa kali diangkat ke layar perak. dan tema sisi manusiawi batman juga sebetulnya pernah ditonjolkan di Batman Forever (1995). dalam Batman Forever, Bruce Wayne [Val Kilmer] banyak berkonsultasi dengan psikolog mengenai gelapnya mimpi yang selalu menghantuinya. Bruce lalu jatuh cinta pada perempuan psikolog itu. siapa pemerannya... emmh Nicole Kidman ya?

Christian Bale kali ini mendapat giliran jadi Bruce Wayne alias Batman. tak percuma otot dan ketampanan yang dimilikinya, berpadu dengan keterampilan karate dan samurai yang diperoleh sewaktu di penjara gara-gara mau menyelami dunia kriminalitas. Henri Ducard (Liam Neeson) yang melatihnya di tempat mirip pegunungan bersalju di Tibet.
Henri penampilannya di film ini persis Qui Gong-Jinn di Star Wars: Episode I - The Phantom Menace. harap maklum, keduanya diperankan Liam Neeson dengan tampilan serupa.

masa lalu Bruce yang tragis, kedua orangtuanya terbunuh oleh pencopet, membuatnya dendam pada kejahatan. dan untuk memahami kejahatan, dia melepaskan predikat bangsawan dan kekayaannya untuk menjadi bagian dari penjahat. dia masih punya hati saat membiarkan Henri Ducard, guru dan sekaligus lawannya, tetap hidup.

lahirlah seorang superhero di kota Gotham. Bruce terlahir kembali dengan karakter kelelawar, hewan yang katanya menyimpan ketakutan, namun dapat membuat orang takut. dengan cara itulah ia ingin membuat kriminal keder.

dua penjahat yang dihadapinya: Dr. Jonathan Crane, dokter Rumah Sakit Jiwa yang suka mengeksploitasi pasiennya, dan Henri Ducard sang gembong teroris kota Gotham. ia ingin meracuni seluruh kota dengan cairan kimia yang disusupkan pada pipa air minum. jelaslah, film Batman begins tentu terinspirasi peristiwa terorisme di Amrik sana.

untung kota Gotham punya Batman. Amrik punya [si]apa? :)
namun di balik kegagahan otot dan kostum Batman, tersimpan seorang manusia dengan masa lalu yang gelap dan ketakutan. sebuah pesan menarik disisipkan di sini ketika puri mewah keluarga Wayne habis musnah terbakar [analogi menara kembar WTC?], Alfred Pennyworth pelayan setia keluarga Wayne berkata kepada Bruce: "Why do we fall, sir? So we learn how to pick ourselves back up".


saat Bruce berciuman dengan Rachel Dawes, perempuan jaksa dan juga teman main masa kecilnya, rasanya lagu "Kiss from a Rose" yang dinyanyikan Seal di Batman Forever layak dilantunkan kembali:

Kiss From A Rose
There used to be a greying tower alone on the sea.
You became the light on the dark side of me.
Love remained a drug that's the high and not the pill.

But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and,
The light that you shine can be seen.

Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grey.
Ooh,
The more I get of you
Ooh

Stranger it feels, yeah.
And now that your rose is is in bloom.
A light hits the gloom on the grey.

There is so much a man can tell you,
So much he can say.
there's so much inside.

You remain,
you.......

My power, my pleasure, my pain, baby
To me you're like a growing addiction that I can't deny.. yeah.
Won't you tell me is that healthy, baby?

But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and the light that you shine can be seen.

Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grey.
Been kissed from a rose on the grey.

Ooh, the more I get of you
Stranger it feels, yeah
stranger it feels, yeah.

Now that your rose is in bloom.
A light hits the gloom on the grey,

I've been kissed by a rose on the grey,
I've been kissed by a rose
Been kissed by a rose on the grey.

I've been kissed by a rose on the grey,
And if I should fall, at all

I've been kissed by a rose
Been kissed by a rose on the grey.

There is so much a man can tell you,
So much he can say.
there's so much inside.

You remain
you.......

My power, my pleasure, my pain.

To me you're like a growing addiction that I can't deny, yeah
Won't you tell me is that healthy, baby.

But did you know,
That when it snows,
My eyes become large and the light that you shine can be seen.

Baby,
I compare you to a kiss from a rose on the grey.
Ooh, the more I get of you
Stranger it feels, yeah
stranger it feels.

Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grey.

Yes I compare you to a kiss from a rose on the grey
Ooh, the more I get of you

Stranger it feels, yeah
stranger it feels. yeah.

And now that your rose is in bloom
A light hits the gloom on the grey

Now that your rose is in bloom,
A light hits the gloom on the grey.

Wednesday, June 22, 2005

mr and mrs smith: perang ala suami isteri



bila saat ini Anda sudah bersiap-siap menceraikan pasangan Anda dengan sederet litani keburukan dan kurang perhatian yang diberikannya, ada baiknya Anda [dan pasangan] buruan masuk bioskop dan nonton film ini.
bukan promosi, Anda akan menyaksikan seteru di film ini: suami-isteri, tuan dan nyonya Smith... dan jangan lupa persiapkan: popcorn, minuman dingin dan ... tawa Anda.

pasangan Smith dimainkan dengan elok si sexy Angelina Jolie dan Brad Pitt. pasangan nikah selama 5 atau 6 tahun ini ingin pisah. rumah mewah, mobil luks, dan segala kekayaan yang dimiliki pasangan ini ternyata berujung pada gulana: masing-masing tidak saling mengenal tabiat, apalagi habitat pekerjaan pasangannya.

luar biasa... hmm, lalu apa yang mereka perbuat selama 5 tahun?
aktivitas seksual? pada permulaan film mereka saling mengelak mengungkapkan hal ini karena garingnya hubungan mereka.

Mr John Smith punya profesi sebagai pembunuh bayaran.
Mrs Jane Smith juga berprofesi pembunuh bayaran. klop sebetulnya.
namun mereka bekerja pada perusahaan yang berbeda. dengan target yang sama.

tahapan-tahapan konflik rumah tangga disajikan dengan cantik: mulai dari melepas cincin perkawinan saat ke luar rumah, masakan isteri yang kurang garam, sampai bohong-bohongan di telepon...
konflik mereka berdua terjadi saat mereka menyasar satu calon korban yang sama.
seketika terbongkarlah kedok kebohongan masing-masing. perang tak terelakkan. perang dalam arti sungguhan... mereka mau saling bunuh, hancur-hancuran deh.

kebayang kan gimana suami-isteri bertempur habis-habisan?

pada ujungnya, target sebetulnya diarahkan pada mereka berdua...
musuh dari pihak ketiga ini justru menjadi perekat. mereka kompak saat menghadapi musuh bersama... permainan tembak menembak duo Smith jadi sangat indah, mirip adegan menembak Neo dan Trinity dalam The Matrix. terselip satu janji, mereka ingin menikmati hidup ini nun di sana dalam suasana yang lebih baik bila keduanya selamat dari pertempuran ini.

aahhh, pasangan pria-wanita dalam perkawinan... lagu lama, baru belajar mengenal pasangannya justru sesudah perkawinan.

itulah pesan sederhana film dengan judul sederhana ini, 'mr and mrs smith', namun dengan kehebohan animasi dan pemandangan yang hancur-hancuran... kita jadi tertawa saat layar perak itu memantulkan betapa miripnya dengan kehidupan yang kita jalani sehari-hari...

lalu, Anda masih terpikir untuk cerai?
selamat ketawa.

Tuesday, May 31, 2005

moonlight flower

by Michael Cretu


Come with me in the silence of darkness
I want to show you secrets of life
I will guide you where dreams couldn't take you
She seldom flew away in the night

You're the moonlight flower
You're the voice of the night.
When you call I'll follow.
We'll leave on the trip of delight.

I have been to the heights of my senses.
Feeling the touch of your cures,
I have seen the magic things under night skies.
Until the sunrise ended the spell.

You're the moonlight flower
You're the voice of the night.
When you call I'll follow.
We'll leave on the trip of delight.

ps. i love this song very much! it sounds something magic...

Thursday, May 26, 2005

star wars III revenge of the sith: dari mana datangnya si jahat?


Anakin Skywalker gundah. ambisinya untuk mendapat gelar master dan dapat duduk di kursi dewan tidak mendapat restu. Kanselir Palpatine menangkap peluang itu: seorang anak muda dengan semangat yang berkobar, potensi yang meluap, namun harapan tak kesampaian berdiri di hadapannya.
ular berbisik di telinga Anakin: ada kekuatan lain yang bisa membuatmu tak terkalahkan, bahkan maut sekalipun! explore the darkside of yours...

Obi-Wan Kenobi, sang mentor, tak dapat berbuat apa-apa.
Anakin jatuh. pemandangan indah disuguhkan kepada penonton. proses transformasi seorang Anakin menjadi Darth Vader.
seorang malaikat berubah menjadi iblis.
lelaki berkulit putih itu kini menjadi monster berbungkus kaleng hitam mengkilap.

itulah kehebohan star wars III: revenge of the sith.
demikian rasa penasaran penonton terjawab: dari mana asal-mula kejahatan yang termanifestasi pada diri Darth Vader? lewat proses berliku-liku, bahkan dibangun sejak tahun 1977 [!] George Lucas menyajikan dongeng antariksa nun di galaksi sana... uniknya, kisah disajikan dari pertengahan yakni seri IV sampai VI. lalu seri I, II, dan sekarang adalah kepingan terakhir.

kepingan puzzle ditampilkan 28 tahun kemudian!
rasanya layak bila film ini diganjar penghargaan sebagai film terlama yang membuat penonton penasaran! hahaha...

tokoh-tokoh film star wars tidak kalah anehnya. ada bangsa wookiee, semacam kingkong. ada turunan alien. ada juga campuran alien dan robot, seperti Jenderal Grievous. namun jelas, ada beberapa yang mirip manusia. ya, manusia tulen. seperti si Obi-Wan Kenobi pelatih para kaum Jedi, Mace Windu, Anakin, Padme [isteri Anakin] dan anak-anak mereka dari hubungan terlarang: Luke dan Leia.

sewaktu kecil, saya sendiri sering dibuat bingung antara star wars dan star trek! hehehe... apalagi dengan model penceritaan begini. kukira kedua film ini kisahnya berhubungan, karena settingnya sama-sama di ruang angkasa.

sekarang aku jadi penasaran, mau menyusun kembali urutan kisah star wars. untunglah beberapa seri vcd original [bahkan dvd] star wars sekarang dijual murah, karena termasuk produksi out of date.

mungkin itu imbas sampingan dari kehebohan film star wars iii ini. kita diajak mengingat urutan ke depan dan ke belakang kisahnya.

dan menjadi terhenyak saat menemukan, betapa kebaikan dan kejahatan bedanya hanya seperti membalik telapak tangan!

may the Force be with you ...

Monday, May 23, 2005

mohabbatein


seingat saya ada dua ungkapan dalam bahasa India untuk menyebut cinta: pyar, mohabbat. maka bila film ini mengambil judul mohabbatein maka tentu film ini berkisah tentang cinta.

telat juga saya menyaksikan film ini ya... maklum baru dapat waktu yang cukup untuk menonton dvd-nya. bayangin, butuh waktu minimal 2 jam untuk nonton film India! padahal sudah berulangkali diputar di tv. malah mohabbatein lebih dulu dirilis dari film best seller itu, kuch kuch hota hai.

jangan salah, tidak semua film India saya suka nonton. anehnya, cuma film shah rukh khan yang kugemari. apa karena aktornya ya? nggak juga. kebetulan tema film-nya bagus, macam Ashok, kuch kuch hota hai, terus ada lagi satu film tentang revolusi Kashmir aku lupa judulnya, dan terakhir ya ini Mohabattein.

Mohabattein mengingatkan saya pada film "Dead Poet Society" dan "Dangerous Mind", mengambil setting sekolah dan revolusi yang dibuat oleh seorang guru. apa karena film bollywood sehingga tema di film ini justru revolusi cinta? asyik juga aliran ceritanya.
[tulisan ini belum kelar]

Saturday, May 21, 2005

kingdom of heaven : karikatur sempurna



kingdom of heaven, karikatur sempurna yang mengolok-olok mereka yang suka memakai simbol-simbol keagamaan untuk mengobarkan perang. film ini termasuk berani mengambil setting perang salib yang sering kali ibarat mengorek luka sejarah hubungan kristen dan islam... namun dengan pandai kisah kingdom of heaven diolah. ibarat pemain silat, ia bermain di udara dan hanya menjejak pucuk-pucuk bambu.
Balian seorang pandai besi, menemukan nasibnya sebagai anak bangsawan dari Godfrey of Ibelin. Ia menuju ke Yerusalem untuk "menghapuskan dosa istrinya yang bunuh diri, dan dosa yang dibuatnya akibat membunuh seorang pastor"...

Yerusalem kota suci tua itu digambarkan lebih mirip pasar. Balian termangu di puncak golgota. Ia mengatakan: saya tidak merasakan Tuhan hadir di sini. Pada kesempatan lain ia dengan yakin mengucapkan: "bagaimana mungkin istri saya berada di neraka, bila ia ada di dalam hatiku?"

Yerusalem justru menjadi neraka tatkala Guy de Lusignan, ipar raja Baldwin IV membantai sekelompok peziarah yang sedang menuju Mekkah. Saladin sang komandan perang dari pasukan Saracen masih dapat memaafkan. Raja berjanji akan menghukum pihak yang bersalah.
Raja Baldwin IV berhati mulia. ia tidak mau mengusik kedamaian hubungan muslim dan kristen. sayang, jiwanya yang mulia itu dibungkus lepra yang menggerogoti tubuhnya. Balian ditawarkannya posisi menggantikan Guy, menjadi suami Sybilla adiknya. Namun, Balian menolak.

ada dilema yang sangat tajam di sini. Balian tidak mau bertindak culas, memanfaatkan kesempatan menyingkirkan lawannya. sekalipun Sybilla dengan tajam mengingatkannya: "akan tiba saatnya engkau mengharapkan menjadi sedikit lebih kejam untuk suatu kebaikan, namun sudah terlambat..."

dan benar. raja mangkat. Guy menjadi raja. perang meletus gara-gara antek Guy membunuh adik Saladin.
kisah bergulir cepat. Yerusalem dikepung pasukan Saracen yang dipimpin Saladin.
Balian memimpin perang yang tidak imbang ini. tembok benteng Yerusalem digempur secara masif.

Yerusalem jatuh. Balian bernegosiasi dengan Saladin.
karikatur jadi sempurna, saat Balian bertanya pada Saladin:
"what is Jerusalem worth for you?"
Saladin menjawab: "nothing".

pada kesempatan lain Balian seperti dengan menyesal berkata: "semula saya pikir, kita pergi berperang ke Yerusalem demi agama dan Tuhan... ternyata demi tanah dan kekayaan".
berombongan mereka meninggalkan Yerusalem yang sudah jatuh di tangan Saladin.
"bila Yerusalem adalah kota Tuhan maka biarlah Tuhan sendiri yang mengaturnya...", ucap Balian.

saya salut, banyak ungkapan cerdas terlontar di sela-sela keindahan gambar film kingdom of heaven. namun film berdurasi 2,5 jam ini rasanya banyak melakukan pemotongan alias menyederhanakan jalan cerita, misalnya: mengapa Balian yang semula menolak ajakan ayahnya, Godfrey of Ibelin, tiba-tiba mau ikut ke Yerusalem? juga, saat kapal mereka karam, aneh juga menyaksikan hanya Balian dan kudanya yang selamat.

namun Balian, yang diperankan oleh Orlando Bloom, si Legolas, cukup asyik perannya dalam film ini, apalagi saat ia bercengkerama dengan Sybilla, istri Guy yang molek itu. mengingatkan saya pada Shahrukh Khan dan Kareena Kapoor dalam film "Ashok".
kedua film mengusung tema kurang lebih sama: ketololan perang hanya menorehkan darah dan airmata dalam sejarah.

Thursday, May 12, 2005

sam & sam

film ilustrasi "sam & sam" diputar saat saya mengikuti lokakarya oleh sebuah organisasi. film ini menarik, karena diperlihatkan 2 sam yang berbeda namun sama. yang satu berkaki empat [anjing], yang satunya lagi berkaki dua [manusia]. kesamaannya, sial sekali mereka punya tuan yang menyebalkan.

mulanya mereka punya motivasi dan kreativitas. ekor sam berkibas riang saat menangkap setiap kali bos melempar sesuatu. sam sang pegawai dengan inisiatifnya menawarkan solusi bagi setiap pelanggan perusahaannya.
bukankah setiap kali bos mengingatkan 3 kata sakti visi perusahaan: "service! service! service!"

namun setiap kali itu pula semangat mereka turun drastis. sang bos tidak sepaham dengan apa yang mereka lakukan!

terjadilah, mereka kehilangan motivasi dan kreasi.

hal yang tragis sekaligus lucu, pada akhir film diperlihatkan topi sang bos yang jatuh di danau. biasanya si sam dengan lincahnya melompat ke danau untuk mengambilkan topi sang bos... namun kali ini dia cuma diam memandang cuek.
akhirnya, bos sendiri yang berusaha meraih topi tercebur ke danau.

sam sang karyawan berusaha untuk menolong, tapi sam yang satu lagi berusaha menahan dengan menggigit kaki sam... hahaha.

karikatur ironis ini terjadi di organisasi tempat saya berada. kreativitas dan motivasi terkendala sistem dan aturan yang kaku dan beku. sesuatu yang sederhana menjadi berbelit-belit dan semula maunya dapat yang murah, tapi justru costnya auzubillah mahal minta ampun...

kapan kita mau belajar ya?
trus, siapa yang mau jadi sam & sam selamanya?

Monday, May 09, 2005

shall we dance?


what a movie! Richard Gere, Susan Sarandon and J-Lo. and the dance... wow! the movie tell about how to escape from boring life of marriage couple.
so simple: dancing!

shall we dance?